<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>TUGUPAHLAWAN.COM &#187; Lalu-lintas</title>
	<atom:link href="http://tugupahlawan.com/kategori/lalu-lintas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tugupahlawan.com</link>
	<description>Komunitas Blogger Surabaya</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 14:15:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Surabaya Macet?</title>
		<link>http://tugupahlawan.com/4027/surabaya-macet/</link>
		<comments>http://tugupahlawan.com/4027/surabaya-macet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 16:15:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gempur</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cangkrukan]]></category>
		<category><![CDATA[Lalu-lintas]]></category>
		<category><![CDATA[Mbangun Tugu]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[lalu-lintas surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[surabaya macet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tugupahlawan.com/?p=4027</guid>
		<description><![CDATA[Nulis babagan suroboyo macet iku gak gampang rek! inguk'en dhiluk ae, wocoen rodhok jenak thithik, maringono komen sing nguawur sak karepmu, la wong critane mung pengen awakmu dulur-dulurku kabeh mbalik mampir nang tugupahlawan.com hehehehe]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Surabaya sebagai kota terbesar Indonesia kedua setelah kota Jakarta tentunya memiliki sejumlah resiko yang hampir sama dengan kota-kota besar lainnya di Asia bahkan dunia. Problematika sosial bermunculan di sana-sini seiring dengan tumbuh-kembangnya Surabaya menjadi kota metropolitan menuju megapolitan. Ada banyak persoalan yang menjadi pekerjaan rumah warga kota Surabaya dan tak hanya melulu pekerjaan Pemerintah Kota Surabaya yang getol-getolnya membangun infrastruktur di berbagai wilayah. Salah satu pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai selain banjir adalah kemacetan. Pertumbuhan penduduk Surabaya yang rasio antara angka kelahiran dan angka kematian pada 2003 di kisaran 0,6 persen jelas membutuhkan penanganan serius dari pihak terkait. Belum lagi angka pertumbuhan pendatang setiap tahunnya yang tidak terpantau ditambah jumlah pendatang (warga luar surabaya yang bekerja di Surabaya) setiap harinya yang disinyalir mencapai angka 2-3 juta jiwa.</p>
<p><span id="more-4027"></span>Di sisi lain, kebijakan transportasi yang dirasa belum memberikan solusi terbaik bagi kenyamanan bertransportasi warganya. Bagaimana tidak nyaman,<em> lha wong</em> salah satu produsen motor terkemuka berani mengempelkan stiker di setiap motor baru keluarannya kalau produksinya telah tembus di angka 25.000.000. Itu baru satu produsen motor, sementara ada paling tidak 7 produsen motor yang banyak digunakan masyarakat Indonesia. Di Surabaya sendiri, berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Surabaya menyebutkan data bahwa pada tahun 2006 ada sekitar 928.686 unit. Data tersebut sudah 4 tahun yang lalu, bagaimana data 2010?</p>
<p>Sementara itu, ketersediaan infrastruktur jalan yang dalam hal ini penambahan ruas jalan tidak sebanding dengan pertumbuhan angka kendaraan. Kondisi ini diperparah dengan karut marutnya transportasi publik yang dalam sebuah diskusi yang diadakan Dewan Kota Surabaya ditemukan fakta bahwa <em>master plan</em> transportasi publik masih menjadi polemik yang belum terpecahkan.</p>
<p>Apa dampak yang ditimbulkan? Kemacetan dan ketidaknyamanan bertransportasi.</p>
<p>Lantas, solusi apa yang pantas dan layak diupayakan agar kemacetan dan kenyamanan bertransportasi bisa terwujud? Setidaknya ada 2 ssisi penyelesaian yang bisa diupayakan, antara lain:</p>
<p>Sisi pemegang kebijakan yang dalam hal ini Pemerintah Kota Surabaya:</p>
<ol>
