Ketika Upacara Bendera Esensinya Dipertanyakan!

Semua orang *lahir, makan, tinggal di Indonesia* pasti pernah mengikuti upacara bendera. Entah itu untuk merayakan hari besar nasional ataupun sekedar rutinitas Upacaramisalnya upacara bendera sewaktu kecil dulu. Kalau saya di TK upacaranya setiap hari Senin, jadi setiap hari Senin selalu saja hati dag dig dug kalau-kalau lupa membawa topi atau dasi karena kalau nggak bawa bisa dipajang dibarisan tersendiri dan paling depan.

Semakin tumbuh dewasa nampaknya semakin jarang untuk upacara ya. Kalau TK kita getol untuk upacara, mulai ke SD masih bisa dipertahankan, SMP hanya hari besar saja dengan alasan kalau jam mata pelajaran dipotong bisa berabe. SMA semua pada malas, ribut dengan urusan masing-masing yaitu “takut kepanasan” sehingga menghasilkan banyak keringat dan.. takut pingsan! Jadinya maka tidak pernah diadaan kecuali hari besar yang paling utama yaitu 17 Agustusan! Kalau kuliah seperti saya lain lagi, upacara hanya dilakukan 2 kali saat menjadi Maba alias Mahasiswa Baru yaitu 10 November dan 17 Agustusan! Kalau kerja, sudah tidak perlu diributkan ya, pasang bendera saja sudah lupa kadang-kadang kan?

Ketika jalan di kampus dan berhenti sejenak melihat lomba debat untuk memperingatihari pahlawan telingaku merasa agak gatal gimana gitu! Soalnya saya mendengar pertanyaan debat yang keren. Pertanyaan pertama muncul yaitu upacara bendera dapat meningkatkan nasionalisme bangsa? Pro atau kontra.

Upacara 2Si pro menjawab bahwa itu harus karena dengan upacara kita bisa mengenang jasa para pahlawan kita. Dengan upacara kita bisa menghormati jerih payah bangsa dalam memperjuangkan Indonesia.

Si kontra mengatakan, waduh buat apa upacara bendera? Nggak ada gunanya! Itu cuman suatu kebudayaan dari Indonesia yang sudah terlanjur dijadikan keharusan. Bukti nyata ketika kita mengadakan upacara adalah hanya sebagai ajang kumpul-kumpul. Barisan depan hikmat tapi separuh kebelakang ngerumpi seperti layaknya di mall. Tanpa upacara kita bisa meningkatkan nasionalisme kita kok!

Saya tidak bisa lama-lama untuk mendengarkan argumentasi mereka tentang upacara soalnya ada kelas jadi harus buru-buru ke kelas. Tapi saya berpikir jawaban si pro memang benar tapi apakah sama dengan realitas yang kita alami sekarang? Jawaban si kontra juga lebih benar lagi! Upacara bendera bukan satu-satunya jalan untuk meningkatkan nasionalisme kita terhadap negara! Banyak cara lain yang kadang kita lupa. Tapi pertanyaan yang paling utama yang ingin saya tanyakan adalah sebenarnya apa arti Nasionalisme itu sehingga kenapa upacara bendera disangkut pautkan sebagai kunci utama dan harus dilakukan untuk meningkatkan nasionalisme kita?

Kalau saya sebagai mahasiswa yang hanya upacara 2 kali saja, saya setuju dengan pihak kontra. Menghargai perjuangan bangsa dalam memperebutkan bangsa ini bisa dihargai lebih dari sekedar upacara yang bersifat budaya. Mengingat nama mereka yang berjasa dalam negri ini saja itu sudah saya namakan nasionalisme kita terhadap bangsa. Mencintai lagu milik Indonesia daripada lagu Barat dan mempertahankan lagu daerah agar tidak direbut oleh bangsa lain itu juga nasionalisme.

Jadi pertanyaannya adalah apakah upacara bendera itu masih penting untuk dilakukan? Kalau iya saya ingin tahu esensi diadakannya upacara bendera sampai sekarang ini.

