Beberapa waktu yang lalu, publik Surabaya (khususnya pencinta bola) diramaikan oleh berita bahwa manajemen Persebaya telah memutuskan kontrak 7 pemainnya, dengan alasan untuk melakukan penghematan keuangan, yang konon mencapai ratusan juta rupiah hanya untuk menggaji saja.
Maksud saya menulis artikel ini hanyalah sebagai wujud keprihatinan keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia secara keseluruhan. Baik dilevel klub maupun timnas semuanya hancur lebur, tidak ada yang dibanggakan. Nah, yang membuat saya lucu sekaligus ironis adalah prestasi sepakbola kita tidak ada, nah pemain sepakbola kita minta digaji puluhan juta tiap bulan oleh masing2 klub.
Menurut saya mereka (pemain sepakbola kita) tidak pantas mendapatkan gaji puluhan juta tiap bulannya. Lihat saja fisik masih ngos-ngosan, kontrol bola sering lepas, tendangan ke gawang ngawur semuanya. tidak bisa menghormati keputusan wasit, mudah emosi, udah gitu pemain kita tidak ada yang bisa bersikap profesional layaknya pemain sepakbola sungguhan (para pemain di benua eropa).
Selain itu pihak klub juga terlalu memanjakan para pemainnya dengan iming-iming kontrak & gaji yang besar apabila mau bergabung. Pihak klub rela mengeluarkan uang ratusan juta hanya untuk mencari pemain yang siap pakai (pemain berpengalaman). daripada mengoptimalkan pemain hasil binaannya (akademi sepakbola).
Sekarang ini kondisi perekonomian dunia sedang lesu, dan imbas tersebut juga dirasakan oleh para klub di Indonesia yang terlanjur (rasaian) mengeluarkan dana ratusan juta untuk menggaji pemainnya. Banyak klub yang menjerit karena tidak mampu membiayai timnya karena beban finansialnya terlalu tinggi, sehingga mengakibatkan banyak pemain yang kontraknya diputuskan (seperti kasus Persebaya) atau pemainnya dipinjamkan ke klub lain.
Ini semua tidak akan terjadi apabila:
Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan bagi para pemerhati sepakbola Indonesia. Sudah saatnya sepakbola kita harus berubah menjadi lebih baik, jika tidak dimulai dari sekarang lalu kapanlagi ^_^
December 28th, 2008 at 11:18 am
Sebenarnya banyak pemain2 yg siap pakai,tapi jalan menuju ke klub yg di putus2 ada yg siap tapi tak ada kenal pengurus klub jd karir nya cuman di level kecamatan klub bola masih kuat KKN nya.
December 28th, 2008 at 1:36 pm
mekanisme pasar ikut bicara. jd ya repot.
December 28th, 2008 at 4:13 pm
persebaya sebenernya udah “mencoba” dan terus “mencoba” memakai pemain muda lokal produk asli klub binaan, seperti lucky wahyu, wimba suta, dan yang peling gress Andik. Lalu ada yang malang melintang ada Bedjo, uston, budi sudarsono, dan mereka wajar memiliki gaji yang besar, karena mereka juga memberikan kontribusi yang besar buat persebaya atau pun klub-klubnya dulu.
Lalu mengenai gaji pemain bola di Indonesia yang “segitu”, cukup wajar. Yang belum wajar adalah moralnya. seperti yang saya utarakan di atas, bahwa yang bergaji besar seperti bejo (nilai kontraknya sekitar 550 juta) dan lain-lain, telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap klubnya masing-masing. Moral yang ditunjukan, contohnya, pemain PSIR, dan lain-lain.
Sebenernya yang terjadi sekarang adalah, tidak bisa digunakan dana APBD, dulu klub-klub besar seperti persebaya, persija, dan klub-klub besar lainnya, tidak masalah menggaji pemainnya. lha wong 1 musim dapat APBD 15 miliar lebih.
Kalo sekarang? dapet 5 miliar aja untung2an. kita lihat Arema, klub tersebut tidak memakai APBD sama sekali semenjak mereka berdiri (CMIIW). itulah yang diinginkan oleh PSSI, klub tidak menggantungkan dana APBD. nah, IMO, kesalahan PSSI yaitu melakukan kebijkakan tersebut secara langsung, tidak secara bertahap. itulah IMO (lagi) sebenarnya penyakit yang banyak diderita oleh klub profesional di indonesia sekarang.
December 28th, 2008 at 4:18 pm
Oia, mengenai persabaya..
imo, Indah kurnia ma saleh mukadar sih pake jadi caleg, jadi persebaya jadi no 2..
tapi tetep..
arek kalah arep menang, arek juara arep degradasi,
mati oerip tetep PERSEBAYA ku
December 29th, 2008 at 11:55 am
@dior : Lho Wong duwit ngurusi PERSEBAYA ya Gaji dari MEMBER ANGGOTA DEWAN…..
December 30th, 2008 at 3:10 pm
Iklim persepakbolaan di negeri kita untuk saat ini memang belum menjanjikan. Belum sepenuhnya bisa digeser dari sekedar hobby menjadi sebuah industri. Sebagai sebuah firma, klub klub yang ada masih kelimpungan buat menghidupi dirinya, buat menjaga keseimbangan cashflownya, yah besar pasak daripada tianglah.
Padahal gaji tinggi mestinya baru bisa didapat bila sistim industri sepakbola kita bisa berjalan, bisa berstatus layak jual.
Lha gimana sistim industri bisa berjalan bila skema serta organ produksi yg ada tidak berlangsung dgn baik dan cenderung buruk ?
Hal ini diperparah dgn inkonsistensi PSSI sebagai induk dalam menjalankan nafas persepakbolaan kita. Jadual kompetisi yg ga teratur, serta cara cara instan yg dianut adalah salahsatu buktinya. Sudah jadi hukum sepakbola bahwa kemajuan sepakbola berasal dari sebuah kompetisi yg sehat, eh masih maksa kirim tim berguru ke luar negeri semacam binatama, primavera n dengar dengar ini mau ke Uruguay.
So, bila ingin maju ya benahi kompetisi n seperti komen diatas, pelihara moral pemain dan pelaku dilapangan lainnya.
January 2nd, 2009 at 3:31 pm
http://www.sepakbolaindo.com
January 20th, 2009 at 8:54 pm
terlalu banyak crita di balik pembayaran gaji sebesar itu..
a bad story..
saya baru tau setelah ikut terjun ke dunia bola tanah air..
March 22nd, 2009 at 3:58 pm
prihatin
July 14th, 2009 at 3:50 pm
yang jelas PERSEBAYA tidak pantas berlaga di ISL karena kelakuan supporternya si bonek yang urakan dan lebih banyak merugikan masyarakat. Bonek di bunuh saja!!!
August 15th, 2009 at 9:51 pm
Klub seharusnya tidak hanya memikirkan prestasinya, tapi lebih besar yaitu eksistensi sepakbola di Indonesia
January 2nd, 2010 at 2:33 am
Sekarang seharusnya bisa lebih baik dengan distop nya kucuran APBD yang notabene untuk kesejahteraan rakyat kok dipakai untuk beli pemain dll.
Memang jauh lebih baik membina pemain dari akademi sepakbola dari pada beli pemain JADI.
tapi di indonesia ini semuanya ingin serba instan