Mengintip Cara Parkir Orang-Orang “Terpelajar”

Sebenarnya post ini saya siapkan untuk menyambut Hardiknas. Meskipun terlambat, tapi biarlah, yang penting masih ada gaungnya. Sekitar dua bulan lalu, sepulang sekolah, saya melewati jalan yang sama. Tapi pas menjelang kantor Depdikbud, yaitu di Jalan Genteng Kali, terjadi kemacetan. Sebuah hal yang selama saya bersekolah di SMA sangat jarang terjadi. Bahkan, angkot yang saya tumpangi harus menunggu sekitar 15 menit sebelum bisa lepas dari macet.

Ibu, mohon mobilnya dipinggirkan, ya… :)

Karena penasaran, saya pun melongok ke luar angkot. Apa yang saya lihat tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Para anggota Depdikbud yang entah-ada-apa memarkir mobilnya seenaknya sendiri, hingga ke tengah jalan. Hebatnya lagi, mereka memarkir mobilnya tepat di depan tanda dilarang parkir, benar-benar luar biasa. :mrgreen:

Mungkin mereka ingin memecah anggapan bahwa lahan parkir di Surabaya sempit dengan cara parkir di jalanan. Yah, memang Surabaya punya tempat parkir yang luas, tapi sebaiknya jangan disalahgunakan seperti itu. Bukankah Anda-Anda yang duduk di sana yang menentukan bagaimana nasib pendidikan Indonesia nantinya? Kok malah tidak tertib berlalu lintas?

Hal ini mungkin sebuah ironi bagi negara yang ingin memajukan pendidikan rakyatnya seperti Indonesia. Bagaimana pendidikan Indonesia bisa maju, kalau mereka-mereka yang duduk di sono tidak pernah memerhatikan aturan. Apalagi kita baru saja merayakan Hari Pendidikan Nasional, apa kata dunia™? :|

Komentar

11 arek sing komentar nang “Mengintip Cara Parkir Orang-Orang “Terpelajar””

  1. pandu nang 10th May 2008 10:00 pm

    Kok gambarnya nggak mau nengah, ya? :?

  2. cempluk nang 10th May 2008 11:12 pm

    aplaus buat anggota departemen pendidikan dan kebudayaan yang parkir sembarangan..siap2 aja kena gembok.. :D

  3. Anas nang 11th May 2008 7:17 am

    depdiknas kok ngajari yang elek… wah tanya kenapa?

  4. Det nang 11th May 2008 8:25 pm

    Ahaha.. Mungkin parkir di dalam sudah penuh ya?!

    Yang jelas diuntungkan adalah ‘musisi’ peniup peluit seharga 500 rupiah yang selalu siaga menyedot kantong orang yang parkir di pinggir jalan. Bisanya narik duit parkir tanpa karcis, tapi malas nata kendaraan!

  5. ndop nang 12th May 2008 6:33 am

    orang endonesa iku kakehan teori. pelaksanaanya masih kurang..

  6. aRuL nang 13th May 2008 1:32 am

    mmmm…. ngak ada tukang parkir yg negur yakz?
    matanya mungkin lagi ada di mata kaki yakz :P

  7. aDiNG nang 13th May 2008 11:40 pm

    pemerintah dari asal kata perintah
    jadi jangan heran kalo bisanya merintah
    eh.. sepurone, nggak nyambung yo :D

  8. pandu nang 14th May 2008 9:53 am

    @ cempluk
    *ngasih standing ovation*
    @ Anas, aRuL
    Hwehehwe… :mrgreen:
    @ det
    Mungkin, tapi kan di gedung perhutani sebelahnya punya tempat parkir yang bertingkat. Apa ndak boleh sekedar “titip” parkir? :?
    @ ndop, aDiNG
    Bechul ichu™… :mrgreen:

  9. Fandy nang 17th May 2008 6:52 am

    OALAH…. makanya adik-adik kita yang masih SMP ama SMA kok gak disiplin dalam belajar… lha wong yang ngurusi pendidikan aja kayak gini…

  10. Nandhika nang 3rd June 2008 10:20 pm

    Indonesia gak akan maju-maju tukang parkir juga bicara “trus mundur2 stop” itu bertanda indonesia mundur trus.

    gimana mau maju yang udah jadi orang tinggi juga masih ricuh apa lagi yang di bawah seperti pelajar

  11. Nichi nang 4th June 2008 5:09 pm

    Gak sungkan karo jabatane. Katanya punya otak, kok otaknya ditinggal.
    Semoga dengan jepretan’e mas pandu nggak terulang lagi perbuatan ini.

    @ Pandu:
    Kalau masih diulangi, mas pandu tolong di jepret juga nopol mobilnya. Ntar aq laporin ke anaknya biar dinasehati sama anaknya. Ha.. ha.. (100x)
    Murid’e sopo seh iki ?
    Lulusan endi seh iki ? :p PEACE

Kirimen komentarmu