* maaf postingan awal terlihat berat sekali hehehehe, tapi memang lagi pengen nulis yang berat-berat sie *

32 Responses to “Ketika Upacara Bendera Esensinya Dipertanyakan!”

  1. gempur :

    wah, berat juga njawabnya.. la materinya aja berat.. πŸ™‚

    meski saya bekerja di instansi negeri sebagai guru yang tiap senin pasti upacara, nuwun sewu, off the record ya! hanya 2 kali saya ikut upacara selama kurun waktu kurang lebih 4 tahun..

    mungkin nasionalisme saya luntur? saya tak tahu! entahlah! tapi ketika saya dengar pulau simpadan dan ligitan jatuh ke tangan malaysia.. terus terang saya marah! ketika ada TKI yang diperkosa, mati dan terlunta-lunta di luar sana, saya sangat marah! dan menangis! ketika pesawat silumannya amerika melintas di atas jawa dan kita tak bisa apa-apa, saya jengkel mati2an dalam hati! ketika blok cepu jatuh ke tangan exxon, saya menangis! ketika tambang2 dikuras habis dan penduduk sekitarnya hanya melongo dan tetap kere, saya gelisah!

    yup, saya hanya bisa gelisah dan marah!

  2. chiw :

    Upacara?
    saya masih sering melakukannya loh… πŸ˜€

    Si pro menjawab bahwa itu harus karena dengan upacara kita bisa mengenang jasa para pahlawan kita. Dengan upacara kita bisa menghormati jerih payah bangsa dalam memperjuangkan Indonesia.

    ah, sejujurnya bukan itu kalau menurut saya (dalam hal ini saya orang yang pro upacara lho ;)). Upacara adalah sebuah simbol kecil saja untuk itu. eh ya, teori siapa ya yang bilang kalau upacara itu menghormati jerih payah bangsa dalam memperjuangkan indonesia? πŸ˜€
    kalau emang cuma itu, ya silakan saja semua melakukan upacara. Ada yang lebih gampang daripada ini? πŸ˜‰

    Si kontra mengatakan, waduh buat apa upacara bendera? Nggak ada gunanya! Itu cuman suatu kebudayaan dari Indonesia yang sudah terlanjur dijadikan keharusan. Bukti nyata ketika kita mengadakan upacara adalah hanya sebagai ajang kumpul-kumpul. Barisan depan hikmat tapi separuh kebelakang ngerumpi seperti layaknya di mall. Tanpa upacara kita bisa meningkatkan nasionalisme kita kok!

    siapa bilang upacara gak ada gunanya? πŸ˜‰ sudah dijadikan keharusan? tidak juga… saya bergabung dalam organisasi yang notabene tergolong doyan upacara. tapi saya ndak pernah diharuskan ikut upacara. Biar kita sendiri yang memilih ikut apa tidak. Tapi percayalah, saya suka upacara. ini hanyalah hal terkecil yang bisa saya lakukan.
    ketika terjadi upacara sebagai ajang ngumpul2, nah disitulah yang jadi masalah. bukan masalah pada upacara, tapi sudah jelas pada pesertanya sendiri. Kenapa? upacara membosankan? monoton? namanya juga upacara! kalo mau joged2 ya dugem sana! :mrgreen:

    disitulah hal terpenting upacara itu sendiri. Pengendalian diri. entah di depan ataw di belakang, ya tunjukkan kita menghormati event itu. silakan. suka atau tidak suka.

    bagi saya pribadi, upacara bisa saya jadikan tempat mengasah disiplin dan pengendalian diri saya. dan perlu diingat: ini bukan satu satunya cara melatih kedisiplinan loh.

    sampai saat ini, saya masih rutin mengikuti upacara di Kampus, untuk hari2 special semacam hari pahlawan or kemerdekaan. Believe it or not, saya merasakan getar getar yang tak biasa (bahkan saya pernah meneteskan air mata) saat upacara berlangsung. terbayang satu demi satu orang tercinta yang ikut serta mempertahankan bangsa ini. Dan tentu saja hal itu membawa semangat tersendiri buat saya.

    jadi kalo non tanya upacara itu penting apa enggak, saya jawab : penting. esensinya? saya kira sudah ada di komen saya yang super panjang ini.

