Menolak Surabaya Menjadi Jakarta Kedua

Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia bukan tidak mungkin akan menjadi Jakarta kedua dengan kompleksitas permasalahan yang tinggi. Perencanaan pembangunan yang tak ramah lingkungan dan terkesan amburadul bahkan semrawut menghasilkan kemacetan, kekumuhan, keruwetan yang pada prosesnya menghasilkan kebijakan tambal sulam dan tumpang tindih. Kesemuanya berujung pada kerawanan sosial yang berpotensi melahirkan psikologis sosial masyarakat yang sakit.

Surabaya sebagai pusat ekonomi Indonesia bagian timur melalui pemerintah kotanya mencanangkan ekonomi sebagai ujung tombak dengan titik berat di sektor perdagangan, industri dan jasa. Diterima atau tidak, hal ini berimplikasi besar pada pertumbuhan penduduk Surabaya, migrasi besar-besaran dari daerah sekitarnya seperti mimpi desa yang mengagungkan Jakarta sebagai sarana meraih mimpi kesejahteraan ekonomi.

Sebelum jauh melangkah, sebenarnya tema ini terlalu besar untuk tulisan sependek ini, karena itu butuh pembahasan yang berkesinambungan dari segala sisi dalam memotret Surabaya agar tidak menjadi Jakarta kedua.

Sebagai gambaran, pada tayangan news.com, di Metro TV yang lupa edisi tayangnya kapan, menyoal Jakarta yang gencar melakukan razia KTP yang menurut pengakuan PEMDA DKI merupakan pemeriksaan reguler untuk pendatang dari luar Jakarta yang meningkat drastis setiap usai lebaran. Salah satu panelis, yang juga lupa namanya, menyatakan bahwa Jakarta terlalu serakah untuk sekedar meredistribusi rejeki ke daerah atau kota lain dan itu menjadikannya magnet terbesar bagi para pendatang untuk menyerbu Jakarta. Sekedar diketahui, peredaran uang di Indonesia 60% berada di Jakarta, sisanya dibagi ke seluruh wilayah Indonesia. Iklim ekonomi yang tidak sehat menurut para pakar ekonomi.

Daya tarik magnet yang luar biasa inilah yang perlu mendapat perhatian serius. Mengapa? Bisa jadi ketika wacana pemisahan pusat ekonomi dengan pusat pemerintahan direalisasi, Surabaya bukan tidak mungkin menjadi pilihan yang paling realistis. Berkiblat ke Amerika yang selama ini menjadi acuan primer, pusat pemerintahan berada di Washington D.C., kota yang relatif sepi dibandingkan dengan pusat ekonomi seperti New York. Mengapa dipisah? Sepatutnya dipisah karena menghindari seminimal mungkin kepentingan ekonomi mempengaruhi keputusan politik. Kenyataan yang terjadi di Indonesia menunjukkan dengan gamblang bagaimana produk-produk dan keputusan politik, hukum dibuat karena intervensi kepentingan ekonomi yang demikian dominan.

Apa relevansinya dengan Surabaya? Tak bisa dipungkiri, Surabaya merupakan pusat ekonomi kedua, terutama untuk wilayah Indonesia bagian Timur. Tanpa wacana pemisahan di atas saja, Surabaya sudah memiliki kompleksitas masalah yang mendekati Jakarta, terlebih jika wacana tersebut terjadi, dan Surabaya menjadi pusat ekonomi utama di Indonesia, bisa dibayangkan bagaimana keadaan Surabaya.

Untuk menghindari Surabaya menjadi Jakarta kedua, sebaiknya Surabaya segera berbenah, target-target pembangunan yang dititikberatkan pada sektor perdagangan, industri dan jasa jangan sampai mengabaikan tata kota dan lingkungan, tak mengorbankan kesejahteraan dan kenyamanan warga untuk pencapaian target angka-angka pertumbuhan ekonomi daerah. Surabaya harus lebih arif dalam meredistribusi rejeki ke daerah-daerah lain agar tidak menjadi magnet bagi para pendatang. Pemerintah daerah tingkat I harus lebih proaktif menggali potensi daerah-daerah yang layak dijadikan kantong ekonomi baru untuk menggiatkan ekonomi di daerah juga untuk menghambat arus urbanisasi.

