Ludruk merupakan kesenian teater rakyat yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Kesenian ini dipelopori Santik, petani dari Desa Ceweng, Kec. Gudo, Jombang, Teater rakyat ini biasanya menceritakan tentang jagoan, kepahlawanan yang dibawakan dengan nyanyian atau banyolan.

Di Surabaya, Ludruk masih tetap bertahan walaupun hanya beberapa puluh pemain saja. Hal ini dapat dilihat dari trafic pengunjung yang biasanya menonton di sebuah gedung di Jalan Pulo Wonokromo, Surabaya. Jumlah pengunjung yang datang tiap hari rata-rata 10-15 orang saja. Harga tiketnya Rp 2.500. Murah kan? Penghasilan yang begitu rendah membuat para pemain memiliki pekerjaan sambilan. seperti tata rias kemantin, dll.
Tapi sejalan dengan zaman pula, ludruk terancam punah. Hal ini ditandai dengan kurang minatnya masyarakat Surabaya untuk menonton Ludruk, jumlah pemain yang bertahan semakin berkurang, harga tiket yang murah masih belum bisa mendongkrak trafic pengunjung, dll. Masyarakat saat mengadakan pesta lebih menyenangi musik dangdut dan konser musik daripada nanggap ludruk. Pertanyaannya sekarang, Sampai kapan ludruk bisa bertahan?
Peran pemerintah sangat diperlukan untuk tetap melestarikan budaya khas jawa timur ini. Di samping itu, pemerintah seharusnya juga berusaha untuk memperhatikan kesejahteraan para pemain. Jangan sampai Kesenian ini punah dikikis Jaman.
Monggo para the heroes dirembuk gimana solusinya!
sumber foto: http://hurek.blogspot.com
December 9th, 2007 at 8:57 pm
VERTAMAXXX!!!
December 9th, 2007 at 9:21 pm
*seneng dapat vertamaxxx.. ini baru komen seriusnya*
wah kenapa lagi-lagi pemerintah yang ditodong? memang sih pemerintah kita ini kurang care ama yang beginian, juga aset budaya bangsa yg lain, cuman kita sebagai warga masyarakat harusnya berpartisipasi aktif dong.. ayo kalo ada pertunjukan ludruk ditonton, ato kalo ada waktu luang gak ada salahnya belajar ludruk..
maka ketika tahun lalu ada anak DKV Despro ITS yang mengerjakan TA tentang visual biografi Cak Kartolo sebagai ikon ludruk Surabaya, saya sangat setuju dan salut, ternyata masih ada anak muda yang care.. tapi patut dipertanyakan pula, kelanjutan dari visual biografi itu apa? tujuan mulia untuk memperkenalkan ludruk kepada generasi muda apa sudah tercapai?
ayo sekarang jujur, kalo di TV A ada ludruk, di TV B ada bola, di TV C ada Ada Gosip yang presenternya “super jumbo” itu, sampeyan pilih mana?
SOLUSI
lagi-lagi peran orang tua adalah nomer 1. saya masih yakin, kalo orang tua suka dengan ludruk kemudian memperkenalkan ludruk ini sejak anaknya masih kecil, kemungkinan ketika anaknya sudah besar juga akan suka ludruk.. lha sekarang ini kan orang tua itu, terutama yang tinggal di kota, bangga kalo bisa merayakan ultah anaknya yang masih balita di Mc.D dengan atraksi badut atau sulap.. kenapa gak ludrukan? takut dicap kampungan khan?!
SIAPA LAGI YANG AKAN MELESTARIKAN BUDAYA BANGSA KALAU BUKAN DIRI KITA? SIAPA?!!!
December 9th, 2007 at 11:00 pm
terakhir yang menyaksikan ludruk tjap tugu pahlawan yang kebetulan beberapa pentolannya adalah alumni elektro ITS yang manggung saat reuni akbar alumni elektro ITS.
padahal enak banget loh, guyon dan isinya nyetuh banget.
moga2 masih ada.
oia pentolan ludruk cap tugupahlawan itu pernah tampil loh di republik BBM.
