Renungan Akhir Tahun


Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Di penghujung tahun 2007 dan memasuki awal tahun 2008, bencana demi bencana telah menimpa saudara-saudara kita di berbagai daerah. Banjir yang menenggelamkan beberapa wilayah serta tanah longsor yang menelan puluhan nyawa telah mencengangkan kita kembali.

Rasanya seperti sebuah kebiasaan yang harus terjadi di setiap penghujung tahun kita disuguhi dengan beragam bencana yang terus menimpa. Kalau kita telusuri kembali akhir 2006 lalu, bencana yang menerpa dunia transportasi secara beruntun telah menjadikan kita seolah putus asa dengan keadaan. Lalu, di tahun sebelumnya juga demikian, gempa dan tanah longsor serta beberapa bencana lainnya juga menimpa saudara kita di penghujung tahun. Dan, yang paling mencengangkan adalah ketika tsunami menerjang Aceh dan Nias pada penghujung 2004. Astaghfirullahal ‘adhiim…

Sungguh! Ini merupakan peringatan yang ke sekian kali dari Allah SWT kepada kita. Untuk itulah, sudah sepatutnya di penghujung tahun ini kita harus mempersiapkan diri sematang mungkin untuk mengahadapi tantangan ke depan agar semua menjadi lebih baik. Sambut kedatangan tahun ini dengan lebih banyak instrospeksi diri dan memperbaiki diri. Bukan penyambutan yang diisi dengan hura-hura, melainkan perenungan dan pertaubatan kita yang harus menjadi pengisi dalam menyambut awal tahun ini.

Semoga dengan awal yang baik akan menjadikan akhir yang baik pula. Luruskan dan mantapkan niat kita masing-masing untuk berbuat lebih baik daripada amal yang telah kita kerjakan di tahun sebelumnya.**

12 Responses to “Renungan Akhir Tahun”

  1. aRuL :

    Saatnya bukan sekedar aksi prihatin, saatnya ni kita bertindak.
    lakuin seperti posting Melestarikan lingkungan dari hal-hal kecil .
    Miris juga meliat berita semuanya tentang banjir… 🙁

  2. cempluk :

    sepakat sama bung arul, saatnya kita beraksi !!! Turun ke jalan (istilah nya BEM kampus ).

    Ya Allah..

    Selamatkan negeri ini..
    Jauhkan dari segala bencana..
    Kami tahu jika banyak salah…
    Segala ampunan senantiasa kami haturkan kepadaMu..
    Selamatkan negeri ini..
    Engkau Maha Mendengar dan Mengetahui..
    Hanya kepadaMu lah kami meminta Pertolongan..
    amin

  3. anasmcguire :

    Turut prihatin dan berbela sungkawa atas bencana yang terus menerpa indonesia tercinta. Dan saya yakin dibalik semua musibah pasti ada hikmahnya, mungkin semua musibah ini merupakan cobaan, ujian, peringatan bagi kita semua. Mungkin gara-gara perbuatan kita yang terdahulu, Allah memperingatkan kita.
    Marilah di penghujung tahun ini kita merenungi dan mengintrospeksi diri agar menjadi manusia yang lebih baik di tahun yang akan datang..

    @ mas cempluk: amin

  4. deteksi :

    ini awal tahun baru masehi, kalo awal tahun baru hijriyah gimana renungannya?

  5. Titah :

    @ arul & cempluk

    jadi apa nih yang kita mo lakuin? TPC mo lakuin? masih belum terlambat, coz menurut pengalaman puncak hujan & musim banjir surabaya justru jatuh bulan februari-maret (tanya BMG kalo ga percaya :P)

  6. Gempur :

    Ini kutipan postingan yang tak jadi saya luncurkan mengingat artikel di atas sudah mewakili, maaf jika agak kasar:

    “Kejengkelan saya pada peringatan tahun baru 2005 yang lalu masih membekas jelas di kepala dan hati saya. Terus terang saya tidak mengerti jalan pikiran bangsa ini yang masih meneruskan prosesi perayaan pergantian tahun di tengah bencana tsunami yang melanda asia tenggara dan sebagian selatan.

