KOMERSIALISASI DUNIA PENDIDIKAN KITA !

Bismillahirrohmanirrohim

Senin tanggal 14 Juli 2008 kemarin adalah hari pertama masuk sekolah, setelah melalui PSB Online yang bisa dikatakan masih kacau dan semrawutnya sistem atau SDM sehingga pelaksanaan PSB Online in menjadi kendala tersendiri bagi orang tua atau para siswa yang mau mendaftar. Belum lagi untuk urusan Biaya Masuk sekolah, atau Biaya daftar Ulang yang masih ditambah dengan biaya buku dan biaya kegiatan pertahun untuk sekolah sekolah tertentu yang seakan akan menjadi trend saat ini.

Tidak bisa di pungkiri lagi dunia pendidikan kita saat ini menuju sistem pendidikan yang serba “komersil”, selain permasalahan biaya biaya diatas masih ada juga orang tua dan oknum guru atau kepala sekolah mencari kesepakatan lain dengan “jual beli bangku kosong”. Hal ini sudah menjadi rahasia umum jika pada sekolah negeri yang menentukan kapasitas daya tampung kelas dengan jumlah para pendaftar yang nantinya akan ditentukan oleh Nilai standart terendah yang di terima di sekolah tersebut sedikit banyak akan bisa dimainkan.

 

Mungkin kita bisa renungkan masa lalu kita saat kita masih kecil kira kira tahun 80’an mungkin orang tua kita hanya pusing jika kita keluar SD masuk SMP atau keluar SMP masuk SMA atau SMA masuk ke PT saja untuk memenuhi biaya uang masuknya. Tetapi herannya disaat ini dimana masih banyak saudara saudara kita yang masih dibawah kemiskinan dan merindukan biaya pendidikan yang terjangkau malah di suguhi kenyataan yang pahit. Setiap tahun Orang tua sekarang pusing memikirkan uang daftar ulang yang besarnya kurang lebih separuh dari uang muka atau uang pangkal masuk sekolah tersebut. Dana BOS yang selama ini di bangga banggakan sepertinya gak ada artinya, apalagi di sekolah sekolah swasta Dana BOS bisa menjadi Dana untuk pembelian peralatan sekolah yang notabene melenceng dari tujuan dana BOS semula yaitu untuk subsidi SPP atau uang sekolah bulanan.

 

Dari awal masuk pendidikan kita yang sudah memakai sistem “komersil” seperti ini InsyaAlloh akan menghasilkan lulusan lulusan siswa dengan jiwa komersil pula. Coba anda bayangkan jika ortu dan siswa yang sedikit memaksa masuk ke sekolah tujuan dengan kesepakata “komersil”, pastinya keluar sekolah dia akan berpikir untuk segera mendapatkan kembali biaya “komersil” yang ia berikan dulu entah bagaimana caranya, dari sini bibit bibit korupsi akan bermunculan. Naudzubikahimindzalik semoga kita tersadar dari sekarang untuk memperbaiki sistem kita yang sudah melenceng dari tujuan pendidikan kita. Selama ini Diknas dan Sekolah sekolah sepertinya tutup mata akan keadaan ini.

 

Semoga kita semua masih punya nurani untuk memperbaiki keadaan ini.

14 Responses to “KOMERSIALISASI DUNIA PENDIDIKAN KITA !”

  1. det :

    wah cak dul, judule serem, font e gede kabeh! :mrgreen:

    kalo gak komersil, sekolah itu dapat duit dari mana cak?

    trus kalo lulusannya berjiwa komersiil, apakah itu jelek? kan malah bagus! bukan jiwa pemalas!

    ya tho????

  2. aRuL :

    kalo saya sih bukan pendidikan yang murah/gratis tapi jelek hasilnya, lebih setuju dengan pendidikan yang terjamin.
    artinya orang miskin bisa juga sekolah terjamin oleh pemerintah.

