Hedonisme kaum muda

Hihihihi….Hehehe….Hahaha..

Aduuuh, maap, saia bukannya gila, edan atau sebangsanya..cuman, ya itu…ngeri juga rada geli mengingat gaya hidup mewah seperti itu juga dikenal oleh remaja, khususnya yang berdomisili di Kota Metropolitan seperti Surabaya.

Padahal ‘ndunyo’ alias duit yang mereka dapat juga dari orang tua. Sayang sekali kalau dihamburkan begitu saja hanya untuk memenuhi kebituhan ‘tersier’ (Hmhm…jadi teringat lagi sama pelajaran Ekonomi kelas X dulu…).

Kebutuhan yang tergolong gak penting tersebut contohnya:
1. Follow the Flow alias ‘macak’ gaul dengan dandan ala P*nk, Harajuku girl, ato ‘mermak’ rambut dsb supaya gak ketinggalan jaman.
2. Lapar mata membeli ‘gadget’ teranyar cuma karena penasaran dengan fitur terkininya sekalian biar kerenan dikit…( Ngerampok ortu deh..)
3. Tanpa Ba-Bi-Bu langsung ‘Nodong’ minta tambahan uang saku yang ujung-ujungnya dibuat beli aksesori (Ehem, kaum cewek ni biasanya) seperti Tas, Baju, Pita dll, menunjang penampilan nih…(Weleh, saia aja dibeliin baju setaon sekali pas lebaran..:P)
4. Menghabiskan uang untuk nongkrong di kafe mahal atau dugem (Aduduh..Mau ngoleksi dosa, Mas / Mbak?)
5. Hiiiy, yang paling serem...memeras kantong untuk mengonsumsi ‘NARKOBA! AMPUN DEJEEE!! (Bagi yang merasa tersindir..segeralah bertobat..ingat, kiamat diambang mata!)

Waaah, lumayan tuh bukti konkrit yang saia gambarin diatas, yah, bukan apa-apa…soalnya saia juga remaja, juga pernah khilaf (Ciyeeeh, emangnya sekarang udah tobat?..Hm, belum sepenuhnya sih…hehehe). Tapi setidaknya udah gak separah waktu muda dulu..(*Sok_Tua_Mode_On*).

Sebenarnya, kebiasaan buruk diatas benar-benar gak ada manfaatnya,
Kita boleh gaul, tapi jangan sampai Over yang pada akhirnya mendewakan Uang. Rela berbuat apa aja (Termasuk jual diri-Okelah, bukan hal baru kahn?) demi mendapatkan apa yang kita inginkan.
Bersenang-senang juga gak dilarang, bahkan kakek saia juga bilang, “Senengo nduk, mumpung sih Enom, yen uwis tuwo, ‘ra ilok disawang tonggo!” Hehehe..tapi kesenangan tadi juga gak hanya kalau ‘punya uang’ semata loh!
Bersenang-senang tanpa uang bisa, misalnya: Window shopping (Cuek aja meski dipelototin sama shop-keepernya!), nongkrong di warung (Gantinya kafe, lumayan, penghematan!), atau bikin acara sendiri bareng temen segenk, sekampung, seperjuangan,,,terserah, asyik,seru dan pasti gak menghabiskan budget banyak. Karena biayanya ditanggung bareng!
Banyak bersyukur dan berderma (Nyumbang, bahasa gaulnya mendonaturkan harta kita pada mereka yang kurang mampu!).

Sekedar share aja ya, saia ini termasuk cewek berekonomi pas-pasan, tapi juga hobi banget menabung yang pada akhirnya ya..itu, beli ini-itu supaya terlihat gaul! (Jaman ESEMPE niih!)
Begitu saia diajak Mak beserta teman-temannya ke sebuah Panti Asuhan, saia mulai menyadari, kalau uang yang saia hamburkan itu mubazir. Kenapa saia tidak memberikannya saja untuk mereka?

