Manajemen Gepeng - Sebuah Fenomena
Mungkin gambaran yang akan aku tampilkan disini sudah cukup melekat di benak kita masing-masing. Perempatan, lampu merah, anak-anak kecil - beberapa malah masih usia balita - datang mendekat pada kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti dan mengulurkan tangan-tangan kecil mereka. Ya anak-anak kecil ini sedang mengemis. Lebih mirisnya lagi, ada beberapa orang dewasa di sekitar situ yang kesannya sedang “memantau” kegiatan tersebut. lanjut, rek…
Marketing Aneh Pilkada
Ada saja para tim sukses untuk mendukung para calon pilihannya dalam pilkada. Yang marak satu ini ialah menggabungkan nama calon menjadi satu nama yang unik. Contohnya banyak seperti SyamPurno, KarSa, KaJi, SaLam, Waras dan nama unik yang lainnya. lanjut, rek…
Mengintip Cara Parkir Orang-Orang “Terpelajar”
Sebenarnya post ini saya siapkan untuk menyambut Hardiknas. Meskipun terlambat, tapi biarlah, yang penting masih ada gaungnya. Sekitar dua bulan lalu, sepulang sekolah, saya melewati jalan yang sama. Tapi pas menjelang kantor Depdikbud, yaitu di Jalan Genteng Kali, terjadi kemacetan. Sebuah hal yang selama saya bersekolah di SMA sangat jarang terjadi. Bahkan, angkot yang saya tumpangi harus menunggu sekitar 15 menit sebelum bisa lepas dari macet.

Ibu, mohon mobilnya dipinggirkan, ya… ![]()
Bangga beraksen “Medhog”!!!
Ada 1 hal yang menarik jika kita mengamati kontes “langkah instan menuju terkenal”. Tahu kan maksudnya? Kontes-kontes seperti ini, sudah marak di Indonesia mulai beberapa tahun lalu. Maafkan saya kalau harus menyebutkan merk, tapi kalau tidak disebutkan, nanti jadi nggak nyambung?
Jadi, mari kita mulai. Sebut saja mulai dari awal, AFI (yang sekarang tinggal Juniornya saja), Idol (yang mungkin saat ini adalah kontes yang paling menyedot perhatian Indonesia), sampai KDI atau juga Kontes Dangdut Dadakan.
Yang, menarik, meskipun Surabaya tidak pernah absen mengirimkan wakilnya, tapi kita jumpai, Surabaya tidak pernah menang! Kecuali di Kontes Dangdut TPI (kalau tidak salah yang menang adalah Super Emak, CMIIW). Paling tinggi 5 besar, dan kebanyakan memang “dipulangkan” di level ini. Ada apa dengan angka 5? Bukan masalah dengan angka 5 nya.
Tapi menurut saya, yang menarik adalah komentar para juri. Amati saja, bagi para kontestan Surabaya, selalu ada perkataan “Masih medhog…”, “Medhognya belum bisa hilang”, dan sebagainya. Nah, bagi saya, pernyataan ini lama2 cukup mengganggu juga. Ingin rasanya saya bisa mengatakan “What’s wrong with our dialek?”
Apakah kalau kita medhog, itu berarti ke-Indonesiaan kita berkurang? Apakah orang Indonesia identik dengan orang2 yang melafalkan huruf D dengan cara yang tidak mantap? Dan yang mengucapkannya dengan cara yang “mantap” itu berarti salah? Inilah yang aku tidak habis mengerti.
Apa sih masalahnya? Apakah kalau kita mau jadi sukses harus menghilangkan logat Jawa Timuran kita dan menggantinya dengan logat Ibu Kota? (Saya tidak menyebutkan Jakarta, supaya tidak jadi perdebatan SARA). Satu jawaban yang masih bisa dimengerti adalah kata-kata “Kurang Menjual”. Tapi ah, apa iya?
Menurutku, ini juga adalah sebuah kesalahan mindset. Hal ini pun terjadi pada dunia penyiaran, seperti radio, TV, dll. Teman saya yang jadi penyiar-penyiar radio pun harus melatih aksennya. Kata pelatihnya sih supaya bisa lebih diterima masyarakat. Pertanyaannya, apakah kalau kita punya aksen seperti itu, maka akan jadi lebih gaul dan bisa meningkatkan rating?
Sekali lagi, menurutku itu masalah mindset. Saya posting pemikiran ini karena merasa terusik saja. Mungkin tidak ada solusi yang pasti. Hanya untuk mengingatkan. Kadang, siaran-siaran JTV membuat saya lebih merasa feel at home. Sekali lagi pertanyaan ini kulontarkan. “What’s wrong with our accent?”
Tol Baru
Barusan saya mencoba tol yang baru dibangun. Tol ini menghubungkan Tol Waru dengan Bandara. Dengan keberadaannya, jalur vital yang harus ditempuh dari dan menuju bandaran diharapkan akan lancar (dan tidak memalukan daerah).
Mumpung masih trial, tarif tol masih 0,- rupiah

Ada beberapa fasilitas exit tol yang belum bisa dimanfaatkan. Diantaranya exit tol Tambaksumur.
Menurut warga disana, ada permasalahan yang belum tuntas. Berhubung tol tersebut membelah komplek perumahan, (heran ada komplek perumahan di belah tol) exit tol tersebut berada tepat di tengah-tengah perumahan. Sementara disana banyak anak kecil dan orang tua yang biasa melaluinya.
Berbahaya sekali bukan ? Terutama sekali, umumnya kendaraan dari tol biasanya melintas dengan kecepatan tinggi. Tentunya harus ada policy dan perangkat safety lainnya, agar keselamatan orang yang melintas tetap terjaga.
Selain itu, fasilitas warga disana, berupa bunderan (ruang terbuka tempat warga berinteraksi) juga ikut hilang. Hingga kini belum diganti.
Beberapa kali pertemuan antara warga, pemerintah dan pengembang belum juga membuahkan hasil real. Permintaan warga sederhana saja, agar fasilitas umum dan keamanan disana juga diperhatikan.
Apakah semua proses pembangunan harus membuat warga ‘berkorban’ ? Semoga tidak. Kita tentunya berharap agar pembangunan itu membawa maslahat bagi semua orang. Pembangunan yang tidak menyisakan masalah.
Mungkinkah ?