  3. udinz :

    Klau sekolah mahal dan berkualitas itu wajar dan normal. Yang menjadi masalah adalah ketika sekolah cuma jadi ajang pembodohan dan pemerasan. Disamping itu, paradigma bahwa tempat mencari ilmu/belajar hanya di sekolah harus segerah dirubah.
    Klau menurut q sekolah udah g penting lagi, sekarang yang penting itu menjadi manusia pembelajar sejati.:)

  4. cakdul :

    maksudku wis gak onok maneh ta sekolah sing murah koyok mbiyen ?? opo njamin sekolah mahal itu pasti uapik tenan.. kan gak mesti toh… kabeh iku kan teko mentalnya…. nek tithik tithik duit tithik tithik noda..(lho koq malah koyok lagu…. he he he he )… pikirane wong saiki duit ae.. seolah olah mendewakan duit…wis mboh lah sekarepmu..:(
    🙁

  5. p4ndu_454kura© :

    Konon sekolah itu sudah gratis, lalu apa yang membuat banyak pungutan liar seperti itu? Apakah sekarang oknum-oknum koruptor sudah menjamah kesucian dan kesakralan pendidikan?

    Ah, hanya Indonesia yang bisa begini. 😐

  6. sUN^ :

    pendidikan mahal itu bisa dimengerti, semakin tahun semakin mahal buku, semakin tinggi gaji guru dan semakin mahalnya sandang pangan, hal-hal itulah yang membuat pendidikan semakin mahal, meskipun uang sekolah tiap bulan digratiskan tetapi tetap saja dipunggut daftar ulang dan laen2.

    yang harus diperhatikan bukan MAHALnya pendidikan itu tetapi tarikan KOTOR yang ditarik oleh pihak “tertentu”.. klo emang sudah semestinya mahal ya emang sudah segitu.

  7. permanaj :

    Kalau komersialisasi mungkin gak terlalu parah. Tapi ada beberapa yang money oriented. Adik saya mau masuk kedokteran di udayana .. pertanyaan pertama adalah ‘Berapa mau nyumbang SP3 ?’ .. kalau cuma 100jt dijamin gak masuk, minimal 140jt baru bisa masuk.

  8. Raden Mas Angki :

    Bismillahirrohmanirrohim

    Selama wakil rakyat di Senayan sana belum menganggarkan biaya pendidikan 20%, sulit dicapai pendidikan murah dan berkualitas seperti India.

    Kalo APBN untuk pendidikan 20%, hal tersebut (murah dan berkualitas) akan tercapai

    Alhamdulillah

  9. det :

    bismillahirrohmanirrohiim

    anggaran 20% juga ndak njamin kok kik, sudah tersistem berpuluh tahun menjadi sistem korup, sulit untuk dirubah

    alhamdulillah

  10. angki :

    bismillahirrohmanirrohiim

    @ Det: Lah kalo soal korup ato nggak, itu emang masalah “personal” Det. Dengan dialokasikan dana 20 % saja dari triliunan APBN, saya yakin anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke akan merasakan manfaat pendidikan murah (bahkan gratis).

    Dana 20% itu, adalah perbaikan gedung sekolah, sarana penunjang, sekolah, tunjangan guru. Sehingga semua masyarakat akan merasakan dampak pendidikan gratis tersebut

    Alhamdulillah

  11. Masa Depan E-Learning di Surabaya : TuguPahlawan.Com :

    […] sehingga memaksa peserta belajar membeli buku hampir setiap tahun yang semakin tahun juga semakin mahal. Dengan menggunakan elearning, adaptasi buku baru akan semakin mudah karena semua disediakan dalam […]

  12. said :

    dari dulu tu yang namanya sekolah ki ya muahal buanget, lan jadi bebane bapake muride dewe, uapike diknas di bubarno ae, wong ga iso ngatur bawahane sing jenenge kepala sekolah karo koncone sing jenenge komite itu lho …..dul….dul

  13. firman :

    saya mau memperkenalkan salah satu alternatif pendidikan murah tapi bermutu tinggi dengan Indismart. Indismart adalah media pembelajaran online interaktif untuk pelajar SD hingga SMA. Indismart telah digunakan oleh 17.500 sekolah di Indonesia dan penguna individual lainnya. Kunjungi www indi-smart dot com dan bergabunglah segera

  14. Masa Depan E-Learning di Indonesia « Online Education :

    […] Biaya pendidikan (sekolah) di Indonesia tercinta kita semakin tahun semakin mahal. […]

Leave a Reply