Bukankah UUD mengamanatkan setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan penghidupan yang layak? Mari dengan arif meredistribusi rejeki.

39 Responses to “Menolak Surabaya Menjadi Jakarta Kedua”

  1. aRuL :

    Saya lebih menyoroti tentang tata ruang kota Surabayanya persiapan menjadi kota yang lebih metropolis lagi.
    Surabaya sudah seharusnya ditata untuk mencegah kejadian di ibukota Jakarta tidak terjadi juga di kota kedua terbesar di Indonesia ini. Tapi apa daya, ternyata rencana-rencana yang tertuang dalam RTRW sudah tidak diindahkan, contohnya daerah resapan air dijadikan mall, dll.
    Jika semuanya teratur dan tertata, pasti surabaya siap menjadi kota metropolitan yang teratur.

  2. gempur :

    Memang tata kota dan lingkungan itu penting, tapi akar masalah harus diketahui agar tak menjadi benang kusut di belakang hari. Katakanlah oke di bidang tata kota dan lingkungan, tapi kalau kemudian Surabaya tetap menjadi magnet bagi orang-orang di daerah yang ujung-ujungnya urbanisasi, pertanyaannya, sampai kapan Surabaya bertahan dengan lahan yang terbatas sementara pertumbuhan penduduk meningkat drastis akibat urbanisasi. Mau ditaruh mana mereka? Baiknya, seiring tata kota yang membaik, arus urbanisasi ditahan dengan menumbuhkan kantong-kantong ekonomi di daerah-daerah, atau kalo tidak, kembalikan fungsi desa, kembalikan hak-hak petani yang terampas secara struktural akibat revolusi hijau, agar mereka tak tergiur Jakarta dan Surabaya.

    Lantas, kalau mengejar lebih metropolis lagi sama dengan bom waktu permasalahan yang akan menjadi kerumitan di kemudian tanpa diimbangi upaya redistribusi rejeki ke daerah-daerah lain.

  3. arek waru :

    Kalo gak dijaga memang akan jadi kayak Jakarta, kalo bisa dari komunitas kecil kita bikin usaha untuk menjaga atau membantu Surabaya supaya tidak terjerumus jadi gak karuan. kalo banyak komunitas kecil yang membantu nantinya bisa saling bersatu untuk membuat komunitas yang lebih besar, kalo udah besar baru banyak yang denger dan berpengaruh pada kebijakan pemkot. Provokasi rek 🙂

  4. anasmcguire :

    Jangan sampai surabaya jadi jakarta yang seperti sekarang ini… udah perumahannya padat, SUMPEK, sering banjir, sering macet, lahan hijau sedikit, duh… pokoknya jangan sampai kayak gitu deh…
    menyoal tata kota dan lingkungan.. Ada baiknya Surabaya mulai mencoba belajar bagaimana menata kota yang baik dengan tidak menimbulkan kerugian pihak lain, seperti masyarakat yang ingin menghirup udara segar, kendati dikelilingi gedung-gedung perkantoran dan pabrik,
    Saya juga menyarankan supaya lahan hijau dan taman kota diperbanyak…

  5. pandu :

    Surabaya boleh jadi sama seperti Jakarta di bidang ekonomi, tapi jangan sampai sama di bidang polusi dan kemacetan. 😉

  6. evelynpy :

    Kalau menolak Surabaya menajadi Jakarta Kedua, lantas jadi apa dong? :mrgreen:

  7. magma :

    klo ngomong masalah surabaya sebagai daya tarik atau magnet bagi penduduk luar. berarti sebenarnya bukan masalah tatakota atau semacamnya tapi lebih kepada pemerataan ekonomi di seluruh indonesia. bayangkan klo potensi2 yang ada di daerah tu di optimalkan. yang didaerah pertanian dibuat sebuah industri untuk mendukung itu. di daerah perikanan, perkebunan pun bisa dilakukan seperti itu. maka kemungkinan besar arus urbanisasi akan lebih bisa dikendalikan.
    soal tata kota si benernya udah kacau balau mpe sekarang. bayangin berapa banyak mall yang tumbuh di surabaya ini. tapi berapa banyak taman bermain dan refreshing untuk warga surabaya? bisa dihitung dengan jari tuh… . yak ada lagi akses masyarakat untuk brtgrtak bebas. blom lagi klo ada urbanisasi. ampuuunnnn… . sumpek.

