Surabaya, Banjir, dan Macet

Surabaya. Di benak Anda mungkin langsung tergambar sebuah kota yang menjadi ibukota propinsi Jawa Timur, yang penuh dengan kemegahan, mall, dan gedung-gedung bertingkat. Surabaya juga merupakan sebuah kota yang asri karena memiliki banyak tumbuhan yang besar dan rimbun untuk ukuran kota metropolitan. Atau mungkin bagi Anda yang suka dengan hal berbau kuliner, langsung terbayang masakan tradisional Surabaya, rujak cingur.

Akan tetapi di balik itu semua, Surabaya masih memiliki permasalahan yang sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun. Apalagi kalau bukan masalah banjir.

Setiap musim penghujan, Surabaya selalu tenggelam dalam banjir. Dan jika sudah begitu, masyarakat pun langsung berteriak dan mengkritik pemkot yang (menurut mereka) kurang becus dalam menangani masalah ini. Padahal, selama ini pemkot tidak henti-hentinya melakukan pembersihan dan pengerukan sungai. Tapi apa daya, masyarakat Surabaya sendiri yang terus menerus membuang sampah dan limbah ke sungai. Terbukti, bulan lalu terjadi pencemaran air karena kadar limbah dalam air sudah terlalu tinggi sehingga masyarakat Surabaya pun terpaksa mengurangi penggunaan air mereka.

Banjir biasanya tidak datang sendirian. Bersamaan dengan itu, datang pula berbagai macam penyakit seperti diare, gatal-gatal, influenza, dan masih banyak lagi. Hal ini bisa menyebabkan daya tahan tubuh semakin melemah dan akhirnya bisa terjangkit penyakit yang lebih ganas.

Banjir juga dapat menyebabkan macet yang amat parah. Hal ini disebabkan kendaraan selalu berjalan pelan-pelan saat banjir, dan di saat bersamaan kendaraan terus bertambah dalam kecepatan 2 kali lipat sehingga macet pun tidak bisa dielakkan. Selain itu, kondisi jalan yang rusak semakin memperparah macet.

Tapi selain diakibatkan oleh banjir, macet bisa disebabkan oleh kurangnya kedisiplinan pengendara di jalanan. Mereka terkadang masih memiliki rasa egois dan tidak mempedulikan pengguna jalan lainnya. Dan kalau sudah demikian, maka sering terjadi kecelakaan yang bisa berujung pada kematian. Lalu ada lagi faktor jalan yang rusak. Disini, pengguna memang tidak bisa beradu kecepatan, tapi mereka harus ekstra hati-hati apabila tidak ingin terjadi kecelakaan.

Lalu, bagaimana cara mengatasi hal-hal tersebut? Sekarang saya kembalikan pada diri Anda masing-masing. Sudahkah Anda membuang sampah di tempat yang seharusnya? Sudahkah Anda tertib dalam berlalu lintas? Sudahkah Anda perhatikan kepentingan orang lain? ;)

Note: Pengalaman saya hari Senin kemarin saya masukkan dalam tulisan di blog utama saya.

19 Responses to “Surabaya, Banjir, dan Macet”

  1. Titah :

    sapa bilang pembersihan & pengerukan sungai bisa mengatasi banjir? malah bisa memperparah loh! coz, hasil kerukan seringnya ditumpuk hanya di satu sisi sungai, membentuk tanggul yang makin tinggi. nah, saat hujan datang, air yg kebingungan ga bisa meresap ke dalam tanah (dah kebuntu beton & aspal) memenuhi got-got, sungai-sungai, trus luberrr…

    tapi tanggulnya kan makin tinggi di satu sisi, nah sisi lainnya tuh yang makin klelepppp. contohnya sepanjang jalan banyuurip terus ke barat sampai balongsari (rumah kita dari taun ke taun makin klelep kan nak?), terus ke barat lagi sampe manukan, sememi, benowo….. sedih dehhh….