Mulai saat itu, saia aktif jadi ‘tentor’ gratis mengajari Bahasa Inggris yang memang belum mereka kuasai. Heheh, tapi, yah, maklum, bukan dosen, jadi ya…gitu deh, ngajar sebisanya, tapi insya ALLAH bermanfaat..Kami juga sering berbagi cerita dari hati ke hati.

Betapa mirisnya saia mendengar si kecil Futi (3 tahun) yang beberapa hari ini tidak keramas hanya karena kehabisan shampoo.

Apa mereka gak membelinya?

YA, para pengurus Panti tersebut memang memenuhi kebutuhan tiap anak, dan udah konsekuensi kalau mereka menghabiskan jatah bulan ini, tidak bisa dapat lagi kecuali bulan sudah berganti. Dalam hati saia menangis, kenapa saia bisa membeli barang-barang tak berguna kalau saudara saia sendiri hidup kekurangan seperti ini?

Dan, pada akhirnya, mereka menyadarkan saia, bahwa uang yang kita punya juga milik mereka. Mereka ibarat adik-adik saia sendiri. Jadi, kalau ada rejeki sedikit, saia juga tak segan membelikan jajan untuk mereka.

Momen berharga yang sangat melekat sampai sekarang adalah ketika saia merayakan ulang tahun ke-18 bersama mereka. Meski hanya membagikan donat, saia merasa senang sekali, mereka juga mendoakan saia supaya dapat menjalani hidup ini sebaik mungkin.

Apakah kita tidak malu, menghambur-hamburkan uang punya orang tua kita dan bergaya seolah dunia ini ada dalam genggaman? Orang lain cuma ngontrak? tak berhak mengusik kesenangan kita?

Wah, kalau saia ya malu sekali! bahkan, uang saku saia saja dihemat supaya bisa memenuhi kebutuhan yang lain. Malu minta terus, jadi, dibilang kuper, mungkin iya..saia gak hobi pergi ke Bioskop, hang out ke Mall juga malas! Ujung-ujungnya pasti membeli barang ‘ajaib’ yang bahkan kita belum ada ide utuk apa itu, sekedar memuaskan ‘lapar’ mata pas jalan-jalan saja, kan! πŸ™‚

Yah.. Memang, Remaja itu ‘FASE” yang paling berat…ibarat jalan hidup, tanjakan tajam ya ada saat remaja seperti kita ini. Kalau benar-benar hebat, kita pasti bisa melewati fase ini dengan sukses dan jadi Remaja yang ‘Qualiffied’ (Weleeeh, keingetan Pak Gempur deh, orang itu hobi banget sih bilang ‘kualifaid’ macam gini..hehehe, artinya apaan sih, pak? Hihihi..).

Hmhm..mau kan pastinya? mari singkirkan paradigma ‘Remaja selalu Salah’ dalam masyarakat.
Tanpa remaja, gak ada Orang dewasa kahn? Bapak dan MAk kita dulu pacarannya pas remaja…, Pak Presiden juga pernah remaja. Sampai saat ini, mereka bisa jadi orang yang luar biasa, kenapa kita tidak?

Jadi, Remaja gak hanya bertolak dari gaya hidup mewah dan keren, tapi juga pikirkan, ‘Mau jadi apa setelah ini?” Tentu aja, Sebagai tonggak generasi bangsa kita juga harus menjadi “Calon Orang Hebat”. Singkirkan Stereotip ‘Keren’ mulai sekarang. Keren tidak sama dengan gaya dandanan semata. Juga bukan untuk mereka yang berduit. Atau yang hobi dugem di Kowloon..

Keren itu….

KITA!

Apapun mereknya, pabriknya, yang pasti, harus bisa memproduksi ‘skill’ untuk melanjutkan hidup!