    DO IT n u’ll FEEL IT

  3. cempluk :

    upacara, perlu dunk..itu merupakan bagian dari nasionalisme kita sebagai warga negara yg baik dan benar..

  4. yuki :

    kalo dari sejarah, upacara itu dulu warisan Jepang yang mengharuskan kita ngadep ke Timur, menghormat bendera Hinomaru dan menyanyikan Kimigayo. Tapi kalo ini untuk memunculkan nasionalisme, mungkin ada benarnya, asal ada tindak lanjut. Jadi kalo cuma upacara doang yaaa saya juga mikir, apa iya? Karena biarpun pernah jadi kumendan upacara, saya sih baru merasa nasionalisme itu muncul, waktu menghormat bendera, dan menyanyikan Indonesia Raya. Tapi lepas itu, mulai capek hehehe!!

  5. STR :

    Tapi pertanyaan yang paling utama yang ingin saya tanyakan adalah sebenarnya apa arti Nasionalisme itu sehingga kenapa upacara bendera disangkut pautkan sebagai kunci utama dan harus dilakukan untuk meningkatkan nasionalisme kita?

    Inilah hasil pendidikan Indonesia yang terlampau militeris! Semua acuan-acuannya ABRI, polisi, tentara. Yang bikin acuan Orba pulak!

    “Kalo mau disiplin, lihatlah tentara!” kata orang-orang. MOSOK IYO??

    Justru sebenarnya dalam masalah keuangan (baca: korupsi), institusi-institusi militer itu paling teledor kok (baca buku-bukunya George J. Aditjondro).

    Jadi, sebenarnya selama ini sudah ada monopoli terhadap makna kedisiplinan oleh kaum militeris. Sama kayak makna ketuhanan yang sekarang dimonopoli sama kaum agamis.

    Seharusnya masyarakat itu berani menciptakan sendiri konteks kedisiplinannya. Dan disiplin itu tidak harus berarti berpakaian rapi, necis, berikat pinggang, bersepatu mengkilap, dan bersikap (sok) tegas (kalo itu mah cuma tampilan doang!).

  6. DrGa :

    patut dipertanyakan juga rasa nasionalisme kita terutama saya yang notabenya adalah seorang pelajar.Upacara tak lebih dari sekedar seremonial.Tak ada rasa bangga sedikitpun ketika sang saka dikibarkan.Tak ada yang bersuara lantang ketika Indonesia Raya dinyayikan.Apakah Ini yang dimaksud Negara yang menghargai jasa para pahlawan?wong diajak upacara aja susah apalagi diajak bertempur di medan perang.

    semoga artikel ini dan komentar yang menyertainya dapat membangun kembali rasa nasionalisme kita.Amin

  7. aRuL :

    di negara2 berkembang juga sering tiap akan melakukan aktifitas melakukan upacara tapi tidak semiliter yang dilakukan di Indonesia, tapi tiap pagi mereka mengikrarkan janji mereka dalam bekerja.
    seperti itu akan membangkitkan semangat mereka bekerja.
    Sebenarnya yang perlu kita ketahui adalah esensi dari upacara bendera itu, kalo kita tidak mengetahui esensinya, sudah jelas kita tidak menganggapnya penting, tapi kalo upacara sebagai ajang menganggap untuk selalu mengingatkan kita pada nasionalisme berbangsa Indonesia saya rasa itu penting

  8. aRuL :

    tadi bukan negara berkembang tapi negara maju yang saya maksudnya seperti jepang

  9. evelynpy :

    @ All:
    Okeh shock juga ya ngeliat balesan komen di postingan saya ini, ternyata… semua pada kritis dan saya harap semuanya baca dari awal sampai akhir. Keren!!!

