Manajemen Gepeng – Sebuah Fenomena

Mungkin gambaran yang akan aku tampilkan disini sudah cukup melekat di benak kita masing-masing. Perempatan, lampu merah, anak-anak kecil – beberapa malah masih usia balita – datang mendekat pada kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti dan mengulurkan tangan-tangan kecil mereka. Ya anak-anak kecil ini sedang mengemis. Lebih mirisnya lagi, ada beberapa orang dewasa di sekitar situ yang kesannya sedang “memantau” kegiatan tersebut. Pernahkah teman-teman berpikir apa fungsi dari para orang dewasa tersebut? Apakah mereka orang tua dari anak-anak tersebut atau hanya orang dewasa yang kebetulan juga pengemis di area tersebut? Atau mungkin yang lebih parahnya lagi, mereka adalah “majikan” dari anak-anak tersebut?


Sumber gambar

Let me share some story with you. Ada dua kejadian yang membuat aku kadang merasa ragu-ragu untuk memberikan uang recehku pada pengemis jalanan. Kisah pertama terjadi waktu aku kuliah di Jerman. Sekitar tahun 2004 aparat kepolisian Jerman membongkar jaringan “mafia” pengemis tingkat tinggi. Bos-bos jaringan “membeli” orang-orang cacat, anak-anak terlantar atau yatim piatu dari negara miskin di Eropa Timur atau Amerika Latin dan menjadikan mereka pengemis di Jerman, Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya. Sempat menghebohkan sekali kejadian ini.

Kisah kedua aku alami waktu aku kerja di Bali. Seperti layaknya di Surabaya, banyak pengemis-pengemis belia yang keleleran di perempatan dan tempat-tempat wisata. Waktu itu aku juga masih baru balik ke Indo, jadi masih minim info tentang liku-liku di Indonesia. Tidak pernah terpikir olehku bahwa fenomena “manajemen pengemis” juga sudah merambah ke Indonesia. Temenku yang seorang jurnalis sebuah media di Bali kasih aku info bahwa anak-anak tersebut (setengah) diculik dari orang tuanya untuk dijadikan pengemis di pulau dewata. Aduuhh…

Dan hari ini bertambahlah satu bahan pertimbangan buat aku bila ingin beramal dan berdakwah pada fakir miskin, waktu baca di koran jawa pos bagian metropolis sebuah artikel tentang “Bos Pengemis Tinggal Nikmati Hidup” (http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=5373). Nah, kalo sudah begitu apakah salah kalau aku kadang tidak mendengarkan hati nuraniku dan merasa skeptis dengan para gepeng di metropolis.

Sekilas ringkasan artikel: Cak To adalah seorang pengemis yang sudah menjalankan profesi ini selama bertahun-tahun. Waktu beliau mulai “sukses” dengan profesi ini, beliau mulai menarik orang-orang sedaerahnya untuk dijadikan pengemis di Surabaya agar mengikuti jejak “kesuksesannya”. Dengan dalih “pekerjaan ini mereka bisa membantu saudara di kampung” beliau membujuk pendatang-pendatang tersebut untuk mulai mengemis. Dengan cukup terorganisasi – bagi-bagi wilayah kerja, agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan – mereka mulai menjalankan bisnis ini. Sekarang Cak To sebagai “juragan” pengemis sudah menghuni rumah di wilayah Surabaya Barat, punya dua sepeda motor dan mengendarai sebuah Honda CRV. Beliau sendiri pun sudah tidak pernah turun lapangan. Tinggal menunggu “setoran” saja dari anak buah.

Apakah cara seperti itu masih disebut layak? Apabila Cak To berkata pekerjaan tersebut halal, benarkah? Apakah mempermainkan hati nurani manusia merupakan sesuatu yang halal?

