Plastik, kawan atau lawan ?

plastik

plastik

Sehari bebas plastik, demikian bunyi semboyan yang direlease sebuah lembaga atau lebih tepatnya sebuah radio swasta belum lama ini.
Yah, plastik, siapa sih yang gak tahu ? Sebagai bagian dari senyawa karbon, plastik begitu fungsional perannya dalam planet ini. Dengan sifatnya yang mudah dibentuk, flexible, bisa didaur ulang dan dibuat dalam berbagai varian [dengan mengubah jumlah atom C maupun bangun kimianya], plastik menghampiri semua kasta kehidupan, dari yang kere hingga yang super kaya.
Dari gelas air mineral yang akrab dengan pemulung sampai elemen pesawat terbang dan notebook yang familiar dengan komunitas berduit.
Dari ujung kaki berupa jelly shoes dan sandal hingga ujung kepala berupa jepit rambut, semua dari plastik.

Begitu hebatnya plastik ini hingga tanpa disadari justru itulah kelemahannya.
Rantai kimianya nampak begitu ulet bagi segenap bakteri pembusuk sehingga perlu puluhan dan mungkin ratusan tahun untuk menguraikannya.
Kehadirannya disemua lini kehidupan membuatnya sering membuat masalah dalam lingkungan, itu bila dibuang tidak pada tempat yang semestinya, itu bila dipergunakan tidak pada tempatnya.
Seringkali sampah plastik menjadi biang kerok macetnya saluran air. Juga karena sifatnya yang karsiogenik, plastik dapat mengancam kesehatan kita, semisal saat kita merubah peruntukan botol plastik.

Kita nampaknya sudah hidup dijaman plastik, dimanjakannya dan endingnya jelas kita tak mampu lagi mengeluarkan dari sisi hidup kita. Yang mungkin bisa dilakukan adalah mengubah perilaku saat kita “bercerai” dengannya, saat kita menganggapnya sebagai sampah.
Sudah saatnya kita melakukan gerakan massal filterisasi, melakukan pemilahan sampah, mana yang kategori basah semacam sampah dapur dan mana yang termasuk kering, semacam plastik, kertas dsb.
Dengan penyortiran seperti diatas akan muncul multiple effect :
– sampah plastik akan bisa didaur ulang oleh industri dan bukan oleh alam.
– kita akan memperoleh profit dari penjualan sampah plastik berikut gengnya.
– volume sampah domestik [Surabaya] dan nasional akan menurun sekaligus mengurangi biaya operasinal.
– pada akhirnya kita akan bisa punya andil dalam menyelamatkan bumi.

Hayo, siapa yang mau ambil bagian menjadi pahlawan lingkungan ?

15 Responses to “Plastik, kawan atau lawan ?”

  1. Rusa Bawean :

    yup
    kurangi pemakainan plastik mulai sekarang

    ***

    Setujuuuuu !……..tapi sambil garuk garuk kepala. Ntar monitor, ponsel kita, ballpoint dsb. dibungkus pakai apa ya, pakai kayu, pakai kertas, atau dari metal ?

  2. gajah_pesing :

    saia gak tahu akan hal itu, yang penting saia sudah berusaha untuk meminimalkan penggunaan plastik agar isa di daur ulang, by the way, kalo ada waktu sabtu besok kita kopdar di mabes pak…

  3. aRai :

    saya mah menjadi pahlawan diri sendiri aja lom bisa apalagi pahlawan lingkungan 🙁

  4. nggresik :

    musim udan plastik laris manis …..gawe jas ujan, nambal genteng, nambal tembok rembes, macem-macem

  5. risdania :

    ini mungkin dampak dari modernisasi yang menginginkan keefektifan dan efisiensi dalam packaging..setiap sisi ada dampak positif dan negatif. Menghilangkan peran plastik dalam kehidupan juga dirasa bukan alternatif yang baik. Mungkin peran kita ya memisahkan sampah plastik dengan sampah organik agar dapat didaur ulang… ^^

    *************************************************************************
    Yah, kita nampaknya punya pendapat yang sama dan semoga kita memang berada dibarisan yang sama. Tidak mengkesampingkan kemajuan teknologi namun ingin tetap menjaga kelestarian alam semaximal mungkin.

  6. BUDIONO :

    gagasan yang unik tapi menarik untuk dicoba. tapi kadung tergantung deh kayaknya kita ini sama plastik

    ************************************************************************
    hehehe……
    Menangani sampah plastik kayaknya menangani benang kusut ya, butuh waktu yang sangat puanjaaaaaaaang. Utamanya dalam hal manajemen persampahan dilingkup keluarga dan kampung.
    Tapi kita khan harus berubah, harus bergerak meski itu secara individu.

  7. JambronX :

    kayaknya plastik udah jadi teman hidup manusia… dipasar,, di sekolah,, kantor,, bahkan di tempat ibadah manusia juga bawa plastik…Jadi kayaknya susah kalo misah manusia n plastic lagyan plastin kan lebih simple buat packaging. mungkin solusinya adalah membuat packaging yg eco-friendly and simple.