    @Gempur:
    Well sama dengan dirimu bapak guru tercinta. Saya cuman bisa sebel kalau bangsa ini nggak bisa mempertahankan Indonesia baik dalam hal yang paling kecil sekalipun. Amat sangat kecewa ketika 2 pulau tersebut jatuh ke Malay, trus lagu daerah rasa sayange juga jatuh dengan gratisnya ke tangan mereka. Tapi kita bisa berbuat apa lagi coba?

    @Chiw:
    Nggak di dunia cyber nggak di dbunia nyata, kamu tetep cerewet ya? πŸ˜†
    Well sebagai mantan anak lembaga dulu aku juga sering disuruh ikut upacara tapi tetep aja males. Soalnya percuma aku bisa anteng ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan, sisanya … tau sendiri lah jawabannya kan?
    Well saya setuju tuh kalau upacara adalah pilihan tiap orang, tapi kalau mereka memilih datang tapi tujuannya untuk gosip gimana? Sama aja bo’ong kan? πŸ™‚

    @Cempluk:
    Hayo kemarin 10 Nov ikut upacara nggak di kampus? πŸ™‚

    @YUki:
    Sama mas dengan diriku. Anteng pas moment itu aja, selanjutnya yo wisssss….. πŸ˜†

    @STR:
    Waduh kok malah nyambung ke teori kedisiplinan ya?
    Apakah upacara ada sangkut pautnya dengan disiplin?
    * jadi bingung sendiri * πŸ™

    @Grga:
    Setuju dengan dirimu!
    Aku juga tidak merasakan apapun saat upacara. Bangga itu dulu saat waktu masih kecil! Tapi sekarang rasanya aku lebih bangga kalau ada upacara kemenangan mewakili bangsa ini, rasanya lebih merasuk di hati! Lebih greget!

    @Arul:
    Well saya rasa kita memang harus mencontoh negara maju untuk menumbuhkan nasionalisme. Betul? πŸ™‚

  10. STR :

    @ evelynpy:

    Tapi pertanyaan yang paling utama yang ingin saya tanyakan adalah sebenarnya apa arti Nasionalisme itu sehingga kenapa upacara bendera disangkut pautkan sebagai kunci utama dan harus dilakukan untuk meningkatkan nasionalisme kita?

    Upacara bendera, siapa toh yang bikin-bikin seremonial kaya gitu?? Militer! Dan militer sangat mengagung-agungkan yang namanya “kedisiplinan” dan sangat anti pada tindakan-tindakan indisipliner.

    Ciri yang kedua dari militer adalah sifat (yang katanya) “nasionalis bin patriotis.”

    Lalu? Kenapa upacara sampe dihubung-hubungkan sama nasionalisme? Ya itu tadi!

    Gara-gara saking militerisnya Indonesia ini, nilai-nilai kedisiplinan harus sesuai dengan militer. Nilai-nilai nasionalisme pun juga harus mbuntut militer.

    Akhirnya? Ya.. yang gak sesuai sama militer itu disebut indisiplin lah, gak nasionalis lah. Begitu pula dengan upacara. Karena upacara itu produk unggulannya militer, kalo kita menolak itu, ntar kita dicap nggak sesuai sama militer, yang ujung-ujungnya lagi-lagi stigma indisiplin lah, gak nasionalis lah.

    Mudeng??

  11. evelynpy :

    OKEH BOS, DIRIKU MUDENG πŸ™‚

  12. Felix :

    Okeh, disatu sisi seh emang penting upacara bendera itu.. Tapi satu hal neh, kalo upacara harus adil donk..

    Maksudnya gini neh.. Kalo kita yang upacara berdiri panas-panas.. terus kenapa kalo presiden dan para menterinya kalo upacara harus duduk?? Apakah mereka lebih tinggi posisinya dari pahlawan kita?? Kalo para pemimpin negara aja gak ngasih contoh cara upacara yang bener, gimana dengan kita donk??

