
Salam kenal, panggil saja aku dengan ****! (baca *-nya seperti baca * pada kata Sayur ******). Sebenarnya itu bukan namaku, hanya panggilan untuk anak seusiaku. Umurku ** tahun. Belum disunat! Itu aku tahu ketika kencing di bawah pohon di pinggir jalan bersama teman main baruku. Dia bilang: “O’o… kamu ketahuan.. belum disunat…”, tentu saja dengan bahasa daerahku, karena dia belum bisa Bahasa Indonesia sampai sekarang. Maklum, tidak sekolah dan baru saja menginjakkan kakinya di Surabaya. Aku sendiri bisa Bahasa Indonesia kerana sering mendengarkan percakapan orang-orang yang kutemui. Jumlahnya ratusan, bahkan ribuan orang tiap harinya
Di kampungku, keluargaku termasuk sukses biasa. Punya rumah tingkat 1 lantai yang luas sempit. Punya TV plasma hitam putih ukuran raksasa mini. Tiap kali mandi aku menghabiskan waktu hingga 2 jam 10 menit. Aku memang suka berendam dalam bak mandi buatan Itali bak plastik itu. Orang surabaya menyebutnya bath-up ember cuci. Maklum saja, aku memang jarang ada di rumah. Sebagian besar waktu kuhabiskan di Surabaya. Demikian juga orang tuaku, mereka juga jarang pulang. Siang malam mereka bekerja
Aku sudah ikut Ibuku bekerja sejak masih balita! Siang dan malam, tak kenal lelah. Berpindah-pindah tempat. Ketika aku sudah agak besar, sekitar 6 tahun, aku mengetahui ternyata orang tuaku memiliki jadwal harian. Hari ini harus berkunjung ke kampung ini. Besok ke kampung itu. Besoknya lagi ke Kampus ITS. Lusanya ke Unair. Malam di Masjid Al Akbar. Siang di Masjid Al Falah. Hari minggu ke Gereja Bethani Nginden. Kadang ke Sanggar Agung di Kenjeran. Demikianlah, orang tuaku membiasakan aku dengan kerja keras! Tanpa mengenal waktu. Tanpa mengenal tempat!
Penghasilan kami sekeluarga bekerja siang malam itu jika dikumpulkan bisa mencapai 300 30 ribu dalam sehari. Artinya dalam sebulan kami bisa mengumpulkan uang sekitar 9 juta 900 ribu! Cukup banyak! Tapi jangan sangka dengan uang itu kami berfoya-foya. Tidak! Pakaian kami tetap sederhana. Apalagi ketika bekerja. Seragam ini sudah bertahun-tahun kamai pakai! Makan kami seadanya. Ya, kami memang hidup sederhana di Surabaya!
Tapi berbeda ketika kembali sebulan sekali ke desa. Warga sekitar kami semua terpesona dengan kesuksesan kami. Seperti kemarin, meski aku masih kecil, aku sudah dibelikan sepeda motor baru! Aku tahu, motor baru itu dibeli cash kredit seharga 18 juta. Ah, tapi percuma saja. Aku belum bisa menaikinya!
Besoknya aku harus kembali ke Surabaya. Dan sesuai dengan jadwal, hari itu kami harus ke Kampus ITS. Setelah siap dengan seragam kerja, meluncurlah kami ke lokasi. Sopir kami sangat lincah mengemudikan mobil kuning yang menjadi kendaraan operasional kami. Sesampai di depan Masjid ITS, kami turun kemudian berjalan kaki, berpencar ke titik yang telah kami tentukan. Langkahku sedikit gontai. Tapi aku sudah terbiasa dengan pekerjaan ini! Langsung aku pasang pose dan ekspresi: duduk memelas, tangan menengadah ke atas!!!
———-BAR DIOWAHI——–
MOHON MAAF TULISAN INI PENUH CORETAN
DAN BINTANG
—————————-
November 21st, 2007 at 9:52 am
Hitungan matematis yang menarik…
November 21st, 2007 at 4:31 pm
mas deteksi ini memang rendah hati….
November 21st, 2007 at 7:02 pm
faktanya mana?? ini cuma tulisan fiktif bukan??
kalo tulisan ini cuma sebuah satir fiktif yang bermaksudh memojokkan kaum dhuafa, lebih baik sampeyan turunin sendiri aja.
November 21st, 2007 at 10:45 pm
maaf.. saya membacanya ada kesan ‘rasis’, pesan moralnya apa nih ? apa sedang menduga-duga kalau mereka yang minta2 itu sebenarnya orang yang sangat kaya… yang tinggal di pulau yang identik dengan ‘CONG..!’ tadi ?
November 22nd, 2007 at 12:47 am
gak heran mas, di warung depan kosku sering ada pengemis tuker duit receh, dia dapat 80 ribu aja dibilang sepi!!!
November 22nd, 2007 at 1:55 am
SEPURANE DULUR, TULISAN IKI GAK RASIS, GAK MENYUDUTNE DUAFA, GAK SATIR. TAPI MENCOBA MENGUNGKAP FAKTA BAHWA TERNYATA ADA ORANG YANG MENJADIKAN “MENENGADAHKAN TANGAN DI BAWAH” ITU SEBAGAI PROFESI. DAN TERNYATA PENGHASILAN MEREKA FANTASTIS!!!
*aku ae sing gak iso nulis, dadine gak penak diwoco ya? pisan maneh, sepurane…*
November 22nd, 2007 at 9:43 am
wewwellw…. di nilai dari sudut pandang yg beda ya mas….saya hidup da 20 th deket terminal bungurasih dan tiap hari lihat anak2 kecil yg setor uang ngamen ke Ibu mereka. Klo pagi mereka sekolah , pulang sekolah langsung ngamen. Soalnya mungkin menurut mereka itu cara paling cepat cari uang. Hidup memang susah tapi toh ya harus di jalani……(* mereka bilang sih lebih baik ngamen dari pada jadi maling/ copet *)
ya maaf klo ada yg tersinggung….
(* Forum Bebas pendapat toh * )
Tetep semangat nulis buat tugupahlawan.com ya mas deteksi…….
November 22nd, 2007 at 5:45 pm
Ini hitungan Matematis saja kan? Bagaimana jika dipandang dari sudut psikologis dan sosial? Masihkah fantastis?
November 23rd, 2007 at 7:10 am
waktu itu pernah ada penelitian, pendapatan yang macem begini ini jauh lebih besar dari PNS, sori lupa golongan berapa. Tapi kalo udah gitu, ya nggak heran kalo upaya pemerintah membersihkan mereka biar ndak ngrusui kota, tetap nggak ada hasil karena…..enak gila!