  8. gempur :

    @ arekwaru: yo ngono, onok sing kendel dadi provokator! 😉
    @ anasmcguire: makanya, ayo berbenah!
    @ pandu: sip, ndu! ning ojok njaluk enak’e thok, gelem dhuwite, gak gelem ngurusi polusi karo macet, yo podho ae! 😉
    @ evelynpy: yo dadi suroboyo ae mbakyu! gak perlu niru-niru Jakarta, apa yang jadi kekhasan surabaya yo iku sing dituju, ojok latah gak dhuwe sikap! *halah ngomong opo iki*
    @ magma: itu maksud saya, dua substansi yang berbeda, tata kota dibuat dengan blue print yang jelas yang harus sinergi dengan kebijakan utama Surabaya. Setelah ada pemerataan ekonomi, pembagian rejeki yang diatur dan disepakati bersama antar PEMDA maka bikin tata kota yang jelas untuk mengantisipasi berbagai dampak sosial yang bakal dilahirkan.

  9. toekang sapoe :

    aku gak iso komentar, aku gak ngerti blas masalah iki. Lha wong cuman tukang sapu.

  10. aRuL :

    Surabaya mau tidak mau akan menjadi kota terbesar ke dua di Indonesia.
    Pemerintah harus mampu untuk mempersiapkan diri.
    *aku mo ngomong apa aku lupa, ntar lagi aja 😀 *

  11. tukang foto keliling :

    @ arul : “Surabaya mau tidak mau akan menjadi kota terbesar ke dua di Indonesia”, lho… bukanya emang udah jadi kota terbesar ke2 di Indo.

    * menarik untuk ditunggu kebijakan yang dikeluaran oleh pemerintah, apakah surabaya akan menjadi jakarta ke2 ato tidak 😀 . Selain menunggu ada yang bisa kita lakukan?

  12. aRuL :

    @ tukang foto keliling : hehehe, emang iya, cuman mau mencounter judul artikel ini, untuk kita bersiap2 dari skrg supaya tidak seperti jakarta 🙂

  13. Gempur :

    @ toekangsapoe:
    ya sudah, sapu saja ‘sampah masyarakat’ surabaya.. hehehehe

    @ arul+tukang foto keliling:

    selain menunggu dan bersiap-siap, ada yang bisa kita lakukan, karena komunitas ini komunitas penulis, maka yang bisa dilakukan adalah menggagasnya dalam bentuk tulisan dan melontarkannya ke publik sebagai bentuk ‘counter community’ dari wacana yang sudah ada. Wacana yang bisa dilontarkan di antaranya,
    – pemerataan ekonomi,
    – tata kota dan lingkungan,
    – akses kesehatan dan pendidikan yang murah, kalo perlu ‘free’
    – dan wacana-wacana lain dari berbagai sektor

    Kalau sudah memiliki list wacana, perlu ada distribusi antar anggota untuk membuatnya, siapa yang berkompeten atau yang mau membahasnya.

    Perlu digarisbawahi, yang perlu dilakukan dalam melontarkan wacana diantaranya:
    – inventarisir permasalahan
    – pihak-pihak terkait untuk turun tangan
    – mencari akar masalahnya
    – memberi solusinya sejauh yang dipahami dan diketahui
    – strategi yang digunakan dalam menerapkan solusi

    Mudah-mudahan berguna.

  14. aRuL :

    @ gempur : salah satunya tugupahlawan.com ini yah pak 😀

  15. Gempur :

    @ Arul:

    Itulah yang namanya ‘counter community’ sesuai yang tertuang dalam visi TPC. Menawarkan alternatif dan solusi lain. Seperti apa yang pernah dilakukan STR, saat orang-orang ramai bilang Ganyang Malaysia, dia malah mempertanyakannya. Itulah counter community yang sebenarnya.

