Ramadhan, Mudik, dan Lebaran

Tak terasa Ramadhan sudah memasuk detik-detik terakhirnya, sedih sekali rasanya kita akan berpisah dengan bulan ini. Mudah mudahan saja ramadhan kali ini bukan merupakan ramadhan yang terakhir buat kita, jadi kita masih diberikan kenikmatan dan kesempatan untuk bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan (amien).

Ditengah tengah ramadhan (memasuki minggu kedua Ramadhan) seperti ini, banyak sekali fenomena yang terjadi di sekitar kita, dan mungkin itu merata di setiap tempat. Bukan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah yang ditingkatkan dan di prioritaskan tapi malah justru kita disibukan dengan hal-hal lain yang mengurangi kualitas dan kuantitas ibadah kita di bulan Ramadhan ini.

          

Kita lihat saja jama’ah shalat tarawih di masjid sekitar kita, di awal Ramadhan sudah dapat dipastikan masjidnya full jama’ah, tapi fenomena yang terjadi adalah memasuki hari kesepuluh atau bahkan kurang dari sepuluh hari sudah nampak kemajuan-kemajuan jama’ah shalat tarawih. Kemajuan disini bukan kemajuan kuantitas / kualitas jama’ah tapi kemajuan shaf  jama’ahnya, semakin hari shaf nya semakin maju kedepan (berkurang jamaahnya). Kenapa bisa demikian? faktor apakah yang melatar belakanginya? Mungkin banyak orang mengatakan “Ah imamnya sih, baca surat nya panjang-panjang, bikin kita tambah ngantuk…” atau mungkin ada juga yang menjawab “Halah shalat tarawih di rumah saja, kan sama saja yang penting kan kita melaksanakan shalat”. Terlepas dari itu semua perlu diketahui, bahwa kita sekolah ada ujianya siapa ga mampu berarti ga lulus ujian nah begitu juga dengan keimanan seseorang, dibulan ramadhan ini banyak ujian yang diberikah Allah kepada kita dan hanya orang-orang yang mempunyai tingkat keimanan yang kuat saja yang akan lolos dan naik semester selanjutnya.

Memasuki detik-detik akhir Ramadhan harusnya kita tingkatkan amal ibadah kita, tetapi kebanyakan dari kita justru disibukan dengan hal-hal lain seperti mempersiapkan lebaran lah, persiapan mudik atau yang lainya.  Apalagi 10 hari akhir Ramadhan yang harusnya kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk beribadah kepada Allah karena di sepuluh hari terakhir adalah puncak puncaknya ibadah Ramadhan. Tetapi fenomena yang ada justru di akhir-akhir Ramadhan kita malah disibukan dengan hal-hal yang mengurangi nilai ibadah kita, kita sibuk dengan persiapan mudik, kita sibuk dengan belanja-belanja keperluan yang katanya untuk persiapan Lebaran.

Ehm… memang aneh mengenai fenomena ini, akan tetapi sudah sangat membudaya sekali di masyarakat Indonesia. Mungkin lewat forum dan kesempatan ini kita lebih bisa saling mengingatkan sesama saudara muslim kita untuk lebih giat lagi dan lebih semangat lagi meningkatkan amal ibadah kita di detik-detik akhir Ramadhan ini, karena belum tentu juga kita bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Yang sekarang lagi down, hayuk di bangkitkan lagi semangatnya…

13 Responses to “Ramadhan, Mudik, dan Lebaran”

  1. aditcenter :

    Yang namanya Fenomena, pasti bakalan sulit untuk dihilangkan

  2. makarim :

    Sip…, ada benernya juga fenomena SULIT dihilangkan.
    kalo SULIT,
    berarti masih ada harapan untuk di hilangkan…
    bener g?

  3. gajah_pesing :

    Ayuk di tingkatkan iman dalam diri kita..

  4. mudz069 :

    Aku pikir masalahnya ada di manajemen waktu , bagaimana cara mengaturnya supaya ibadah romadhon sukses, persiapan lebaranpun lancar.
    Pertanyaannya, mengapa hampir semua perusahaan memberikan THR mendekati lebaran ?
    Andai diberikan space waktu yg lebih panjang mungkin ibadah romadhonnya bakalan mulus.
    BTW, semisal cak makarim didapuk jadi kepala daerah, bersediakah mengobrak pengusaha agar THR ditransfer lebih awal ?