<li>Adanya cetak biru transportasi yang disepakati bersama antarinstansi pemerintah terkait di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya yang melibatkan organisasi transportasi publik Surabaya dan pihak-pihak yang terkait. Lebih spesifik, ketersediaan sarana angkutan publik yang murah, aman dan nyaman bagi warga Kota Surabaya.</li>
<li>Perbaikan dan perluasan jalan yang mampu menampung alat tranportasi. Dalam hal ini, penulis sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya dengan langkah nyata pembangunan Kota Surabaya yang salah satunya adalah perluasan fungsi sungai atau kali menjadi jalan raya dengan mengganti aliran sungai yang ada dengan <em>box culvert</em> yang di atasnya dijadikan jalan raya.</li>
<li>Adanya kebijakan berupa Peraturan Daerah yang membatasi pertumbuhan kendaraan motor pribadi. Meski kontraproduktif dan kurang populer, tapi harus ada regulasi yang jelas tentang pembatasan kendaraan bermotor pribadi, karena selain menguntungkan pengguna jalan juga menurunkan konsumsi BBM yang jelas berdampak pada lingkungan yang semakin bersih dari polusi. Pemerintah harus mengambil resiko dengan menurunnya pendapatan daerah dari pajak kendaraan bermotor daripada harus menanggung beban biaya ekonomi, sosial dan budaya akibat kemacetan. Apalah artinya pendapatan besar jika pengeluaran anggaran untuk penanggulangan permasalahan ekonomi, sosial dan budaya yang ditimbulkan kemacetan tak kalah besarnya, bahkan biaya pengeluaran lebih besar daripada pendapatan merupakan sebuah keniscayaan.</li>
<li>Adanya fasilitas parkir bagi kendaraan luar kota yang terhubung dengan sarana transportasi publik dalam kota, biasa disebut dengan <a title="Park and Ride" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Park_and_ride" target="_blank">Park and Ride</a>. Meski sudah ada beberapa titik lokasi yang menyediakan fasilitas ini, seperti Terminal Bungurasih, tapi masih belum optimal keberadaan dan penggunaannya. Diharapkan pekerja yang datang dari luar Surabaya dapat memarkir kendaraannya di pinggiran kota dan masuk ke dalam kota menggunakan transportasi publik yang ada.</li>
</ol>
<p>Sisi warga Kota Surabaya, antara lain:</p>
<ol>
<li>Kesadaran untuk lebih mengutamakan menggunakan transportasi publik daripada menggunakan transportasi pribadi. Meski sulit, tapi menjadi sebuah keniscayaan bilamana kesadaran akan kenyamanan bertransportasi melekat dan tertanam secara perlahan pada diri warga Kota Surabaya. Dan ini harus dimulai dari pejabat dan pegawai instansi publik dan pemerintahan untuk menjadi contoh keteladanan warganya.</li>
<li>Kembali menggunakan sepeda bagi mereka yang bepergian dengan jarak dekat. Jelas ini merupakan tantangan berat bagi masyarakat yang sudah terlanjur dimanjakan dengan akses yang serba instan dan mudah termasuk penulis sendiri.</li>
<li>Menurunkan standar sosial nilai bahwa naik motor/mobil pribadi itu bukanlah &#8220;barang mewah&#8221; yang pantas untuk dibanggakan, butuh sinergi antar banyak pihak untuk mengubah tatanan nilai yang sudah terlanjur tertanam di masyarakat.</li>
<li>Kesadaran untuk mendisiplinkan diri sendiri selama berkendaraan di jalan raya menjadi mutlak diperlukan agar tercipta suasana dan situasi berkendaraan yang tertib dan nyaman. Tidak sedikit pelanggaran terjadi akibat kurang disiplinnya pengguna jalan yang bisa berdampak pada ketidaknyamanan pengguna jalan lainnya. Untuk yang satu ini, penulis sering mendapati pengalaman menjengkelkan, di mana lampu lalu lintas yang hijau di kejauhan sudah menunjukkan detik yang hampir saja memasuki tanda lampu kuning. Tentunya saya mengurangi laju kecepatan, tapi parahnya, motor di belakang saya membunyikan klaksonnya berulang-ulang isyarat saya diminta memutar gas kencang-kencang. Pada kesempatan lain, saya terpaksa memalingkan muka ke belakang sambil menunjuk pada tiang lampu lalu lintas yang bertuliskan &#8220;Belok Kiri Mengikuti Lampu&#8221; dan berteriak: &#8220;Tau sekolah, Gak!!! Wocoen iku..!!!