Jujur, aku sering merasa serba salah dalam situasi seperti itu. Ngga dikasi, kasian, kalo dikasi kok takutnya malah memberi umpan dan masukan untuk para “bandar” pengemis. Secara pribadi aku mungkin lebih memilih untuk menyumbang ke panti-panti asuhan yang jelas siapa organisasi di belakangnya.

Bagaimana dengan teman-teman?

42 Responses to “Manajemen Gepeng – Sebuah Fenomena”

  1. faridfann :

    Pada dasarnya para gepeng gak mengharap untuk di profesi itu, tapi mereka sendiri serba salah…
    keluar dari jaringan, dapat makan dari mana?
    Tetep di jaringan gepeng, dapat makan meskipun setengahnya harus setor. so, amal buat gepeng kasih daaahh…

  2. pandu :

    [sarcasm]
    Hoi, ga usah iri dong! Itu hasil kerja keras™ dia! 😈
    [/sarcasm]
    Ah, saya juga tertarik dengan artikel ini saat baca koran.

    beliau mulai menarik orang-orang sedaerahnya untuk dijadikan pengemis di Surabaya

    Er… sedikit koreksi, cuma 4 orang. Bukan “orang-orang sedaerah”, terlalu luas maknanya. πŸ™‚

    Apakah cara itu bisa disebut layak?

    Terlepas layak atau tidak layak, yang penting usaha, kan? :mrgreen:
    Lagipula:

    Setoran itu ditabung, sebagian diinfakkan kepada tempat ibadah.

    Ditabung, tentu saja. Sebagai bos, dia wajib menghidupi “karyawan”-nya, kan?
    Kalau sudah mapan, siapa tahu karyawannya tadi buka usaha sampingan dari hasil mengemis. Dengan begitu, pengangguran berkurang. πŸ˜‰
    @ faridfann
    Kan sudah disebut di artikel aslinya:

    Cak To menerima setoran secara suka rela.

    Nggak ada keharusan setor berapa, kan? :mrgreen:

  3. kucluk :

    gepeng yang masih punya impian,…
    jadi mereka masih bisa memenej dari penghasilan mereka..

    tapi kenapa kok setelah dia merasa cukup, kok gak buka pekerjaan lain,.. malah memanfaatkan yg lainnya (mengajak) untuk sama dengan profesinya, dengan syarat dibawah bos gepeng!

  4. det :

    menurut saya MENGEMIS seperti ca to ini BUKAN PEKERJAAN HALAL.

    coba simak artikelnya di Jawa Pos. mereka berangkat dengan pakean necis, kemudian di satu tempat mereka ganti baju biar kelihatan melas

    SECARA SAH DAN MEYAKINKAN ADA UNSUR KEBOHONGAN DENGAN SENGAJA

    maka…

    STOP MEMBERI UANG KEPADA PENGEMIS

    SUMBANGKAN SAJA UANG ANDA KE TEMPAT IBADAH MASING-MASING

    perlu diingat juga bahwa cak to ini hanyalah satu dari sekian bos pengemis. jangan dikira hanya dia. dulu saya pernah menulis tentang pengemis kaya raya di tugupahlawan.com ini tapi waktu itu banyak yang menganggap saya memfitnah. tapi sekarang semuanya sudah terbukti dengan jelas

  5. Chubby Panda :

    Sudah pasti ga halal. Pernahkah ada ajaran agama yang mengajarkan untuk menipu orang? Atau yang mengajarkan untuk bahwa mencari nafkah hidup dari meminta-minta itu adalah halal?

    Mgkn ada orang yang mengemis krn terpaksa tapi kalo sampai dijadikan organisasi gini sudah jelas2 merusak moral. Bukannya mengajak saudara-saudara sekampung untuk membuka usaha malah mengajak untuk mengemis. Padahal kalo orang tua hidup dari mengemis sebagian besar anak2nya juga akan belajar mengemis. Lihat saja pengemis jalanan yang makin hari makin banyak anak-anak mudanya.

    Chubby sudah lama ga pernah memberi uang kepada pengemis kecuali yang sudah benar2 renta dan cacat.

