Surabaya bebas billboard, bisa?

gambar: penataan billboard yang tumpang tindih di sebuah sudut kota
Sungguh memprihatinkan melihat semua sudut kota dipenuhi dengan billboad, baliho, spanduk, umbul-umbul dan berbagai media luar ruang yang lain. Betapa tidak, keberadaan mereka seolah telah menggantikan keberadaan pohon-pohon yang seharusnya bisa menjadi paru-paru kota
Nasib pohon-pohon hijau nan rindang berakhir di ujung chain-saw atau kapak para pengusaha media promosi luar ruang. Kepedulian mereka terhadap kelestarian lingkungan telah terbeli. Uang, uang dan uang! Kalau toh ada pohon yang masih selamat tidak ditebang, pasti “tubuh” mereka penuh dengan paku dan ikatan kawat, bekas pemasangan papan-papan iklan, baik berijin maupun tidak
Sungguh sebuah ironi, ketika keadaan lingkungan makin tercemar oleh berbagai polutan, seharusnya pohon-pohon di pinggir jalan itu dilestarikan. Kalau perlu pemerintah melalui dinas terkait menyediakan tenaga dan anggaran khusus untuk merawat mereka. Kalau perlu diairi setiap hari dan diberi pupuk sebagai “jamu” agar mereka bisa “bekerja” dengan baik, menetralkan seluruh polusi dari asap kendaraan yang lalu-lalang hampir 24 jam tiap hari dan menjadi penahan air tanah. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, pohon-pohon itu disiksa dengan paku dan kawat, bahkan ditebang, demi uang!!!
Media promosi luar ruang tersebut memang merupakan salah satu sumber PAD terbesar. Sementara bagi pihak perusahaan, beriklan melalui billboard diyakini masih merupakan bentuk promosi yang efektif. Banyak perusahaan besar yang menganggarkan hingga ratusan juta, bahkan milyaran, untuk memasang iklan di billboad ini. Maka kemudian muncullah pemain-pemain kotor di bisnis ini yang melibatkan banyak pihak. Akibatnya tidak semua uang-nya lari ke kantong pemerintah.
Seperti pernah diberitakan di Jawa Pos, ternyata hanya segelintir billboard saja yang berijin dan membayar pajak secara disiplin. Kasus yang sempat menjadi perhatian masyarakat adalah billboard raksasa di atas Kebun Binatang Surabaya yang konon merupakan billboard terbesar di Surabaya, ternyata billboard tersebut sudah menunggak pajak sekian ratus juta!!! Ancaman dari pemkot untuk merobohkan billboard tersebut terbukti hanya gertak sambal. Sampai sekarang billboard tersebut masih berdiri di sana!
Belum lagi ketika musim penghujan tiba, selalu ada cerita billboard roboh. Bayangkan saja konstruksi baja sebesar itu roboh kemudian menimpa pengguna jalan, kerugian yang mungkin ditimbulkan bukan hanya material, bahkan nyawa!!! Begitulah, sudah pendiriannya harus menebang pohon, lantas konstruksinya dibuat asal-asalan dan tidak memperhatikan safety factor. Kalau toh ada hitungan teknis di proposal, belum tentu dijalankan! Semua dimanipulasi, hingga akhirnya menyebabkan kerugian yang begitu fatal: kerusakan lingkungan!!!
Maka sudah seharusnya saat ini para pekerja di bidang pemasaran kreatif memikirkan bentuk promosi lain yang efektif tanpa mengorbankan lingkungan. Coba diteliti lagi, apakah pemasangan iklan raksasa di pinggir-pinggir jalan itu terbukti mampu mendongkrak penjualan atau mengingatkan masyarakat akan produk itu. Mari ditimbang-timbang lagi, lebih banyak manfaatnya atau dampak negatifnya?
Pemerintah juga harus bersikap tegas, berantas “tikus-tikus” yang ikut bermain di bisnis ini. Kaji titik-titik mana saja yang boleh dipasang iklan. Kaji ulang ijin yang telah diberikan. Selektif dalam menerima ijin baru. Tegas dalam memberantas media yang tidak berijin. Rawat pohon yang ada. Hukum para penebang pohon!!!
Ayo, Cak, Ning, dukung Surabaya bebas billboard!!!
Komentar
16 arek sing komentar nang “Surabaya bebas billboard, bisa?”