    Sebagian negara Eropa secara resmi membatalkan perayaan tahun baru demi ikut serta prihatin atas bencana yang menimpa. Sebut saja seperti Denmark dan Belanda. Begitupun dengan beberapa negara lainnya. Sementara, Indonesia yang tertimpa bencana dengan efek paling parah, justru meneruskan perayaan tahun baru.

    Dalam hati, saya berkata: “memang pantas bangsa ini ditimpa bencana”

    Jangan bicara kerugian ekonomi akibat dibatalkannya acara. Hanya membatunya hati yang mampu meneruskan perayaan tersebut. Bahkan seruan ulama dan budayawan sekaliber Gus Mus dari Rembang pun tak digubris. Waktu itu, dalam hati saya menjerit-jerit, “bangsa biadab, katanya berperikemanusiaan, tapi tak punya tenggang rasa, bangsa sampah………!” dan refernsi makian saya lontarkan dari hati terdalam saya.

    Kini, hampir di tiap tahun, di akhir dan awal tahun, musibah besar terus-menerus terjadi membayangi bangsa ini. Awal tahun lalu, masih segar dalam ingatan, pesawat adam air tiba-tiba menghilang dari radar, disusul kecelakaan beruntun dunia penerbangan Indonesia lainnya..

    Apa masih belum cukup? Kini banjir dan longsor menimpa sebagian daerah dari ujung timur hingga ujung barat, berapa bencana lagi yang harus ditanggung bangsa ini atas dosa-dosa yang diperbuatnya? “

    Solusinya, mari berdo’a bersama untuk meminta Indonesia menjadi lebih baik lagi, mohon ampunan dan mulai mendekati secara santun alam yang sudah kita eksploitasi dengan tindakan2 yang salah satunnya sudah ada di atas.. Insya Allah belum terlambat. Amin Allahumma Amin.

  7. aRuL :

    @ cempluk : kalo turun jalan sudah biasa, gimana kalo betul2 aksi misalnya, nih bersihin lingkungan, dll, betul2 aksi nyata 😀

    @ bu titah : iyah, kayaknya kita perlu lakuin sesuatu yang lebih nyata nih, berita di jawapos tentang komunitas apa yah lupa yg protes anggaran pendidikan dimuat apalagi kalo lakuin aksi nyata.

    btw bisa diomongin di rapat juga sih ntar, tapi di koment2 ini bisa dimasukkan ide2nya…

  8. mukhlason :

    hu hu …

  9. deteksi :

    Mengutip tulisan Iman Daryanto di Jawa Pos 29/12 hal 4, kolom GAGASAN

    Sebagian masyarakat melewati tahun baru dengan kegiatan di luar rumah. Entah itu di jalan, di hotel, di tepi pantai, atau di vila-vila. Menurut saya, pada malam terakhir 2007 nanti, sebisa mungkin kita mengurangi aktivitas tersebut. Mengapa? Sebab, sebagian masyarakat kita saat ini sedang prihatin.
    Kita perlu berempati terhadap masyarakat yang sedang prihatin, seperti mereka yang tertimpa musibah bencana alam. Sejak tiga hari terakhir, banjir, ombak besar, dan longsor menerpa banyak wilayah di Indonesia. Bahkan, ada korban tewas karena bercana itu

  10. tu2t :

    *speechless*

    *liat komenna cempluk*
    amin..

    *baca komennya pak gempur*
    yah.. mau gimana lagi sih pak…

    mudah2an.. tahun depan, kita bisa menjadi orang yang lebih baik lagi..

  11. TheGoeh :

    Walahu Alam bishowab…smoga..kita bisa sabar dan tabah

  12. arifaji :

    hanya satu kata untuk sebuah harapan dimasa mendatang : JANGAN MENYERAH………..

Leave a Reply