    Chubby jadi penasaran nih apa mushola dan mesjid yang disumbangi Cak To itu tau kalau uangnya haram. Semoga tidak terjadi seperti kata pepatah : “Uang panas akan cepat raibnya” alias uang yang diperoleh dengan cara ngga benar pada akhirnya akan hilang ga jelas juga.

  6. cempluk :

    tadi setelah cempluk mengikuti pengajian..
    isu diatas juga disinggung, bahwasanya tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah..

    Hal itu juga bermakna bahwasanya di akhirat kelak, orang yang menjadikan mengemis sebagai cara untuk memperkaya diri adalah dosa besar..

    tak sepantas nya mengemis untuk dijadikan sebuah pekerjaan…

    wahai cak to, cukup sampai disini kisah anda.

    ayo bertobat dan mencari pekerjaan yang lebih barokah dan halal.. πŸ™‚

  7. ndop :

    mana skrinsyutnya pas make baju bagus dan naik mobil????

  8. Avy :

    Sing penting ikhlas wes nek ngeke’i.
    Yok Opo maneh, nek duso yo jarno dipek karo pengemise.

    Ada pengemis minta-minta di counter S Teh Manukan. Setelah ngasi duit seribu kok jadi inget cak to ya…hehehehehe

  9. Avy :

    sialnya lagi sebagian penghasilannya cak to disumbangkan huahahahaha opo iki sing garai tambah sugih yoooo
    rajin bersedekah.
    lah kene yo bersedekah kok yo bedo yo…

  10. orangufan :

    yang mau ngasih yah ngasih, yang gak mau yah gak usah ngasih, gak perlu ngajak2 orang untuk ikut2an gak ngasih.

    lha wong kalo ngasih itu lillahi ta’ala kok, mo dipake apa sama si pengemisnya, itu kan urusan dia.

    emang Cak to gak bisa di salahin dan dibenerin juga, gak bisa dibenerin krn kok ngajari orang minta2… gak bisa disalahin krn, cak TO ini pengemis revolusioner,

    harus nya Cak To mengajarkan junior2 untuk tidak berakhir sbg pengemis aja di bekali jualan apaan kek, soalnya yang jelas pengemis yang berujung menjadi pengemis sukses macam cakTo cuma boleh 1 di Surabaya, lha yang lainnya bawahan… kalo banyak nanti bisa ada perang antar geng pengemis di Surabaya…
    ngeriii

  11. fahmi! :

    sepakat dg orangufan, mau ngasih ato nggak mau ngasih itu terserah pribadi masing2.

    kalo kamu niat bersedekah tapi bingung mau dilewatkan mana, coba cari lembaga penyalur sedekah yg bonafide. buat orang islam misalnya ada YDSF (alfalah). ini salah satu badan penyalur amal/zakat yg aku nilai dapat dipercaya. bahkan mereka bersedia ngambil duit sumbangan tiap bulan ke kantor/rumah kalian. jadi nggak perlu repot.

    dan aku juga pernah ikut ngancani tim alfalah menyalurkan sumbangan ke daerah minus. aku liat sendiri seperti apa donasi dari para donatur itu dikelola.

    kesimpulannya, kalo nggak mau keluar duit receh di setopan lampu merah ya nggak masalah, tapi jangan menghentikan niat beramal. ok?

  12. Judeangel :

    Perlu ditekankan, dengan tulisan diatas aku ga ada maksud untuk mengajak temen2 untuk TIDAK beramal. Aku hanya ingin memberi sedikit gambaran tentang realita yang memprihatinkan tersebut. Aku pribadi juga lebih prefer untuk menyumbang ke organisasi yang jelas asal-usul dan keliatan tuh sumbangan buat apa. Misalnya panti-panti asuhan yang diasuh oleh organisasi keagamaan.

