Bajakan dan mentalitas

Suatu hari saya membutuhkan software untuk keperluan riset saya. Sebenarnya department telah punya software tersebut namun versinya bukan yang terbaru. Selain itu, staff yang menganani sedang cuti. Sayapun tak sabar, dan segera melakukan pencarian dengan bantuan Google Hack. Dan tak lama kemudian, saya dapatkan suatu server di lokasi tertentu menyimpan software versi terbaru pada salah satu folder. Segera saya download dan install di komputer saya.Dengan senang hati sayapun mengirim email ke kolega saya seorang dosen di Monash University, mengingat instalasi di komputer dia masih yang versi lama. Namun jawabannya cukup mengejutkan dan membuat saya malu. 

I believe that it would be illegal to download it without the permission from the owner. Indeed, I believe that even the owner has no permission from the software company to allow the program to be copied by unauthorized user.

Ya. Dia tidak mau mendownloadnya dengan alasan ia tidak memiliki hak. Kamipun terlibat obrolan ringan tentang ini. Dia mencontohkan begini: ibaratnya ada barang yang memang diperuntukkan dijual terus terjatuh dijalanan, apakah kamu merasa berhak mengambilnya? Saya menggelengkan kepala tapi sambil berkelit “Tapi saya tidak punya kemampuan secara ekonomi untuk membelinya” Kali ini dia agak menghardik “Menjadi miskin atau tak mampu tidak menjadikan anda punya privilege untuk mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak anda! Ketaatan pada hukum berlaku pada siapa saja, tak peduli miskin atau kaya”   Saya cuma manggut-manggut mendegarkannya.Cerita diatas berawal dari bajakan, yang mungkin banyak dari anda tidak sepakat. Tapi coba kita tarik lebih luas lagi ke wilayah-wilayah lain. Kadang kita dengar orang melakukan pungutan dengan satu excuse sakti “gaji kecil mas, kalau ga cari ceperan gimana?” Dan seterusnya dan seterusnya. Kemiskinan memang sering membuat orang kalap. Tapi menjadikan kemiskinan sebagai excuse tentu lebih bahaya lagi, akan menjadikan bangsa ini makin hancur lebur. Celakanya dinegeri kita tercinta ini, banyak orang terpandang dan berkecukupan tapi sayang selalu merasa miskin. Minta gaji puluhan juta rupiah perbulan, tapi mesin cuci, sewa rumah masih aja minta-minta (sampeyan tentu tahu yang saya maksud he he he) dan kalau perlu buat hukum yang bisa menyediakan itu semua. Menyedihkan.Kemiskinan harus kita berantas, sekaligus hukum harus kita tegakkan. Mulai dari mana? Mari kita mulai dari diri kita masing-masing, sekecil apapun itu, meski hanya sekedar larangan buang sampah. Kalau yang kecil dan remeh temeh kita tidak bisa, bagaimana dengan yang besar-besar? 

7 Responses to “Bajakan dan mentalitas”

  1. ndop :

    SETUJU!!!!
    *btw, berarti aya hars diberantas dong.. saya khan lagi miskin???*

  2. angki :

    @ndop: Jangankan diberantas, kamu aja g’ layak hidup kok. 😈

  3. det :

    ahaha.. di komputer yang saya pakai ini, hanya windows xp nya saja yang legal karena pakai lisensi dari kampus..

    yang lain? hm…

    ada solusi gak ya?

  4. -k- :

    cuma 3 jalan keluarnya :
    1. Beli yg berlisensi
    2. Pake opensource (linux-able)
    3. Pinjem komputer yg sudah berlisensi

    🙂

  5. gempur :

    syukurlah sayan sdh mulai menyadarinya…
    *proses migrasi ke linux besar-besaran*

  6. nanakiqu :

    he..he……..
    *move to opensource*

  7. leipzic :

    malez banget pindah ke opensource… hehehehe.. abiz udah windows mindset gitu lho…

    salut juga sebenarnya dengan microsoft yang mau menurunkan harga produk windows nya.

    kadang, menurut saya, orang2 IT tidak rasional dalam menjual harga produknya. Nggak salah kalau terjadi pembajakan. Bayangkan, 1 program antivirus dihargai ratusan ribu dan kita harus bayar per tahun.

    Sebenarnya sih sah2 saja, mengingat keseimbangan Demand dan Supply dalam prinsip ekonomi. Tapi, secara hati nurani, benar nggak sih?

    Buat orang2 IT di negri ini, kita mesti bisa menciptakan program alternatif bagi program2 yang ada sekarang ini. Ini juga sesuai dengan prinsip ekonomi kok.

    Tapi tetap, mentalitas kita juga mesti dibenerin. Abiz, saya juga masih pake yang tidak orisinal kok. Hehehehehe… Ngaku2… hohohoho…

Leave a Reply