Potret Surabaya Zaman Sekarang

Jika kita lihat perkembangan kota Surabaya dalam beberapa tahun terakhir memang terlihat geliat perkonomiannya yang terus meningkat. Surabaya sebagai salah satu kota metropolis tidak bisa dipungkiri menjadi tujuan utama kaum  urban untuk mencoba mengais nafkah. Tanpa disadari pula sisi-sisi kehidupan masyarakat kotapun mulai bergeser sejalan tuntutan zaman. Lahan makin sempit, industri terus berkembang, standar gaya hiduppun makin meningkat.

Saat ini begitu gampangnya kita menjumpai gedung-gedung pencakar langit dengan gaya arsitek modern. Namun sadarkah kita, bangunan-bangunan bersejarah yang ada di kota Surabaya mulai terabaikan, tergusur, dan tenggelam seolah ditelan bumi. Bangunan bersejarah adalah bagian dari cagar budaya yang wajib kita lestarikan, karena disinilah sejarah budaya kota Surabaya tersimpan, sekaligus sebagai identitas yang tak boleh dihilangkan begitu saja. Tidakkah kita ingin anak cucu tetap menghargai dan bangga dengan tanah kelahirannya? Jangan jadikan hanya sebagai sejarah dan dongeng semata.

Jalan-jalanpun terasa kian sempit, jangankan menikmati keindahan kota saat berkendara, menoleh sedikit saja beresiko. Belum lagi kena ucapan ‘pincuk’ dari pengendara lain kalau kita lengah atau salah. Ya, begitulah gambaran kota tercinta ini, tensi darah terus tinggi meski tidak kena darah tinggi.

Semoga regulasi pemerintah terhadap kendaraan bermotor bisa mengurangi kemacetan, polusi, dan permasalahan lain di Surabaya. Berandai-andai di Surabaya ada busway atau angkutan nyaman untuk warga Surabaya. Pasti orang akan malas naik motor sendiri, malas naik mobil sendiri. Karena sudah ada transportasi nyaman dan aman. Kitapun sebenarnya bisa ikut andil mengurangi polusi, mengurangi kemacetan, jika kita mau.  Semoga Surabaya terus bersolek, berbenah diri dan menjadi kota kebanggan kita bersama.

11 Responses to “Potret Surabaya Zaman Sekarang”

  1. gajah_pesing :

    hidup Surabaya

  2. rusabawean :

    yup
    semoga Surabaya da busway yaaa

    untuk mengurangi kemacetan

  3. sangpangeran :

    kalo Busway ada, sebaiknya angkot dikurangi. jadi para tukang angkot sebaiknya direkrut jadi petugas busway saja 😀

  4. giriayoga :

    Surabaya ga boleh terlalu macet….dan juga harus ada hari tanpa kendaraan bermotor

  5. tiyo :

    kecenderungan urbancity adalah tak terkontrolnya transportasi.moga2 aja MERR 2 bisa seegra dibuka…A Yani biar rada longgar

  6. adhis :

    Saat keliling komplek diperumahan tempat tinggal saya, jika diperhatikan hampir tiap rumah ada mobil, bahkan ada yang satu rumah berisi lebih dari satu mobil, belum motornya.

    Tiap pagi kendaraan itu keluar dipakai kerja. Rata-rata satu mobil hanya diisi satu orang.
    Pada waktu jam-jam berangkat kerja dan pulang kerja, selalu terjadi antrian. Rasanya kemacetan memang sudah tidak bisa terelakkan. Maklum, lebar jalan tidak sebanding dengan laju kepemilikan kendaraan bermotor. Solusinya, kalau pemerintah tidak cepat tanggap akan hal ini, ya kita sendirilah yang harus selektif menggunakan kendaraan bermotor kita. Itung-itung mengurangi kemacetan dan polusi (^_^).

  7. luxsman :

    sebenarnya jalan di surabaya tidak bertambah Sejak saya SD. Dan untuk saat ini biaya untuk punya kendaraan pribadi cukup murah apalagi anda bisa bawa barang pulang kredit kendaraan tanpa uang muka.
    Di Pekanbaru, kota yg masih berkembang *belum metropolis sperti surabaya* sudah ada moda transportasi busway walaupun tidak ada jalur khusus busway sperti di jakarta

  8. fithraw :

    semoga dengan apa yang terjadi saat ini, Surabaya semakin maju. Serta kesadaran dan toleransi dalam berkendara semakin meningkat. 😀

  9. windi adi wibowo :

    mantap rek……jo rusuhe ae seng tambah mantep…

  10. Risma Bella :

    semoga perkembangan surabaya makin brtingkat dan jalan surabaya akan d buat perkotaan yang sangat lebar dan ga ada lagi yang nama MACET

  11. Risma Bella :

    semoga perkembangan surabaya makin brtingkat dan jalan surabaya akan d buat perkotaan yang sangat lebar dan ga ada lagi yang nama MACET 😀 😀

Leave a Reply