If Malaysia can, why can’t we?

Judul diatas sengaja saya modified dari judul acara di NBC tahun 80-an. Suatu program yang mengkisahkan bagaimana  Jepang setelah dilanda kehancuran pada perang duina II, industrinya sukses mendominasi Amerika.  Apa hubungannya dengan Malaysia? Ceritanya begini. Minggu lalu saya memesan laptop dari Dell melalui Dell.com.au, dan tepat seminggu setelahnya, barang dikirim kerumah melalui kurir. Ini komputer ke 3 saya yang bermerk DELL, namun yang dua sebelumnya saya beli dari EBay.com.au. Saya bongkar kardus dan mengamati satu persatu barang didalamnya. Laptop, dibagian belakang tertera MADE IN MALAYSIA. Okay. Selanjutnya, power adapter, user manual semunya tertera MADE IN MALAYSIA.  Dalam hati saya, gila, kenapa sih kok dari Malaysia semua. Kenapa ga dari Indonesia.  Saya pun teringat ketika beberapa minggu lalu menemani istri belanja di Asian Grocery. Istri saya waktu itu mau buat lontong sayur, dan dia perlu bikin ketupat atau lontong. Kamipun mendapatkan produk menarik dikemas dalam kemasan plastik: Ketupat Instant. Saya lihat labelnya “HALAL” dan “MADE IN MALAYSIA”. Nah kebetulan juga istri saya pingin mencampurkan petai (ya kami suka petai dan jengkol) ke lontong sayur. Kami dapatkan sekaleng kecil petai dan MADE IN MALAYSIA.  La kok semua buatan Malaysia sih. Minggu ini kebetulan materi mengajar saya di mata kuliah Managing Quality and Innovation adalah case study tentang Texas Instrument Malaysia. Ada cuplikan menarik:

 In 1990 Prime Minister Mahatir Mohammad’s government announced 2020 vision, which details Malaysia’s plan for becoming fully developed nation by 2020. 

 

Hebat juga. Dari data case study tersebut, saat ini Malaysia adalah perinkat 3 produsen  computer chip setelah Jepang dan USA. Selain itu economy Malaysia disebut sebagai friendly to business dan pertumbuha betul-betul dihasilkan dari rencana yang matang bukan dari mukjizat atau kebetulan belaka. Bagaimana dengan kita?  Apa kita demo saja kedubes Malaysia? Ah itu sih memalukan, sama seperti toko kita kalah laris dengan toko sebelah, terus toko yang laris tersebut kita rusak bukanya instrospeksi. Ah… masih banyak yang saya mau utarakan setelah lama tidak posting di TPC. Namun, biasa mendekati akhir semester, koreksian kerjaan mahasiswa menggunung.  Merdeka!

5 Responses to “If Malaysia can, why can’t we?”

  1. angki :

    Jadi teringat nasehat Aa’ Gym.
    1. Mulailah dari diri sendiri
    2. Mulailah dari yang kecil
    3. Mulailah dari sekarang
    😉

  2. det :

    malaysia kan hanya tempat produksinya aja pak?!

    seperti daihatsu yang buka pabrik di indonesia dan diekspor ke negara-negara lain..

    bukan berarti malaysia yang jago dalam artian sebenarnya, tapi jago mengundang investor pemegang brand internasional untuk membangun pabrik di sana

    yang diuntungkan tentu para TKI kita, karena sebagian besar pabrik elektronik di malaysia mempekerjakan TKI

    jadi, sebenarnya kita malah punya tenaga terlatih, tinggal manajemen negara ini bisa gak mengelola itu semua?!!!

    salam dari almamater 🙂

  3. leipzic :

    Yeah! That’s a fact. Menurutku sih, kita tidak boleh hanya iri atau jangan2 malah “menerima” keadaan seperti itu. Kita semua harus bangkit, dimulai dengan diri kita sendiri. Untuk memiliki semangat untuk terus maju dan berkembang, memiliki hati untuk memberi sesuatu bagi bangsa ini.
    Di jaman demokrasi seperti ini, kita harus percaya bahwa diri kita bisa memberikan perubahan, bukan hanya pemerintah. Jadi dari pada hanya sekedar protes, mending kita masing2 mencari cara dan memiliki mental yang kuat untuk membantu bangsa ini.
    Justru pertanyaannya, apakah kita memiliki “hati” buat bangsa ini?
    Satu pengertian yang harus kita miliki adalah…

    Sering kali kita hanya memikirkan kesejahteraan diri kita sendiri. Kita lupa bahwa sebenarnya, saat negara kita sejahtera, otomatis, diri kita akan sejahtera. Konsep ini pasti dimengerti oleh para ekonom. Kalau pendapatan perkapita meningkat, pasti kesejahteraan rakyat lah yang meningkat.

    Nah, kalau di kemiliteran dikenal istilah “don’t ask what you can get from this country, ask what you can give!!!”

    tapi kalau kita, seringkali kita bilang “what can i get from this country??”

  4. ame268 :

    ada yang bilang bahwa kita terlalu berhura-hura dengan demokrasi ini.. klenik modern. setiap orang bahkan didorong untuk berpendapat dan jangan mau menerima pendapat orang.. so = gak pernah ada titik sepakat, susah diatur!

  5. Fandy :

    Mas, bisa aja kan petai itu mereka import dari Indonesia trus dikasih label made in Malaysia. bisa juga barang-barang elektronik itu juga buatan Tangerang… tapi lagi-lagi label nya made in Malaysia…

    kalau menurut saya sih, kita terlalu sering ‘wow’ saat melihat Malaysia, Singapura, dan negera-negara sebelah lainnya. padahal, hal itu secara gak langsung mengurangi rasa kebanggaan kita akan darah Indonesia kita !!!

    Tempe di negara kita lebih murah dari tempe yang ada di Malaysia. Susu kita juga lebih murah. Beras kita juga lebih murah. Sayuran kita lebih banyak. Kita punya sayur asem, sayur sop, sayur bali, nasi kare, sayur lodeh, sampe lawar !!!

    Kondisi kita lebih baik dari negara-negara tetangga kita. Buktinya : KITA MASIH BERSATU DALAM NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DALAM SUKA DAN DUKA dan itulah yang Indonesia can, but malaysia can’t….

Leave a Reply