Salam,
Neng-Shei

28 Responses to “Hedonisme kaum muda”

  1. STR :

    saya keren πŸ˜†

  2. hAi_hai_sBy :

    kalo dipikir-pikir mang bener juga sih.yang namanya kepuasan duniawi tu mang harus didukung sama kertas bernama ” DUIT “.tapi seenggaknya sebagai cewek umur 19 taon yang ngerasa kesindir abis setelah baca tu tulisan diatas..dari sekian ratus juta remaja yang menyianyiakan duit cuman buat kepentingan ga penting masih banyak juga kok remaja yang ngambil dan pake duit dengan jerih payah mreka sendiri.bukan jual diri dalam arti lain maksudnya…yang halal aja dimata agama ama masyarakat.mreka menuhin kesenengan duniawi mreka ga pake 100% nodong ortu ato ngehalalin sgala macam cara cuman buat ngebeli sgala macam perlengkapan dan peralatan tubuh mereka…
    dan juga yang namanya remaja mang masa yang paliung pas buat seneng2..kalo mau kedugem dimaklumin,kalo mo nongkrong dimaklumin,kalo mo pacaran dimaklumin,tapi kalo overdosis juga kadang dimaklumin walaupun dapet sedikit hukuman..
    kalo udah dewasa khan ga bisa…apa-apa harus mikir baik dan buruknya tanpa nerima yang namanya kemakluman…
    bner ga?

  3. gempur :

    @ STR: tumben ramah! wekekekekekekekek….

  4. tu2t :

    keren..
    bagi tu2t… keren tuh bisa dilihat dari orangnya.. terlepas dari apa yang dia pakai.. salah satu inner beauty degh..

    ya.. yang pasti para remaja harus kita bimbing menuju jalan yang lebih baik degh.. bukan mendoktrinnya dengan apa yang baik dan apa yang tidak baik.. mari kita rangkul mereka agar menjadi orang yang lebih baik πŸ˜€

  5. neng-shei :

    @ STR: Benar sekali, abang keren banget..hehehe
    ! PAk Gempur: (Gedor_Gedor_Judul_Posting) Ehem…ehem..(Nunggu_Komentar_Yang_nyambung_ama_Judul)
    @ Tu2t: Ya, emang, tapi kebanyakan ya mbak, remaja tuh tampil ‘keren’ dengan bantuan aksesori, yang ‘rambut mohawk’ lah, yang ‘pake rok mini’ lah, de-el-el…hihih…
    Lucu juga ya….
    Jadi, mereka belum menyadari falsafah ‘inner beauty’ itu sendiri.

  6. TheGoeh :

    mau tau wajah dan penampilan keren tapi gak ada isinya..tonton silat lidah..heeee…

  7. tu2t :

    namanya juga remaja mbak…
    mereka kan berada pada fase tak jelas.. segalanya bener2 nggak jelas.. cenderung ikut2ankarena mereka takut kalo mereka ditinggal ama temen2nya dan sendirian..

    mereka butuh perhatian dan pengakuan..
    butuh perhatian.. makanya mereka minta ini itu dan meng’ekspresi’kan dirinya dengan berbagai macam dandanan..
    butuh pengakuan.. karena dengan mengekspresikan diri, mereka berharap ada yang mengakui mereka…

    mungkin yah buk.. soalnya buku psikologi remaja-nya lom selese dibaca πŸ˜›

  8. Supermoto :

    iku sing wedhok, lah sing lanang yok opo neng shei? nek jaman biyen remaja. senengane trek-trekan. Ternyata beda remaja jaman biyen ambek saiki.

    Prefer sih sekarang lebih diajarin ke bisnis kecil-kecilan, menghargai itu yang namanya duit dan waktu.

  9. neng-shei :

    @ tu2t: saia juga masih remaja lo mbaaaak…
    hehehe…
    Makanya, saia kahn bilang:

    Jadi, Remaja gak hanya bertolak dari gaya hidup mewah dan keren, tapi juga pikirkan, β€˜Mau jadi apa setelah ini?” Tentu aja, Sebagai tonggak generasi bangsa kita juga harus menjadi β€œCalon Orang Hebat”. Singkirkan Stereotip β€˜Keren’ mulai sekarang. Keren tidak sama dengan gaya dandanan semata. Juga bukan untuk mereka yang berduit. Atau yang hobi dugem di Kowloon..

    Keren itu….

