Antara Hamas dan PKL

Dengan dalih memburu Hamas, Israel terus membombardir Jalur Gaza meski banyak orang orang tak berdosa telah menjadi korbannya.
Maka tak heran lahirlah apa yang dinamakan tragedi kemanusiaan.

Dinegeri kita pernah juga terjadi potret yang mungkin serupa tapi dengan thema yang berbeda.
Banyak daerah yang seolah kompak, dengan dalih demi kebersihan dan kelancaran kota, memburu para PKL, menghancurkan lapak dan warungnya.
Dan lahirlah apa yang dinamakan tragedi ekonomi.
Dijaman yang serba sulit, dan mungkin paska di PHK, mereka harus terancam dan bahkan kehilangan sumber pengidupannya untuk kali yang kedua.

Sementara bunyi sebuah pasal di UUD, barangkali mirip sebuah parodi, orang miskin dan anak terlantar dibinasakan oleh negara.

Mengapa PKL harus diburu padahal disana, di kakilima, kadang terjadi proses perkuliahan gratis tentang marketing, tentang manajemen, ketika seorang anak mengikuti bapak ibunya saat sedang berwirausaha ?
Mengapa PKL harus diburu bila pemerintah kelimpungan memberi mereka lapangan kerja apalagi memberi nafkah ?
Ah, jangankan urusan rizqi, mengatur distribusi pupuk, minyak n elpiji saja kadang sering tak terkendali.
Langka dan bisajadi tak terbeli.

Sebagian PKL tak punya cukup rupiah untuk tinggal di plaza.
Mereka juga tak cukup dana buat beriklan di media.
Sederet kata kata Ingin rujak uleg, nasi campur, gado gado atau bakso ? Silahkan hubungi 0823030303 atau email kakilima@tugupahlawan.com, hanyalah sebuah mimpi disianghari.

Sudah menjadi garis nasibnya, mereka menjadi komunitas jalanan, menjual hari ini untuk sebuah impian.
Bila pemerintah mampu mengkonversi minyak ke elpiji, tentu bukan hal yang sulit mengkonversi sebuah lahan pertokoan menjadi taman kaki lima, tempat sebuah keindahan dan roda ekonomi wong cilik dikawinkan.
Kota ini pasti bukan hanya milik orang berdasi tapi milik semua anak bangsa untuk memerdekakan hidupnya.

15 Responses to “Antara Hamas dan PKL”

  1. det :

    memang serba salah kalo ngomongin PKL. kalo tidak ditertibkan gimana, wong lokasinya nyaplok trotoar yang dibangun untuk pejalan-kaki. belum lagi pengunjung yang biasanya parkir sembarangan

    [tapi masih kalah sama pengunjung restoran di sekitar manyar kertoarjo yang sampe makan 2 lajur jalan]

    belum lagi limbahnya yang dibuang sembarangan

    [tapi masih kalah sama limbah pabrik yang dibuang ke kali dan bikin ikan2 pada mati]

    terus bisa mematikan warung2 yang buka resmi di dalam kampus

    [tapi masih kalah ganas sama fastfood yang dananya dilarikan ke israel itu yang menggerogoti penghasilan warung2 sejak dulu]

    dilematis ya!

  2. aRuL :

    emang perlu namanya social cost dalam mememberikan kompesasi kepada PKL.
    pemberian tempat yang representatif juga harus difikirkan, mo digusur yah harus sediakan lahan penggantinya 😀

  3. mudz069 :

    to my friend diatas :
    setujuuuuuuuuuu !

  4. Gempur :

    Menjadi tugas para calon pemimpin nanti yang bertarung di 2009 unytuk memberi alternatif yang lebih baik daripada sekadar menggusur.

    PKL gak minta makan gratis ke pemerintah loh, mereka cari sendiri..!!!!

  5. Just Bryan :

    Waduh..susah juga memang..
    Di sisi lain seperti itu tapi di sisi lain PKL memang salah karena kurang tertib saat berjualan dan ketika di relokasi tempatnya katanya kurang strategis.
    Di sisi lain juga sebagian masyarakat senang melihat jalan yang tidak terlihat kumuh lagi dan tidak menimbulkan kemacetan..
    Ah sudahlah, semakin dipikir semakin pusing..
    Yang jelas perlu adanya kerjasama dari semua pihak, pemerintah,PKL dan masyarakat..