    Saat orang ramai bicara ‘busway’ di Surabaya, bicara penggusuran PKL, Bantaran kalimas, Pembinaan Anak Jalanan dan seterusnya, kita tak pernah sadar akar dari semua masalah tersebut.

    Ketidakadilan dan ketakmerataan ekonomi, menjadikan kota besar sebagai tempat tumpuan menggantungkan hidup. Seperti apa yang dilakukan oleh Bapak dan Ibu saya yang tak asli Surabaya. Hanya untuk perbaikan nasib. 😉

    Mari kita diskusikan! 😉

  16. aRuL :

    @ gempur : mantap benar guru yang satu ini 🙂

  17. nanakiqu :

    moga2 aja surabaya dapet menjadi kota yg nyaman untuk di huni…

  18. pandu :

    *liat diskoesi sambil minoem teh*
    Semoga Surabaja™ tidak jadi kota yang penoeh poloesi dan macet seperti Djakarta™ 😀

  19. deT -habis dari Ponorogo- :

    *bismillah..*

    biar Surabaya sini gak jadi seperti Jakarta, coba yang putra-putri daerah itu, habis kuliah di sini, BERANI GAK BALIK KE KOTA ASAL, KERJA ATAU JADI PENGUSAHA DI SANA?!!!

    itu bagian dari solusi konkret, kakang lan mbakyu.. lha sekarang ini kan setelah lulus kuliah maunya kerja di sini, nikah di sini, beli rumah di sini dan kemudian menetap di sini.. (termasuk saya? sementara iya, tapi insya Alloh beberapa tahun lagi saya akan balik ke Ponorogo)

    jangan selalu menyalahkan pemerintah yang belum mampu memeratakan pembangunan & desentralisasi ekonomi. saya yakin kalo kita mau balik ke desa, kerja atau jadi pengusaha di sana, lama-lama ekonomi akan merata.. ya memang parametnya belum jelas, lama-lama itu berapa tahun lagi? entah! tapi harus kita mulai dari sekarang!!! kalo cuman wait and see sambil mengutuk pemerintah, ya gak selesai-selesai masalah ini..

    *auuuhhh… molet, ganti baju, berangkat joging*

  20. yuki :

    kalo kata pakar-pakar tata kota, Surabaya ini dibangun tanpa masterplan yang jelas. Makanya kondisi kota sekarang morat-marit, yang berdampak banjir dimana-mana, belum lagi soal kekumuhan dan kemacetan lalulintas. Apalagi ternyata Dishub Pemkot Surabaya, sudah ancang-ancang bikin busway. Padahal kalo menurut Herru Sutomo, pakar transportasi dari UGM, busway ibaratnya hanya pedang untuk bertempur. Kalo pengen komplit supaya menang, pedang itu kudu dilengkapi juga dengan pernik lain seperti tameng, baju zirah dll. Artinya, kalo mau Surabaya bebas macet, harus ada perangkat lain yang menyertai, seperti 3 in 1, atau meninggikan tarif parkir. Tapi lagi-lagi, berarti ini akan seperti Jakarta. Padahal di Jakarcha itu, yang namanya macet weleh…naudzubillah min dzalik….

  21. Gempur :

    @ aRul: apane sing mantep?! badanku kurs kok 😉
    @ nanakiqu + Pandu: Amin
    @ Deteksi:

    Tantangan yang menarik tuh! buat para teman2 yang berasal dari daerah. Kebetulan, meski ortu termasuk bukan asli surabaya, tapi saya kelahiran dan tumbuh besar di surabaya. Desa sudah tak punya apa-apa. Bisa gak saya disebut Surabaya Aseli.
    *Ceritanya memohon banget nih, biar gak dikata luar surabaya*

    Mas, kalo daerah asalnya bisa menerimanya dengan spesifikasi keilmuan yang ditekuni sih gak papa. Mereka kudu wajib balik, Tapi, kalo daerah tak memiliki lahan untuk menampung keahlian mereka, apa yang mesti dilakukan? Kalau memiliki jiwa enterpreuner sih gak maslah, Apalagi punya banyak modal! kalo gak?!