  2. Titah :

    mengatasi banjir enggak cukup dengan hanya enggak buang sampah di sungai, tapi kudu kasih jalan juga bwat air meresap ke tanah. caranya: (1) sisain 25% halaman di rumah masing2 tanpa ditutup plester, beton, ato aspal; (2) kalo mau dikeraskan juga, boleh pake paving, tapi pavingnya jangan cuman ditumpangin di beton/aspal seperti kelakuan pavingisasi di seluruh kota surabaya. sama aja bo’ong tuh! :P (3) kalo lahannya sempit, relain-lah bikin lubang buat resapan, misal 60 cm x 60 cm sedalam 3 meter (inget, jangan disemen ya…)

  3. Titah :

    boleh hattrick kan?
    sorry, maksudku bukan 25% halaman, tapi 25% dari seluruh lahan…. halamannya sih 100% dibiarkan terbuka lebih bagus. ditanami pohon yang rimbun, di bawahnya ditutup rumput, enak tuh bwat guling-guling kopdar sambil rujakan… :)

  4. alief :

    Ini menunjukkan bahwa Pemkot tidak punya visi luas dan jauh untuk membuat Surabaya menjadi kota yang nyaman.
    Seorang filosof berkata: “Buat apa ada pemerintahan, jika tidak bisa membantu masyarakatnya?”
    Membantu dalam arti secara fisik dengan mengeruk sungai, menambal jalan, dll. Juga membantu mengubah persepsi masyarakat, dari yang suka buang sampah dan tidak mau tertib, menjadi masyarakat yang cinta kebersihan dan disiplin….

    Kalo penggerak fisik dan persepsi bukan pemerintah, trus mau siapa lagi??? Wong pegawai Pemkot memang dibayar untuk itu kok….

  5. gandhi :

    Banjir di surabaya kalo ditanyakan ke pejabat pemkot jawabannya [Lagu lama Aransemen Baru] saluran drainase yg tidak memadai, sampah yg menumpuk dll. Pemkot cuma bisa memberikan alasan tapi gak pernah ada solusi dan tindakan nyata.

    Dan yg paling bikin sebel jawabannya adalah “ini tanggung jawab masyarakat juga” . Jawaban utk melarikan diri dari tanggung jawab. Memang benar masyarakat ikut bertanggung jawab, tapi Sebagai pemerintahan tertinggi dan sebagai penanggung jawab tertinggi harusnya lebih aktip dari masyarkat. Toh titik2 yg menjadi langganan banjir mereka punya datanya, trus apa tindakannya? nothing!!!

  6. neng-shei :

    Hmhm..banjir ya…
    Emang susah untuk ‘meng-klirkan’ (Bahasa Bekennya neeh!) permasalahan tahunan seperti itu.
    Yang pasti, dari kesadaran masyarakatnya sendiri perlu ditingkatkan..
    Inilah ‘kehebatan’ m,asyarakat indonesia..
    Selalu menggugat hak dan melupakan kewajibannya..
    (Aduuuh, jadi kesindir ndiri nih..hehehe)
    Pemkot dan pemerintah selalu jadi jujugan karena mereka yang ‘ngemong’ Kita…
    Tapi, apakah kita jadi bersikap ‘manja’ dan berpangku tangan begitu aja?
    Marilah segera benahi sikap dan diri kita, ambil tindakan nyata sekarang juga..
    JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN,
    JANGAN SALAHKAN ORANG LAIN SEBELUM MEMBENAHI DIRI SENDIRI.

    That’s such wise things that we can learn on!

    Halah…biasane ngommong ‘koe-ingsun’ ae guaya pake ngomong bahasa linggis..hehhe..
    Peace,

    Neng-Shei

  7. pandu :

    @ Titah
    Tapi pengerukan masih lebih baik daripada dibiarkan begitu aja tanpa ada tindakan nyata. :)
    @ alief
    Itu sudah tanggung jawab kita bersama, pemerintah dan masyarakat.
    @ gandhi
    Emang tanggung jawab bersama, kok. ;)
    Kalau masyarakat Surabaya sudah benar-benar berhenti membuang sampah ke Kalimas, usaha pembersihan tersebut akan terlihat hasilnya. Tapi nyatanya kita juga yang membuat hal itu semakin sulit direalisasikan. :)
    @ neng-shei
    Setuju! :mrgreen:

  8. gempur :

    mudah2an saya sudah menjadi bagian dari yang buang sampah pada tempatnya, terrtib lalu lintas dan tentunya tak menjadi perintang dan penghalang kepentingan orang lain.. Aminnn

  9. tu2t :

    masalah banjir emang nggak bisa selesai dengan begitu saja degh.. stuju dengan bu titah, mengenai cara2 tersebut.. tapi kalo ternyata tips yang telah diberikan bu titah telah dilakukan dan tetap banjir, what should we do??