@ deT : dilarang vertamax loh disini berdasarkan aturan postingan
ntar ada yang marahin loh *secara elo org pertama yg vertamax
*
December 10th, 2007 at 1:23 am
ludruk….eh kemana tuh Loedroek Tjap Toegoe Pahlawan? Kalo memang dulu kata cak Dargombes dkk. mereka tampil untuk melestarikan seni budaya yang satu ini, trus gimana kelanjutannya? Kalo memang ada cita-cita melestarikan ludruk, para pelakunya terutama, juga harus terus melestarikannya. Yaa seperti cak Kartolo itu, meski usaha sampingan juga pastilah… wong ludruker juga manusia. Tapi memang yang kayak gini ini butuh kerja pemerintah juga. Buat apa bikin departemen budaya dan pariwisata, kalo ternyata kesenian kita punah satu persatu? Kan bisa tuh bikin semacam pekan budaya, atau bulan budaya, seperti yang di Malang sekarang ini. Jadi harapannya, kesenian kita nggak ilang, atau dipreteli negara lain.
December 10th, 2007 at 1:54 am
oia baru ingat cak Dargombes namanya, hehehe, iyah penampilannya terakhir itu saya liat pas reuni akbar elektro ITS itu, masih lengkap koq tu hari perlengkapan mereka, termasuk personilnya.
mungkin skrg jarang yang undang jadinya jarang muncul.
atau mas yuki mau ngundang buat jadi pembicara gitu?
December 10th, 2007 at 7:42 am
Ludruk.. Riwayatmu dulu
Jaman saya masih kuliah dulu Loedruk Tjap Toegoe Pahlawan ngetop banget. Selain banyolannya khas anak2 muda, trus berisi banget dan pas dengan kondisi keadaan pada saat itu. Waktu saya kecil Kartolo Cs juga sempat singgah…
Saat sekarang bener2 prihatin banget dengan kondisi ludruk yg benar2 terpuruk. Terakhir sempat menyaksikan Kartolo cs di TVRI surabaya tapi skrg udah gak pernah nemuin lagi. Apakah udah habis masa tayangnya?
Yg membuat miris lagi adalah surabaya sebagai kota dimana ludruk pernah besar dan berkembang “gak peduli” lagi. secara kasar bisa dibilang Kota surabaya udah menjadi semacam kota dagang dimana semua dinilai dari kemampuan daya jualnya. Ludruk dengan daya jual yg kecil bahkan boleh dibilang gak laku untuk sekarang ini udah gak ada tempat lagi di kota surabaya. Bandingkan dengan festival2 band ato audisi mencari bakat yg sering kita jumpai disini. Animo masyarakat sangat menakjubkan. Mereka rela ngantri bahkan sampe menginap2 hanya untuk mendapatkan tempat ato nomor terhormat.
Kepada siapa terus kesenian ludruk akan mengadu? Jujur aja gak ada tempat lagi buat ludruk untuk mengadu, yg ada kita sebagai masyarakat surabaya yg harusnya ambil peduli, lebih peka, lebih mempunyai rasa memiliki bahwa ludruk itu milik kita masyarakat surabaya. Ludruk jgn sampe mati, ato mungkin kita menunggu ludruk di klaim kembali oleh malingsia baru kita akan peduli?
@mas arul
dimulai dari TPC aja mas kita bikin banner misal “Save our Loedroek” ato apapun lah namanya. Paling gak orang yg baca tau bahwa di surabaya ada kesenian namanya loedroek. Ato mungkin semobyan TPC bisa dibuat jadi “Loedroeknya blogger Surabaya” . Just saran aja mas hehehehehehe
December 10th, 2007 at 2:44 pm
@ gandhi : sepakat mas, tapi tidak sekedar banner nantinya, tapi ada tindakan nyata untuk mengembangkan loedroek ini.
Oia saia juga mempertanyakan sikap pemerintah terutama dinas yang mengurusi tentang kebudayaan seperti apa menyikapi hal ini. Apa tetap dipertahankan atau dibiarkan.
Salah satu peran generasi muda sebenarnya adalah membentuk komunitas ludruk, seperti yang teman2 di jurusanku membuka divisi ludruk untuk mengembangkan bakat teman2 di ludruk
December 10th, 2007 at 3:03 pm
Nggak ada solusi untuk ludruk dan kesenian daerah lainnya,
masalahnya kita mau gak tetep mempertahankan itu kesenian.
Kalo memang kita sudah nggak mau, ya jangan salahkan Malaysia kalau mereka mengambil semua kesenian daerah kita.