  5. aR_eRos :

    Mari tingkatkan lagi kualitas dan kuantitas ibadah kita dimulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan lakukan sekarang juga.

  6. makarim :

    Ehmm… tanggapan yang bagus mas’
    wah ternyata menyangkut ke THR juga y.
    Sebenarnya bukan masalah nunggu THR / mudik nya, toh bekerja memang suatu keharusan untuk kelangsungan hidup. Nah kalo ibadahkan masalah spiritualis, masalah keimanan dan ketakwaan seseoarang (Cieh koyo ustadz wae).
    Bolehlah kita sibuk dengan urusan persiapan lebaran ato yang lainya… tapi jangan lupa juga, untuk selalu mengaupgrade ibadah kita. apalagi berada di bulan yang suci ini…
    eman kalo kita sia siakan. (ada benernya juga kalo masalah menejemen waktu).
    Tapi kenapa yah diawal ramadhan masjidnya penuh dg jamaah, tapi mulai pertengahan semakin berkurang…(bukan masalah pekerjaanya/nunggu THR kan?)

    Keep Istiqomah mas Semoga semakin sukses….

  7. ma2nn-smile :

    moga2 gak macet lagi pas lebaran……

  8. mudz069 :

    Mungkin komen saya sebelumnya agak susah dipahami ya. . . .
    Jumlah shaf sholat yg kian maju seiring berjalannya hari romadhon kalau ditelaah mungkin penyebabnya ada 2. . . . . .
    Kesatu, karena strata keislaman, ada yg muslim( biasanya rubuh gedang, ikut ikutan) dan inilah komunitas terbesar yg mbolos tarawih tanpa alasan yg jelas-biasanya malas. . . . mungkin imannya khan agak lemah, ada yg mukmin yg mbolos kalau urgen terus mungkin bisa dilanjut ke muchsin.
    Kedua, ya itu tadi Karena nyiapin lebaran. Eh, jangan dilupakan lho. . . Mudik itu merupakan perjanjian nasional, maksudnya disaat itulah semua saudara en handai taulan bisa ngumpul bareng.
    So karena setahun sekali makanya dipersiapkan semaksimal mungkin.
    Mengapa dibelain sampe ga tarawih ? ya itu tadi , disamping stratanya baru muslim juga terkendala faktor finansial. . . .khan terima THRnya mepet.
    Ya, kalau anaknya 1 gampang jadinya. Kalau 3 or 4 ?tak cukup sehari.

  9. Rizal :

    Lebih parah lagi sebelum puasa sudah mikirin buat lebaran. Soalnya kalo ga sebelum puasa, ga kebagian tiket pulang mas. Menurut saya, kembali lagi ke iman, bagaimana kita memaknai Ramadhan. Kayaknya saya dulu pernah posting di sini http://www.rijal.web.id/blog/?p=3

  10. abas :

    kalo nggak tarawih sih nggak masalah, yang jadi masalah kalo nggak puasa. Shalat tarawih nggak ada perintahnya dalam Alquran, yang ada shalat malam dan dilakukan nggak setiap ramadhan aja tapi setiap malam.

  11. mudz069 :

    Saya rasa meninggalkan sesuatu yang sunnah dan mendapatkan sunah yg lain mungkin ga terlalu rugi.
    Maksudnya meninggalkan tarawih untuk sunah yang lain. Bukankah membahagiakan istri dan anak dgn baju baru juga niat untuk bersilahtuh rahmi dgn keluarga besar juga dapat pahala ?
    Rosulallah sendiri setahu saya pada hari ke 3 “melarikan diri” dari sholat tarawih karena takut “diwajibkan” bagi umatnya.
    So, tukar guling pahala saya rasa no problem.
    Tapi bagaimanapun juga opsi pertamalah yang harus kita kejar. . . . . . . .ibadah romadhon sukses en persiapan lebaranpun lancar.
    Prosesi tarawih khan malem hari. . . . kita bisa berburu pernak pernik lebaran siang hari.

  12. ihsanmaulana :

    ada mudik gratis gak. kalau bisa PP (pulang pergi)gratis.

  13. makarim :

    ada cak…
    tapi ga pp…
    di indosat sama ITS

Leave a Reply