&#8221;. Kesabaran saya habis karena pada saat lampu merah tentunya saya berhenti dan mematuhi rambu-rambu yang ada, tapi pengendara motor di belakang saya membunyikan klakson saya berulang-ulang tanda saya diminta untuk terus ke kiri. Jika di tiang lampu lalu lintas itu bertuliskan &#8220;Belok Kiri Langsung&#8221; tentunya saya akan terus melaju meski lampu merah, <em>lha </em>ini jelas beda tulisannya <em>loh</em>!. Masih banyak pengalaman-pengalaman lainnya tentang tidak disiplinnya pengguna jalan di Surabaya.</li>
</ol>
<p>Masih banyak yang harus dituliskan, tapi tulisan ini sudah terlalu panjang untuk dikonsumsi dan lagi ini sudah memakan waktu 2 jam menuliskannya. Sebagai blogger setengah tidak serius, adalah sebuah berkah ramadhan bisa menulis sepanjang ini. Sambil menunggu komentar serius maupun setengah tidak serius atau bahkan sangat tidak seirus mampir ke tulisan ini, saya <em>tak menikmati cengar-cengir dhewe ambek nggumun: &#8220;kok isok aku nulis dhowo koyok ngene, yo..!!!&#8221;</em> <img src='http://tugupahlawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tugupahlawan.com/4027/surabaya-macet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Traffic Light</title>
		<link>http://tugupahlawan.com/973/traffic-light/</link>
		<comments>http://tugupahlawan.com/973/traffic-light/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 06:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cahwetan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lalu-lintas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tugupahlawan.com/973/traffic-light/</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang gak kenal dengan traffic light, atau istilah Indonesianya adalah lampu lalu lintas. Hampir seluruh warga Indonesia tahu lampu lalu lintas. Sengaja tema ini saya ambil untuk membahas perkembangan dan penggunaan lalu lintas di kota &#8211; kota besar, salah satunya kota Surabaya. Ya&#8230;..tanpa kita sadari banyak banget kekurangan dan kelebihan dari adanya lampu lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Siapa yang gak kenal dengan<em><strong> traffic light</strong></em>, atau istilah Indonesianya adalah lampu lalu lintas. Hampir seluruh warga Indonesia tahu lampu lalu lintas. Sengaja tema ini saya ambil untuk membahas perkembangan dan penggunaan lalu lintas di kota &#8211; kota besar, salah satunya kota Surabaya. Ya&#8230;..tanpa kita sadari banyak banget kekurangan dan kelebihan dari adanya lampu lalu lintas dalam mengatur penggunaan jalan raya.</p>
<p><span id="more-973"></span>Traffic light sendiri di atur 24 jam non-stop untuk mengatur ketertiban lalu lintas. Hampir tidak terpikirkan, coba kalau traffic light diganti denga tenaga manusia, kayak apa ya manusianya. Samson aja pasti kalah. <img src='http://tugupahlawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ya&#8230;.oleh karena itu kita patut bersyukur dengan adanya traffic light. Coba deh kalau ga ada, kayak apa ya lalu lintas di kota &#8211; kota besar. Tapi jangan senang dulu dong ??? Di balik kelebihan pasti ada kekurangan, walaupun kekurangan itu sedikit tapi kalau ketahuan juga tetap buruk <em>image</em>-nya.</p>
