Ojok Sampek Kacang Lali Ambek Kulite

mahendraKalimat yang menjadi judul diatas seringkali kita temukan dalam percakapan sehari-hari. Sebuah sanepa yang umumnya diwacanakan untuk mengingatkan siapapun agar tidak lupa pada asal-usul dan sejarahnya.

Apa yang ada pada kita hari ini bukanlah sesuatu yang otonom berdiri sendiri seolah tak terkait pada dimensi ruang dan waktu. Setiap individu manusia tak terlahir dari termos, kendil atau ceret, namun dari perpaduan dari dua orang manusia laki dan perempuan yang terikat pula oleh dimensi ruang dan waktu.

Walaupun dibesarkan di Jakarta dan sekarang tinggal di Bandung dengan istri dan dua orang anak, namun saya tak mampu menghilangkan identitas ke-Suroboyo-an yang lekat pada diri saya sampai-sampai ketika ada seorang yang bertanya dari mana saya berasal, saya selalu berseloroh dengan menjawabnya “Timur-tengah”. Tentu saja jawaban saya menimbulkan keheranan walaupun tak terucapkan tapi terlihat dari perubahan wajah orang tersebut.

“Kenapa Pak? Heran ya kok mukanya gak kayak orang Arab?”, tanya saya. Sebelum orang tersebut menjawab, saya melanjutkan omongan bahwa yang saya maksud dengan “timur-tengah” adalah perpaduan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah.

“Saya terlahir dari hasil kolaborasi seorang laki-laki (almarhum) asli dari Wonorejo Surabaya dengan seorang perempuan asli dari Yoyakarta.” Kontan saja orang tersebut tersenyum sambil berucap, “Saya kira timur-tengah beneran…”

“Ya memang beneran Pak.., hahahahaha…” 😀

Walaupun tak pernah tinggal di Surabaya, namun Surabaya merupakan kota kedua bagi saya. Semasa kecil hampir setiap liburan panjang kenaikan sekolah selalu saya habiskan waktu liburan saya di Wonorejo, Surabaya. Lima tahun waktu yang saya habiskan semasa kuliah di Universitas Brawijaya makin membuat saya sering melakoni pulang-pergi Malang-Surabaya yang hanya ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam. Seluk beluk kota Surabaya cukup terekam dalam ingatan saya.

Keluarga besar saya pun hingga saat ini masih tinggal di Wonorejo walaupun yang sepuh hanya tersisa tinggal bulik saya saja (almarhum ayah saya mbarep).

Ada cerita lucu terkait dengan identitas suroboyoan yang lekat pada diri saya. Pada suatu waktu saya berkesempatan untuk beranjangsana ke Jogloabang, Yogya. Dalam kesempatan tersebut selain ketemu ambek sing mbahurekso kang Suryaden dan Senoaji, saya juga sempat bertemu dengan annosmile seorang blogger yang belum lama ini memenangkan SEO Contest “Stop Dreaming Start Action.” Ketika kami bercakap-cakap dalam bahasa Jawa, annosmile sempat berkomentar tentang logat jawa saya yang kental Jawa-Timur-annya. Ya mau gimana lagi, itulah kenyataannya.. 😀

Itu pula sebabnya saya memberanikan diri untuk bergabung dengan TPC agar jangan sampai kalimat sakti “kacang lupa dengan kulitnya” akhirnya benar-benar terjadi.

Saya sendiri saat ini mengelola 4 blog yang terdiri dari 2 blog pribadi yaitu itempoeti dan Love4Live, 1 blog subdomain komunitas jogloabang ‘itempoeti.jogloabang‘ dan 1 blog bernama Solve With IT yang merupakan blog hasil kolaborasi beberapa konco-konco blogger yang concern soal Free Open Sources Softwares (FOSS).

Demikian sekilas info yang sementara ini bisa saya bagi kepada kabeh sedulur TPC, semoga yang serba sedikit ini bisa memberikan gambaran tentang apa yang memotivasi saya untuk bergabung dengan TPC.

Tak lupa tentunya pada kesempatan ini saya menyampaikan salam perkenalan kepada seluruh keluarga besar TPC. Bravo TPC !!! 😀

18 Responses to “Ojok Sampek Kacang Lali Ambek Kulite”

  1. kucluk :

    selamat datang mas,…

    salam kenal…

  2. luxsman :

    heits…. sido daftar dadi member TPC toh…. arek WONOREJO sedang melanglang buana….

  3. gajah_pesing :

    salam kenal

  4. Frenavit Putra :

    Selamat datang kang Mahendra… salam kenal… ^^

  5. deteksi :

    salam kenal kang… selamat gabung di TPC semoga sukses agendanya membuka biro adoh kwkwkw…

  6. Didiet :

    salam kenal dari sesama pengguna open source
    omong2, baru tau kalo penduduk Bandung juga dari gajah pesing, calon istriku orang bandung juga tepatnya di daerah ciwastra

    kenal sama mas Andi Sugandi juga khan? teman lama di opensuse-id dan sama2 menjabat opensuse ambassador tapi beda kota

  7. diorockout :

    nice post gan!!!
    :shakehand:

  8. ami :

    weh koyoe aku kenal karo arek wonorejo sing iki wehehehe

  9. Mahendra Uttunggadewa :

    @kucluk
    matur nuwun…
    salam kenal juga…

    @luxsman
    yo sidho Man… hlaaa yak opo?
    kanggo tombo kangen ambek Suroboyo…

    @gajah_pesing
    halaaahhh…
    kapan nang Bandung maneh?

    @Frenavit Putra
    matur nuwun…

    @Deteksi
    pokok ojok biro jodoh opo gak biro jasa pengurusan STNK-SIM… 😀

    @Didiet
    kalau ke Bandung kita ketemuan yooo…
    aku di Pasir Kaliki dekat Istana Plasa…

    @diorockout
    siiiippp…
    :shakehand: juga…

    @ami
    ojok sampek gak kenal…
    hihihihihi… 😀

  10. rudis :

    itu kebanyak kan manusia sekarang mas kacang lupa pada kulitnya, mungkin karena kurangnya bersyukur

  11. novi cuk lanang :

    lahh… mas itempoeti rupane..

  12. tito :

    ini nih sing nyekel suroboyo

  13. Anas :

    salam kenal..

  14. Aqmal :

    salam kenal…

  15. ericova :

    salam kenal

  16. gempur :

    wah isok dadi sesepuh lek ngene iki.. hehehehehe

  17. Bayu :

    kenapa posting saya pending review,????????????
    kuq d persulit mau posting ja.?????

  18. fara :

    salam kenal mas

Leave a Reply