    Trus, kalo anda mengandalkan mereka-mereka yang terdidik kembali ke daerah agar lama-lama ekonomi merata, ya sulit mas!

    Mungkin orang yang paling siap sampean kali yaaa?! khan katanya dah mau balik! hehehehehehehe…

    jangan selalu menyalahkan pemerintah yang belum mampu memeratakan pembangunan & desentralisasi ekonomi

    Kalo yang ini jelas nyata, bung! Jawa Serakah! rakus! Indonesia cuma jawa doang! Itulah kenapa Aceh minta Merdeka, kenapa Papua minta merdeka?! Apa kudu nunggu semua melepaskan diri berontak untuk merdeka baru kita sadar bahwa kita tidak adil!!

    Kekayaan alam mereka diperas Jakarta, mereka hanya dapat sisa-sisa kerusakan alamnya dan bencana. Ehmmm, sory, saya terus terang emosi kalo bahas yang satu ini!!

    kalo cuman wait and see sambil mengutuk pemerintah, ya gak selesai-selesai masalah ini..

    Saya gak kutuk pemerintah, tapi membantu diri saya sendiri agar tidak menjadi masalah bagi pemerintah dan sekitar saya. hehehehehehe.. itu minimal, maksimalnya membantu urun rembug mencarikan solusi atas permasalahan yang ada. Mbok ya yang teliti kalo mbaca!! Saya ini ndak kutuk pemerintah! * mode Serius sedang ON*…

    Hahahahahahahahahahahahaha… peran yang sampean mainkan bagus, lebih memberdayakan masyarakat.. Sukses untuk Sampean

  22. Gempur :

    @ Yuki:

    tuh kan mas! butuh media untuk tahu persis apa yang dikatakan para orang pinter tentang kondisi surabaya, saya gak punya refernsi yang baik. Informasi njenengan sangat berguna, Persoalan hulu harus terpegang dulu, kemudia kita ikuti aliran permasalahannya, hingga ke hilir.

    Semisal busway, khan hanya upaya latah saya kira. Sok metropolitan, gak usah jauh2, pertumbuhan motor di jalanan yang sedemikian pesatnya tak dipikirkan dampaknya menjadikan kita berfikir belakangan, kok jadi macet ya! angkot kok pada tensi tinggi ya! BBM kok kudu dihemat ya!

    Begitulah, kebijakan pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, jelas tak ramah lingkungan. Sekedar mengejar target angka pertumbuhan, tapi dampaknya, emisi karbon tinggi, cadangan BBM menipis, muncul wacana mencari sumber energi alternatif, angkot resah, warga resah, psikologis jadi sakit karena setiap hari dicekam macet dalam amarah.

    Entahlah, capek juga mikirnya mas! 😉

  23. aRuL :

    di manapun kita berada itu tanah air kita.
    yang penting bermanfaat.

    kalo diliat lebih dalam lagi surabaya diarahkan ke kota ekonomi, buktinya pembangunan ekonomi yg digenjot, tanpa memperhatikan lingkungan.

    So satu persatu sektor pembangunan di surabaya sebaiknya di pindahkan, agar kota ini tidak terlalu padat, misalnya pembangunan kantor sebaiknya diarahkan menuju daerah2 sub urban, mall sudah saatnya di bangun di sub urban juga.

  24. magma :

    wah semakin hot saja pembicaraan tentang kota kita tercinta surabaya ini. kayaknya semua pengen surabaya jadi kota yang nyaman untuk semua.hehehe… .
    @det: wah bagus juga usulnya tapi sepakat juga sama bang gempur (lho???) maksudnya gak semua disiplin ilmu bisa diterapin di tempat asalnya. saya punya temen dia lulusan teknik perkapalan. waktu saya berkunjung ke rumahnya di madiun. ibunya bilang “ni anak disekolahin jauh2 tapi gak mau balik lagi ke kampungnya mas”. saya mikir ya iyalah lulusan teknik perkapalan mau kerja dimana di madiun? emang disana ada kapal? ada laut? (ada gak ya?) akhirnya dia kerja juga di sby. gak tau lagi klo balik lagi ke daerahnya jadi enterpreneur, lebih bagus malah. bisa bikin lapangan pekerjaan. itung2 bantu pemerintah.

