Biofuel berbahaya!

Isue global warming dan prediksi semakin menipisnya cadangan minyak dunia menjadikan berbagai pihak mencari bahan bakar alternatif. Salah satunya adalah biofuel. Biofuel diyakini memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Keunggulan utama yang sering digembar-gemborkan adalah ramah lingkungan, biofuel menghasilkan emisi carbon yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

Namun, benarkah biofuel benar-benar ramah lingkungan? Jawabannya bisa tidak! Biofuel bisa menjadi bahaya baru buat lingkungan. Kok bisa? Biofuel dibuat dari bahan-bahan tumbuhan seperti jagung, jarak, tebu dll. Nah, kalau pemakaian biofuel meluas dan massal seperti pemakaian BBM saat ini, maka kebutuhan akan biofuel juga semakin meningkat. Akibatnya juga tentu kebutuhan akan bahan baku biofuel juga meningkat drastis yang membutuhkan pembukaan ladang-ladang baru untuk penanaman tumbuhan industri untuk bahan baku biofuel. Apa yang terjadi berikutnya? Deforestation! Perambahan hutan untuk pembukaan ladang-ladang baru. Jumah hutan yang sekarang berkurang akan semakin berkurang tentunya. Akibat selanjutnya? Bisa kita tebak sendiri. Ujungnya-ujungnya muter ke pemanasan global lagi dan juga perusakan ecology yang sudah ada dihutan.

Gambar diambil tanpa ijin dari BBCProfessor Dieter Helm menuturkan bahwa  untuk memenuhi kebutuhan 10% dari kebutuhan untuk transportasi dunia, dibutuhkan penambahan 9% dari total lahan pertanian dunia. Dengan demikian, biofuel akan mengakibatkan situasi buruk menjadi lebih buruk: menyempitnya ketersediaan lahan yang akibat terburukanya akan meroketnya harga makanan karena lahan pertanian untuk makanan dialihkan untuk biofuel. Belum lagi kalau ini ditambahkan variabel lainnya: pertumbuhan penduduk, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor and so on and so on.

Terus bagaimana dong? Banyak kalangan berpendapat bahwa cara paling efektif untuk menyiasati global warming adalah kurangi konsumsi, dengan cara, diantaranya:

  • Kurangi berkendaraan
  • naik kendaraan umum
  • kalaupun naik kendaraan pribadi lakukan car pooling (ajak teman yang satu tujuan berangkat sama-sama)
  • jalan kaki untuk jarak dekat, selain sehat bikin anda sexy lho
  • perbanyak pakai sepeda ontel (bike to work)
  • Gunakan peralatan penkonsumsi energi seperlunya
  • Kurangi nge-blog, friendster, facebook dan web 2.0 lainnya. Gunakan waktu dan komputer anda seproduktif mungki!! he he

Menurut saya, menggantikan sesuatu yang sudah ada dengan yang baru belum tentu sepenuhnya lebih baik. Ingat setiap sesuatu didunia ini adalah bagian dari sistem. Merubah/menggantinya akan berdampak pada komponen sistem lainnya.

Bagaimana dengan mengganti kertas/cetak dengan online? Saya kurang yakin! Coba bayangkan kalau setiap individu di Surabaya yang baca koran mebacanya secara online pagi bersamaan! Berapa MW listrik yang harus disediakan. Baca koran cetak bisa kita tunda jikalau ada keperluan lain untuk kemudian tinggal ambil koran tadi terus baca lagi. Baca koran online? Kita harus menyalakan komputer lagi kalau kita terlewat akan satu berita di halaman tertentu. Kertas koran bisa kita recycle, sedangkan energy yang kita pakai untuk baca koran dipagi hari bisakah kita kembalikan untuk dipakai baca koran ketika kita pulang kerja?  Pemakaian online form memang baik, but should be done in the right context!

24 Responses to “Biofuel berbahaya!”

  1. Prima Adi :

    maaf, apakah anda dg Imam Baehaqie Abdullah orang yg sama? namanya asli mirip 🙂 nyoal biofuel yg tinggi energinya (kalo nggak salah) adalah bunga matahari dan bonggol jagung. kalo sampe mengancam hutan, ya harus dibuat regulasinya ya. tapi kayaknya biofuel udah nggak populer lagi. skarang yg lagi trend adalah blue-energy yg bahannya dari air (terutama air laut). berita lengkapnya.. coba googling dg keyword blue energy dari air. penemunya wong nganjuk loh..


    Ma’af, saya bukan orang yang sampeyan maksud.
    Mengenai blue energy coba anda lihat disini kontroversinya

  2. gempur :

    Hmmmm, sulit juga nih kalau tak ada alternatif yang terbaik dari yang terbaik.. ganti biofuel, deforestasi, ganti ke listrik, sama juga bo’ong.. ganti ke tenaga air.. mudah2an sebuah keniscayaan..

