Between here and there, between now and then..

Lahir di Surabaya lalu pindah ke Jakarta membuatku sering membandingkan 2 kota terbesar di Indonesia ini. Ada banyak poin perbandingan yang muncul di benakku saat menjalani kehidupan di kedua kota ini. Let’s see komentar teman-teman di TPC tentang beberapa poin yang sempat terpikir olehku:

1. Lalu-lintas. Sampai dengan tahun 1990-an, seingatku jalan-jalan di Surabaya tidak terlalu macet atau semrawut. Tapi menurut info terbaru yang kubaca dari berbagai posting-an di TPC tentunya, lalu-lintas di Surabaya sekarang sungguh-sungguh semrawut. Pengemudi/pengendara berbagai kendaraan yang tidak mematuhi peraturan lalu-lintas, kemacetan, polusi, dsb dsb. Tapiiiiii… ternyata tiap tahun membuktikan bahwa lalu-lintas di Jakarta LEBIH PARAH daripada lalu-lintas di Surabaya. Di Jakarta, para pengemudi/pengendara melanggar peraturan lalu-lintas dengan bangga dan seringkali di hadapan pak polantas yang sedang bertugas… Di Jakarta, para pengemudi/pengendara sudah tidak terlalu peduli lagi dengan keamanan diri & penumpangnya maupun keamanan kendaraannya, mereka lebih peduli untuk sesegera mungkin tiba di tempat tujuan, “berapapun harganya”… Di Jakarta, kemacetan parah bisa terjadi karena hal-hal yang konyol, misalnya: banyak kendaraan menepi lalu pengemudi/pengendaranya turun untuk menonton proses shooting sebuah sinetron yang kebetulan tengah berlangsung di lokasi tersebut… Di Jakarta, selalu ada orang-orang yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan saat macet, orang-orang yang mencopet, menodong, mem-baret badan mobil, melecehkan, dll… Di Jakarta, sebuah perjalanan berkendaraan (apapun) dari satu lokasi sampai lokasi tujuan hampir pasti berarti kita harus rela “membuang” waktu lebih dari sejam, berkotor-kotor karena polusi yang makin “gila-gilaan” jenis & kadarnya, serta meresikokan nyawa + benda-benda yang kita bawa… Di Jakarta… Di Jakarta… Daftar ini bisa terus bertambah setiap harinya…

2. Biaya hidup. Sejujurnya, aku tidak lagi tahu perkiraan biaya hidup sehari-hari di Surabaya saat ini. Tapi mendengar cerita beberapa teman & saudara yang masih tinggal di Surabaya, (sepertinya) hidup di Surabaya tidak semahal di Jakarta. Aku sudah terbiasa mendengar cerita rekan-rekan di Jakarta, yang mungkin sudah lama bekerja & sudah mencapai level posisi yang cukup “bikin iri” di kantornya, ternyata, jangankan menabung atau berinvestasi, masih berjuang bulan demi bulannya untuk biaya hidup sehari-hari. Hmmm… Enak ya kalau bisa menerima gaji a la Jakarta & hidup dengan biaya a la Surabaya… =)

3. Makanan. Dalam hal yang satu ini, I would never be a true Jakartan (orang Jakarta beneran, maksudnya..). Bertahun-tahun dalam perantauan, aku tidak pernah bisa benar-benar menikmati menu-menu khas betawi. Mirisnya, dari 10 makanan “Jawa” atau “Surabaya” yang ditawarkan di Jakarta, mungkin hanya 2-3 di antaranya yang benar-benar memberikan sensasi “Surabaya taste“… Salah satunya, Bakwan Dempo di Kelapa Gading, Jakarta Utara.. Bagi teman-teman TPC yang tinggal di Jakarta, this is simply recommended.

