RTRW.NET : Memperkenalkan Teknologi Internet Kepada Masyarakat Sekitar

Cerita berikut adalah pengalaman penulis saat membangun RT/RT.net di lingkungan penulis tinggal.  Untuk Admin, terimakasih jika tulisan ini di-approved.

Memperkenalkan teknologi internet dan memberdayakan masyarakat terhadap teknologi internet itu sendiri, sudah bukan lagi sesuatu hal yang dianggap ‘mahal’ saat ini.  Sejak konsep rtrw.net diperkenalkan oleh beberapa aktivis telematika Indonesia dengan perjuangannya mendapatkan koneksi internet yang murah untuk masyarakat Indonesia, saat ini sudah banyak sekali komunitas-komunitas warga di struktur pemerintahan yang paling rendah, yaitu Rukun Warga/Rukun Tetangga, yang menggunakan konsep rtrw.net.  Termasuk di tempat saya tinggal, di pinggiran kota Sidoarjo.


Sebenarnya, ditempat saya tinggal sudah ada warung internet, juga sudah masuk dalam cakupan area salah satu penyedia jasa internet (ISP; Internet Service Provider).  Tetapi karena harga yang ditawarkan terlalu mahal menurut ukuran pendapatan warga, internet saat itu menjadi ‘barang’ yang ‘wah’.

Jika kita berhitung; misalnya ambil contoh sewa koneksi internet di warung internet dengan biaya 1 jam Rp. 2000.  Dengan referensi menggunakan koneksi unlimited (24/7), maka biaya per bulan yang harus dikeluarkan adalah Rp. 2000 x 24 x 30 =  Rp. 1.440.000.  Jika menggunakan koneksi internet berlangganan dengan sambungan WLAN, rata-rata harga yang ditawarkan berkisar 3.000.000 s/d 4.000.000 untuk pemakaian tak terbatas.  Biaya tersebut dianggap sangat mahal untuk ukuran kita.  Bahkan internet berlangganan yang diusung oleh Telkom, juga masih dirasa mahal.

Selain faktor biaya, kurangnya pengetahuan warga tentang penanggulangan virus dan pornografi (2 hal tersebut yang sering diutarakan oleh warga), menjadikan mereka semakin jauh dari teknologi internet.  Ketakutan warga tentang 2 hal tersebut sudah mendomain dipikiran mereka, hasilnya warga enggan ‘berdekatan’ dengan internet.

Konsep rtrw.net menawarkan solusi yang tepat untuk menanggulangi mahalnya biaya.  Dengan konsep ‘tanggung-renteng’, biaya sewa koneksi internet akan semakin murah.

Memberikan pengertian tentang internet kepada warga adalah hal pertama yang harus dilakukan dalam rangka memperkenalkan teknologi internet.  Menceritakan manfaat-manfaat serta menghindari cerita-cerita yang dapat membuat warga semakin ‘takut’ adalah hal yang perlu diperhatikan.

Penggunaan kalimat yang sederhana juga sangat penting, agar mudah diserap oleh warga. Memberikan contoh tepat sasaran juga perlu dilakukan.  Meyakinkan warga bahwa internet bisa sangat bermanfaat untuk usaha yang sedang dijalankan disertai contoh yang aplikatif juga perlu dilakukan.

Jadi, tunggu apa lagi?? mari kita perkenalkan internet kepada warga sekitar dengan konsep rtrw.net yang murah meriah!!!.

28 Responses to “RTRW.NET : Memperkenalkan Teknologi Internet Kepada Masyarakat Sekitar”

  1. kucluk :

    yup sepakat….

    tapi kalo di kampung saya banyak nggak terlaksananya,,,

    la wong ! buru2 internet,.. komputer ae gak ono sing nduwe!!

  2. mie2nk :

    ayo kita galakan RTrw>NET di lingkungan kita….

    kmrin kmrin ayahku juga nyaranin konsep tang seperti itu kepadaku….

    tapi berhubung aku masih sibuk, jadi blum terlaksana,…

  3. mie2nk :

    ayo kita galakan RTrw.NET di lingkungan kita….

    kmrin kmrin ayahku juga nyaranin konsep tang seperti itu kepadaku….

    tapi berhubung aku masih sibuk, jadi blum terlaksana,…

  4. ndop :

    wong maikrosoft wed ae akeh sing gak iso, opo maneh nginternet???

