Selama Maret 2008, 3 Balita Gizi Buruk Meninggal Dunia

Jika Jawa Pos edisi 2 April 2008 mencatat 47 pasien gizi buruk yang dirawat di RS. Dr. Soewandhi Surabaya dengan 3 korban meninggal dunia, maka tanggal 3 April kemarin meningkat menjadi 52 pasien. Angka resmi didapat dari RS. dr. Soewandi setelah tim TPC mendatangi rumah sakit di jalan Tambakrejo ini.

Sumber foto: Jawa Pos.

Tak hanya balita, rilis angka yang dikeluarkan rumah sakit ini menunjukkan bahwa pasien gizi buruk di ruang dewasa menembus angka 40 dalam 3 bulan terakhir, terhitung Januari hingga Maret. Total pasien yang pernah dirawat berjumlah 92 orang. Angka fantastis untuk satu rumah sakit di sebuah kota metropolitan bernama Surabaya.

Menurut penuturan dr. Slamet, M.Kes, humas dan informasi RS. Soewandhi, pasien kebanyakan dari kalangan tidak mampu. Ada yang berprofesi sebagai tukang becak, kuli bangunan, kuli harian, serabutan bahkan ada yang tak bekerja. Dapat dipastikan bahwa sebagian besar penderita gizi buruk memang karena kemiskinan meski tak semua begitu. Salah satu kasus kematian Raka Azzura, salah satu bayi kembar yang meninggal dunia, selain karena gizi buruk, sejak lahir memang kelainan karena lahir prematur dengan berat 2,3 kg.

Sementara itu, pasien yang sedang menjalani rawat inap di rumah sakit milik pemerintah kota Surabaya ini berjumlah 11 orang. Sayangnya, untuk pasien dewasa, redaksi TPC belum menerima data lanjutan riwayat pasien. Banyaknya pasien gizi buruk menjadikan rumah sakit ini kebanjiran order data terutama dari kalangan wartawan, dari pemerintah sendiri sudah memanggil pihak rumah sakit untuk dimintai keterangannya di kantor DPRD Surabaya. Bahkan data yang diminta tak lagi 3 bulan terakhir, tapi 3 tahun terakhir. DPRD Surabaya berencana mengalokasikan anggaran lebih untuk menangani kasus ini, tutur dr. Slamet. Seluruh pasien yang berobat ke RS. dr. Soewandhi yang memilki kartu tidak mampu atau kartu keluarga miskin dibebaskan dari biaya pengobatan dan perawatan. Seluruh biaya ditanggung oleh pemerintah.

Masalahnya, kebanyakan yang masuk rumah sakit sudah dalam keadaan akut sehingga seringkali menyulitkan dokter dalam penanganannya. Ada lagi, setelah sembuh dari rumah sakit tapi tak lama kembali lagi dirawat karena sehari-hari mereka dalam kekurangan dan kurang asupan gizi. Ini yang perlu dipikirkan. Bagaimana caranya agar mereka setelah keluar dari rumah sakit asupan gizinya terjaga.

[gempur, khuclukz, rere, det, evie]

24 Responses to “Selama Maret 2008, 3 Balita Gizi Buruk Meninggal Dunia”

  1. gempur :

    Pertanyaan untuk kita semua? Apa yang bisa kita lakukan selain hanya mendengar dan melihat serta prihatin?!

  2. dadan :

    simple aja. Potong cost rokok, jajan yang gak perlu, biaya hura-hura, dan ongkos-ongkos lain yang gak perlu 😀

    Alihkan ke anggaran sosial.

    Bayangin : Misal,
    1 pak rokok 10.000
    2 x seminggu beli rokok = 20.000
    Ongkos rokok sebulan = 80.000
    Setahun = 960.000 kira-kira setara 1 jt

    Ongkos pendirian panti asuhan yang dapat menampung 60 siswa (500 jt) dan operasional (makanan bergizi, pendidikan dll = 300jt) dalam setahun, kira-kira = 800 jt

    Bila ada 800 perokok mendukung acara ini, maka tiap tahun kita bisa bikin 1 panti asuhan = 60 anak yatim-piatu bisa terselamatkan, baik secara gizi maupun pendidikannya.