4. Logat & bahasa. Bertahun-tahun tinggal di Jakarta, ternyata tidak melunturkan logat Suroboyoan yang kumiliki. Aku pun tidak pernah bisa sreg/menikmati berbahasa Jakarta dengan baik dan sempurna. Sedihnya, sejujurnya aku memang sudah lumayan kesulitan untuk berbahasa Suroboyoan dengan aktif. Akibatnya jelas, krisis identitas. Di Jakarta jadi orang medhok, di Surabaya tergagap-gagap, mengerti pembicaraan tanpa sanggup menjawab. Hhh… Nasib… Padahal, aku sungguh kangen dengan logat & bahasa Suroboyoan. Saking kangennya, aku pernah ketagihan nonton TV saat saluran TV di apartemen menayangkan JTV: berita, lawak, iklan, semuanya kutonton dengan rasa nostalgia.. =) Sampai sekarang, aku SELALU punya “perhatian khusus” kepada orang-orang yang terdengar berbahasa dengan logat Suroboyoan yang kebetulan berada di sekitarku (pasti telinga ini “otomatis” nguping & bibir mulai senyum-senyum..).

Yah, ini cuma beberapa poin yang sempat terpikir. Dan, walaupun aku hanya menikmati tahun-tahun masa kecilku di Surabaya lalu pindah ke Jakarta saat masih bersekolah dengan seragam merah-putih, ternyata Surabaya still takes a special place in my heart.. =)

13 Responses to “Between here and there, between now and then..”

  1. cakdul :

    dimanapu wong suroboyo berada…keep yor logat and bahasamu
    jangan takut dibilang katrok atau apapun justru dari situlah kekuatan orang orang surobyo… gampang dikenal dan gampang oleh kenalan….
    cakdul
    http://www.warungkopicakdul.blogspot.com

  2. yud :

    Tenang mbak wong Jakarta agak “respect” sama orang suroboyo. Saya sendiri pernah misuhi sopir Kopaja dengan grammar “Juancuk” ternyata si sopir keder juga…

    Salam tempe,
    Jakarta juga…

  3. aRuL :

    tetapi sejak di sby saya sudah terlanjur mencintai kota ini lho 😀

  4. mie2nk :

    SoeRoBoJo….. ???

    gak da matinya deh………… semua kenangan indah terpatri di kota ini…. 😀

    hidup show-rock-boyo….

  5. black pearl :

    @ all: ya bener…. memang orang suroboyo lumayan ‘disegani’ di mana2… saya sudah mengalaminya selama di jakarta.. hehehe… hidup suroboyo!

  6. rio :

    hahaha…

    hidup masakah surabaya(pedas is by favorite)…
    hidup janc*k surabaya(hebat jug bisa buat keder)…
    hidup surabaya…

    merdeka Indonenesia…

  7. Anas :

    Itulah tanaha kelahiran kita.. walaupun kita jauh di sono.. kita tetep cinta ma surabaya

  8. hidayat :

    Surabaya???
    wah jadi ingat suro dan boyo….
    si ikin…..hehehehe
    mang surabaya gak ada matinya..
    Kota kelahiranku memang ciamik

  9. udin :

    I love u surabaya…
    ^_^ 🙂
    Ayo kita bangun surabaya dengan cinta dan cita….
    Aq yakin hal tsb akan menambah kharisma kota surabaya….hehehehe…

  10. kucluk :

    disini lagi ternyata…
    lam kenal lagi deh

  11. mudz069 :

    Saat dulu Jakarta dilanda rusuh Mei 98, Surabaya tenang tenang saja. Saat Jakarta banjir hampir 2 m eh Surabaya biasa saja. Saat di Jakarta musim sopir taxi dirampok, Surabaya masih aman terkendali. Di Jakarta sibuk dengan geng Kapak Merah, disini mah cuma ada pengemis n pengamen jalanan dengan tarif sukarela. . . . . .
    Weleh, Surabaya memang otre.

  12. martha :

    sakno ne rek….hehehehe….
    lek gak srek boso jakarta-an, tapi gak gelem dianggap aneh, yo berbahasa indonesia yang baik saja. Dadi iku jalan tengah-e supoyo gak dadi alien neng jakarta

    pancen paling sip urip ndhik suroboyo….

  13. Jemblung :

    SUROBOYO ANCEN TOP COK!!
    BAH DIOMONG NDESO TA KORAK
    KENE KUTO SENG SOLIDARITASE SIP!!

    YO NANG KENE THOK KON GA USAH ATEK JAIM2AN
    KARO KONCO2MU !!

Leave a Reply