Neo Cyber Farmer Baby was born…

sebelumnya saia mohon maaf kalau saia salah tempat. Saia posting tulisan ini untuk menu utama ‘Anggota’

eROS

Neo Cyber Farmer Baby was born…

Ya tepat hari ini 08 Juli 2008 seorang bayi blogger telah lahir. 8-7-8 angka yang lumayan unik , bukan saia sengaja ato maksa lahir pada hari ini tapi entah kenapa tiba-tiba saia pengen ikut2an ngeblog karena terinspirasi seorang sobat dan tentunya TPC yang kala itu di bahas habis di koran Kompas, 22 Juli 2008. Saia, sang bayi blogger yang bakal menggemparkan jagat maya internet, bayi yang bakal menggemparkan dunia blogging dan bisnis online (mungkin gak ya ……. hehe) Tapi saia sangat optimis hal itu akan terwujud.

lanjut, rek…

Golput yang lagi ngetrend

Bismillahirrohmanirrohim,

Gresik 12 Juli 2008

Beberapa media memberitakan bahwa untuk hasil pilkada seperti di pilgub Jateng dan pilgub Bali banyak diwarnai tingkat Golput yang tinggi dengan kisaran data presentasinya 30 - 35% dari pemilih. Dari data tersebut mungkin salah satu penyebabnya adalah krisis kepercayaan masyarakat kepada wakil rakyat yang karena kelakuannya sendiri yang memalukan, mulai dari kasus suap, kasus pelecehan seks, ataupun kasus kasus yang membuat kita berpikir bahwa mereka yang menjadi wakil rakyat kurang mampu menjaga “amanah” dan tidak pernah mendengarkan aspirasi atau suara rakyatnya. lanjut, rek…

Adinda Bakri - Lapindo : Dua Hal Yang Berbeda

Adinda Bakri akan menikah. Tapi jangan marah sama dia kalau akan expense dua digit milyard. Karena mereka entitas yang berbeda. Ini bukan dosa turunan, mas dan ning sekalian. Lahir sebagai anak orang kaya kan tidak bisa memilih.

gambar berasal dari sini

Kalaupun lapindo membuat gunungan lumpur dan penduduk di jawa

timur jadi menderita. yaaah .. gimana yah, Salahkan Indra bakri sang ayah yang menjadi pemilik saham mayoritasnya ? Atau salahkan sang pencipta dan alam yang sedang ngambeg ?

  • Arek soroboyo pilih marah ke siapa ?
  • Menurut kamu bagaimana ?

Indra dan Gaby foto dari sini

Proses Instan Perpanjang SIM

Mungkin ini berita sudah basi. Karna Surabaya sudah punya satu layanan masyarakat instan untuk perpanjang SIM dan yang pertama di Indonesia sejak pertengahan Desember 2007 yang lalu. Tepatnya di TP (Tunjungan Plasa) lower ground, dinamai “SIM Corner.”

Liputan6.com, Surabaya: Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya, Jawa Timur, membuka layanan perpanjangan Surat Izin Mengemudi (SIM) di pusat perbelanjaan atau mal, baru-baru ini. Kegiatan yang diberi nama SIM Corner ini dimaksudkan untuk menghilangkan anggapan kalau membuat SIM berbelit dan penuh dengan birokrasi.

Dibanding pengurusan biasanya, di SIM Corner tidak ada antrean panjang dan tak ada proses yang berbelit. Dengan Rp 85 ribu, SIM baru jadi hanya dalam waktu 20 menit. Warga pun bisa mengurus SIM sambil belanja. Apalagi jam kerja SIM Corner disamakan dengan jam buka mal yakni dari pukul 10.00 WIB hingga 22.00 WIB. (JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

diambil dari detiksurabaya.comAwal Maret yang lalu, saya coba sendiri kesana. Ibu Polwan meminta saya menyerahkan 1 lembar foto kopi KTP yang masih berlaku dan SIM C & A yang akan diperpanjang, menyerahkan uang Rp 170rb dan kemudian ngisi 2 formulir untuk masing-masing jenis SIM. Singkat cerita, total waktu sampai dengan saya terima SIM baru di tangan, hanya butuh waktu 8 menit! Wah, keren! Bebas calo, dingin, praktis dan efisien!

lanjut, rek…

Bangga beraksen “Medhog”!!!

Pemanasan Menyanyi Di PanggungAda 1 hal yang menarik jika kita mengamati kontes “langkah instan menuju terkenal”. Tahu kan maksudnya? Kontes-kontes seperti ini, sudah marak di Indonesia mulai beberapa tahun lalu. Maafkan saya kalau harus menyebutkan merk, tapi kalau tidak disebutkan, nanti jadi nggak nyambung?

Jadi, mari kita mulai. Sebut saja mulai dari awal, AFI (yang sekarang tinggal Juniornya saja), Idol (yang mungkin saat ini adalah kontes yang paling menyedot perhatian Indonesia), sampai KDI atau juga Kontes Dangdut Dadakan.

Yang, menarik, meskipun Surabaya tidak pernah absen mengirimkan wakilnya, tapi kita jumpai, Surabaya tidak pernah menang! Kecuali di Kontes Dangdut TPI (kalau tidak salah yang menang adalah Super Emak, CMIIW). Paling tinggi 5 besar, dan kebanyakan memang “dipulangkan” di level ini. Ada apa dengan angka 5? Bukan masalah dengan angka 5 nya.

Tapi menurut saya, yang menarik adalah komentar para juri. Amati saja, bagi para kontestan Surabaya, selalu ada perkataan “Masih medhog…”, “Medhognya belum bisa hilang”, dan sebagainya. Nah, bagi saya, pernyataan ini lama2 cukup mengganggu juga. Ingin rasanya saya bisa mengatakan “What’s wrong with our dialek?”

Apakah kalau kita medhog, itu berarti ke-Indonesiaan kita berkurang? Apakah orang Indonesia identik dengan orang2 yang melafalkan huruf D dengan cara yang tidak mantap? Dan yang mengucapkannya dengan cara yang “mantap” itu berarti salah? Inilah yang aku tidak habis mengerti.

Apa sih masalahnya? Apakah kalau kita mau jadi sukses harus menghilangkan logat Jawa Timuran kita dan menggantinya dengan logat Ibu Kota? (Saya tidak menyebutkan Jakarta, supaya tidak jadi perdebatan SARA). Satu jawaban yang masih bisa dimengerti adalah kata-kata “Kurang Menjual”. Tapi ah, apa iya?

Menurutku, ini juga adalah sebuah kesalahan mindset. Hal ini pun terjadi pada dunia penyiaran, seperti radio, TV, dll. Teman saya yang jadi penyiar-penyiar radio pun harus melatih aksennya. Kata pelatihnya sih supaya bisa lebih diterima masyarakat. Pertanyaannya, apakah kalau kita punya aksen seperti itu, maka akan jadi lebih gaul dan bisa meningkatkan rating?

Sekali lagi, menurutku itu masalah mindset. Saya posting pemikiran ini karena merasa terusik saja. Mungkin tidak ada solusi yang pasti. Hanya untuk mengingatkan. Kadang, siaran-siaran JTV membuat saya lebih merasa feel at home. Sekali lagi pertanyaan ini kulontarkan. “What’s wrong with our accent?”

Halaman Selanjutnya →