    Coba hitung berapa yang bisa kita cover dengan penghematan biaya dugem, hura-hura, gonta-ganti HP yang gak perlu dsb ? 😀

  3. dadan :

    .. yang tadi sekadar contoh simple saja …
    plus opini dari pikiran naif. Angka referensi saya ambil secara pembulatan dari panti asuhan Al-Qomariyah, Penjaringan (dekat UPN).

  4. aRuL :

    kalo dalam waktu dekat ini sumbangan buat mereka sangat berarti, nah untuk langkah selanjutnya sebaiknya disediakan program jangka panjang karena permasalahan utama yah tentunya itu adalah kemiskinan.
    Ada lagi nih, kampanye anti kelaparan dan gizi buruk di daerah2 yg sering terkena musibah itu, baik itu berupa penyuluhan maupun pembagian selebaran/stiker dll.

    *wekz byk yg ikut yakz kemaren? 😀
    btw kapan nih kita lanjutkan aksinya, ada kumpul lagi ngak?*

  5. det :

    penyebab gizi buruk ini adalah masalah kemiskinan. sebagai langkah awal, memberikan bantuan instant diperlukan untuk menolong pasien yang butuh penanganan segera

    tapi ke depan perlu dipikirkan bagaimana mengurangi kemiskinan tersebut..

  6. ndop :

    kalo menurutku, bagaimana kalo mereka2 itu ditransmigrasi saja????

    mau nggak ya mereka?? yaa.. dari pada mereka kelaparan di surabaya??

    **sorri.. ini hanya solusi dari orang gila**

  7. Rizal :

    Jadi inget***
    Dulu rumah saya selalu dijadikan tempat posyandu. Tetapi beberapa tahun belakangan sudah tidak ada lagi kegiatan. Ini ternyata tidak hanya terjadi di kampung saya saja… Mungkin hal yang sebagian kita menganggap sepe gini juga punya andil terhadap masalah ini…

  8. Astri :

    Masalahnya, kebanyakan yang masuk rumah sakit sudah dalam keadaan akut sehingga seringkali menyulitkan dokter dalam penanganannya.

    Koreksi istilah, harusnya rata2 masuk dalam keadaan kronis alias berkepanjangan. Kalo akut artinya baru aja terjadi, bukannya menyatakan tingkat keparahan.

  9. neng-shei :

    Ikut andil dlam kegiatan sosial, kalo ndak bisa menyumbang dana, sumbangkan pikiran atau tenaga..
    ^^
    Semoga saja saia bisa ikut mbantu…

  10. putri :

    klo menurutq, justru ksadaran masyarakatny sndiri yg kurang utk urusan kesehatan,,

    seperti kt mas rizal, posyandu skrg dah nggak ada gaungnya lg,,
    org miskin berobat kok kyny dipersulit,,

    q stuju jg sm mas dadan, qta hrs ‘kencangkan ikat pinggang’,,
    inget nasib sodara2 yg kurang bruntung,,

    tapi para penggede jg mestiny ngasih prhatian lebih dong, jgn non-penggede doang,,

  11. -k- :

    Menarik sekali artikelnya, setelah sebelumnya telah terjadi kasus yang sama di Makassar. InsyaAlloh, ini akan menyadarkan kepada kita semua, tentang kesadaran akan lingkungan disekitar kita, bukan hanya kesadaran lingkungan tentang kebersihan, ketertiban dan keamanan, tetapi hal-hal yang seperti ini juga harus diperhatikan.

    Maka, mari kita mulai dari lingkungan sekitar kita!!

  12. tu2t :

    hum… bener kata deT..
    untuk mengurangi yang namanya kemiskinan, bantuan instant sangat diperlukan, untuk jangka pendek saja.. jadi kita bisa menyuntik dana untuk itu…

    tapi permasalahannya, mereka akan terlena jika selalu mendapat “suntikan”.. bagaimanapun kita harus ikut mendidik mereka.. karena yang namanya kemiskinan, imbasnya ke segala faktor..

    jadi, kita setidaknya berfikir lebih jauh kedepan.. dan tak hanya memikirkan cari sumbangan… setidaknya, dana yang didapat dapat disalurkan dalam 2 hal.. uang, ato bentuk lain..

    gimana, pak gempur??