    @gempur: banyak banget tulisane, bingung mo ngomong apa… .
    oh iya, saya gak sepakat tuh klo jawa serakah, yang bener tuh pemerintahnya yang serakah, sistemnya yang salah. sebenarnya wacana ini sudah saya dengar cukup lama.dan saya yakin pemerintah juga sudah sering denger wacana2 semacam ini. cuma realisasinya aja yang gak ada sampe sekarang.

    jadi ikut2an capek mikirnya… .

  25. gempur :

    @ Arul: bagus itu, Mas! maksud saya juga arahnya ke sana, Gudang Garam misalnya, gak perlu bikin kantor pemasaran gedhe-gedhean di Surabaya, bikin aja di Kediri yang besar plus dia bikin perkantoran megah di sana dan sewain untuk industri2 yang lebih kecil

    @ magma: iyo, maksud’e memang ke pemerintah! tapi, orang non-jawa bilangnya “jawa itu penjajah”, gak percaya?! 😉
    Wacana seperti ini sudah sering dibicarakan, tapi kita kudu tetep mengingatkan, jangan sampe isu ini tenggelam dan kita kelupaan. bisa amburadul Surabaya! 😉

    Diskusi yang menarik!

  26. gandhi :

    wah seru nih diskusinya… bingung saya mau nulis apa, tapi cuma berharap aja jgn sampe kota sby jadi ” kompleks masalahnya” seperti jkt. masalah banjir, kesehatan, tata kota dll

    Ayo Sby mulai berbenah.. ayo teman2 kita sumbangin pikiran buat kemajuan sby.

  27. sagung :

    Jadi Jakarta kedua gpp, tapi tanpa kekumuhan dan kemacetan lo.

  28. filyung :

    kita cuman segelintir manusia di tengah lautan manusia yang tidak searah dengan kita, so kl kita menolak Surabaya kayak Jakarta, itu adalah hal yang mustahil, ada beberapa yang jadi bahan pertimbangan:

    1. Surabaya bukan anak kecil yg dengan begitu mudahnya kita arahkan ke sebuah tujuan yang sedikit bertentangan dengan arus pergerakan yang ada.

    2. Bahwa pergerakan Surabaya ke arah yang lebih maju adalah bukan semata2 ulah kita, melainkan ulah jama sendiri yang semakin hari semakin modern, so kl kita ingin hidup di dunia yang serba modern tp lingkungan tetap asri ya paling enak bawa laptop dan HP trus tinggal di hutan.

    3. Kita sendiri belum paham dan belum mengerti apa itu perubahan yang perlu dan yang tidak dan yang baik dan yg tidak. kIta sendiri sebagai negara ke3 masih melihat contoh dari negara2 yang telah maju, sedangkan kita belum maju2, jadi mengapa kita meski takut kalau Surabay bergerak kearah sana, sedangkan kita juga belum mengerti seperti apa jadinya Surabaya nanti.

  29. gempur :

    @ filyung: hehehehehe,

    so kl kita menolak Surabaya kayak Jakarta, itu adalah hal yang mustahil

    Kenapa mustahil? Apanya yang mustahil? Kata pepatah modern “tak ada yang mustahil di dunia ini” semua serba mungkin.. 😉

    so kl kita ingin hidup di dunia yang serba modern tp lingkungan tetap asri ya paling enak bawa laptop dan HP trus tinggal di hutan.

    Siapa juga yang mengatakan ‘modern’ sama dengan ‘tidak asri’, buktinya sekarang gerakan menanam pohon untuk kembali ke alam gencar-gencarnya digalakkan merespon ‘climate change’.. 😉

    Kita sendiri belum paham dan belum mengerti apa itu perubahan yang perlu dan yang tidak dan yang baik dan yg tidak.