    Solusinya, cari sumber energi yang tak habis dan selalu ada, misal tenaga surya yang sering terdengar tapi kurang populer di kalangan industri kali ya? tenaga air seperti yang dibilang pak baihaqy yang penemunya orang nganjuk, atau mungkin tenaga udara. Selama udara masih ada, maka keberlangsungan hidup terjaga, kecuali kiamat tiba hehehehehe..

    Saya bingung pak! terserah aja apa solusinya, saya akan patuh.. 😉

  3. deteksi :

    solusi atas satu masalah PASTI akan menimbulkan masalah baru. bagaimana mencali solusi yang menimbulkan masalah baru paling kecil, itulah yang layak untuk dimasukkan iterasi selanjutnya hingga tercapai solusi optimal 😀

    apa benar penggunaan biofuel yang makin luas bisa berujung pada deforestation? jawabannya bisa iya, bisa tidak

    iya, jika meniru malaysia dalam menanam kelapa sawit. hutannya sendiri dijaga, tapi merusak hutan Indonesia.. rasain aja kalo dapat kiriman asap dari Indonesia. jangan mau enaknya aja..

    tidak, jika penanaman bahan baku biofuel ini dengan cara alih fungsi lahan atau pergantian jenis tanaman pada lahan yang telah tersedia tanpa harus membuka hutan

    Alih fungsi lahan juga problematic. La terus mau ditanam dimana bahan-bahan kebutuhan pokok (beras/padi, gandum, sayur dll). Ujung-2nya harga bahan pokok naik.

    Yang harus dilakukan, seperti saya bilang diatas, adalah penghematan, kurangi konsumsi, benahi transportasi umum.

  4. deteksi :

    @prima adi: silakan mendaftar dulu dan bikin profil untuk perkenalan ke member yang lain mas..

  5. yuki :

    biofuel, sebetulnya kalo tujuannya untuk memnuhi kebutuhan BBM kendaraan bermotor, memang jadi pilihan tepat. Tapi kalo terus dipenuhi, orang tidak akan berpikir untuk membatasi penggunaan kendaraan bermotornya. Atau paling minim, cara berkendaranya juga nggak akan berubah, dengan alasan, wong bengsin masih banyak kok, ngapain juga bingung?

    Saya sih lebih setuju kalo alternatif BBM sekalian aja dengan listrik, atau minimal mobil hybrid. Kalo konsentrasi BBM dialihkan ke listrik, paling nggak pasokan listrik bakal terjamin, dan yang penting, program langit biru pemerintah bakal jalan. Oke tapi ini usulan saya. Monggo yang lainnya…. 🙂

  6. gandhi :

    intinya kembali kepada kebijakan pemerintah masing2. Terlepas dari bahan bakar ramah lingkungan ataupun sumber daya energi yg semakin menipis, permasalahan yg utama adalah pengaturan kendaraan bermotor itu sendiri.

    Semakin kecil efisiensi mesin semakin besar pula pemborosan yg dilakukan dan tidak menutup kemungkinan sisa gas buang juga akan semakin besar. Perhatikan saja di surabaya sendiri berapa kendaran yg sudah tidak layak jalan, berapa pertumbuhan kendaraan per hari, berapa besar pencemaran yg dilakukan oleh kendaraan2 yg sudah tua dan bermesin bobrok.
    Sebenarnya kalo pemerintah mau mengatur itu semua, saya rasa bahan bakar apapun ga jadi masalah, apalagi pemerintah mau membudidayakan bahan bakar “lemak” maksudnya menggunakan sepeda untuk bepergian ato berjalan kaki, kan lumayan bisa membakar lemak manusia2 gendut seperti saya hahahaha. Mari kita mencintai lingkungan dengan bersepeda dan jalan kaki..yuk..mari

  7. tukang foto keliling :

    sepakat dengan cak Gempur….
    penggunaan sumber energi tanpa batas, seperti solar cell … pemanfaatan sumber air laut (udah pernah ada… tapi katanya masih misterius 😀 )

  8. Sharon :

    Jadi… pake apa dong? Semua pasti ada jeleknya..

  9. gandhi :

    @sharon

    jalan kaki mbak kalo gak bersepeda. Bebas polusi trus sehat hehehehehe

  10. aRuL :

    capek juga… tadi udah ngoment tapi ngak masuk… 😀

    Tapi pertanyaannya sejauh mana hal itu bisa diterapkan di Indonesia, jika hanya masyarakatnya berfikir untuk selalu praktis tidak mau ribet. Pake kendaraan kalo perlu beli mobil, satu rumah bisa saja 2 atau lebih mobil.
    Seperti apa kebijakan pemerintah terhadap mengguna jalan?
    Seperti apa kebijakan pemerintah memperbaiki armada angkutan umum?
    seandainya pemerintah singah di tugupahlawan.com bukan hanya singgah di sekitar tugu pahlawan sesungguhnya untuk menggusur penjual2 kaki lima itu. akan sangat berguna untuk memperbaiki kebijakan lingkungan surabaya terutama.