  13. farid :

    sebenarnya tanggung jawab sepenuhnya berada di tangan pemerintah selaku pengayom rakyat kecil, tapi kalo sampai muncul kasus seperti ini saya setuju dg komen pak Arul…
    salam kenal semuanya…

  14. dadan :

    @tu2t
    yak betul ! 😀
    selain mikir untuk jangka pendek, kita juga harus mikir untuk jangka panjang dan dalam area yang lebih luas. Artinya kita harus berpikir secara sistem. Dalam hal ini kita coba berpikir perubahan paradigma/pola pikir (**halah ! kemeruh !**)

    Metodenya ?
    Ajarin cara memenuhi asupan gizi secara swadaya dan mandiri. Ndak perlu beli 😀 nanem atau piara sendiri.
    Teknisnya bisa memanfaatkan penyuluhan secara periodik di posyandu atau balai desa. Syukur kalo ada stasiun TV yang mau tayangin cara-caranya.

    Contoh :
    1. Piara belut sendiri di bekas galon Aqua. Ini untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Belut adalah hewan yang (masih) mudah diperoleh di sini. Ada banyak alternatif lain selain belut, ahli gizi yang lebih tahu.

    2. Budidaya sayuran dan umbi-umbian (tolong dibantu listnya, saya kuli, bukan ahli gizi) secara mandiri dengan memanfaatkan kaleng bekas atau ember. Paling nggak ini bisa memenuhi kebutuhan sekeluarga. Syukur2 kalo RT-nya mau cawe-cawe, bagi-bagi tugas nanem/miara ke warganya !

    3. Budidaya lele di gentong/tong bekas! Murah, meriah, cepat dan mudah! Tinggal di ajarin triknya saja. Ya, kan, le ? (**eh salah..*)

    4. Pembukaan sumur-sumur air di dekat lokasi miskin air, sebagai sarana pendukung kegiatan diatas. Ini wewenang regulator.. (**hoe.. pada denger gak ?? **)

    5. Bikin mereka melek financial mengenai pengelolaan duit (jangan ketawa, tak cucup mbun-mbunanmu!).

    See .. ? Jangan sering kasih ikan, tapi ajarin cara mancing+sekaligus bikin alat pancingnya.

    Masih inget kan Surabaya Green and Clean ? 😀 Coba kalo budaya warga saat Lomba tsb di transfer ke dalam masalah ini.

  15. dadan :

    Ada yang mau nulis tentang cara budidaya dirumah secara mandiri ‘for dummies’ sebagai solusi untuk kekurangan gizi ? Media untuk pembudidayaannya harus mudah, murah, gak perlu bondo, barang-barang bekas, nunut yo gak popo …

    1. Belut, lele, mujair, wader
    2. Telo, Bayem, Tomat, Cabe (opo maneh?)

    Pokok-e piye carane gak usah mbayar, gak usah tuku, ngingu dewe, nandur dewe.. hehehehe

    Baru kalo masalah kurang gizi udah tergarap, kita garap yang masalah kemiskinan. Konsepnya sama, kemandirian..

  16. aRuL :

    @ dadan : wah keren banget usulnya kayaknya sangat perlu disampaikan ke mereka, salut mas 🙂

  17. Neng-Shei :

    @dadan: saia sepakat dg mas Arul.Idenya Mantap!
    That”s what mom always says to me (yo ngunu iku jare Mbokku) kasih kail,jangan ikannya aja,ntar keenakan trus malah ‘nglali’..
    Sip Sip
    sekarang tinggal satu mas..
    Silakan sosialisasikan ide sampean pada mereka, supaya afdhol,kan lbh enak kalo yang punya ide sendiri yang menyampaikan..Piye, piye?
    Sepakat sodara-sodara?