Kirimen komentarmu





mgk bukan diilangin deh si bilboard ini, sebaik nya perlu ada nya petunjuk pemasangan dari pemkot agar ruang kota meski ada si bilboar nampak rapi. Karena si bilboard sendiri merupakan sumber pendapatan orang banyak : si pemasang iklan ( katakanlah rokok) pny buruh yang ribuan klo gak laku tanpa ada nya iklan maka semua pabrik akan bangkrut, si advertiser (vendor iklan) juga memperkerjakan puluhan orang advertise, si pemkot utk pendapatan daerah yg mana pad adalah utk rakyat..
mari kita rapikan kota surabaya tercinta ini.. semuanya harus patuh terhadap peraturan yang telah dibuat..
kalo bebas billboard rasanya ndak mungkin. Apalagi PAD kota paling gede yaa didapet dari yang kayak gini-gini. Yang penting sih bener kang Anang tuh, dirapikan…dan tentunya ndak sembarangan masang. Tuh di Embong Malang, mosok penyangganya cuma sebelah, miring pula. Medheni
kalo ndak ada bilbor…, terus tukang las.. tukang cet… tukang dll.. dll … pendapatane kurang.
sing luwih penting maneh.. ceperane pejabat engko teko endi..??
PAD kota Sby dari sektor ini harusnya 5x dari yg skrg, Cak, Ning.. Lha yg skrg ini cuman sak-uprit, sedikit banget, karena banyak tangan kotor yg ikut mainin ini. Duit yg harusnya masuk PAD masuk kantong pribadi!!! Rela ta sampeyan? Wes wajah kota jadi coreng-moreng, duite gak jelas pisan!!!
gak usah diilangi billboardnya… cukup disediakan area khusus iklan billboard (tempat-tempat yang boleh dipasang billboard), trus kalo ada billboard liar langsung dibongkar aja (buat satpol pp: jangan hanya nggusur PKL TOK!!!!, bongkarin tu billboard liar), trus buat pemkot jangan gampang beri ijin pasang billboard…
mmm……ngomongin billboard yah,,,
bener tuw,,,billboard emang ngrusak tatanan kota,,,
sebagai mantan mahasiswa arsitek, aq juga ikut sediy banyak bangunan bagus2 ktutupan ma billboar yang suka nangkring sembarangan…
palagi sekarang billboar ukurana semaikn lama semakin membengkak,,,kesanna semakin gedhe semakin menarik,,,
mending tiw iklan2 kaya gtuw dialihin tempatna,,,
kaya jadi mural di sudut2 kota,,jadi poster di tempat sampah,,
palagi sekarang tiap pohon uda ada benalu nya,,,
ada badut ulang tahun
jual cartridge bekas
pijat pak tono
haduw,,,ga yang pke dana besar kaya billboard ato yang numpang tenar lewat poster pohon pada ngerusak smua,,,
ney kan tgantung ma kelakuan manusianya aja to?
sepakat sama cempluk de,,,soalnya di balik billboard banyak orang yang telibat.bener kata mas anang,,,dirapikan dan di taruh pada tempatnya dan harus patuh sama peraturan yang ada.
wah semuanya jadi warga yang baik tampaknya.. saya kira bentuk protesnya, mending pasang aja gedhe2 bilboardnya tugupahlawan.com di mana-mana.. terutama di billboardnya yang gak pernah bayar..
paling2, bilboard tugupahlawan.com dan yang sebelahnya ikutan dicopot, lama2 khan bersih…. wakakakakakakakak
*ambil bakiak, cincing sarung, lariiiii*
Kapan hari ada billboard yang gambarnya ucapan happy wedding bertebaran di mana-mana…iku sopo yo…?..ya gitu nambah daftar rusuhnya jalan surabaya akibat billboard..
yah sepakat dengan teman-teman untuk merapikan billboard.
lek gak ono billboard terus opo bedane kota metropolitan dan kota ndeso cak?
menurutku kalo tidak ada koq gak mungkin, tapi setuju di rapikan gak asal ae kabeh di deleh2 ngawur dadine sumpek
@ mas laks: ya iya lah…
kalo masalah ngerapikan, itu tugasnya dinas-dinas yang terkait…
wah susah juga ya bagaimana dengan pegawai yg kerja di percetakannya mas…
*Nanaki Mikir terlalu dalem maklum mantan pegawai percetakan*
friend,gue bingung neh.
dana osis gue minim banget.
gimana ya cara dapetin dana yang mudah dan ga ribet?
bantu aku please.
cause, sekolahku tuh didesa banget.
jadi susah buat nyari sponsor.
Silakan kunjungi http://www.klikbillboard.com
Disana ada ilmunya … dan silakan berkomentar yang membangun. Agar per-billboard-an di Indonesia lebih kondusif gitu …