  5. det :

    konsep yang bagus untuk diterapkan di kota-kota yang warganya sudah melek internet dan memiliki komputer. kalo di desa-desa kayaknya belum bisa.

    dan yang paling penting harus ada batasan/filter. jangan sampai malah disalahgunakan untuk keperluan negatif.

    btw kalo konsep ini bisa lebih detail dan jelas mungkin kita bisa seminarkan 😉 TPC bisa memfasilitasi kok 😉

    [ya kan teman-temaaaaaannnn….]

  6. galih :

    Bagaimana caranya? Kan minimal harus ada yang ahli perkabelan jaringan di kampung ituh….

  7. mudz069 :

    Posting mas kriwul cukup menggugah selera. . . . . . . . . . . .tapi sayangnya penyajiannya saya rasa kurang komplit, lha wong paparan teknisnya ga ada.
    Sistemnya koneksinya pakai apa terus tentang biaya.
    Saya pernah nguping acara di SS, disitu pakai wireless router en juga dipakainya wajan parabolic (kalau ga salah ). Nah, apa ditempat mas kriwul pakai gituan atau pakai RJ-45 trus tentang ISPnya ngikut yang mana ?

  8. mudz069 :

    Posting mas kriwul cukup menggugah selera. . . . . . . . . . . . . .tapi sayang penyajiannya saya rasa masih kurang lengkap, lha wong paparan teknis en rincian biaya ga ada.
    Ditempat mas kriwul apa pakai wireless router berikut pemakaian penguat sinyal buatan sendiri ?
    Trus sejauh ini berapa peserta tanggung renteng yg terlibat ? Soalnya khan nanti berhubungan dgn kecepatan koneksi.
    Kalau pesertanya unlimit, weeh. . . jangan jangan butuh segelas kopi hanya untuk membuka halapan depan TPC.

  9. -k- :

    Pertama dulu, saya juga punya pertanyaan2 sperti the heroes. Tapi, ketika wacana rtrw.net saya lemparkan ke warga, gayung bersambut. Emang tidak serentak langsung banyak warga yg tertarik. Ada yang malu2 tanya, ada yang diem2 dengerin, dll.

    Sekarang, sudah ada peminat 8 orang. Lumayan, buat nutup biaya bulanan spidi yg paket office bisa jadi lebih murah.

    @galih, gak perlu harus ada ahli perkabelan. Ada penyedia perangkat rtrw.net yg sudah include jasa pasang. Tanya bang google deh 😉

  10. mudz069 :

    Kalau ga salah, mungkin yang diapakai mas kriwul adalah wireless router plus “wajanbolic”.
    Bener ya mas ?

  11. -k- :

    @mudz069, yup! yang saya pakai di perumahan saya menggunakan wireless. Tetapi tidak harus wireless. Pakai kabel juga bisa, asalkan sesuai kapasitas dan kekuatan kabel itu sendiri.

    Kebetulan saat ini, baru BTS-nya aja yg terpasang. Mulai sabtu besok, baru instalasi client2…

  12. mudz069 :

    menurut hemat saya, kayaknya sih untuk penggunaan yg ga terlalu tinggi. . . . warnet masih solusi yg terbaik.
    Dengan 1500-2000 rupiah sejam kita sudah bisa berselancar tanpa harus berpikir tentang invest perangkat komputer juga WLANnya.
    Tapi kalau maunya mengawinkan biaya murah dan kenyamanan. . . . memang apa yang mas kriwul posting patut dicoba.
    Ayo TPC mbangun hotspot dewe. . . . .

  13. aR_eRos :

    @mudz069: bukan mas, yang dipakai mas kriwul bukan wireless router/wajan parabolic. kalo yang itu aksesnya gratis sepuasnya mas. nah itulah yang dipakai warga di kampung saia.

