
Bisnis ‘lendir kenikmatan’ di kawasan Jarak ini sekarang sedang menjadi perbincangan di mana-mana. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba berhembus kabar bahwa Jarak dan Dolly akan dipindah ke Keputih.
Sementara pihak yang lain menyerukan agar pusat zina terbesar di AsiaTenggara ini ditutup saja. Namun usulan penutupan dolly ini langsung mendapat tentangan dari Walikota. Alasannya, pemkot tidak merasa pernah membuka atau melegalkan adanya dolly, jadi tidak berhak menutupnya. (Oh, demikiankah cara berfikir Anda, Pak Wali? Kalau begitu, mengapa Bapak mengobrak PKL dan menutupnya? Apa Bapak merasa pernah membuka sehingga berhak menutupnya)
MENUTUP DOLLY
Bicara Dolly (dan Jarak), berarti bicara masalah kelangsungan hidup ribuan PSK, pedagang kondom, pedagang obat kuat, pedagang rokok, tukang parkir, penjual makanan keliling, pemilik stand, persewaan toilet, penjual pulsa, pemilik rumah kost, makelar PSK, petugas keamanan, dan lain sebagainya yang menggantungkan hidup dari dolly (termasuk pejabat yang menjadi backing, kalau ada). Kalau dolly ditutup, apa mereka akan tinggal diam? Akankah ribuan orang itu menjadi pengangguran? Atau jalan-jalan di Surabaya akan menjadi seperti Pangsud dan Diponegoro semua, menjadi tempat mangkal PSK!!!
MEMINDAH DOLLY
Setali tiga uang. Memindah dolly ke lokasi lain (misalnya Keputih), bukanlah solusi yang tepat. Pasti akan terjadi penolakan oleh warga sekitar ‘dolly baru’ itu. Dan berarti pula pemkot telah terang-terangan melegalkan zina! Yang lebih berbahaya jika ternyata setelah dipindah akan ada 2 dolly, yaitu ‘dolly lama’ dan ‘dolly baru’!!!
MAJU KENA MUNDUR KENA
Dolly adalah ikon kota (?). Menutupnya berarti akan ada ribuan pengangguran baru. Ribuan pengangguran baru berarti berpotensi melahirkan penjahat baru. Atau jalanan Surabaya menjadi tempat mangkal PSK semua. Memindahnya sama saja, berarti akan menyuburkan praktek zina karena akan ada ‘dolly lama’ (yang mungkin akan beroperasi secara sembunyi-sembunyi)
dan ‘dolly baru’. Lalu apa solusinya? Dibiarkan seperti sekarang?
Blogger! Heroes! Bangun! Berikan usul Anda!!!
Keterangan Foto:
Suasana salah satu ‘akuarium’ di dolly, diambil dari Tempo Interaktif.
November 29th, 2007 at 13:49
Lendir kenikmatan sebenarnya bukan barang baru lagi buat kita semua, dan Polemik mengenai tempat lokalisasi itu seperti lagu lama yg di aransemen ulang.
pertanyaanya memindahkan ato menutupnya?
menurut saya dua2nya gak memberikan suatu pemecahan. Sesuai Hukum Ekonomi [kemeroh aku iki ojok di nyek] kenapa ada penjual? karena ada pembeli. coba belajar dari negeri penjajah kita dulu belanda. Disana ada yg namanya Red District ato kalo boso kene “Daerah Merah” [jan bener2 kemeroh aku iki hiks..] District ini segala macam hal2 yg tabu ada disana, dari narkoba sampe lendir kenikmatan. Mengapa daerah tersebut di legalkan? karena negara belanda kepingin mengontrol semua itu, dari pemakai, pengedar, berapa banyak konsumsi per bulan, PSK, dll. Dan jgn harap bisa menggunakan narkoba ato menjajakan diri diluar daerah itu, karena hukumannya sangat berat.