  13. Fenty :

    Saya mah tetep aja kalo ada duit di mobil ngasih, kalo enggak ya emang bukan rezeki yang minta. Dan bukan rezeki saya untuk didoa’in sama orang yang minta … πŸ˜€
    Yang penting niat kita tulus ngasih, mau duit itu dikasih bosnya, ya up to them, itu duit udah jadi haknya mereka kok

  14. kaudanaku :

    kalau menurut aku, lebih baik kalo mo ngasih/nyumbang/sedekah mending ke tempat2 yang sudah jelas misalkan masjid/tempat ibadah, yayasan anak yatim atau yayasan yang khusus membina anak2 utk hapal Al-Quran. Kalau kita bersedekah itu kan ada baiknya diniatin, kalo ke tempat2 yang jelas kan insyaALLAH tambah berkah.
    Kalo untuk gepeng, mendingan dikasih makanan kecil/minuman yang kemungkinan besar akan dikonsumsi oleh mereka sendiri bukan disetor ke bandar.
    Dengan memberi mereka uang, kita berarti mendukung mereka untuk semakin jatuh/terperangkap ke dalam manajemen sang bandar.

  15. sibermedik :

    Aq miris..rasanya cak to membawa citra jelek untuk suku madura..kesannya orang madura kerjanya minta2..padahal di solo org madura bnyk yg sukses mulai jual sate,nasgor,besi tua sampai cukur rambut..cak to malu lah kau pada saudara2mu disebrang madura yg ulet dan serba bisa..bukan sbg pengemis!

  16. dasmania :

    Sak welase … mas, mbak ….

  17. sibermedik :

    Jadi ingat pilem lawas Stephen Chow.. KING OF BEGGARS he5x..

  18. Judeangel :

    @sibermedik: Apa Stephen Chow-nya juga naek CRV :D?

  19. neng-shei :

    Naudzubillah…
    kok bisa itu loh, apa ndak takut hanya tinggal tengkorak nanti pas bangkit dari kubur?
    *sigh*
    yaelah..
    jadi serba salah..
    ya kasian..
    ya mangkel..
    OMIGOT!!

  20. gandhi :

    Sebenarnya bukan masalah memberi atau tidak memberi apalagi kalo berbicara amal dan sedekah, Tapi lebih kepada pembelajaran soal kemalasan dan sosial. Kalo kita mau beramal sebenarnya masih banyak cara yg lebih “pantas” misal zakat, panti asuhan, kotak amal mesjid atau kalo mau lebih elegan jadilah donatur di badan2 amal.

    @ndop
    ngapain musti skrinsut? kalo mau sama aku lihat pengemis di perempatan ngagel deket kantor ku, pagi2 jam 6 mereka udah datang dengan sepeda motor keluaran terbaru di drop oleh seorang bapak2 necis dan sorenya mereka dijemput kembali. Ayo mas jgn berkutat di kampus terus, sesekali perhatiin fenomena sosial di sekitar kita. Mahasiswa bukan sekedar teori dan praktek, kepekaan sosial juga musti diasah. Atau Mahasiswa emang kerjaannya cuma ke kampus belajar teori dan praktek? *maap saya cuma lulusan SMU*

    @Orang ufan

    Surabaya banyak mas kelompoknya, Cak To hanya salah satu dari sekian banyak kepala gank. Kalo ke cak mis lagi nanti kuceritakan deh soal fenomena sosial ini. Dengan Syarat Jgn kaget aja.

    @all
    Maap bukannya saya gak suka lihat pengemis dan peminta2 ataupun memojokkan, pada dasarnya apa yg saya pernah lihat dan perhatiin, banyak dari mereka yg menggunakan topeng kesedihan dan kepedihan untuk menarik belas kasihan orang-orang. Belum lagi Fenomena sewa menyewa bayi untuk di ajak mengemis, berpura2 cacat dll. Saya lebih prefer kepada pemulung dan pengamen, mereka tidak pernah menggunakan topeng segala macam, tapi mereka memang berusaha dan bekerja dengan keras.