    Berarti masnya yang belum paham, kemacetan, banjir saya kira contoh riil yang tidak baik dari sistem tata kota dan tata lingkungan, makanya perlu adanya perubahan dalam sistem tata kota, tentunya juga perlu adanya perubahan kebijakan yang terkait dengan tata kota agar tak menghasilkan kemacetan dan banjir, misalnya, jangan bangun Mall di daerah resapan air dan hutan kota. Jangan bangun rumah di bantaran kali dll. Itu jelas perlu perubahan sistem dan i’tikad baik warga surabaya. 😉

    kIta sendiri sebagai negara ke3 masih melihat contoh dari negara2 yang telah maju, sedangkan kita belum maju2, jadi mengapa kita meski takut kalau Surabay bergerak kearah sana, sedangkan kita juga belum mengerti seperti apa jadinya Surabaya nanti.

    Justru itu, berdasarkan pengalaman negara maju dan melihat kondisi surabaya, perlu adanya studi mendalam agar Surabaya bisa maju tanpa harus merasakan dampak negatif yang besar yang dihasilkan dari kemajuan tersebut. 😉

    Terakhir gagasan artikel saya bukan ‘Menolak Surabaya menjadi Metropolitan atau Megapolitan”, semangat artikel saya lebih kepada “Menjadikan Surabaya yang Ramah Lingkungan, yang Asri dan Hijau tak hanya di tengah kotanya, Surabaya yang ramah pada rakyatnya, Surabaya yang adil secara ekonomi, Surabaya yang pusat ekonomi indonesia bahkan asia yang aman, nyaman, tertib, sejahtera dan menyejahterakan warganya juga warga sekitarnya.” Mudah-mudahan saya tidak UTOPIS. Amin. 😉

  30. filyung :

    “Mudah-mudahan saya tidak UTOPIS. Amin.”

    mas, seharusnya mas menulis kalimat ini pada artikel awal mas, so kita semua bener2 paham bahwa sebenarnya pandangan mas dekat sekali dengan utopia, :))

  31. gempur :

    @ filyung: hahahahahahahahahahahahaha

    kalau memang pikiran saya utopis, mari siap-siap lebih resah, lebih stress, hehehehehehehe

    Tapi, untungnya sampean baru bilang “dekat sekali dengan utopia” berarti masih mungkin kan?! hahahahahahahahaha

    Terima kasih telah membuat saya lebih bahagia saat ini..
    *mengetik sambil senyum dan tertawa*

  32. deT :

    @filyung
    profilmu mana??? blogmu juga kosong!!! tunjukkan jati dirimu!!!

    *gaya kartoloan*

  33. filyung :

    @det
    wah? masak blog ku masih kosong ya?
    udah kok aku masukin kok,
    cumak kari foto thok seng gorong,
    ojo-ojo salah pencet iki coba di buka maneh,
    sek tak genak no maneh yo,

  34. aRuL :

    @ filyung : buat posting di profil buat kenalan sama the heroes yang lain.

  35. Surabaya, Banjir, dan Macet « Pandu Gilas Anarkhi :

    […] berjuta pesona yang tak kalah dari Jakarta. Sehingga tidak salah jika Surabaya diibaratkan sebagai Jakarta kedua. Akan tetapi di balik itu semua, Surabaya masih memiliki permasalahan yang sudah menjadi tradisi […]

  36. andik :

    Wes ta, pokoke suroboyo iku kudu tetep suroboyo, gak koyok arek2 saiki sing gaya2 nggae boso jkt. La ngene iki sing gawe budayane awak dewe dadi ilang.

  37. Mangan Lontong Balap :

    saya sebagai arek suroboyo di jakarta, sangat setuju
    karena surabaya sudah mulai banyak dijejali dengan mal2 dan mulai membuat warganya mulai terseparasi, saya khawatior surabaya kan menjadi jakarta. (ya mugo-mugo ae gak kedadian)
    pokok’e suroboyo tetep suroboyo!!

  38. sauqoni :

    saya setuju dengan pemerintah agar para pendatang yg tidak memiliki skill atau dasar kemampuan yang dibutuhkan di surabaya harus dipulangkan oleh karena itu saya,
    sebetulnya mereka itu boleh datang tetapi jangan sampai menetap terlalu lama

  39. excelvou :

    terlalu berat untuk menjadi jakarta emang

Leave a Reply