Back to topik lagi…
harusnya kembali kepada pemerintah daerah surabaya, daripada repot2 mindahin ato takut ada efek samping [padahal kalo ke dolly efeknya bukan samping tapi effek depan aaaaaaaa ngaco dah] dari penutupan mending dicarikan solusi pekerjaan alternatip buat para psk. Kita pasti sepakat mereka yg jadi PSK disana juga punya cita2 ato keinginan untuk bekerja secara halal.
mbuh wes nurut aku yo ujung2nya kembali ke personal masing2. yg pasti gak masalah dolly tok sing pejabat2 mbulet nang suroboyo iki, masalah liane yo mbulet koyok entut. Sing gak mbulet mek kalo urusane iku kunjungan keluar negeri, study banding ke negara tetangga, intensip, tunjangan baju, lauk pauk, anak dll. iki pasti gak mbulet yakin wes uhuhuhuhuhuh
November 29th, 2007 at 13:54
ditutup..wah, entar itu temen-temen club tiger dari luar kota gak bisa berwisata kesana hihihihihihi
kalo kesurabaya mintanya ke aquarium muluk. padahal yang surabaya males puol dateng kesana.
Ojo dipindah nang keputih rek..kecedak’en karo omahku.
dolly ditutup bakal soro…ya itu tadi para WTS nya bakal berkeliaran.tapi benernya kalo diobrak terus, mereka juga larinya ke moro krembangan atao kembang kuning.
jadi ditutup ya susah, dibuka yo susah, penyakit sosial soale.
November 29th, 2007 at 14:09
pake sistem buka tutup aja… ntar lagi kan musim ujan. Hati-hati dengan daerah rawan banjir
… (iki ngomong opo toh yo).
Btw, emang susah seh mo diapa2in juga tuh “mbak dolly”. Bener omongannya cak Gandi… hukum ekonomi
.
November 29th, 2007 at 14:36
fotonya itu jadul yah? koq model wanitanya seperti tahun 70-80an gitu? rambut pendek n celana pendek.
dolly? sebenarnya ada solusi, jika pemerintah menyediakan social cost buat para pelaku dolly.
yah di karyakan gitu loh
November 29th, 2007 at 14:42
@Arul
“fotonya itu jadul yah? koq model wanitanya seperti tahun 70-80an gitu? rambut pendek n celana pendek.”
Wah pengalaman masa lalu ya mas…kok tau jadul apa gak hahahahahhaa just kiding cak ^^
November 29th, 2007 at 15:42
kalok ditutup sapa yg mo nutup, kalok pemerintah yang nutup jadinya berarti pernah dibuka dong
, ku pernah baca di koran mana ya, bilang kek gitu
hayoo gimana
November 29th, 2007 at 15:52
sebenarnya ditutup atau gak itu bukan urusan pemerintah saja tapi semua lapisan masyarakat, khan ada undang-undang yang mengatakan bahwa fakir miskin….dipelihara oleh negara, nah sekarang kembali pada kenyataan bahwa “terkadang” tidak pernah memperhatikan (atau melupakan) pasal tersebut. sehingga kebanyakan dari pelacur tersebut melacur karena keadaan ekonomi yang susah yang tidak lepas dari ketidak adanya perhatian dari pemerintah terhadap warga negaranya yang miskin (baca: kurang mampu). Jadi pantas memang kalau pemerintah kota surabaya mengklaim tidak pernah membuka Dolly, karena kalau harus menutup lokalisasi terbesar tersebut berarti pemkot diwajibkan memelihara mereka yang melacur.
nb: kalau tidak pernah merasa membuka, kenapa pelacuran itu harus ada?apa pemkot mendukung pelacuran sehingga tidak mau menutup atau pemkot khawatir kehilangan sumber pendapatan kota!? TANYA KEN apa!
November 29th, 2007 at 16:29
Masalah tutup menutup dolly memang sudah menjadi polemik yang patut untuk diperbincangkan. Alasan walikota yang mengatakan bahwa pemkot tidak merasa pernah membuka atau melegalkan adanya dolly sehingga tidak berhak menutupnya, memang ada benarnya.