  13. yuki :

    memang kalau dilihat dari rasa nasionalisme, bisa jadi militerlah yang paling gede. Ini karena sejak awal mereka sudah dilatih untuk cinta negara, cinta tanah air dan bangsa. Sila ketiga banget gitu… tapi kalau kemudian upacara dianggap militeristik rasanya kok kejauhan…

  14. STR :

    @ yuki: Gede darimana pak? Gede korupsinya kali? Sama gede hipokritnya? Memang ada oknum militer yang masih punya idealisme soal bangsa & tanah air, tapi paling cuman segini.

    *nempelin jempol ke kelingking*

    Upacara bisa dianggep militeristik lah, wong selama ini yang getol gitu-gitu orang militer, ato kalo nggak gitu orang yang ngefans militer.

    Upacara di Istana Negara? Itu urusannya sama militer sudah…

  15. AMONKey d' BHUZZer :

    Setuju banget tuh!!!
    Menghargai jasa para pahlawan bisa dihargai lebih dari sekedar upacara
    hmm… tul juga! gak cuman lewat upacara!

    Terus kalau upacara hanya sekedar sebagai budaya, kapan kita mulai meneruskan perjuangan pahlawan???

  16. evelynpy :

    @Felix:
    Betul kata kamu!
    Setuju saya, aku nggak bisa ngebayangin kalau presiden kita pas upacara berdiri di terik matahari bersama semua yang hadir di istana negara tanpa terop atau tempat berteduh. Itu bisa jadi berita yang sangat menggemparkan. Tapi satu pertanyaan adalah: Yakin bisa tahan upacara segitu lamanya dengan keribetan yang segitu ribetnya saat pengibaran bendera merah putih?

    @Yuki:
    Betul mas, aku rasa juga begitu. Memang sih ada unsur kemiliteran justru malah terlihat jelas saat upacara bendera 17’an di Istana Negara, keliatan banget kan mulai dari komandan upacara, tim drumband musik sampai pengawal paskibraka. Tapi untuk yang umum aku rasa unsurnya justru nggak ada. πŸ™‚

    @StR:
    Stay cool guys!
    Bener kalau bicara militer bicara tentang istana negara, tapi bayangin aja kalau bukan militer yang bertugas di upacara tersebut lantas siapa? Kita?
    Nggak mungkin presiden membiarkan nyawanya terancam hanya karena nggaka ada perlindungan, nggak mungkin juga tidak menggunakan militer didepan tamu dari negara lain yang notabene juga kita sih mau pamer sama mereka. πŸ™‚

    @Amonkey:
    Jawabannya adalah kembali pada diri sendiri mau mulai sejak kapan? Baik yang sudah disadari maupun yang belum πŸ™‚
    Nah.. klise tapi ya memang itulah yang sampai sekarang jadi jawaban yang tepat! Betul πŸ˜‰

  17. fikri :

    kalau upacara bendera tidak bisa bahaya.sekarang saja walaupun ada upacara masih banyak yang tidak nasionalis, apalagi kalau tidak bisa-bisa pada generasi yang akan datang tidak tahu apa upacara, ean yang paling parah jika ada anak yang bilang”upacara itu makanan apa sih ?”

    saya tidak bisa membayangkan reaksi para pendiri Indonesia yang tercinta, pasti mereka akan malu dan menyesal membangun Indonesia

    jadi menurut saya upacara bendera sangat perlu bahkan bila perlu 1 minggu 2x saja biar tambah disiplin dan nggak ngelantur buat kegiatan yan tidak penting

  18. fikri :

    kalau upacara bendera tidak bisa bahaya.sekarang saja walaupun ada upacara masih banyak yang tidak nasionalis, apalagi kalau tidak bisa-bisa pada generasi yang akan datang tidak tahu apa upacara, ean yang paling parah jika ada anak yang bilang”upacara itu makanan apa sih ?”