<p>Ini yang ga pernah kita sadari juga, traffic light itu barang elektronik, dan barang elektronik itu punya nilai &#8211; nilai yang perlu diperhatikan, dari segi ketahanan, akurasi, presisi dan sebagainya. Kenapa perlu diperhatikan ??? Semakin lama dipergunakan maka semakin cepat pula mengalami penurunan kualitas kerja. Salah satu contohnya lampu mati, lampu-nya nyala semua atau bahkan mati semua. Nah kalau sudah kayak gitu kan bingung tuch. Jadinya lalu lintas tidak terkendali dong. oh iya ada yang lupa juga nih, menyoroti traffic light di kota Surabaya, yang sistemnya sudah menggunakan led dan timer. ini ada kekurangannya lho, timer yang terlalu lama akan semakin menambah daftar kemacetan dikarenakan mobil yang antri, kemudian timer untuk lampu hijau yang cepat mengakibatkan kendaraan bermotor melaju dengan kecepatan tinggi agar tidak antri lampu merah lagi. Wah serba ribet ya&#8230;.Terpikirkan oleh saudara ga ???</p>
<p>Terus gimana nih solusinya ???</p>
<p>Semua pasti ada solusinya, yuk kita mikir bareng &#8211; bareng.<br />
Silahkan di comment, ntar kita laporkan ke Dinas lalu lintas DLLAJ.</p>
<p>Salam Kepahlawanan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tugupahlawan.com/973/traffic-light/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati-hati Di Jalan</title>
		<link>http://tugupahlawan.com/680/hati-hati-di-jalan/</link>
		<comments>http://tugupahlawan.com/680/hati-hati-di-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 01:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yuki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lalu-lintas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tugupahlawan.com/680/hati-hati-di-jalan/</guid>
		<description><![CDATA[Ungkapan seperti judul diatas ini, boleh jadi teramat sangat sering kita dengar, terutama kalau mau berangkat, entah ke sekolah, kuliah, tempat kerja, atau kalau mau plesir keluar kota. Tapi coba kita lihat, seberapa hati-hatikah pengendara di jalan raya? Kalau teman-teman amati, ada papan elektrik yang dipasang di depan Polsek Tegalsari, dan juga di dekat tikungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ungkapan seperti judul diatas ini, boleh jadi teramat sangat sering kita dengar, terutama kalau mau berangkat, entah ke sekolah, kuliah, tempat kerja, atau kalau mau plesir keluar kota. Tapi coba kita lihat, seberapa hati-hatikah pengendara di jalan raya?</p>
<p>Kalau teman-teman amati, ada papan elektrik yang dipasang di depan Polsek Tegalsari, dan juga di dekat tikungan menuju ke arah jembatan layang Mayangkara. Disitu ada tulisan tentang data kecelakaan untuk 2008. Ternyata, sampai bulan Mei ini, jumlah kecelakaannya sudah lebih dari 410 kejadian. Yang lebih mengerikan lagi, ternyata jumlah korban tewas akibat kecelakaan itu sudah mendekati setengahnya, atau sudah lebih dari 200 kejadian. Sementara jumlah korban luka berat dan ringannya juga tidak sedikit.</p>
<p>Sekarang, coba teman-teman amati di jalan. Bagaimana dengan perilaku pengendara sepeda motor, dan juga mobil termasuk angkutan umum? Ternyata, cara berkendara mereka sangat berbahaya. Ini pernah diungkap mas Ganton dan mas Komang Ferry dari Dharma Safety Drive, sebuah lembaga yang mengajarkan berkendara aman dan selamat. Yang sepeda motor sudah ugal-ugalan, tidak kenal ampun kalau sudah maunya sendiri yang muncul, potong kanan-kiri dan senggol spion orang sudah bukan hal baru lagi. Pun juga pengendara mobil tidak kalah sangarnya dalam berkendara. Biarpun ada yang sudah kasih lampu sein, ternyata masih saja ada yang nggak mau mengalah sedikit, memberi jalan. Sebaliknya, kadang-kadang yang ngasih sein pun juga begitu, belok dulu baru kasih sein.</p>
<p>Pihak kepolisian pernah menyatakan, kecelakaan itu selalu diawali dari pelanggaran. Jadi kesimpulannya, angka kecelakaan yang sangat tinggi di Surabaya ini, bisa jadi karena kedisiplinan pengendara dalam mematuhi peraturan lalu-lintas sangat rendah, sehingga kecelakaan sering terjadi. Secara kuantitas, ada peningkatan yang lumayan besar untuk tahun ini, dibandingkan tahun 2007 kemarin.</p>
