Makin langkanya lahan kosong di Surabaya dilihat sebagai sebuah peluang oleh para pengembang. Mereka kemudian berlomba-lomba membangun hunian vertikal. Ironisnya beberapa proyek apartemen berhenti di tengah jalan. Seperti yang terlihat di Jalan Embong Malang. Sebuah bangunan apartemen setengah jadi sudah lama mangkrak. Tidak terlihat lagi aktifitas pembangunan di sana.
Mangkraknya pembangunan apartemen tersebut mungkin karena meningkatnya harga BBM yang kemudian berimbas terhadap harga bahan bangunan. Akibatnya biaya proyek membengkak dan pemilik proyek tidak lagi mampu meneruskan proyeknya.
Pemandangan lain juga terlihat di kawasan Bung Tomo, dekat dengan jembatan BAT Ngagel. Terdeteksi ada dua buah apartemen juga mandeg pengerjaannya. Tower crane yang digunakan untuk membangun apartemen tersebut sampai berkarat karena sudah bertahun-tahun tidak digunakan dan terus diterpa panas matahari dan hujan.
Namun demikian tetap saja ada pengembang yang justru merealisasikan agenda pembangunan apartemen baru di berbagai kawasan di Surabaya. Semoga dengan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar seperti sekarang ini tidak membuat mereka kembang-kempis dan akhirnya ikut mangkrak!
Terakhir, jika disuguhkan pada tiga buah pilihan, tinggal di kampung, tinggal di perumahan atau tinggal di apartemen, Anda pilih mana? Apa alasannya?
December 13th, 2008 at 09:55
Enakan tinggal di kampung, pemandangannya lebih indah, udara lebih segar, hawanya sejuk.
Kalau pengen suasana kota ya datang aja langsung ke kota atau ke Mall. Gitu koq repot.
December 13th, 2008 at 11:52
daripada mangkrak gitu,kan besi2nya bisa di preteli,trus di jual ke tukang loak
December 13th, 2008 at 14:08
Tinggal di rumah kedua saya. Alasan: gratis, keren, dan saya jadi dewa disitu.
December 13th, 2008 at 14:14
itu bukan gedung mangkrak kalee, tapi belum di bangun…hehehe..
December 13th, 2008 at 14:51
Aku rasa tinggal dimana saja pasti ada plus minusnya.
Tinggal dikampung susahnya seh biasanya tetangga suka usil, sok ngurus n kurang menghargai privasi. Tapi enaknya skor gotongroyongnya tinggi, lebih guyup. Enak kalau pas ada situasi emergency, yg nyamperin sak ndayak.
Tinggal diperumahan ada pergeseran faktor. Angka privasi naik tapi sayangnya harus dibayar dgn berkurangnya nilai di network society.
Tergantung perumahannya namun biasanya kian mahal harganya kian melorot skor societynya.
Tinggal di apartment, ini gaya hidup baru. Sangat cocok bagi yg mendewakan privasi tinggi n ga mau repot.
Lha sebagian urusan hidupnya khan di ambil alih pihak pengelola.
Soal poin society hancur mungkin bagi yg bersangkutan ga bgt masalah karena memang kebanyakan penghuninya tipe individualis.
Tentang living costnya selangit hmmm mungkin sebanding dgn ketebalan dompetnya.
Aku tinggal di PMI – Pondok Mertua Indah. Weleh rasanya mak nyuss.
Sudah gratis sewa, kadang dapat makanan dgn diskon 100 %, dapat jasa keamanan hunian n penitipan anak free…………hehehe.
Network society ? Ga usah dikata, khas gaya tinggal dikampung padat.
December 13th, 2008 at 15:04
berhubung aku pernah merasakan tinggal di kampoenk,kota kecil PONOROGO ma apartemen gag mewah siiihhh tapi semua serba mahal, secara singapore getu lohhhh!!!!!
dari ketiganya aku tetep milih tinggal dikampoenk soale emak bapakku dikampoenk, adekku di kampoenk juga tapi gag tahu mertuaku ntar ada dimana
dasarnya juga ndeso jadi yooowww gag menutup kemungkinan kalo Ge Ka De
December 13th, 2008 at 16:45
Santai Jhe……….
Nanti SURABAYA Banyak Gedung BErhantunya……..
hehehe……….
December 13th, 2008 at 17:44
aku mending diwenehi omah gratis
December 13th, 2008 at 17:57
TOSS sama mas gajah_pesing *salaman*
Apalagi omahnya di daerah yang strategis di wilayah pedesaan yang mempunyai akses yg mudah untuk berbisnis…
December 13th, 2008 at 18:01
pemkot itu koq pilih kasih sih, kalo ngubek2 PKL dan rumah di strenkali cepatnya minta ampun. tapi utk bangunan mangkrak, lambatnya juga minta ampun…
December 13th, 2008 at 18:55
punya rumah dan punya apartemen.
nek bosen nang omah, pindah nang apatemen.
asik ketok’e..
Impian ke depan.
December 13th, 2008 at 20:57
eman-eman ya
December 14th, 2008 at 14:00
tinggal di kampung…
karena aku tinggal di kampung….:D
enak loh…
trus, aku punya edi, gimana kalo apartemen mangkrak itu dihibahkan untuk dijadikan markas TPC..?
wehehehehe
kerennn..
December 15th, 2008 at 06:00
Ya bagaiamanapun suasana di kampung lebih menyenangkan, tapi semua tempat ada nilai postif negatifnya. Tinggal di kampung mlarat tapi ga kepikiran nyicil biaya sewa, ato mo hidup tanpa internet dan semua fasilitas kemudahan lainnya? Monggo di pilih²…
Tapi ancene njengkelne kalo ada proyek mangkrak kek gitu, ngganggu pemandangan ae.. ckck…
December 15th, 2008 at 11:47
tak tuku wes le sewu telu
December 16th, 2008 at 10:12
mending tinggal di desa wekekek maseh sejuk dan bebas polusi
December 16th, 2008 at 19:07
Tinggal di apartemen yang di kampung aja..
Lama-lama tinggal di sby kayak di game2 empire, tau2 dah bangun tower..ada gedung…kerenn
December 17th, 2008 at 10:34
setuju sama mudz. ga enaknya tinggal di kampung tuh, suka rawan gosip dan kereseh’an yg ga puenting banget…
kalo di surabaya mah, biar kata mampu beli apartemen juga, mau tetanggaan sama siapa?? pastinya sepi…. satu tower, bisa full 50% aja udah untung. di surabaya ini, Rusun bisa jauh lebih berguna dan pasti lebih padat penghuninya di banding apartemen.
orang surabaya, daripada beli apartemen harga ratusan juta, mendingan beli rumah….
June 5th, 2010 at 12:13
semakin banyak bangunan mangkrak,semakin memperjelek wajah kota surabaya.
knp gk di hancurkan aja,dari pada gk berguna jd sampah kota surabaya.
lebih baik di bikin taman yang luas dengan pohon yang rindang.