AGENDA SASTRA FSS 2008
Hallo teman-teman semua
FESTIVAL SENI SURABAYA 2008 sudah dimulai. FSS 2008 yang dilaksanakan tanggal 1 - 15 Juni 2008 ini bertempat di Balai Pemuda Surabaya. Tema FSS kali ini adalah TRIBUTE TO SURABAYA. Berdasarkan tema tersebut, maka tahun ini penyaji FSS mayoritas adalah seniman-seniman Surabaya. Selain juga ada penyaji dari Perancis, Solo, Jogjakarta dan Bandung. Seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, selain ada penampilan tari, musik, teater, diskusi sastra dan pembacaan puisi, di FSS juga ada bursa buku dan pasar seni khas FSS yang diikuti banyak distro di Surabaya. lanjut, rek…
Oleh-Oleh Tour de Kampoeng

ini dia, jie wa, salah satu selebnya tugu pahlawan dot com

another spot at bubutan

tiang model begini masih ada yang pakai ndak yah?

main ke kampoeng anggrek nan asri
PS : ntar kalo cari kontrakan ke sini deh ..

longok longok kelenteng boen bio di Kapasan

kampoeng nelayan - Kenjeran
Kota Lama Surabaya
Di Jakarta, anak anak jurusan sejarah FIB UI membuat komunitas bernama sahabat museum. Mereka sering sekali mengadakan acara jalan jalan ke kota lama jakarta.Tidak mau kalah, teman teman arsitektur Petra, rencananya tanggal 25 mei 2008, minggu ini akan mengadakan jalan jalan ke kampoeng Surabaya.
Rencananya ke pecinan, ampel, kampung anggrek dan kampung nelayan di kenjeran. Asik juga nih kayaknya, buat obyek potret potret. Ada yang mau ikutan ?
Berikut ini beritanya dari pak Agoes Tinus Lis Indrianto di milis wisatasurabaya.
===
Rekan2 WS yang saya sayangi (walaupun belum sempat bertemu muka) hanya Ji eaja yang sudah,Saya mohon maaf , karena saya bisanya hanya melontarkan ide tapi tidak mau ikut serta he he he….
Terakhir saya mengatakan tentang wisata Sungai Semampir.. Sebenarnya saya sangat ingin mengadakan lagi ketika Jie sudah mau bantu dan mbak Astri juga, dan teman2 yang lain mau ikut serta. Saya mohon maaf kalau untuk bulan ini saya belum bisa mengkoodinirkegiatan itu , karena pada bulan ini saya disibukan dengan kegiatan UlangTahun Surabaya, dan juga secara pribadi saya dapat cobaan karena anak saya masuk RS sudah satu minggu lebih jadi ya saya belum bisa “ngajak” teman2 jalan2 nyusuri sungai semampir karena konsentrasi saya ke anak.
Namun demikian, saya baru saja diberitahu oleh mantan2 mahasiswa saya duludi Petra, bahwa mereka akan mengadakan Tour De Kampoeng pada tanggal 25Mei ini. Kegiatan ini dulu saya yang desain lalu saya wariskan ke mahasiswa, dan ternyata warisan saya dijaga oleh mereka.
Kegiatan ini pada initinya akan mengajak peserta keliling kampoeng-kampoeng Unik di Surabaya, di antaranya Kampung Bubutan, KampungAmpel, Kampung Cina, Kampung Anggrek, dan terkahir menyusuri laut di kampung Nelayan Kenjeran.Dalam kegiatan ini rekan2 bisa melihat Surabaya dari sisi lain, potret atau kondisi yang mungkin setiap hari hanya kita lewati tapi sebenarnya punya potensi wisata yang bagus.
Kegiatan ini akan start dari kampus UK. Petra di Siwalakerto jam 07.00 , peserta akan mendapat makan siang, snack dan kaos. lalu transportasi yangdigunakan adalah bis pariwisata ber AC.
Peserta hanya dibuka untuk 1 bis saja, sekarang menurut informasi terakhir mahasiswa sudah terisi 20 orang,jadi masih ada sisa sekitar 25 orang lagi.Biasanya pada akhir pendaftaranpeserta membludak. Saya ketika masih di Petra pernah mengadakan kegiatan ini di tahun 2007, dan sukses. kegiatan waktu itu dilipuit banyak media,karena rekan2 wartawan ada yang ikut (dari Kompas).
Sekarang ini saya hanya membantu panitianya (mantan mahasiswa saya) untukmenginformasikan ini ke rekan2 bila ada yang mau ikut serta. Biaya terusterang yang tahun ini saya tidak tahu, tapi mungkin kisaran Rp.100.000 ribuan, karena kegiatannya fullday, dari jam 7 sampai sore jam 4 an.Kalaubenar2 ingin kenal surabaya sisi lain saya sarankan rekan2 kalau ada waktuikut serta.
Kontak personnya: Adhi no hp :081553164163
Highlight of the tour:
- Kampoeng Kuno Bubutan dengan Rumah Tua dengan perabot tuanya