Dan mungkin 25 tahun kedepan yang orang luar tahu tentang Indonesia ya cuma lumpur lapindo itu saja,
Kalau dibilang kesenian daerah kita “akan punah” itu salah!
yang benar adalah kesenian kita SUDAH PUNAH!
Menurut saya tidak ada solusinya untuk itu, yang ada cuma “kesadaran”,
kalau kita mau sadar dan mau berbenah secepatnya, mungkin nggak ada kasus negara lain mengklaim kesenian kita,
KESENIAN ITU MUNCUL DARI BUDAYA MANUSIA,
KESENIAN ITU MANIFES DARI BUDAYA MANUSIA,
KESENIAN BERAKAR DARI BUDAYA MANUSIA,
SO KALO KITA MELUPAKAN KESENIAN KITA
ITU BERARTI KITA MELUPAKAN BUDAYA KITA
YANG MENJADIKAN KITA MANUSIA YANG BERBUDAYA.
December 11th, 2007 at 1:54 pm
Wis suwe rek gak ndelok ludruk!
terakhir, kapan awakmu kabeh ndelok ludruk?! paling2 lek JTV muter ludruk, channel langsung dipindah nang MTV, iyo opo iyo?! Ngaku reeeekkk! paling2 wis podho isin ndelok ludrukan.
Ndisik, aku paling seneng lek ngrungokno kartoloan jam 11 bengi sampe kiro2 jam 1 nang radio opo yooooo?! Lali aku rek! Jamane sik onok Basman!
Wah saiki wis ganti kabeh acarane! mbuh saiki opo?! tapi, bojoku sing wong sundo iku, nate ngrungokno acara ludrukan jam sewelas bengi, ning yo embuh radio opo? hehehehehehe
yek opo awakmu?
December 11th, 2007 at 3:08 pm
lagi2 tentang budaya yang terlupakan. tapi hal2 seperti ini harus terus kita bahas dan ingatkan lagi klo kita sebenarnya punya beragam budaya dan sebenarnya pula kita telah melupkan budaya tersebut.
jujur secara langsung saya tidak pernah melihat yang namanya ludruk. biasanya si cuma dengerin mp3 nya cak kartolo, itupun punya temen. dan juga liat di jtv, trus akhirnya kembali ke mtv (hehehe… .)
mungkin pendapat si det benar klo yang paling berperan dalam melestarikan budaya adalah orang tua. klo kita dari kecil sudah diperkenalkan budaya oleh orang tua, paling enggak besarnya kita masi mengenal dan tau. tapi bukan berarti pemerintah harus lepas tangan donk. ini memang menjadi kewajiban negara untuk melestarikan budaya kita. jangan sampai terjadi lagi klaim negara lain terhadap budaya kita. lko ini terjadi baru semuanya bingung seperti kebakaran jenggot.
sepakat juga sama mas gandhi klo tpc buat kampanye buat menyelamatkan loedroek ini. opini ini salah satunya. tapi tak hanya itu saja, mungkin bisa buat banner seperti usul bang gandhi. atau meliput loedroek di daerah wonokromo tersebut. bagus lagi klo dibarengi dengan tindkan nyata.
December 11th, 2007 at 3:13 pm
sori ya gak bisa bantu, ikut prihatin aja…
December 11th, 2007 at 3:47 pm
gmana kalo TPC buat acara ludruk modern, gak usah susah2, cari tempat yg umum aja dan cari sponsor lalu kita buat itu, sekalian promo TPC cinta Lodrok, gmana temen2? Ato lebih tertarik kita undang BRIDNEY PREARS aja?
December 11th, 2007 at 4:12 pm
@ filyung : sekali lagi ide yang brilian, okeh dibuatkan posting tersendiri aja, ntar di situ kita tentukan metode acaranya seperti apa. Salut buat filyung *tapi kenalan dulu rek di hte heroes*
December 11th, 2007 at 6:01 pm
Sedikit usul lagi, itu spanduk yg biasanya dibawa buat kopdar kalo iso gak usah dikasih tanggal trus ntar kalo emang mau buat banner untuk loedroek , di spanduk juga dipasang mas, jadi kalo spanduk itu dipajang sekalian kelihatan kalo TPC adalah komunitas cinta budaya juga
December 11th, 2007 at 8:32 pm
Terakhir saat saya masih belum kuliah, ludruk ala Sapari cs. pernah on air langsung dari radio suzana fm jam 3-4 sore. Saat itu saya demen banget dengerin soalnya ceritanya lucu-lucu. Tapi entah sekarang masih ada atau enggak?