  14. aR_eRos :

    ayo warga Surabaya jangan mau kalah dengan warga di kampung saia yang berada di pelosok Prigen. yap akses internet disini gratis sepuasnya. cuman bayar bea maintenance kabel, server, dsb kepada admin 100rb per bulan akses speedy sepuasnya. ya itu tadi pakai wajan. bukunya petunjuknya banyak kok di gramed

  15. aR_eRos :

    @kriwul: memang benar yang di pakai wireless, tapi bukan wireless router/ wajan parabolic kan?

  16. -k- :

    @mudzo69, InsyaAlloh paparan teknisnya akan saya rangkum dalam tulisan saya berikutnya, itung-itung biar ada bahan untuk posting di tpc 😉

    Sebenarnya, konfigurasi yang dipakai tidak harus mahal, misalnya harus ada proxy server atau pc router, mikrotik dlsb, atau menggunakan antena omni yg mahal.

    Yang saya pakai di kampung saya, cukup radio wireless router, antena omni 15db beserta perlengkapannya (biasanya sudah ada yg jual paketan). Dengan modal 2jt, sudah bisa mendirikan BTS. Sedang disisi client, menggunakan wajanbolic. Dipilih wajanbolic, karena pemeliharaannya lebih mudah daripada wiring/kabel. ISP yg dipakai, tentu saja yg paling murah, siapa lagi kalo bukan spidi?? ;). Penggunanya, tentu saja harus dibatasi, maksimal 15 koneksi. Jika lebih dari itu, ya harus mendirikan BTS baru 🙂 Supaya kalo buka tpc tidak sampai menghabiskan segelas kopi ;).

    Warnet memang pilihan yang paling murah, jika intensitas penggunaan internet tidak terlalu tinggi. Tapi kalau sudah kecanduan dengan internet, kita tidak sadar, berapa pengeluaran yg sudah dihabiskan hanya untuk ke warnet?? belum minumnya, rokok, makan, dlsb. 🙂

  17. -k- :

    Paparan teknis, InsyaAlloh akan saya rangkum pada tulisan berikutnya, biar ada bahan buat posting di tpc 😉

    Yup, saya memakai wireless yang ada fungsi routernya, bukan hanya AP. Wajanbolic juga dipakai di sisi client.

  18. Anas :

    siiip…..

  19. p4ndu_454kura® :

    Ga mudeng IT. *_*

  20. avy :

    saya dah pake nih….RT RW Net.

    untuk dibisniskan butuh modal 20-25 juta.
    dah dah punya pelanggan minimal 20-an
    dan biaya internetya 125rebu/bulan.

  21. -k- :

    @avy; wah sip tuh…biaya invest segitu pake apa aja?

    Saya masih lom bisa dikomersilkan, waktunya gak ada buat ngurusin komplen hehehehe. Sementara ini, targetnya biaya bulanannya spidi lunas aja dulu.

  22. lutfi :

    pake speedy unlimited ya mas? apa ndak lemot tuh dipake org banyak? ngaturnya bagaimana ya?

  23. gajah_pesing :

    di tempatku komputer masih barang yang sangat mahal…

  24. torasham :

    ide bagus, cuman pake jaringan apa…
    kl pake speedy, menurut beberapa sumber masih susah, terutama kalo pake sistem wireless. Speedy maksimal kl pake sistem LAN alias kabel….

  25. danny :

    wdhh susahhh…dana,dana dan dana…:D:D

  26. adhie_partagaz :

    wah.. bagus tuh kl ada RT/RW.net di sby, cuman mahal ape nggak tuh perangkat wirellessnya.

    kalo untuk pengusaha RT/RW.net sich menurutku harus nyiapin, cpu plus software billing hotspotnya, pc router, access point beserta menara mini BTS/menara triangle di tambah hardware wifi untuk client.

    belom lagi para hacker pd usil, yg ngacak22 billingnya atau yg ngerubah MAC ADDREAS.

    pusing dech !

  27. tiyoavianto :

    ide bagus saya sendiri juga pnya inisiatif seperti anda untuk membuat kompung cyber di kampung halaman

  28. TuguPahlawan.Com » Blog Archive » RTRW.NET : Hitung Kebutuhan! :

    […] berikut adalah menyambung tulisan sebelumnya. Mohon maaf baru bisa nulis lagi.  Untuk admin, terima kasih udah diapprove. sumber : dari berbagai […]

Leave a Reply