    ***
    Dunia packaging juga terus berbenah. Setahuku kandungan plastik dalam kemasan suatu produk terus menurun dari waktu ke waktu.
    Memang target mereka bukan mengurangi polutan lingkungan tapi lebih kepada pengurangan cost produksi.
    Plastik ramah lingkungan ?
    Sementara plastik semacam itu mungkin masih impian dan jadi PR bagi para ilmuwan, biarlah plastik yang sekarang ada dan bejibun banyaknya diuraikan oleh bakteri bernama phemoeloenk

  8. mudz069 :

    @mas gapes…..salah satu tujuan posting ini khan amar ma’ruf nahi munkar.
    Dulu dikampung sempat ada gerakan seperti yang saya maksud tapi kini sudah mati suri. Banyak kendala.
    Dilevel pribadi seingat saya, kami malah cuma “tahan” seminggu dalam hal filterisasi. Masalahnya sesudah dipilah, sudah dapat beberapa glangsing, weeh njualnya susah karena skenario yang sempat digagas sebuah LSM nggak jalan.
    Masalah primernya, “harddisk” kami cuma 5 giga, gak ada space buat nampung glangsingan plastik n kertas yg terus bertambah jumlahnya.
    Namun begitu saya tetap komit dalam hal : buang sampah pada tempatnya dan itu saya implementasikan juga buat seisi rumah.
    Tentang kopdar Sabtu besok, hmmm mohon maaf sebelumnya, agak berat rasanya. Kendalanya minggu ini dapat giliran masuk malam so ada ritual hibernasi sepanjang siang-sore. Yah, ngecharge buat malamnya lagi.

    @aRai……Segala sesuatu pasti dimulai dari sendiri.
    Kalau semua pribadi seperti sampean, mau jadi “pahlawan” meski skalanya untuk diri sendiri, khan intinya sama saja. Di Surabaya akan ada ratusan ribu aRai aRai yang lain…….

    @nggresik…..hehehe, memang kita ini sudah menjadi penganut paham “plastikisme”

  9. k.u.c.l.u.k :

    dimulailah pada diri sendiri, minimal mengurangi penggunaan bahan2 yang berbahaya bagi lingkungan.
    ayo pak, kampanye iki…

    ***

    Weeh, iyo wong masalah bungkus ae kog angel men.
    Bungkus plastik nko nyemari lingkungan.
    Bungkus godhong jati, peeh alase wis kenek ilegal loging.
    Arep dibungkus karet, weh ojo ojo iki hasil daur ulang kondom bekas tekan Singapore n Rusia……………..hehehe

  10. hasan :

    plastik…ehm..kelihatannya lawan yang berkedok jadi kawan. Menimbulkan manfaat sesaat tapi menanam bom “lingkungan” di kemudian hari bagi anak, cucu, cicit kita..waspadalah…waspadalah..

    *****

    waspadalah…waspadalah..
    hehehe…….sampean kudu mbayar royalti nang bang napi.

  11. luxsman :

    kiTa coBa menggAnti bunGkus PlasTik denGAn BungkUs MinYak….

    tapi klo bungkus, memang harus plastik. kalao beli mie godok, capjay bungkusnya pasti plastik, kalau dibungkus kertas minyak jadi mbrodol kertas minyaknya……

    Pilih bungkus sing endi penakne????

    *****

    Aku pilih gawe rantang……..

  12. nuruli :

    memang peran plastik sangat besar sekali seperti yang di bilang mas luxsman saat membeli mie godog DKK Yang paling praktis emang di bungkus pakai plastik, agak ribet juga kalo bawa wadah sendiri, kalaupun membawa wadah sendiri yang praktis juga wadah yang terbuat dari plastik soalnya ga akan panas di tangan. ya intinya plastik itu praktis. 😀

  13. ukm.samsul :

    jenis plastik baru yang bisa terurai oleh bakteri sudah ditemukan. mungkin ini salah satu solusi juga bagi problem sampah plastik.

    ***

    Hmmm, hebat euy……..tapi mungkin harga plastik yang ramah lingkungan kayak gitu masih mahal ya.
    Mungkin masih belum cocok buat penjual es batu plastikan, buat bakul bumbu dipasar dll

  14. putri asih :

    Asalam…

    kalo bisa jawab di email saya dong sebelum hari kamis

    saya lagi kkn di salah satu kab di SUL-SEL

    masalah yg mengganggu adalah pengolahan sampah rumah tangga termasuk plastik mereka kebanyakan buangnya klo g d sungai paling d bakar tp kan d bakar jg bakalan cemarin tanah kan? any solution pls sni pemerintahnya g ada TPA nya jd pnnanganan sampah plastiknya susah ttg ksadaran lingkungan lumayan lah desa ma jalan2nya bersih banget tp itu dia sampahnya yg penting g gannggu pmandangan bgt pls butuh solusi thx b4

  15. Wawan :

    kembali saja ke tempo dulu menggunakan pembukus makanan dengan daun, pasti lebih efektif

Leave a Reply