Ijazah palsu, dirasakan dari perspektif yang berbeda

Beberapa waktu yang lalu seorang politisi gagal menjadi calon anggota legislatif karena ditengarai menggunakan ijazah palsu dalam melengkapi persyaratan administratif.
Di Surabaya malah ada sebuah institusi pendidikan yang diduga menjadi pabrik ijazah karena menyelenggarakan proses belajar yang tidak prosedural, dengan teknik bypass.

Belasan bahkan puluhan orang buka suara, melempar komen tentang hal tersebut baik dimedia cetak maupun elektronik.
Semuanya bernada kuatir tentang kualitas alumnusnya, tentang mutu outputnya saat sudah terjun dimasyarakat.

Saya pikir sepertinya kita ga perlu mempermasalahkannya. Soal seseorang mau menggunakan label apa dalam mengaktualisasi dirinya, entah dalam pendidikan, dalam level pengetahuan agama…………………ya suka suka dia dan itu urusan pribadinya dengan lembaga yang dicatut namanya, dengan lembaga yang terkait dengan ijazahnya.
Mungkin tak ada salahnya kita mengubah paradigma dengan melihat seseorang tidak hanya dari atributnya semata.

Sebaiknya kita mengapresiasi seseorang dengan melihat kinerjanya, dengan melihat apa yang sudah dan sedang dikerjakannya.

Betapa banyak disekitar kita orang yang menggunakan dan punya lebel keahlian, punya predikat kemampuan tertentu ternyata ga singkron dengan kelakuannya, dengan apa yang diperbuatnya.

Betapa banyak pengemudi yg memiliki SIM ternyata punya kelakuan mirip koboi, cara mengemudinya sangat membahayakan orang lain………………..
melanggar marka, memacu kendaraan hingga full speed, zig zag, berhenti tanpa aturan. . . . . . . . .

Betapa banyak politisi yg menyandang status anggota dewan yang terhormat, yang mempunyai label alumnus lembaga pendidikan terkenal ternyata sangat dekat dengan aroma korupsi, sangat sering menyalahgunakan wewenang dan jabatan bahkan kadang menggunakan perempuan sebagai bahan kesenangan.

Betapa banyak orang yang mengaku pernah pergi ketanah suci kadang punya kegiatan yang antisyariat………………..tersangkut penggelapan, jadi penadah barang curian.

Dan sebaliknya tidak sedikit orang yang mampu menunjukkan kompetensi lebih tinggi dari ijazahnya, menunjukkan khasiat yang lebih dasyat dibanding labelnya.
Karena sekolah formal berikut segala bentuk sertifikasinya hanyalah salah satu dari sekolah kehidupan.
Banyak owner yang sukses membangun kerajaan bisniznya meski secara formal tingkat pendidikannya tidaklah tinggi dan disamping itu paket pendidikan yang diambil juga bukan didisain untuk bisnis.

Biarlah alam dan kehidupan ini yang melakukan seleksi………………….biarlah perusahaan yang membuka lowongan kerja yang melakukan filterisasi dengan caranya sendiri, biarlah konstituen yang mengappraisal politisi yang dicoblosnya, biarlah umat yang menilai apakah seseorang itu pantas jadi panutan atau tidak…………………..

Bila ternyata tidak capable, tidak kompeten en ga punya ability yg sesuai dengan labelnya, bila ternyata dia salesman yang buruk………………….sangat mungkin dia akan hilang dari peredaran dan harga yang ditawarkannya sudah tak kompetitif lagi. Dia akan kehilangan miliknya yang cukup berharga, sebuah kepercayaan………………………dan rasanya ga ada toko yang menjualnya dan perlu waktu yang cukup panjang untuk membangunnya kembali.

6 Responses to “Ijazah palsu, dirasakan dari perspektif yang berbeda”

  1. angki :

    hebat euy

  2. det :

    ijasah palsu berarti otaknya juga palsu. mungkin isinya lumpur hehehe

  3. udin :

    i love izasah palsu….
    izasah palsu
    guru palsu
    dosen palsu
    murid palsu
    palsu semua de….
    yang gak palsu duitnya…….

  4. makarim :

    cuman arek ga “waras”
    yang make ijazah palsu
    😀
    jangan tersinggung yah,bagi yang “merasa”
    heheh 😀

  5. nico :

    setuju sama yang di atas, yang ga waras itu yang pake ijazah palsu

  6. gajah_pesing :

    Dia akan kehilangan miliknya yang cukup berharga, sebuah kepercayaan………………………dan rasanya ga ada toko yang menjualnya dan perlu waktu yang cukup panjang untuk membangunnya kembali.

    Kata-kata itu yang pantas diterapkan..terima kasih atas tulisan yang menarik ini, setidaknya sangat positif bagi saia..

Leave a Reply