Tapi di sisi lain, pemkot seharusnya bisa memilih dah memilah kegiatan2 warga yang ada di lingkungannya. Apakah kegiatannya itu sesuai dengan norma atau malah bertentangan dengan norma. Tidak hanya berpangku tangan dan berlagak tidak tahu apa-apa.
November 29th, 2007 at 17:22
Waduh, ditutup???
Kok ga dari dulu?
November 29th, 2007 at 22:09
Lokalisasi adalah masalah sosial kemasyarakatan… Perlu kajian mendalam.. Pemerintah tidak boleh asal menutup dan memindah dolly…
Pikirkan bagaimana jika dolly dipindah di keputih…
Keputih adalah salah satu daerah yang saat ini dikenal sebagai daerah yang agamis. Di dekat keputih terdapat beberapa lembaga pendidikan kampus, diantaranya ITS, Hang Tua, ITATS, dll. Jangan sampai para mahasiswa ini dan masyarakat keputih ikut-ikutan mesum…
Pikirkan apa yang akan terjadi jika Dolly dihapus..
Apakah semua PSK bisa mencari pekerjaan lain, apakah para PSK memiliki keterampilan kerja. Semua jawaban tersebut dikembalikan pada pemerintah…
Pokoke kalo sampai Lokalisasi dipindah nang keputih TAK DEMO!!!!
November 29th, 2007 at 22:27
Ini kok jadi kasus dalam matakuliah strategi negosiasi saya ya?
Males jawab ah…
November 29th, 2007 at 23:36
Mbok yo jangan ngurusin yang aneh-aneh tho. Kalau ditutup lebih baik, Surabaya ga jadi kota yang zina aja ada tempatnya… Benernya kalau mau, selalu ada lapangan pekerjaan kok. Jadi tukang jahit, jadi ibu cuci-cuci, dll. Cuma males aja kan. Cuma ga mau aja kan. Cuma gengsi aja kan? Hm….
November 30th, 2007 at 00:19
wani perang karo mahasiswa tah pindah neng keputing..
pemerintah iki longor opo goblok ?
November 30th, 2007 at 01:46
@ gandhi : yah liat di Tipi2 lah model wanita perlente jadul kayak gitu.
dolly itu seperti buah simalakama yah
November 30th, 2007 at 02:48
kalo katanya Neo, kelaut aja…
November 30th, 2007 at 12:12
Jangan dipindah ke Keputih !!!! Mau menjadikan nama ITS dan perguruan tinggi yang di dekatnya tercoreng apa?
November 30th, 2007 at 13:12
apane iki seng ditutup ?
November 30th, 2007 at 16:55
wah..sing ditutup siji sing buka limo… repot. mending biarno ae
November 30th, 2007 at 19:59
kethoke asyik nek pindah keputih jiakakakakak..
jadi deket hehehehe
halah maleh melu-melu mesum.
December 1st, 2007 at 12:59
DOLLY = DODOL JELY
December 2nd, 2007 at 06:09
setuju dengan gandhi, ya mesti dikasih pekerjaan lain supaya gak kumat lagi. Kalo mau dipindah ke keputih boleh aja tapi harus dijadikan institut atau sekolah tinggi biar setara dengan ITS, ITATS dlll……:) guyon mode:ON
December 6th, 2007 at 10:13
Lebih baik dolly dibiarkan seperti sekarang… Isu ini paling muncul sebentar, trus berangsur-angsur hilang (kayak biasanya…), ga usah ditutuplah…kalo ditutup, mau dikemanain psk2 yg biasa mangkal disitu? ada yang mau nampung? Trus germonya, penjual kondom, tukang parkir…itu semuanya ribuan loh? Ada yang mau nampung mereka? Kalo pun kerja, keahlian mereka apa? Mau dibina dan dilatih? Duit pemerintah dari mana?