@ det: memang bener, peran orang tua sangat diperlukan. Namun, saat ini mungkin sangat sulit. Karena kebanyakan orang tua sekarang sudah jadi orang tua yang modern, gak mau ama yang berbau jadul. Maunya hanya dengan hal-hal yang serba berbaumodern yang kuno sudah mulai ditinggalkan. Memang sih ada beberapa orang tua yang masih peduli ama ludruk. Tapi itu sangat langkah. Paling kalo gak orang desa, ya orang pinggiran kota.
@ mas yuki: memang bener. Peran dari dinas pariwisata dan budaya sangat diperlukan. Jangan sampai deh budaya kita hilang trus dicaplok ama malaysia lagi.
@ filyung: bener mas kata sampeyan.
@ mas gempur: wah, istri sampeyan ternyata ludruker juga.
December 12th, 2007 at 11:11 am
sbenernya yang ngebngunin lagi karya jawa yang namanya ludruk tu ya generasi-generasi muda.Coba aja pemerintah atau siapa aja yang suka ludruk ngeganti pemain ludruk.jangan yang udah tua-tua,,ganti aja pemainnya ama anak-anak muda sby,khan kebayakan pada fasih bahasa jawa.tampangnya yang bisa dibilang cakep ato cantik.trus temanya agak dimodifikasi biar mudah dimengerti.kayaknya tu termasuk salah satu pancingan biar ludruk hidup kembali…stuju ga?
February 11th, 2008 at 2:44 am
aku cuma woro-woro,sederek sedoyo mbok bileh wonten dok dalm bntuk vcd-ne ludrukan ngone cak kartolo hub aku yo…..
matur nuwun sak durunge.
February 23rd, 2008 at 7:36 pm
para dulur,
aku kepengen takok. opo ludruk mesti ono tari ngremo karo gamelan?
suwun
March 16th, 2008 at 6:35 pm
Hi, boleh tahu bagaimana cara mengkontak pemain ludruk tersebut. Saya lagi mengerjakan tesis tentang ludruk.
Trims
November 10th, 2008 at 2:38 pm
gmana kalo perjalanan ludruk surabaya, dan para pejuang ludruk, serta sisi negatif dan positif nya di film kan. agar semakin banyak pemuda yang ikut mengapresiasi kesenian ludruk kita. kan muda-mudi sekarang lebih seneng nonton biskop atao pilem….. hahahaha.
November 20th, 2008 at 11:22 am
Presscon Pesta Rakyat Jawa Timuran 2008
Kepada Yth.:
Rekan-rekan Media
Salam budaya… !!!
Memperingati 25
tahun berdirinya Loedroek ITB, kami
bermaksud mengenalkan seni tradisional Jawa
Timur kepada masyarakat luas melalui “Pesta
Rakyat Jawa Timuran 2008”. Tujuan pagelaran budaya ini tak lain untuk bersama-sama
membangkitkan semangat nasionalisme melalui penguatan benteng budaya, meningkatkan
apresiasi masyarakat terhadap keragaman seni tradisional di Indonesia, sekaligus mengajak semua pihak ikut mencari
solusi berbagai masalah yang dihadapi bangsa Indonesia.
Pesta Rakyat
Jawa Timuran 2008 terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan. Tradisi “Nggendheng Loedroek” (1-5 November
2008), Festival Seni Budaya &
Kuliner Jawa Timur (30 November 2008) di Kampus Ganesa ITB, Diskusi Panel “Kerajaan Indonesia, Kenapa Nggak?” (24
November 2008) di Gedung Indonesia Menggugat menghadirkan narasumber guru besar
ilmu tata negara Prof DR Mashudi SH MH dan budayawan Radhar Panca Dahana. Seluruh
rangkaian kegiatan itu ditutup dengan Maen
Gedhe Loedroek ITB (30 November 2008 malam) dengan lakon“Déjà vu De Java” di Auditorium Sasana
Budaya Ganesa.
