From Wonokromo to Wonorejo with love.

Sebagai kota nomer 2 di Indonesia, Surabaya sungguh kurang beruntung karena tak memiliki tempat hiburan yang tergolong representatif. Selama ini yang dikenal masyarakat diluar Surabaya untuk “cuci mata” hanya ada 2 yakni THP kenjeran yang menurut saya pribadi kurang bisa menjual diri dan KBS yang dulu kala terkenal karena koleksinya paling lengkap se Indonesia.
Sayang tempat terakhir yang disebut diatas kini merana nasibnya. Lingkungannya kurang terawat terlebih lagi penghuni yang berada dibalik sangkar. Sepertinya kini nasib mereka tak ubahnya seperti judul lagu tengah menghitung hari. Satu persatu mereka berpulang menghadap sang Khaliq termasuk juga ikon Indonesia di pentas New Wonder Seven, si Komo.
Wonokromo. Sebagai orang jawa cukup mudah bagi kita untuk menebak dari 4 deret huruf pertama bahwa dulunya tempat ini adalah kawasan hutan alias pinggirannya Surabaya sehingga tak salah rasanya mendirikan dierentuin disitu. Tapi seiring waktu Wonokromo bukan lagi hutan tempat berbagai satwa melakukan regenerasi, bukan lagi pinggirannya Surabaya. Tempat ini sudah menjadi salah satu sarang kekumuhan kota, menjadi salah satu penyumbang polusi yang besar dengan menjadi biang kemacetan. Pertanyaannya : masihkah tempat ini layak bagi aneka satwa untuk menikmati kehidupannya ?
Wonokromo, jangan hentikan salah satu denyut nadimu sebagaimana lontong balap dan sumur minyak yang tlah menghilang dari tanahmu. Kota ini butuh kesegaran setelah sepanjang siang lelah bertarung dengan waktu. Rasanya kami butuh tempat yang rimbun untuk berekreasi sekaligus tempat pencerahan, tempat eduksi bagi putra-putri kami.
Meskipun sudah ada Rusa dan Gajah yang sudah alih profesi dan tak lagi tinggal dibalik sangkar besi, sekawanan hewan yang lain hanya mampu mengharap dari belas kasihan. Mereka tak mampu membeli spanduk, tak kuasa bentangkan kata-kata menghujat kepada penguasa tentang segala ketidak adilan yang mereka terima. Hutan habitat mereka dihabiskan sementara jatah makanan terlupakan.
Aku memang bukan Tarzan tapi sekiranya boleh meminjam mantra ajaib aku ingin mengucap bim salabim agar sekawanan satwa yang tengah menahan derita bisa berpindah rumah ke wono yang lain, Wonorejo. Ada lahan konservasi, ada pantai dan tentu saja ada pinggiran yang sebenar-benarnya. Rasanya teramat segar bisa sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, ada pantai ala Ancol, ada KBS, ada hamparan hutan mangrove bisa berada disatu lokasi. Tempat yang menarik untuk dikunjungi dus alamat ada aliran rejeki bagi si “penghuni”. Butuh kemasan baru agar orang menyisihkan waktu untuk datang. Bila Lamongan dan Prigen bisa, bila mBatu mampu, mengapa Surabaya seakan sudah berpuas diri ?
Kota ini butuh ikon baru. Sekawanan hewan sudah lelah memperjuangkan nasibnya sendiri. Mereka juga mengharap kehadiran seorang pahlawan setidaknya orang
yang punya perikebinatangan.

SELAMAT HARI PAHLAWAN

6 Responses to “From Wonokromo to Wonorejo with love.”

  1. luxsman :

    mungkin perlu vote sms juga pak,,,

  2. DeWay :

    Iya mas, prihatin dengan KBS. Padahal anak saya kalau saya ajak ke KBS juga sangat senang. saya juga sempat menulis di blog saya keprihatinan saya atas KBS.
    http://ftw1974.blogspot.com/2011/10/kemelut-yang-terjadi-kebun-binatang.html

  3. don15 :

    keliatannya,.pemerintah harus lebih tanggap dengan permasalahan ini mas,.,.supaya nasib binatang tidak terlunta-lunta (halah),.,.

  4. Cak Manut :

    KBS harus di hidupkan kembali ….eman cak

  5. Wahyu :

    Wonorejo memang salah satu tempat yang potensial sebagai objek wisata bari di Surabaya.

    Tapi KBS jangan sampai mati

  6. adhe goblog :

    Kadang bukan pemerintah aja yg selalu disalahkan, mungkin dukungan dari masyarakat juga kurang.

    Sempat miris mas, waktu ada temen yg sejak lahir di Surabaya ditanya, “berapa jumlah batang tugu bambu runcing?” itu aja ga tau. Berarti kepedulian masyarakat juga harus kembali ditumbuhkan, masalah ga bakal selesai kalo hanya untuk menyalahkan pemerintah saja.

    Monggo cak, pareng riyen. Kulo mpun ngantuk

    **********

    Saya sangat setuju dengan pendapat sampean bahwa “kita” harus bersama-sama agar BISA, kolaborasi antara warga dan pemerintah. Hmm, bambu runcing, memangnya masih ada ? Tak kirain sudah terkena illegal logging.

Leave a Reply