    saya tidak bisa membayangkan reaksi para pendiri Indonesia yang tercinta, pasti mereka akan malu dan menyesal membangun Indonesia

    jadi menurut saya upacara bendera sangat perlu bahkan bila perlu 1 minggu 2x saja biar tambah disiplin dan nggak ngelantur buat kegiatan yang tidak penting

  19. STR :

    @StR:
    Stay cool guys!
    Bener kalau bicara militer bicara tentang istana negara, tapi bayangin aja kalau bukan militer yang bertugas di upacara tersebut lantas siapa? Kita?
    Nggak mungkin presiden membiarkan nyawanya terancam hanya karena nggaka ada perlindungan, nggak mungkin juga tidak menggunakan militer didepan tamu dari negara lain yang notabene juga kita sih mau pamer sama mereka.

    Wekekekek!! Kalo bukan militer? Ya kita! Memangnya kenapa? Apa upacaranya nggak bisa sambil lesehan trus silaturahmi bareng kaya silaturahmi blogger gitu? Apa upacaranya harus ada baris-berbaris, trus ada hormat senjata gitu? Capek! Buang-buang duit! Sok formal!

    Soal keamanan itu soal lingkaran setan! Kalo misalnya nggak ada militer juga dunia pasti aman. Wong yang bikin rusuh-rusuh itu dasarnya militer jugak! Tapi, setiap kali dunia “hampir” tenang dan militer mulai dipandang tidak perlu, mereka menyulut kericuhan, lalu keluar sebagai pahlawan, jadi seakan dunia kembali butuh mereka.

    Hoahaha …

    *i’m still cool gurl … πŸ˜€ *

  20. ria :

    setuju sama Yuki dan STR!
    Upacara bendera = warisan tradisi jepang yang dilestarikan Orba demi melanggengkan mitosisasi militer. Tujuannya jelas, supaya all about militer semakin meresap di hati rakyat kita. Bentuknya yang lain adalah di badge seragam kita, akronim2, dst (ini udah dipost di blog saya).
    Sekarang ini udah ga relevan lah menunjukkan nasionalisme dengan cara yang seragam dan diatur2 spt upacara.Tiap orang berhak punya definisinya sendiri, dan manifestasinya sendiri ttg nasionalisme dalam dirinya. Mau tetap upacara ya monggo, tapi masih banyak cara lain yang jarang diekspos kan? Saatnya dekonstruksi…..

  21. Neng Chiw :

    Well saya setuju tuh kalau upacara adalah pilihan tiap orang, tapi kalau mereka memilih datang tapi tujuannya untuk gosip gimana? Sama aja bo’ong kan?

    Nah! u get the answer tuh…
    kok masih dipertanyakan lagi? kalimat pertamamu itu jawabannya!
    πŸ˜‰

  22. kancut :

    upacara penting buat meningkatkan rasa nasionalisme.
    tapi kenyataanya tidak semulus tujuannya.
    jadi upacara = nonsense.
    kita ngelakuin itu bukan karena kesadaran tapi lebih karena kewajiban. hahahahahahaha…

  23. evelynpy :

    @Fikri:
    Jangan ada yang bilang upacara itu makanan apa!
    Aku bisa malu setengah mati yo… πŸ™‚

    @STR:
    Betul juga nggak hanya militer aja kok yang kadang jadi pahlawan kesiangan. Kita yang warga sipil pun juga seperti itu lho!

    @Ria:
    Cara lain yang jarang diekspos itu seperti apa ya? πŸ˜‰

    @Chiw:
    Otre bos. Semangat bener? πŸ˜†

    @Kancut:
    Betul!
    Bukan karena kewajiban tapi kesadaran dong! πŸ™‚

  24. yuki :

    kita kan sering denger penolakan upacara untuk menumbuhkan nasionalisme, dengan alasan, nasionalisme bisa ditumbuhkan dengan cara lain. Kira-kira cara apa ya? Paling nggak, ini untuk menghindari pendapat-pendapat klise seperti ini. Karena kalo hanya sekedar bilang Bisa Dengan Cara Lain, yaa semua juga bisa bilang gitu. Tapi ada nggak kira-kira contoh soalnya lah?