  6. nggresik :

    Pemerintah wajib adil lan kreatip ngatur sing apik
    PKL kudu gelem diatur yo kreatip

    supoyo kuabeh wong seneng karo PKL yo Pmreintah
    luweh apik maneh pembeline sampek poro turis bongso londo
    ya opo carane ngundang turis …? yo kudu kreatip

    lha iyo turis koq njajan nang PKL…saking apane rek….

  7. azaxs :

    setuju kang… memang PKL harus lebih tertib
    tapi masalahe pemerintah juga sering menginjak-injak martabat sebagai warga negara..

    kalo kompensasi pas mestine yo ga da masalah…

  8. aRai :

    “pemberian tempat yang representatif juga harus difikirkan”

    tapi kebanyakan PKL ga mau sewa/bayar tempat … itu yg jadi masalahna

    kalopun di gratiskan gimana dengan yg sewa/bayar? bisa² tempat yg di sediakan penuh dunk dijadikan rebutan … hehe

    intinya seh menurutku kesadaran kitanya aja, PKL kadang suka nyari untungnya doank tanpa melihat sisi yg laen, kalo dah semerawut pemerintah yg disalahin 😀

    *lirik kiri-kanan*

  9. mudz069 :

    2@all………
    Aku melihat 2 contoh tentang PKL ini.

    Disekitar lapangan hockey jl. dharmawangsa, mereka memang diobrak tapi disediakan lahan pengganti untuk tetap bisa eksis yakni dikoridor antara lap. Hockey n softball.
    Satunya lagi kalo ga salah didepan IP jl. urip sumoharjo, disitu malah lebih bagus kayaknya.
    Lebih jauh lagi, dulu pemda berani memblock jl. kembang jepun untuk PKL makanan [kya kya] dan awalnya terkonsep cukup bagus meski akhirnya gulung tikar.
    Memang pemerintah harus lebih berani n punya konsep untuk membuatnya lebih mengarah ke win win solution. Kalau ga, ya nasibnya kayak di simbol Komunitas kita, TP 5. Alamak, semrawutnya minta ampun.
    Aku membayangkan lahan kosong ex pabrik Barata dijadikan taman trus sebagian spacenya dikasih tenda tenda buat PKL jualan [didisain sedemikian rupa sehingga bisa matching].
    Yg muda bisa enjoy disitu, trus yg berkeluarga juga nyaman. Didepan ada wahana air [numpang di kali Mas] n dibelakang ada hiburan kereta lewat.
    Kalau lapar ya tinggal pesan makanan.

  10. udin :

    Dilematis sekali,,,,,,

  11. Udin :

    Hmm Hidup PKL……

  12. rotyyu :

    Makanya kita urusin bangsa sendiri dulu deh………

  13. GlongGongan :

    @aRuL: tapi misalkan lahan penggantinya strategis danterfasilitasi ndak pa2,tpi misal sebaliknya gmn?

    .: piece response :.

    !… salam perut …!

  14. dwi hadi :

    SETUJU CAK…! awak dewe iki gak butuh MALL, PLAZA lan sak penunggalane, sing dadi simbol HEDONISME lan KAPITALISME, sing ujung-ujunge mek kanggo kepentingan kepuasan pribadi sing notabene gak bakal onok batase. luwih becik nggawe sarana sing murah meriah koyok taman bungkul, taman prestasi, taman dolog lan liya-liyane. Lah.. nang kono PKL, pedagang cilik isok dikek-i kesempatan, dadi opo sing di omongno pakar ekonomi yoiku ekonomi mikro isok mlaku. Yo paling enggak PKL gak diintimidasi diuber-uber koyok gan onok regone. PKL iku yo menungso sing kudu di MARTABATNO

  15. catur :

    gimana ya caranya bisa buka lapak di tugu pahlawan tiap hari minggu?

    Weleh, gampang ra usah gawe REG spasi kirim nang ganol ganol sekian. Cukup bondo dagangan karo kloso. Engko nek laris klosone diganti mejo, laris maneh yo nggowo tendo, tuambah laris maneh yo nggedekno bedak plus diisi dagangan werno-werno……….jan iki ilmune telu limo.

Leave a Reply