    STOP MEMBERI KEPADA PENGEMIS, LEBIH BAIK BERIKAN KEPADA MEREKA YG BENAR-BENAR MEMBUTUHKAN.

  21. orangufan :

    kapan rek ning cak mis maneh

    tapi emang lebih baik ke lembaga menajemen infak sih, dari pada ke manajemen pengemis πŸ˜€

    soalnya lebih terkoordinir, dan adil Insyaallah!

  22. aRuL :

    Ayo mas jgn berkutat di kampus terus, sesekali perhatiin fenomena sosial di sekitar kita. Mahasiswa bukan sekedar teori dan praktek, kepekaan sosial juga musti diasah. Atau Mahasiswa emang kerjaannya cuma ke kampus belajar teori dan praktek? *maap saya cuma lulusan SMU*

    leh koq menyinggung latar belakang sih? perasaan ngak sebutin kemahasiswaannya.
    Sentimen banget nih sama mahasiswa

  23. Mahasiswa, dilihat sebelah mata! « Insan Perubahan :

    […] sosialnya juga sering ditanyakan. Jangan menutup diri bahwa hanya mengatakan mahasiswa tidak pernah peduli dengan sosialnya, […]

  24. imiL :

    ya kalo saya sih gampang saja…
    yg pengen ngasi ya ngasi aja..
    yang enggak yo enggak…
    asal jangan ngasih yg enggak-enggak… πŸ˜€

    saya seringnya sih gak ngasi karena….. saya emang dasarnya pelit πŸ˜›
    cuman yo kadang2 entah kenapa saya tergerak ngasi duit ke pengemis, entah karena tua,ato bahkan tanpa alasan apa2, ujug2 pengen ngasi aja….

    jd inget td malam beli makan di keputih,pas ada pengemis minta duit ke temen saya, setelah g dikasi dan pengemis berlalu, temen saya berguman : “mengko lik tak wenehi malah dadi Honda Jazz?”

  25. AngelNdutz :

    emang sekarang mengemis bukanlagi suatu hina yg dilakukan karena keterpaksaan tetapi merupakan profesi yg sangat menguntungkan ck ck ck

  26. jleph :

    kalo misalnya saya ketemu pengemis dan pengamen,,
    yang abkal saa kasih duit adalah yang pengamen,,
    karena mereka masih ada usaha,,
    kalo pengemis kan minta-minta doang,,

  27. ihsanmaulana :

    betul!!! sekali Anda memberi duit pada para gepeng, maka Anda telh ikut menjerumuskan mereka pada penyakit mental bernama mengemis.
    mereka itu mentalnya, memang mental pengemis. Jadi tolong ajari mereka bahwa mengemis bukan pilihan yang baik dengan tidak memberi mereka sepeserpun apalagi untuk yang masih kecil karena jika sejak kecil mereka merasa enaknya mengemis maka jadinya akan seperti Cak To itu.

  28. pandu :

    Jadi inget quote-nya bung Deddy Mizwar:

    Bangkit itu malu. Malu jadi benalu, malu karena minta melulu.

    Apa mereka punya perasaan ini, ya? πŸ˜•

  29. Judeangel :

    @pandu – rasanya sih tidak… Buat mereka itu adalah sesuatu yang wajar kayaknya ya. Atau dengan alasan mereka ga punya kemampuan dan keahlian lainnya sedangkan mereka punya keluarga yang harus diberi nafkah.

  30. yudhita :

    Di Indonesia negeri tercinta kita, orang lebih suka dianggap miskin daripada dianggap mampu. Buktinya, banyak!!! Orang lebih suka mengemis daripada bercapek ria jadi tukang cuci baju atau pembantu. Orang lebih suka antre minyak tanah padahal mampu beli kompor gas plus tabungnya. Orang lebih suka berobat pake askeskin (asuransi kesehatan masyarakat miskin) padahal ke dokter umum atau puskesmas mampu. Ya Tuhan…sebegitu rendahnyakah harga diri sampai menggadaikannya dengan meminta-minta? Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Lebih baik jualan koran daripada mengamen nggak jelas juntrungan lagunya. Jangan tertipu!