  25. STR :

    @ yuki: BELAJAR SEJARAH pak! jujur, hati saya jauh lebih bergetar ketika saya ndekem di kamar baca buku sejarah indonesia punya bapak saya. begitu pula ketika ada temen saya nunjukin arsip-arsip yang isinya pidato bung karno periode 45-66.

    daripada saya berlama-lama di lapangan buat upacara atau saya nonton upacara bendera di tv/mana-mana. hati saya GETIR pak!

    *kok dadi curhat ngene … :mrgreen: *

    Oya, pak yuki belum bikin postingan perkenalan to? Mbok cepet dibikin to …

  26. ria :

    contoh cara lain nunjukin nasionalisme itu misalnya, berani mengkritik pemerintah seperti Almarhum Munir. karena sayang sama negara jadi dia berusaha biar HAM ditegakkan di Indonesia dan pemerintahan jadi better. atau dengan bridge-blogging. kalo pinter sejarah, sejarah yang dimanipulasi itu dibenerin. bikin film, lagu, atau karya seni apa lah yang ada muatan nasionalismenya. toh udah ga jaman seniman dicekal kayak Lekra dulu. banyak lah….. tergantung kapasitas masing2.
    kalau aku ya, dengan cara bikin skripsi ttg nasionalisme, dan menulis ulang sebagian isinya di blog, biar dibaca orang buat nambah wawasan ttg nasionalisme….

  27. evelynpy :

    @ Yuki:
    Ada:
    Budayakan pakai batik tidak hanya menjadi seragam sekolah aja, seragam kantor seperti di Sampoerna, waktu menikah * bukan sekedar ritualitas* waktu mewakili negara.
    Trus masih inget nggak dengan lagu-lagu daerah?
    Cerita rakyat gimana?
    Nanti kalau kita lupa tapi lebih inget cerita Cinderlela anak kita dicekokin cerita yang seperti itu tanpa ada balance dari cerita rakyat milik negri sendiri kan bisa payah. :0

    @STR:
    Bikin blog dengan memperkenalkan Indonesia baik dari segi jajanan pasarnya itu juga keren πŸ˜‰

  28. yuki :

    @eve – cinderlela? itu kan cinderela betawi hehehe!!

  29. STR :

    @ evelin: hehe, itu, di blog ini udah ada postingan semanggi, kurang rujak cingur, lontong balap, tahu tek, etc …

  30. evelynpy :

    @Ria:
    Pantesan postingan terbaru yang tentang nasionalisme itu keren banget! Tinggal copy paste dari skripsi toh πŸ˜†

    @Yuki:
    Kalau cinderlela betawi mah sinetron Indonesia kali… yukz… πŸ˜‰

    @STR:
    Ntar aku tambahin bubur madura aja gimana?

  31. @rifz :

    tolong kesimpulannya di munculkan lah
    bantuin saiia selesaiin tugas debat yg topiknya ini…
    jadi pro ataw kontra?
    klo bisa bikin versi bahasa sundanya lah
    coz ada tugas debat basa sunda…
    kalo bisa bantu y….

  32. ari :

    hari ini kita semua di ajak menjadi munafik , melakukan sebuah ritual yang di paksakan pemegang negeri ini tanpa tahu esesnsi sejatinya , upacara bendera hanya simbologi tanpa makna , dlm bhs para PNS asal babe senang yang penting langgeng jabatan ..yang paling penting hari ini adalah setiap pstake holder hendaknya bersosialisasi pada masyarakat dari muasal dan makna sebuah kegiatan ! para pejabat mhn sering2 sambangi rakyat

Leave a Reply