Saksi bisu

Bila kita ingin membayangkan keganasan penculikan para jendral diperistiwa subuh berdarah tentu nyangkruk di area lubang buaya akan lebih bisa menghayati peristiwa itu.
Atau barangkali ingin membayangkan hebatnya bom atom dalam menghapus kehidupan dimuka bumi ini, bisa jadi sebuah gedung tua yang terkelupas kubahnya di Hiroshima dapat mengantarkan kita lebih cepat ke masa lalu.
Di Lhok Nga ada sebuah kapal pembangkit listrik yang terdampar ditengah kota. Dengan melihatnya kita bisa lebih mudah menggambarkan sehebat apa tsunami yang pernah menyapu daratan Aceh.

 

Yah, kadang kita membutuhkan keberadaan saksi bisu sebagai link bagi alam pikir kita dalam mengakses suatu peristiwa.
Rasanya emosi ini mudah teraduk, lamunan ini mudah dibangkitkan bila ada input visualnya.
Bagaimana dengan kota tercinta kita ini yang bergelar kota pahlawan, adakah situs sejarah yang bisa dengan cepat menhantar kita menggambarkan peristiwa 10 Nopember ?
Saya beberapa kali mengamati gedung Internatio yang kini nampak kumuh, hotel Mojopahit juga Tugu Pahlawan tapi usai sekian waktu menatapnya browser yang ada dikepala ini selalu pulang dalam keadaan hampa. . . .not connecting.
Emosi ini datar-datar saja, seolah gedung dan bangunan diatas tak ubahnya gedung dan bangunan yang lain. Jiwa ini gagal dalam menangkap pesan historis yang pernah ada.

 

Entahlah, apa karena rasa nasionalisme diri ini yang mulai menipis atau memang karena petilasan jaman perang 10 Nopember itu yang kurang berhasil dalam mempresentasikan kehebatan arek arek Suroboyo toempoe doeloe. . . . . . . . . . . .
Sekilas aku teringat ungkapan, sebuah foto lebih mampu berbicara dibanding 1000 kalimat.

Sayup sayup terdengar Allahu akbar, allahu akbar, pekikan bung Tomo dalam sebuah film dokumenter yang kini sepertinya sudah tak lagi beredar. . . . . . . . . membangunkanku dari lamunan disuatu petang.

5 Responses to “Saksi bisu”

  1. gajah_pesing :

    Merdeka!! Kobarkan semangat Merah Putih di tanah pertiwi..

  2. nothing :

    merdeka juga..

  3. mantan kyai :

    postingan ini dalam rangka apa yah:D tetapi saya setuju kok. gimana bisa konek kalo kita liat yg menjadi raja di hotel mojopahit masih saja bule2 anak cucu belanda. ah.. mbuh

  4. mudz069 :

    @mantan kyai. . . . . . . .postingan ini secara khusus tentu saja dalam kerangka hari pahlawan.
    Lho koq sekarang ?
    Menurut buku 100 hari pertempuran 10 Nopember Ruslan A.Gani, seingatku prosesnya dimulai tanggal 19 September. . . . .
    Secara umum, postingan ini ya untuk kota tercinta, tempat aku dilahirkan.
    Ndak ada salahnya khan berpikir tentang Surabaya setiap saat tanpa harus menunggu datangnya hari pahlawan ?

  5. torasham :

    iya bener…
    kemungkinan besar karena, saksi itu sama sekali tidak menggambarkan lagi kejadian itu. coba liat aja hotel majapahit, keadaan hotel dan sekitar hotel tidak menceritakan apapun kejadian masalalu.

    Yang lebih mengenaskan, nampaknya orang2 Surabaya tidak peduli lagi akan hal ini. Maklum aja, tingkat kesulitan hidup dalam masyarakat, membuat orang2 lebih berpikir untuk menghidupi kebutuhannya daripada sekedar “nostalgia” masa lalu.

Leave a Reply