    speechless degh gw..
    asli bin sumpah.. tu2t gk tahu harus bagaimana laghee… lahan rsapan, ada… ngeruk got.. iya.. buang sampah pada tempatnya.. so pasti dong.. tapi kalo banjir.. sampahnya keikutan naik -_-;;

    memang harus melibatkan seluruh elemen yang ada di surabaya ini jika mau terbebas dari banjir.. pemerintah juga harus tegas pada pabrik2 yang buang limbah sembarangan maupun masyarakat yang hobi buang sampah di sungai.. kita sebagai masyarakat surabaya, juga harus disiplin agar tak buang sampah sembarangan degh..

    tapi bingung juga… kalo jalanan banjir.. tu2t gk bisa kemana2… *halah.. malah curhat :p

  10. aRuL :

    surabaya oh surabaya…….

  11. alief :

    bikin Kaleidoskop-Blog™ yuk… Liat contohnya di
    http://alief.wordpress.com/ :)

  12. aRuL :

    masalahnya ruang buat daerah resapan air sudah ngak ada, semua saluran ketanah udah di tembok sama beton kabeh… :D
    so air itu tepaksa ngalir ke kanan kiri jalan.

    surabaya harus di restrukturisasi lagi kotanya, kalo gini terus, lama2 makin tenggelam :D

  13. galih :

    Masalah kota metropolitan mirip-mirip ya hehehe

  14. santy :

    menurutku…aq sudah buang sampah di tempatnya kok, cuman teman2ku aja yang belum sadar :P .. ia nih,, kalo santy pikir, yang salah tuh dua-duanya, gak pemkot gak warganya.. :P

    prasaan banjir di Surabaya gak begitu parah dibandingin sama Jakarta ya… ^^??

  15. vincentius :

    Huh, susah ya. Dari yang naik sepeda motor, naik becak sampe naik kendaraan setir bunder tumplek blek di jalanan Surabaya. Hujan, tradisinya sih banjir dan macet. Tradisi? Ngga juga sih tapi mau gimana lagi masa dari jaman Pak Harto sampe Pak SBY ga pernah selesai jadinya ya tradisi. Kalo dibilang kesadaran ya harus donk. Kapan Surabaya mau bebas banjir dan macet kalo warganya sendiri ga mau mengalah dan disiplin. Kalo pendapat saya sih semuanya ini karena kesadaran dari individunya masing2 yang cuma sedikit, ambillha contoh saat kita membuang sampah, bungkus permen. Kan langsung aja dibuang dijalan, hal kecil seperti itu aja kita anggap remeh padahal efeknya besar bgt. Ya gitu deh, perlu aturan yang amat sangat ketat dan aparat yang jujur dan bersih. Ya susah sih mengingat parahnya kondisi Surabaya dan warganya. BUTUH PEMIMPIN YANG BERTANGAN BAJA DAN PIKIRAN TAJAM JUGA HATI YANG BERSIH.

  16. pandu :

    @ gempur
    Amiin…
    @ tu2t
    Pemerintah memang harus tegas dalam menangani pabrik yang selama ini menjadi penyumbang terbesar dalam pencemaran air karena limbah. :)
    @ aRuL
    Restrukturisasi merupakan salah satu jalan keluar. Tapi hanya efektif jika masyarakat juga mendukung. ;)
    @ alief
    Nanti saat 1st Anniversary blog saya.
    @ galih
    Iya, hwehehe… :mrgreen:
    @ santy
    Itu Jakarta sudah jadi hutan beton. Jalur hijau di Jakarta pun bisa dihitung dengan jari.
    Makanya saya tulis: Surabaya juga merupakan sebuah kota yang asri karena memiliki banyak tumbuhan yang besar dan rimbun untuk ukuran kota metropolitan.
    @ vincentus
    Makanya, kita sebagai generasi penerus bangsa harus berusaha untuk merubah tradisi negatf itu. :)

  17. aRuL :

    kita lakukan yang kecil2 aja dulu…

  18. pandu :

    OK.

  19. satria.permana :

    baru kmaren bener2 ngerasain banjirnya surabaya. mana motor sempat mogok lagi. Untungnya ga sampe tenggelam seperti di mayjen sungkono. hh.. kapan nih pemkot melakukan realisasi surabaya bebas banjir…
    http://satriapermana.net/2009/01/09/banjir-di-surabaya/

Leave a Reply