Seabad Kebangkitan Nasional

20 Mei, bangsa ini akan memperingati kembali Hari Kebangkitan Nasional, untuk keseratus kalinya sejak pertamakali gerakan Boedi Oetomo muncul di negeri ini. Berawal dari kepedulian seorang Dr. Soetomo akan nasib bangsa ini yang dianggap tidak bermartabat, bahkan diinjak-injak oleh bangsa lain, dalam hal ini bangsa Belanda di waktu itu. Bersama beberapa temannya seperti Goenawan Mangoenkoesoemo, dan beberapa rekan lain, mereka serius memikirkan bagaimana membuat bangsa ini bangkit kembali.

Dari kumpul-kumpul di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen, para mahasiswa peduli bangsa ini juga mengamati, banyak kalangan masyarakat sendiri, ternyata lebih eksklusif dalam pergaulan mereka, dengan membentuk perkumpulan-perkumpulan yang anggotanya sesama mereka sendiri. Yang Tionghoa ya kumpulnya sama sesama Tionghoa, yang Jawa juga begitu. Dari situlah, para pemuda ini berkeinginan membentuk sebuah perkumpulan yang anggotanya multi ras, yang tidak semata hanya untuk ajang kumpul belaka, tapi juga untuk membantu bangkitnya bangsa ini, dengan sumbangsih apapun yang mereka miliki. Anggotanya selain multi ras, juga multi dimensi, tidak memandang kaya dan miskin maksudnya.

Hari Minggu 20 Mei 1908, lahirlah sebuah gerakan yang akhirnya dinamai Boedi Oetomo. Pada masa pergerakan ini, ada beberapa kali pergantian pemimpin, termasuk tentunya ada perbedaan-perbedaan pandangan tentang visi dan misi pergerakan ini. Tapi apapun, perkumpulan ini sudah memberikan bukti, bangsa Indonesia mampu bangkit dari keterpurukan, dan diharapkan tidak lagi diinjak-injak bangsa lain.

99 tahun berlalu, dan tahun ini kita masuki tahun keseratus, atau genap seabad gerakan yang kemudian masuk sebagai ikon Kebangkitan Nasional. Beberapa acara memperingati hari besar nasional ini sudah mulai digelar, seperti dari klub motor besar, atau dari instansi dan institusi lain. Tapi coba kita lihat, apakah memang perjuangan bangsa untuk bisa bangkit dari keterpurukan sudah menuai hasil? Karena dulu kita pernah mengenal “Era Tinggal Landas” yang ternyata sampai sekarang tidak membuat bangsa ini bisa terbang melayang dengan kesuksesan dan keberhasilan. Justru yang ada, di masa seabad Kebangkitan Nasional, bangsa ini dihadapkan pada kenyataan yang tidak asyik; harga-harga melonjak, orang antri minyak tanah seperti jaman Jepang, ditambah lagi dengan rencana kenaikan BBM, yang konon akan diumumkan akhir Mei ini.

Kalau toh ini ujian, semoga ini adalah pemicu semangat bangsa ini untuk bisa bangkit kembali, entah bagaimanapun caranya. Kondisi saat ini, rasanya tidak layak disebut sebagai kondisi bangkit. Bahkan saat inipun, kita masih diinjak-injak bangsa lain. Tentu teman-teman ingat dengan larangan Uni Eropa terhadap maskapai kita. Sampai sekarang, tidak satupun maskapai kita diizinkan terbang ke negara-negara anggota UE, dengan alasan keselamatan. Ini baru satu, belum lagi tekanan untuk divestasi alias privatisasi aset-aset negara, dengan alasan untuk memberdayakan keuangan negara, ditambah lagi dengan tekanan-tekanan lain dari negara besar lewat lembaga keuangannya, supaya Indonesia tunduk dan patuh terhadap mereka, dengan mengatur negara ini sesuai mekanisme pasar, agar pemerintah bisa mendapat untung dari pengelolaan aset. Pemerintah untung? Rakyatnya bagaimana? Wong BLT aja masih baru siap di 6 kota. Padahal BBM udah mau naik lagi, dan itu berlaku nasional. Kalau naiknya hanya di 6 kota yang BLT-nya siap sih no problem. Itu aja belum jelas juga bagaimana mekanismenya.

Seabad Kebangkitan Nasional kita peringati. Kapankah bangsa ini bangkit, sesuai yang dicita-citakan Dr. Soetomo dan kawan-kawannya?

5 Responses to “Seabad Kebangkitan Nasional”

  1. pandu :

    Pertamax 😎
    *ngamankan posisi*
    Bangsa sedang memperingati Harkitnas, sedangkan saya juga akan bangkit di saat yang sama.
    *pasang wajah sok keren*
    *dibakar*

  2. Ning Chiw :

    ah, harkitnas yang bertepatan dengan hari raya …

    pilih mana ya… merayakan harkitnas atau vesakh day… ato dua duanya sekalian ya? :mrgreen:

  3. det :

    ah kalo melihat sekarang ini kayaknya masyarakat kita sudah terpolarisasi lagi, cak yuki..

    etnis ini jadi pemilik toko besar2
    etnis itu jadi pengusaha besi tua
    etnis yang lain lagi pada jadi pengacara kondang
    etnis yang lain hanya bisa melongo karena gak kebagian jatah

    seolah tidak ada pembauran. bukankah kita berada di tanah Indonesia yang satu?

    kalo bisa maju menuju kesejahteraan bersama sih gak masalah, tapi yang ada sekarang ini cenderung memperkuat etnisnya sendiri2..

    adanya kampus2 dengan mahasiswa didominasi entis tertentu menurut saya merupakan bibit dari perpecahan bangsa! lulusan mereka akhirnya membuat konglomerasi bisnis sendiri dengan mengabaikan etnis lainnya. solusinya menurut saya pemerintah harus tegas, bahwa lembaga pendidikan harus memberikan porsi yang sama kepada semua etnis, biar terjadi pemerataan pembauran..

    *cek ke atas, udah panjang, dilanjut di postingan sendiri aja*

  4. aRuL :

    semua kalangan baik muda dan tua harus saling berjibaku dalam membangun bangsa ini. bukannya saling menyalahkan 😀

  5. icha :

    acara peringatan seabad kebangkitan nasional yang ditayangkan tadi malam kayanya daa yang kurang deh….,

Leave a Reply