  31. haddi :

    pengen deh naik CR-V nya cak to πŸ˜€

  32. sagung :

    Mayak puoll.

    Punya malu nggak ya??

  33. Pekanbaru! Riau :

    Kami juga sulit memenej yg satu ini…

  34. ihsanmaulana :

    yang sulit itu adalah membedakan mana yang pengemis dalam arti tidak punya sungguhan sehingga tidak ada jalan lain selain mengemis atau pengemis yang dilakoni sebagai profesi seperti cak to wa akhawatuhu (dan anak buahnya)?

  35. faridfann :

    @admin : tiap saya komen koq gak bisa ini?selalu dimoderasi?tapi di buku tamu koq bisa?

  36. pandu :

    Kayaknya mereka bukan nggak punya kemampuan, tapi nggak punya kemauan. Kalau mereka punya kemauan, mereka bisa kerja di Dinas Kebersihan sebagai tukang sapu jalanan atau jadi kuli bangunan. Pokoknya pekerjaan yang hanya membutuhkan skill dasar, bukan skill akademis.

    Jadi kuli bangunan sebenarnya tidak terlalu buruk. Bukankah saat ini banyak dibangun perumahan-perumahan elite? Nah, setidaknya mereka pasti dapat bayaran yang lumayan.

  37. Judeangel :

    @all: sebenernya bisa disimpulkan kalo fenomena ini sangat mengganggu, baik secara spiritual dan juga secara materi (ya iyalah rugi ngasi duit buat org2 yg ga niat kerja cuman ngandalin minta2 doang)
    Tapi sekarang pertanyaannya bagaimana kita dapat mengubah fenomena ini? Apa usaha yang sudah dilakukan? Atu balik2nya ya tergantung dari “pribadi” masing2 lagi?

  38. nFath :

    Hum, tapi klo ngomongin balik ke pribadi masing2 neh, jujur mungkin tidak akan pernah ada tindakan.

    Niat tanpa tindakan is null. Sama aja kek komenku sekarang. Shikatanai yo~~

  39. cakdul :

    kalo masalah gepeng dan fakir miskin itu sebenarnya sudah diatur oleh Undang undang tapi pada kenyataannya mereka jelas belum terurusi mungkin karena negara terlalu banyak PR jadinya mungkin masyarakat seperti kita kita ini yang harus memikirkannya. untuk masalah sedekah seharusnya kita gak usah terlalu mempermasalahkan apakah mereka itu “akting” atau “penipu” yang diperlukan dari kita dari sedekah adalah keikhlasan dan itu yang tahu hanya kita dan tuhan saja. perkara “aktor” gepeng atau penipu itu urusan Tuhan yang lain… tapi menurut saya lebih baik kita memberikan sebagian rejeki kita kepada orang yang mau berusaha seperti penjual asongan, penjual koran atau orang orang yang masih mau berusaha tanpa mengandalkan belas kasih orang lain. itu lebih baik dan lama kelamaan gepeng atau pengemis akan dengan sendirinya berganti usaha jika mereka tidak bisa mengharapkan penghasilannya yang sekarang… gimana???
    salam damai selalu
    cakdul
    http://www.warungkopicakdul.blogspot.com

  40. A Story about Mbok Darmi : TuguPahlawan.Com :

    […] Manajemen Gepeng – Sebuah Fenomena […]

  41. Mahasiswa Indonesia ? « Rerechaz’s Weblog :

    […] sosialnya juga sering ditanyakan. Jangan menutup diri bahwa hanya mengatakan mahasiswa tidak pernah peduli dengan sosialnya, […]

  42. blog kesehatan :

    ingat. berlomba2 dlm kebaikan.

Leave a Reply