Dicari : akrobratik lapangan hijau.

Menonton pertandingan sepak bola tadi sore antara Indonesia vs Myanmar, sepertinya aku ga melihat adanya perkembangan yang berarti pada wajah persepakbolaan negeri kita. Meski berhasil unggul 3 bola, nampaknya pemain kita masih lemah dalam hal stamina, kontrol bola juga lemah dalam visi permainan.
Mengapa ya pemain kita ga trengginas seperti pemain luar yang seolah tak pernah lelah sepanjang pertandingan ?Mengapa ya pemain kita begitu mudah kehilangan bola dan umpannya salah arah, ga seperti pemain yg aku lihat di benua lain, menari, meliuk liuk sambil menggiring bola dan sering membuat gol yg membuat decak kagum penonton ?

Bila ukuran tubuh yg dijadikan kambing hitam, tentu kita bisa berkaca pada seorang Lionel Messi yang juga tergolong mungil untuk ukuran pemain bola.
Ah, Messi khan pemain berbakat ga bisa buat komparasi. Bakat ? Memang bakat adalah anugrah. Andaikata itu sebuah script program, Tuhan telah turut campur dengan menyediakan sebagian templatenya. Bila pemain lain perlu berpikir akan dikemanakan dan diapakan bola ini, mungkin dalam diri seorang Messi proses berjalan dgn sendirinya.

Permainan sepak bola bukanlah ilmu sihir yg mungkin sulit untuk dipelajari.
Bila selama ini pemain kita terpaku dgn durasi permainan yang 90 menit, sepertinya visi harus dirubah agar mampu survive selama 120 atau bahkan kalau perlu 180 menit.
Otot dan unit pernafasan mereka harus di overclock agar sepanjang pertandingan bak punya nafas kuda.
Soal metode untuk bisa menjadi begitu tentu mereka yg lebih paham.
Entah sparring dgn busway atau argobromo, ga jadi soal yg penting 2 kata yg perlu diingat, berlari dan berlari.

Ketrampilan memainkan bola sebagaimana ketrampilan yg lain, akan didapat dari latihan yg teratur dan terarah.
Lho bukankan mereka sudah latihan selama ini ?
Yaps, mungkin saja selama ini mereka hanya menikmati sepakbola sebatas just the game dan lupa bahwa ada harga diri sebuah bangsa yg dipertaruhkan , lupa bahwa hari ini harus lebรฌh baik dari kemarin………sehingga kita seolah susah untuk naik kelas.
Jangankan level dunia atau level Asia, untuk level Astengpun kita jarang jadi juara.

Padahal andai mau, dengan melipatgandakan motivasi, mengkalibrasi visi tentang sepak bola, kitapun bisa sejajar dengan bangsa yg lain setidaknya untuk ukuran Asia.

Masih segar dalam ingatan beberapa waktu yg lalu saat penghelatan piala Asia, kita bertempur dgn pasukan Bahrain, dgn Korsel bahkan dgn Arab Saudi, ritme dan kualitas permainan kita begitu menjanjikan. Tim lawanpun pontang panting untuk membendung seranganbanteng merah putih yg seolah sedang mengamuk.
Apakan pemain kita sedang kesurupan massal sehingga merasa tak kenal lelah ?
Agaknya mungkin mereka perlu diingatkan bahwa didunia seberang ada yg mau menggaji kemampuan berakrobatik dilapangan sebesar 2.5 milyar perminggu yg mungkin setara dgn gaji mereka selama 8 thn.
Atau mungkin juga mereka lupa bahwa kalau mau, sepakbola bukan hanya sebatas hobby tapi sudah menjadi sebuah industri. Ada kekuatan, ada kecerdasan, ada semangat yg harus dikerahkan agar bisa menjadi the best product.

Bravo Indonesia !

8 Responses to “Dicari : akrobratik lapangan hijau.”

  1. Special One :

    Wooohh Heibat sampeyan.
    Tambahono foto po’o?? Ben jelas.!!!
    ๐Ÿ‘ฟ

    :
    Weleh, sepurane yo cak, iki posting gawe symbian.
    Pernah nyoba ndeleh foto tapi rasane susah banget, so fotone nunut koran sesuk, hehe

  2. radit :

    hooh,,,menang 3-0 tapi biasa ae…

  3. GlongGongan :

    wuikh menang telak…..
    di piala kemerdekaan, indonesia menghajar myanmar 4 – 0
    sekarng di liga AFF dihajar lagi 3 – 0

    pzti habis pertandingan sepak bola, pada kelaparan semua tuh pemainnya coz selama 1 jam setengah lari2an tyuz…… ๐Ÿ™‚

    !…Salam Perut…!