  11. ading :

    #4 @deteksi
    maaf, sbenernya saya sudah terdaftar, tapi waktu itu mungkin saking semangatnya mau kasi komentar jadi lupa kalo blom login 🙂

  12. yuki :

    ngomong-ngomong, dulu kan ITS punya proyek Widya Wahana. Gimana tuh kelanjutannya?

  13. anasmcguire :

    Namanya juga masalah, kalo udah ketemu solusi, pasti muncul masalah yang baru… Itulah siklus.

  14. STR :

    Om, kalo pakenya biogas (dari kotoran ternak) piye? Aman ndak kira-kira?

  15. bayoe :

    Solusinya bagus tuh pak tapi gimana cara nerapinnya… Lah mayoritas wong Indonesia biasanya sok pamer kekayaan… Apa mau diajak hidup sederhana dan konvensional tapi maknyus???

  16. Titah :

    kerna negara kita di khatulistiwa, keknya energi matahari paling murah n merata tersedia di seantero negeri deh, dari pinggir pantai, tengah ladang, pelosok hutan, mpe puncak gunung. tinggal siapa yg mau bikin produk2 yg manfaatin energi matahari, pasti laris-manis deh (asal applicable & harga terjangkau untuk skala rumah tangga). hallo anak2 its…. 😉 😀

  17. aRuL :

    *kesummon* iyah bu… 😉

  18. Kurniawan :

    Ya berbahaya, karena berebut makan antara mesin dan manusia. Dan sangat berbahaya bagi negara Arab.

  19. sahairu :

    manusia dan teknologinya, menurut saya akan menuju kepada kehancuran planet kita. saya sendiri pusing, karena setiap sesuatu yang baru, yang diciptakan manusia pastilah akan berpengaruh pada planet kita, apapun itu bentukya hanya saja kita belum tahu dampaknya, dan kita akan tahu setelah kita merasakannya. kita mungkin hanya bisa memperlambat kehancuran dengan sikap bijak kita terhadap linkungan, syukuri lah kenikmatan yang ada diplanet kita dan bersyukurlah dengan apa yang telah kita peroleh, krena hanya orang-orang serakahlah yang akan berbuat kerusakan dibumi.

  20. BunKPET :

    yg terkasih penulis,
    menurut pendapat saya, opini anda tentang Biofuel memang disatu sisi benar kalau plant dari asal pengambilan raw materials sampai dengan supply nya tidak diatur sebijak mungkin oleh pemerintah dan pelaku bisnis di bidang ini. Tapi bukannya Biofuel berasal dari Sumber Daya Alam yang dapat diperbaruhi? tidak seperti minyak bumi yang akan habis makanya dibilang skr semakin menipis(ups, ini kan pelajaran SD), shg dicari lah namanya energy alternatif..menurut hemat saya, penemuan2 energy alternatif seperi biofuel akan sangat bermanfaat di Indonesia mengingat Indonesia adalah negara agriculture pengeksport biofuel terbesar no.3 di dunia(data 2006). tahukah anda, pencampuran limbah minyak hasil perush. atau minyak kelapa sawit jika dicampur dengan metanol dan Sodium hidroksida, hanya di campur dalam blender dengan perbandingan yang ditentukan akan menghasilkan biodiesel? dan bisa langsung di konsumsi oleh kendaraan anda! 🙂

    @ pembaca dan penulis: saya butuh data2 mengenai tempat asal dimana raw material dari biodiesel di kumpulkan di Indonesia utk penulisan master thesis saya. terima kasih bantuannya dan info nya.

    salam dari Jerman,
    -BunKPET-

  21. opanowski :

    Saya rasa manfaatkan semua jenis energi yg “Hijau” lebih ke alam maksudna, yg lebih sedikit polusina apapun itu…dan populerkan Zero Waste disemua lapisan masyarakat….!!!
    Mungkin suatu hari nanti udara hari esok akan lebih sejuk dihirup dilingkungan kita masing2 ketimbang hari ini…!!!

  22. Sanni Bustomi :

    Ok mas thanks buat tulisannya, pada hakekatnya memang penggunaan biofuel sebagai pengganti biofossil sangatlah riskan bukan saja dapat menambah buruknya konservasi hutan kita akan tetapi dapat juga berakibat pada krisis pangan dunia seperti yang kita sering dengar pada saat ini.
    Tetapi menurut saya keadaan seperti ini yang kita harus siasati sperti halnya dengan penggunaan lahan2 tidur di Indonesia, Intensifikasi lahan, dan penggunaan komoditi yang tidak bersinggungan langsung dengan komoditi pangan…
    There still lot of things that I can share based on discussion or my own experience from survey & researh.
    Thanks

  23. bakoky :

    q pusinggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg?????????????????????
    smoga nanti ngak d kasih kyk gn lg!!!!!!!!!!!!!! :'(

  24. kchow :

    iya pa btul…..btul….btul!!!!!!!!!tapi cukup pusink…pusink…..pusink!!!!!lier….lier…lier!!!!!!!!!!

Leave a Reply