    KITA!

    Apapun mereknya, pabriknya, yang pasti, harus bisa memproduksi ’skill’ untuk melanjutkan hidup!

    karena, saia tau, gimana susyahnya jadi remaja….
    @Supermoto: Weleeeh, mboh, mas…begini, cowok sekarang cenderung hobi berdandan–identik sama yang cewek, i mean, dandannya supaya keren (PUNK) trus, supaya terawat n jadi ‘Most Wanted’ (Para Metrosexual)
    hihi, Shei jadi kalah terawat niih….

  10. Pandu :

    Yah, remaja kan sedang dalam masa transisi. Jadi wajar kan kalau mereka mencari jati diri lewat cara begitu?
    Lebih baik mereka menyesal sekarang daripada menyesal di hari tua gara-gara kurang pengalaman. πŸ™‚

  11. anasmcguire :

    bener banget kita ini tidak boleh boros dan banyak-banyak bersyukur. Kita ini masih beruntung semua kebutuhan dapat dipenuhi. Tapi terlalu hemat juga gak boleh soalnya itu namanya pelit.. Pokoknya kita harus berbagi kepada sesama yang lebih membutuhkan, janganlah memoya-moyakan duit orang tua..

  12. filyung :

    Mbak nengseh, aku setuju banget dengan tulisan anda, sangat luwes dan berwawasan, namun mbak, kamauan anda untuk manyapu berlawanana dengan arus jaman itu harus mendapat point tambahan, so supaya tulisan anda tidak hanya sekedar coretan kertas dari tumpahan ide anda yang sudah penuh.

    Gmana kalo dimulai dari BERGERAK. artinya memanfaatkan wawasan anda yang demikian luas itu untuk benar2 bisa terealisasikan dalam dunia nyata dimana anda bener2 care dengan anak muda sekarang.

    Pengetahuan anda mengenai karakteristik sifat remaja bisa di jadikan modal untuk anda lebih lagi berkarya dalam masyarakat, dan mungkin kalo bisa melalui wadah TPC ini. πŸ™‚

    GMANA CARANYA? Ungkapkan pikiran anda dalam bentuk sebuah strategi riel dalam menangani anak remaja yang menurut anda “kurang sehat” ini, sehingga tulisan anda tidak hanya berhenti hanya dengan orang ada yang membacanya tapi sedapat mungkin terus menginspirasikan tim TPC untuk bisa berbuat lebih kedepannya dengan menjangkau remaja2 ini.

    Saya sangat setuju sekali jika tulisan ini bukan hanya sekedar kritik sosial atau ungkapan pikiran semata, tapi kl bisa kita jadikan acuan untuk bisa menjadikan remaja atau generasi setelah kita ini jadi lebih baik dari kita, gmana mbak?

    Kasih dong, kiat2 yang bisa kita lakukan untuk care sama mereka, paling tidak untuk bisa menjadikan remaja ini sesuai dengan yang “seharusnya” gitu,

    Gmana mbak? πŸ™‚

  13. JieWa Nakamura :

    Tp jangan di pukul rata lho, ada jg temen2 saya yg suka bergaya metropolitan tapi itu semua mereka biayai dari usaha mereka sendiri, bukan nodong ortu πŸ˜›

  14. aRuL :

    Jadi tertohok nih πŸ˜€

  15. aLe :

    untung gwe uda gak nodong ortu lagi πŸ˜‰

    ~ ~ ~ ~
    wakakaka πŸ˜† *ngakak baca komen oM gempur*

  16. fafiarofiq :