Untuk mengetahui
penjelasan rinci dari masing-masing rangkaian kegiatan, kami mengundang
rekan-rekan media hadir dalam acara press conference Pesta Rakyat Jawa
Timuran 2008, yang akan dilaksanakan :
Hari / Tanggal :Kamis / 20 November 2008
Pukul : 15.00 WIB
Tempat : Jl. Ermawar No. 16 Bandung (Masuk dari
Jl. Tongkeng, di belakang Lapangan Golf Siliwangi)
Demikian
undangan ini kami sampaikan seiring ajakan kepada rekan-rekan media
bersama-sama menjaga dan melestarikan seni budaya tradisional, sebagai aset nasional.
Atas perhatiannya kami haturkan terima kasih.
Contact Persons:
Rizki Primasakti 085221600503,
Haryo Septoria 08128573169, Ricky 08156089745
November 24th, 2008 at 11:04 am
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/22/11581226/itb.gelar.pesta.rakyat.jawa.timuran
ITB Gelar Pesta Rakyat Jawa Timuran/
Sabtu, 22 November 2008 | 11:58 WIB
BANDUNG, SABTU–Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar “Pesta Rakyat Jawa Timuran 2008″ yang akan dilaksanakan di Kampus Ganesha Kota Bandung, 30 November 2008 mendatang.
Pesta Rakyat Jawa Timuran 2008 itu mengambil momentum yang bertepatan dengan ulang tahun perak atau 25 tahun terbentuknya “Loedroek ITB”.
Kegiatan ini untuk mengenalkan seni Jatim dan membangkitkan semangat nasionalisme melalui penguatan benteng budaya, sekaligus mencari solusi berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini,” kata Rizki Primasakti, Ketua Panitia Pesta Rakyat Jawa Timuran 2008, di Bandung, Jumat.
Rangkaian kegiatan pesta itu antara lain tradisi “Nggendheng Loedroek”, Festival Seni Budaya dan kuliner Jawa Timur, diskusi panel “Kerajaan Indonesia, Kenapa Nggak?” serta Maen Gedhe Loedreok ITB dengan lakon “Deja vu De Java” di Sasana Budaya Ganesha 30 November mendatang.
Kegiatan pesta rakyat itu diisi juga dengan tari tradisional Jatim seperti Jejer, Gandrung dan Ngremo. Kemudian, Reog Ponorogo, kesenian patrol dari Banyuwangi, stan komunitas budaya, stan Loedroek ITB.
Sedangkan parade kuliner antara lain festival kuliner, stan jamu, pecel Madiun, sate Ponorogo, rujak cingur, rawon, soto Lamongan, bebek goreng serta aneka jajanan pasar khas Jawa Timur.
Selain itu juga akan dilakukan kolaborasi Darma Wanita Loedroek ITB dengan Keroncong Merah Putih Bandung.
Loedroek ITB bermula dari pendirian perkumpulan seni Guyu Sedaya Jamuran yang merupakan singkatan Paguyuban Seni Budaya Jawa Timuran.
Kemudian perkumpulan itu populer dengan Loedroek ITB yang pentas dengan Bahasa Indonesia tapi tetap mempertahankan pakem ludruk asli dengan gaya mahasiswa ITB. (ANT)
May 19th, 2010 at 8:42 pm
ayo ayo podo di adak no maneh kesenian lodrok (suroboyo) di lestarikno maneh kesenian lodrok cek rame rek-rek
May 20th, 2010 at 1:09 pm
Jadi ingat waktu kecil. Di tanah kelahiran saya dulu tiap ada orang gawe mesti ‘nanggap’ (nggelar) ludruk. Malempun dibela-belain dateng. Hati berbunga-bunga menikmati sajian tradisional tersebut. Efek petasan, lampu warna-warni, dan gaya ‘lembeng’ (lebai) pemain terkadang membuat tawa ger-ger an. Mudah-mudah budaya yang satu ini tidak hanya sekedar sejarah, dan terus dilestarikan. Mungkin perlu diadakan event lomba ludruk atau event lain yang bisa mengangkat citra ludruk di zaman modern ini dengan tanpa mengurangi esensi dari kesenian ludruk itu sendiri.
June 25th, 2010 at 11:06 pm
askum..
kalo sekarang apa masi ada pentas ludruk?? saya ne mahasiswa semester akhir yang dari semester awal (maba) di ITS pengen banget liat ludruk live!!! sumpah! sampek sekarang pengen banget.
ludruk tugu pahlawan ini pentasx tiap minggu kah? hari dan jam?? barangkali nanti ada teman, saya pengen liat.. ludruk lebih asli lucunya daripada mr.Bean!!