  18. dadan :

    @Neng-Shei
    weleh….


    nemu satu : budidaya belut : http://www.pusri.co.id/budidaya/perikanan/BELUT.PDF

  19. aRuL :

    @ shei : hehehe 😀

    Oia tadi sempat ngobrol dengan teman saya anak FKM Unair,
    ternyata mereka memang punya program revitalisasi peran Posyandu yang katanya rizal sudah turun perannya dimasyarakat.
    Karena emang dari dulu posyandu tempat bagi cek kesehatan dan sebagainya tiap bulannya uang diasuh swadaya oleh masyarakat sendiri intinya dari masyarakat untuk masyarakat, yang tentunya diberikan pelatihan sebelumnya dulu.
    DI posyandu itu bisa mencegah gizi buruk karena ada pemeriksaaan berat badan/ IDM sehingga diketahui seorang bayi itu gizi kurang kah atau sudah sampai gizi buruk.
    Kembali lagi ke peran masyarakat untuk membangun peran posyandu.
    Mungkin bisa menjadi salah satu materi kampanye jangka panjang kita loh.

    Sebagai tambahan selain kampanye nanti emang perlu sering terjun ke masyarakat melihat kembali apakah program yang dianjurkan berjalan dengan baik atau tidak, karena seringnya kampanye itu hanya diawal saja, jika sudah lama masyarakat juga sudah bosan.
    memang dibutuhkan semangat 45 untuk melakukan perubahan di masyarakat kita.

  20. dadan :

    Busyet nih posting panjang amat yang koment, kalo di resume bisa jadi posting baru,.. wakakakaka….

  21. Mahasiswa Indonesia Antara Gerakan dan Harapan « sebuah perjalanan :

    […] lagi Busung lapar yang melanda.. sampai awal april ini di Rs. Dr. Soedomo Surabaya, 3 bayi meninggal akibat busung lapar… Penggusuran-penggusuran PKL menjadi kegiatan rutin, atas nama tata kota dan ketertiban mereka […]

  22. Gempur Media » Blog Archive » Pasien Gizi Buruk: 3 Meninggal 11 Dirawat :

    […] Sampai dengan 3 april kemarin, jumlah pasien yang diterima oleh RS. Soewandhi milik Pemerintah Kota Surabaya 92 orang dengan pasien terbanyak balita sebanyak 52 dan dewasa 40 orang. Jumlah tersebut akumulasi selama 3 bulan dari Januari hingga Maret. Pasien tertinggi bulan Maret menyentuh angka 27 balita dengan korban meninggal sebanyak 3 orang. Berita selengkapnya di sini. […]

  23. GOBANG B.A :

    Sebenarnya faktor kemiskinan yang membuat mereka telat membawa yang sakit ke RS, kalo mereka ada uang ga mungkin mereka menunggu lama sampai si penderita sampai akut… coba adilah jadi pemimpin karena rakyat biar sudah di bohongi selalu mendo’a-kan pemimpin-nya seperti lagu ” selamat para pemimpin rakyat-nya makmur terjamin ” tapi mana bukti-nya… jadi wahai rakyat miskin yang menderita kalian ber do’a saja meminta kepada ALLAH SWT supaya mereka itu semua di KUTUK di dunia & di akhirat karena Insya ALLAH do,a orang-orang yang ter-aniaya & tertindas DI IJABAH ( di kabulkan )KUTUK 7 turunan biar mereka & keturunan-nya merasakan penderitaan orang-orang yang serba kekurangan dan menderita lahir & bathin….!!!

    Wassalam

    Gobang B.A ( Betawie Asli )

  24. Mahasiswa Indonesia Antara Gerakan dan Harapan | Azaxs Dot Net :

    […] lagi Busung lapar yang melanda.. sampai awal april ini di Rs. Dr. Soedomo Surabaya, 3 bayi meninggal akibat busung lapar… Penggusuran-penggusuran PKL menjadi kegiatan rutin, atas nama tata kota dan ketertiban mereka […]

Leave a Reply