    betul mbak…emang smua pasti akan, sedang, ataupun telah mlewati masa remaja…saya sendiri kadang2 (ya kdg2..thok) menertawakan diri sendiri kalo berbuat hal2 yang tidak ada manfaatnya kayk gtu…bahkan saya ketwa-ktiwi dewe (bkn g*la lho..hehehe) waktu ingat masa2 SMAq dlu..meski aku ga termasuk ank2 yng nakal, suka neko2 ato laen2 sich (ehm…memuji diri sendiri ne…) tapi pelajaran hidup itu cukup banyak memberikan kesadaran bwt aku saat ini…Aku punya satu prinsip yang boleh dibilang mmbwt aku trs berusaha dijalur yang semestinya….(kedewasaan sesorang bukn karena ia semakin tua, tapi kedewasaan ialah orang yg mampu mengambil pelajarn dari setiap penglaman kehidupan yang ia dapati..siapapun itu). Btw mbak pernah ngajr bhs inggrs d panti mn ya???Klo ga keberatan aku jg saat ini ikut2 bntu d panti asuhan. Mngkin mbak bisa bantu jg???!!!bs contact mbk dmn ya???

  17. cempluk :

    jadi lah remaja tangguh πŸ™‚

  18. sUN^ :

    wah…

    klo aq ga mau dewasa ah.. (serius)

    dewasa kan pilihan…

    jadi mlih jadi anak kecil aja… πŸ™‚

  19. gandhi :

    Tanda2 kurang percaya diri dan mental “pengemis”

  20. Just Fenty :

    Gimana ya, bu … rasanya bener neh comment di atas mending jadi anak kecil aja terus dibiayai orang tua.
    Tapi beneran deh, untuk yang dulunya seorang remaja (duuh udah tua neh ketauan), saya bukan orang yang sering minta ini itu, karena dari awal kehidupan keluarga yang cuma berempat. Kita ini keluarga yang nggak pernah ngerti tentang arti kata kehedoneisme-an. Untungnya kami cuma keluarga biasa-biasa saja …

  21. mie2nk :

    waduh…. waduh… saya jadi terharu dengan postingan “neng-shei”. Untung saja keluarga saya termasuk keluarga yang pas – pasan, jadi untuk mendapatkan sesuatu saya harus berusaha dulu.

    kadang – kadang juga harus bantu ayah saya untuk mendapatkan sejumlah uang….( jadi curhat neh…) πŸ™

  22. neng-shei :

    @ Filyung:

    Ungkapkan pikiran anda dalam bentuk sebuah strategi riel dalam menangani anak remaja yang menurut anda β€œkurang sehat” ini, sehingga tulisan anda tidak hanya berhenti hanya dengan orang ada yang membacanya tapi sedapat mungkin terus menginspirasikan tim TPC untuk bisa berbuat lebih kedepannya dengan menjangkau remaja2 ini.

    Gimana ya caranya? bikin buku gitu ta? Ato Warga TPC mau mbikin acara semacam ‘Sosialize Action To Cure those Sick teenagers” hehehe…
    Yah, semacam itu deh, gimana warga sekalian? (Ngajak-ajak nih, masa Shei dewe yang ‘hinggap’ ?mampus lha…hehe…
    @ Fafiarofiq:

    Bs contact mbk dmn ya???

    Ke Ym aja ya kang…keterangan lainnya menyusul..hehehe…
    @ Semuanya: Bener banget, ehem..meski duit sendiri, ‘pemupukan’ jiwa ‘Boros’ kahn ga baik..toh, uang itu juga bukan sepenuhnya punya kita (Inget sedekah, hehehe)
    Oiya…
    Bdw, nama saia itu ‘Shei’ Loh..
    ‘Neng’ kahn cuma sapaan gitu loh mbaaaak…maaas…..
    Hihihihi….
    @Just fenty:

    Gimana ya, bu

    hiiks..
    Saia kahn masih muda…
    Baru 18 taon, kok dipanggil “ibu”?
    huuukz..Mak’eee…………

  23. filyung :

    labil

  24. Rzd :

    Huehehe,saia bnar2 terTohok ney..

    Jd inget jaman kul yg suka duduk2 di kafE ice cream gara2 suhu kmpus pns membAra,boloz kul cm bwt ntn pRemier pilm,,
    ya bs dkatakan kmpus uTama saia galaxY mall(coz ampir tiap hari apSen,jd kL ada yg mw tanya tenant2 di GM,sy bs menyebuTkan scr uRuT dan teratUr,hehehe) n kmpuz ke 2 br ITS tcinta..
    Gara2 doyan ke mall,saia smpe pny cita2 krja di mall (dan itU pun ksampaian..)