- Kampung Ampel dengan suasanya Timur Tengahnya
- Kampung Pecinan dulu dikenal dengan nama Kampung Kungfu, karena disitulah tinggalnya para ahli kung fu Surabaya waktu itu.
- Kampung Anggrek, dengan keasrian dan kekompakaan warganya.
- Kampung Nelayan Kenjeran dengan wisata perahunya
Selamat berwisata
–
Agoes Tinus Lis Indrianto
Tourism and Hospitality Management
Ciputra University
baca juga :
- http://www.ranesi.nl/tema/budaya/Plesiran_tempo_doeloe060831
- http://www.fotografer.net/isi/forum/topik.php?id=115030
- http://id.wikipedia.org/wiki/Sahabat_Museum
- http://www.perspektifbaru.com/wawancara/543
- http://groups.yahoo.com/group/sahabatmuseum/
Bangga beraksen “Medhog”!!!
Ada 1 hal yang menarik jika kita mengamati kontes “langkah instan menuju terkenal”. Tahu kan maksudnya? Kontes-kontes seperti ini, sudah marak di Indonesia mulai beberapa tahun lalu. Maafkan saya kalau harus menyebutkan merk, tapi kalau tidak disebutkan, nanti jadi nggak nyambung?
Jadi, mari kita mulai. Sebut saja mulai dari awal, AFI (yang sekarang tinggal Juniornya saja), Idol (yang mungkin saat ini adalah kontes yang paling menyedot perhatian Indonesia), sampai KDI atau juga Kontes Dangdut Dadakan.
Yang, menarik, meskipun Surabaya tidak pernah absen mengirimkan wakilnya, tapi kita jumpai, Surabaya tidak pernah menang! Kecuali di Kontes Dangdut TPI (kalau tidak salah yang menang adalah Super Emak, CMIIW). Paling tinggi 5 besar, dan kebanyakan memang “dipulangkan” di level ini. Ada apa dengan angka 5? Bukan masalah dengan angka 5 nya.
Tapi menurut saya, yang menarik adalah komentar para juri. Amati saja, bagi para kontestan Surabaya, selalu ada perkataan “Masih medhog…”, “Medhognya belum bisa hilang”, dan sebagainya. Nah, bagi saya, pernyataan ini lama2 cukup mengganggu juga. Ingin rasanya saya bisa mengatakan “What’s wrong with our dialek?”
Apakah kalau kita medhog, itu berarti ke-Indonesiaan kita berkurang? Apakah orang Indonesia identik dengan orang2 yang melafalkan huruf D dengan cara yang tidak mantap? Dan yang mengucapkannya dengan cara yang “mantap” itu berarti salah? Inilah yang aku tidak habis mengerti.
Apa sih masalahnya? Apakah kalau kita mau jadi sukses harus menghilangkan logat Jawa Timuran kita dan menggantinya dengan logat Ibu Kota? (Saya tidak menyebutkan Jakarta, supaya tidak jadi perdebatan SARA). Satu jawaban yang masih bisa dimengerti adalah kata-kata “Kurang Menjual”. Tapi ah, apa iya?
Menurutku, ini juga adalah sebuah kesalahan mindset. Hal ini pun terjadi pada dunia penyiaran, seperti radio, TV, dll. Teman saya yang jadi penyiar-penyiar radio pun harus melatih aksennya. Kata pelatihnya sih supaya bisa lebih diterima masyarakat. Pertanyaannya, apakah kalau kita punya aksen seperti itu, maka akan jadi lebih gaul dan bisa meningkatkan rating?
Sekali lagi, menurutku itu masalah mindset. Saya posting pemikiran ini karena merasa terusik saja. Mungkin tidak ada solusi yang pasti. Hanya untuk mengingatkan. Kadang, siaran-siaran JTV membuat saya lebih merasa feel at home. Sekali lagi pertanyaan ini kulontarkan. “What’s wrong with our accent?”
Dukung Siti & Dayat Rek
Sudah pernah nonton “Idola Cilik” di RCTI? Saya mengikuti beberapa kali tayanganya gara-gara ada peserta dari ” Kota Arek“. Cukup mengejutkan memang, kontes mencari idola yang satu ini sangat menghibur. Acaranya jauh lebih menghibur ketimbang acara lain yang sejenis. Menurut saya lakeee.
Tapi, rupanya ada sesuatu yang lain yang disuguhkan “Idola Cilik”.
Tim juri dengan komandan Ira Maya Sopha, penyanyi cilik era 70-an, ternyata cukup piawai mengemong para kontestan. Mama Ira, begitu dia dipanggil, dengan anggun memuji peserta yang semua dipanggil “sayang”.
Tak cuma memuji, Mama Ira juga tegas lo menyentil, bahkan menegur peserta yang sok-sok ganjen dewasa dan kehilangan spontanitas khas anak. Suara merdunya pun kerap berkumandang memompa semangat kontestan yang sedang bete. Suatu peran yang tidak mudah, terutama untuk sebuah acara dengan audiens anak-anak.