Kalo pun dipindah, kurang bijak juga karena pasti menimbulkan pro kontra bagi penghuni di kawasan ‘dolly baru’ nantinya…
Mending yg sekarang dipugar aja, jadi lebih bagus n modern…
Kan keren tuh, bisa nyaingin ‘red cross district’ yg di amsterdam dengan selera Indonesia…
Supaya berguna, pajak penyelenggaraannya di besarin, jadi pendapatan pemkot bertambah dan bisa digunakan untuk perbaikan pendidikan, perumahan rakyat dll…
Ga usah berbicara tentang perbaikan moral mengenai hal ini, karena bangsa ini sudah jelas2 moralnya kacau (ada yg korup, ada yg membunuh org lain dengan dalih agama, ada yg jalan2 ke luar negeri dengan uang rakyat…dll)
Masalah moral adalah masalah pribadi, ga perlu ngatur2 moral orang lain…yg penting, lakukan yang menurut ajaran moralmu benar dan tidak merugikan orang lain…
December 6th, 2007 at 10:29
ojo dipindah rek … lha ku ngko golek nang endi
December 10th, 2007 at 15:19
rapopo DOLY di tutup, udah lah dengan ditutupnya doli nanti akan ada pembukaan cabang baru yang siapa tahu berdekatan dengan rumah kita-kita, lumayan irit di ongkos bukan,
December 12th, 2007 at 10:47
gimana ya..dolly ditutup sie ada baek ama ga nya juga.kalo ditutup ntar yang jualan,germonya,PSKnya,tukang parkirnya,trus orang2 jablay mau dikemanain.masa mo dikamar mandi mulu onani..lama2 kadasan tu “alat”.tapi kalo trus dibuka ya ga enak juga..lha wong prostitusi,jualan ” pempek ” masa mo dibiarin.DOSA juga ya!!tapi sie kalo dipandang fari sego negara dan kemakmuran mendingan dolly tetep buka aja deh..cos slain untungnya banyak juga nyiptain lapangan pekerjaan,pemerintah aja ga mikirin pengangguran.mreka khan juga butuh duit buat hidup.apa kalo dolly ditutup bakalan nyelesaiin masalah ” keuangan ” mereka?kalo dolly ditutup dengan jaminan pekerjaan yang memada sih ga papa….
December 28th, 2007 at 01:34
Kalo ditutup pasti yang “lagi muter uang disana”(entah germonya, psknya, yang jualan mie goreng, jualan es dll) pada protes, soalnya perputaran ekonomi disana berhenti. Mungkin Pemkot Surabaya juga kelabakan soalnya dengar-dengar 65 % APBD Surabaya dari Pajak Dolly. Tapi kalo tetep dibuka, kejahatan traficking perempuan terus berjalan (Germonya kan juga butuh generasi baru PSK untuk ganti yang tua-tua, lha yang tua-tua biasanya pada alih profesi jadi germo buka “aquarium sendiri”), belum lagi pelanggannya, bisa-bisa orang Surabaya status belum nikah tapi udah kawin tambah banyak, generasi mana yg perlu diselamatkan ?
January 7th, 2008 at 20:34
Dikumpulin semua para penghuninya lalu dikawini jadi istri ke-2,3 atawa 4 …kan beres…harus mau kalo ga mau di ekspor aja.
(sorry…kasar ya?)
Salam Papinto
May 8th, 2008 at 00:35
wah mau kemana maniku disalurkan lagi sedangkan perekku akan pindah padahal aku jenuh dengan istriku ada yang mau dengan istriku kan kutawarkan bagi yang minat….
May 22nd, 2008 at 12:24
Wah jagan dipindah donxxx,,,,
ntar maniku kecer2 dijalan lagi,,
pemerintah juga sering ke dolli kok,,
sama-sama senang ya pak.SBY…..
May 22nd, 2008 at 12:54
ditutup aja bos. biar lendirnya orang indonesia gak habis. kan bisa dibuat bbm
May 22nd, 2008 at 14:31
main kualitas ajah. yg kualitas hartono ayam bisa lanjut, yang lain dieliminir ..