<p>So, kalau mungkin orangtua, istri, suami, anak, atau pacar sudah mengatakan, &#8220;Hati-hati di jalan ya!&#8221;, mudah-mudahan kita semua sudah betul-betul menerapkannya di jalan. Beberapa klub sepedamotor sendiri pernah menyatakan, sudah berusaha menyosialisasikan keselamatan berkendara, tapi sejauh ini hasilnya masih belum terlalu tampak, begitu juga dengan apa yang sudah dilakukan beberapa klub mobil. Sekali lagi, hati-hati di jalan Kawan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tugupahlawan.com/680/hati-hati-di-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengintip Cara Parkir Orang-Orang “Terpelajar”</title>
		<link>http://tugupahlawan.com/679/mengintip-cara-parkir-orang-orang-terpelajar/</link>
		<comments>http://tugupahlawan.com/679/mengintip-cara-parkir-orang-orang-terpelajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 14:57:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pandu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lalu-lintas]]></category>
		<category><![CDATA[Suroboyoan]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tugupahlawan.com/679/kurmengintip-cara-parkir-orang-orang-%e2%80%9cterpelajar%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya post ini saya siapkan untuk menyambut Hardiknas. Meskipun terlambat, tapi biarlah, yang penting masih ada gaungnya. Sekitar dua bulan lalu, sepulang sekolah, saya melewati jalan yang sama. Tapi pas menjelang kantor Depdikbud, yaitu di Jalan Genteng Kali, terjadi kemacetan. Sebuah hal yang selama saya bersekolah di SMA sangat jarang terjadi. Bahkan, angkot yang saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sebenarnya</strong> post ini saya siapkan untuk menyambut Hardiknas. Meskipun terlambat, tapi biarlah, yang penting masih ada gaungnya. Sekitar dua bulan lalu, sepulang sekolah, saya melewati jalan yang sama. Tapi pas menjelang kantor Depdikbud, yaitu di Jalan Genteng Kali, terjadi kemacetan. Sebuah hal yang selama saya bersekolah di SMA sangat jarang terjadi. Bahkan, angkot yang saya tumpangi harus menunggu sekitar 15 menit sebelum bisa lepas dari macet.</p>
<p><img src="http://p4ndu3121990.files.wordpress.com/2008/05/parkir-di-jalan.jpg" height="299" width="399" /></p>
<p align="center"><em>Ibu, mohon mobilnya dipinggirkan, ya&#8230; <img src='http://tugupahlawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
</em></p>
<p><span id="more-679"></span>Karena penasaran, saya pun melongok ke luar angkot. Apa yang saya lihat tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Para anggota Depdikbud yang entah-ada-apa memarkir mobilnya seenaknya sendiri, hingga ke tengah jalan. Hebatnya lagi, mereka memarkir mobilnya tepat di depan tanda dilarang parkir, benar-benar luar biasa. <img src='http://tugupahlawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif' alt=':mrgreen:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mungkin mereka ingin memecah anggapan bahwa lahan parkir di Surabaya sempit dengan cara parkir di jalanan. Yah, memang Surabaya punya tempat parkir yang luas, tapi sebaiknya jangan disalahgunakan seperti itu. Bukankah Anda-Anda yang duduk di sana yang menentukan bagaimana nasib pendidikan Indonesia nantinya?  Kok malah <a href="http://tugupahlawan.com/574/tertib-itu-repot/" title="Ayo pak, bu, yang tertib ya...">tidak tertib berlalu lintas</a>?</p>
<p>Hal ini mungkin sebuah ironi bagi negara yang ingin memajukan pendidikan rakyatnya seperti Indonesia. Bagaimana pendidikan Indonesia bisa maju, kalau mereka-mereka yang duduk di sono tidak pernah memerhatikan aturan. Apalagi kita baru saja merayakan Hari Pendidikan Nasional, apa kata dunia™? <img src='http://tugupahlawan.com/wp-includes/images/smilies/icon_neutral.gif' alt=':|' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tugupahlawan.com/679/mengintip-cara-parkir-orang-orang-terpelajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