  4. goezilla :

    gag popo rek maine biasa..kan sing penting menang….

  5. gajah_pesing :

    nampaknya pemain kita masih lemah dalam hal stamina, kontrol bola juga lemah dalam visi permainan.
    Mengapa ya pemain kita ga trengginas seperti pemain luar yang seolah tak pernah lelah sepanjang pertandingan ?Mengapa ya pemain kita begitu mudah kehilangan bola dan umpannya salah arah, ga seperti pemain yg aku lihat di benua lain, menari, meliuk liuk sambil menggiring bola dan sering membuat gol yg membuat decak kagum penonton ?

    njajal main’o po’o

    >
    >
    hehe, nyoba main ?
    ya jelas ga lebih baik lha wong kita berbeda bidang, berbeda profesi dan jelas berbeda keahlian.
    Aku di dunia industri dan mereka di dunia olah raga.
    Namun siapapun kita pasti ada tangga prestasi yg bisa kita daki.
    Bambang Pamungkas dkk. sudah mendeklarasikan diri sebagai pemain bola dan kebetulan ditunjuk [dan bersedia] mewakili negara, so aku rasa wajar kita mengharap tim kita bisa memenangkan peperangan dan bukan sekedar pertempuran.

    Postingku hanyalah merupakan sebuah analisis. Bila orang lain bisa begitu hebat, mengapa kita ga ?
    Kita dan mereka [orang luar] khan dari species yang sama.
    So kalau outputnya berbeda
    [keahliannya ga sama] nah pasti inputnya yang bermasalah. Entah itu motivasi, metode latihan, visi maupun taktik pertandingan.

    Visi ? Yaps, komponen yang satu ini ga bisa dipandang remeh.
    Meski seorang pemain punya motivasi gede, latihan sudah benar dan xtra keras tapi kalau salah visi ya mungkin ga bisa efisien dan effektif di lapangan.
    Salah satu visi adalah 1 for 11 dan 11 for 1…….so ujungnya adalah adanya permainan kolektif.
    Bayangin aja kalau ada seorang pemain yg egois [biasanya pemain bintang], ga mau kerjasama, nggetu dewe ya cape sendiri.
    Salah satu bentuk kolektifitas permainan yg hebat pernah diperagakan oleh tim oranye saat dipegang oleh Rinus M. Kita mengenalnya sebagai total football.

    Eh, BTW, mas gajah suka sepakbola juga ?andai nasib berbicara lain, mungkin aku bisa jadi pemain bola……………yah, seperti teman sekampungku dulu si BP yang sempat di pelita Jaya, PSIS dan timnas.

  6. det :

    weleh ngomongne bola? ancen sepak bola ndak bisa lepas dari kebrutalan, sampai kapanpun!

  7. gajah_pesing :

    @mudz069 : kalo nasib berbicara lain, saia gak akan jadi pengusaha. Walau dunia kiamat saia yakin teman teman TPC lebih baik daripada saia karena mereka punya potensi. Jadi saia gak perlu comot nama artis, pejabat, atau superstar sebagai tameng saia.

    *
    *
    Aku pikir kita disini seperti saudara, bisa saling berbagi cerita, bisa berbagi rasa. So, mungkin aku agak lengah, dengan entengnya menulis sesuatu yg kiranya ga nyaman bagi orang lain.
    Aku sependapat dgn konten diatas, to be yourself.
    Aku sudah bersyukur dgn apa yg sudah aku dapatkan.
    Aku memang bukan superstar, aku juga bukan saudagar, aku bukan pula priyayi.
    Aku ini hanyalah buruh industri, yang ingin jadi diri sendiri.

    Thx buat komennya yo cak ! Ojo kapok gawe komen liane.
    Komen sampean serasa membuatku naik kelas.

  8. angki :

    @Gajah Pesing: Wong kakean omong karo kakean cangkem koyok mudz ngene sampeyan reken cak cak. ๐Ÿ˜†

Leave a Reply