May 22nd, 2008 at 14:40
pengalaman jakarta sih, ketika kramat tunggak di tutup, akhirnya para pelacur membanjiri jalan jalan di jakarta. soalnya kelompok agama nggak setuju kramat tunggak hanya sekedar di pindah. mereka minta ditutup total. tidak ada kompromi.
tapi setelah para penjaja sex berserakan di jalan jalan, dan setelah masyarakat resah, baru deh mereka direlokasi, entah ke mana …
May 22nd, 2008 at 14:56
[...] Dolly pindah ke Keputih Dolly akan dipindah ke Keputih. Pilihan lain, akan dipindah ke Gresik. Ini papabonbon telat banget beritanya. Maklum nggak langganan koran. Baru juga baca tadi itu di Tugu Pahlawan . com. [...]
May 22nd, 2008 at 20:33
pindah ke keputih?
ga usahlah, mending di sebuah pulau di laut Madura aja
.
ngganggu belajarnya anak-anak ITS tau!
May 24th, 2008 at 16:23
gak setuju , soalnya aku pelanggan setia dolly.
kalau gak kesana rasanya gak enak
May 24th, 2008 at 16:24
Setuju dipindah, tapi tolong mbak-mbaknya harus melalui sterilisasi melalui punyaku dulu…biar ah…sama…sama uenak…
May 24th, 2008 at 16:26
setuju banget kalau pindahnya ke Bangka, soalnya di bangka lagi sepi PSK.
aku udah kangen ama yg licin2
May 24th, 2008 at 21:36
hehehe, dolly,,,,
nokoment dee
September 5th, 2008 at 15:31
hai salam kenal dari mr anto ikan mungsing 5 semoga hikmat selalu oke semua cewek seluruh indonesia
September 5th, 2008 at 15:32
daerah dolly jarak hikmat selalu heboh selalu cewek menjaga aku dari mr anto
September 23rd, 2008 at 16:40
go go doli,,berjuanglah terus,,,jangan ditutup.karena menurut saiaa kasihan kan pSk Nya.apalagi psk yang dinikmati baru 1x.
udh terlanjur gk perawan,cuman dapet cepek jien.
ya rugiii…
wkwkwkwk
yuuuu ke doliiii
September 23rd, 2008 at 16:45
lonte lonte..
apes banget sie nasib LOEE
WAKAKKAAK
January 2nd, 2009 at 14:16
sebelum ditutup, itu diberesi dulu mucikari-mucikari nakal yang tidak memberikan kelayakan hidup buat lubang2 sumber uangnya. banyak yang menunda2 gaji sampai tiga atau empat bulan belum terbayar klopun dibayar tidak diberikan semua, padahal mereka2 punya banyak kebutuhan yg menunggu dan ingin secepatnya keluar dari kandang yang terus memerah hak2 mereka dengan potongan2 ala majikan di luar negeri.
March 28th, 2009 at 15:39
hehehe ternyata pemkot, masyarakat dan kaum agamawan surabya BANGGA MA PELACUR, BUKTINTYA DARI JAMAN BELANDA AMPE SEKARANG TETAP JAYA TU DOLY, JARAK, MORO SENENG dan sebagainya. SURABYA KOTA PELACURAN BRO
April 13th, 2009 at 19:46
Kiamat sudah dekat bro………….!!!!!!!!!!!!!!!!
June 28th, 2009 at 13:02
jgn di tutup pak wali tar kl dolly di tutup…. sby jadi miskin loww…
kn apbd sby dari dolly yg paling besar@!!! good nice bwt dolly
July 1st, 2009 at 17:20
Jangan ditutup dan jangan dipindah. malah kalau bisa diperbesar dan diperindah.
Kasihan mereka yang cari makan disana. Mereka banyak yang menyekolahkan adik-2-nya dan membeayai hidup orangtua.
July 1st, 2009 at 17:25
Jangan ditutup dan dipindah bahkan harap didirikan sekolah SD, SMP dan SMEA Kursus Computer di Gang Dolly yang juga terbuka untuk para PSK. Sehingga siangnya sekolah, malamnya cari nafkah.
April 7th, 2012 at 17:22
tutup ajalah & jgan lpa tutup jga prostitusi yg berkedok panti pijat sperti di darmo park,,,