    Tp eh tetapi,saia br mrasakan cr duit tUw syusyah..Saia hrS duduk d dpn kumpie 8jam gbr2 bwt dptin duit yg dulu bs aBis dlM 1 jam..Jd na skrg mulai mgHargai uang..Hehehe,jd malu ama yg 18taun ney..
    Tp emang hedoNisme tUw pnyakitna cewek dEy..

  25. tu2t :

    *liat komen di atas…*

    yah.. hedonisme bukan cuma penyakit cewek degh mas… penyakit semua orang… yang suka ngehamburin duit…

    jangan disama ratakan dunks.. saiyah juga suka nongkrong di starbucks.. nonton pilm.. pergi ke salon.. beli baju.. dll.. menghamburkan duit gituh (tapi emang udah punya penghasilan dewe)… alasannya so simple… buat refreshing dan manjain diri…

    i’m hedonist?? maybe…
    tapi hedonis-nya liat2 keadaan.. kalo lagi ada duit dan puengen banget.. baru degh keluar jiwa hedonnya :p

  26. neng-shei :

    @ Rzd: Weleeeeh…kok pada maen singkat2 nama ya? (kang STR juga..hihihi)
    ikutan ah…
    Ehem, ini shei, duh..kependekan, jadi gak bisa disingkat..hehehe.
    BEner mbak Tu2t kang…hedonis bisa cewe-or-cowo. tergantung individunya seeeh, soalnya, hareee geeeneee….gak hanya cewe yang hobi nyalon, blanja dan cuci-mata-pake-duit (Nah loh! aneh ya?)

    Ya, banyak2 bersyukur aja deh, masih untung bisa makan hari ini.

    @ Mbak Tu2t: hiihii…saia jugasama kok mbak, basically, semua juga hobi ngabisin duit, palagi duit dewe, blon lagio pas bete…bawaannya pengin jajaaaan..mulu…habis deh uangnya buat makan, jalan2 de-el-el…

  27. ai :

    jangan sering jalan2 biar nggak belanja2 :p
    tapi namanya remaja.. apalagi yg ortunya duitnya ngalir bagai air bah πŸ˜€ ya apa2 dituruti lah …
    tapi kan nggak semua seperti itu πŸ˜€

  28. dhobith :

    ini judul skripsi gw wktu itu..gaya hidup hedonisme remaja. hedonis (faham filsafat yunani kuno) atau istilahnya senang-senang. coba loe kaitin dengan loe slama ini dengan apa yg di tulis di atas ngaruh positif atau negatif dengan 1. kemandirian loe 2. prestasi akademik loe 3. hubungan loe dgn masyarakat 4. hub ortu loe 5. hidup loe 6. kepribadian loe 7. agama loe.

    buat yg ngirim comment paling atas dan yg tersindir : “eh coy klo loe smua msh ikut dengan gaya hidup senang2. loe smua cm bakal jd SAMPAH atau KORBAN dari suatu rencana kelompok rahasia yg ingin menghancurkan INDONESIA. dugem,mall,fashionable itu smua adalah bom C-4 (bom mikro nuklr yg meledak di bali) yg menempel di jiwa pikiran dan hati loe. jika loe ga bs jinakin loe bakal hancur seperti bali. jika loe sbagai anak muda or remaja Indonesia telah hancur…mmmmmm Indonesia nikmat, lezat,wiihh enak bgt tu bajingan tengik akan merampas secara perlahan kekayaan bumi ini. dan loe..loe..loe smua sbagai orang indonesia cm mnjadi mesin uang bwt para penjajah negara ini. bagi temen-temen yg mo kluar or blajar kluar dr BOM yg bernama Hedonisme. add gw di Friendster dobit_jelek@yahoo.com. thanks before sorry agak galak.tp emang harus di galakan. call me THE PUNISHER

Leave a Reply