Senyum mereka amat bermakna

Melihat orang lain tersenyum memang menyenangkan, apalagi setelah tau penderitaan dan lika-liku kehidupan yang mereka tempuh selama ini. Melihat senyum yang merekah dibibir mereka sungguh suatu keindahan yang tiada tara.

Sekedar sharing tanpa tendensi apa-apa, waktu itu saya sedang naik angkutan umum yang lumayan sepi penumpang. Jalanan macet. Udara sejuk sore membuat saya mengantuk. Begitu mata kriyep-kriyep dan ingin segera tidur, tiba-tiba Mak menegur saya galaknya..

Cah wadon ‘ra pareng turu sembarangan!
(Anak wanita tidak boleh tidur sembarangan!)

Saya-pun mengurungkan niat untuk tidur dan kembali memelototkan mata, mengawasi apa saja. Banyak penumpang yang naik, banyak pula penumpang yang turun. Alhasil, mata ini yang sejak tadi mengamati jalanan, jadi ikut mengamati kejadian-kejadian luar biasa yang ada di dalam angkot.

Dibalik melonjaknya harga BBM dan naiknya harga sembako, ternyata keegoisan dan sikap arogan kita layak diinstrospeksi.

Ceritanya, waktu itu ada beberapa penumpang yang sudah bisa dibilang akil baligh alias gede tapi tetep saja tidak ingin keliatan tua. Mereka memaksa membayar ongkos angkot dengan uang sejumlah:

1000 Rupiah saja! (Dari yang seharusnya 2700 Rupiah!)

Padahal jarak yang ditempuh lumayan jauh dan menurut saya seribu rupiah sangat tidak pantas dibayarkan oleh orang yang berakal sehat!

Mangkelnya, tidak hanya satu yang melakukan hal tersebut. Ternyata banyak juga yang mendzalimi supir angkot tersebut. Apa namanya kalau bukan arogansi manusia yang mau seenaknya saja tanpa memikirkan penderitaan orang lain?

Apa yang saya lihat dari sopir angkot tersebut?

Bukan seorang pria yang selalu bergelut dengan kemudi angkotnya.
Bukan seorang warga yang memberikan service kepada warga lainnya.
Bukan seorang penyewa angkot yang harus menyetor ke juragannya.

Tapi, saya memandang pria itu sebagai PENCARI NAFKAH KELUARGA!

Yah, saya berfikir seandainya itu bapak saya, saya pasti akan sedih melihat kepayahan yang ia alami tanpa mendapatkan penghargaan yang layak. Keringat yang ia cucurkan seakan terbuang tanpa arti dan menuai ketidakpuasan keluarga yang menjadi tanggungannya.

Yang paling membuat saya salut adalah, supir tersebut hanya tersenyum tertahan dan bermimik datar menerima seribuan tak beradab itu tanpa berkata apa-apa.

Miris hati saya melihatnya!

Bagaimana supaya pak sopir ini bisa tersenyum? Tentu saja dengan menciptakan atmosfer yang setidaknya bisa mengatasi kegundahan hati akan setoran hari ini.

Ambil saja kembaliannya, Pak!

Sebuah ucapan tanpa arti yang meluncur dari mulut saya agaknya menenangkan kecamuk dalam hatinya.

Alhamdulilah…

Sesaat kemudian, saya menerima ucapan, “Makasih ya, Mbak” darinya disertai senyuman. Inilah yang saya tunggu, sebuah senyuman darinya. Entah mengapa, hati ini menjadi plong…

Mungkin apa yang saya lakukan tidak termasuk dalam perbuatan baik, dan naif sekali apabila mengharapkan pahalanya atasnya. Yang saya perbuat tadi hanyalah suatu pemenuhan kepuasan hari ini.

Benar saja, setelah melihat senyum pak sopir tersebut, rasa puas menghinggapi dada. Setidaknya saya bisa tidur nyenyak tanpa teringat kegundahannya dan menyesal karena tak bisa berbuat apa-apa.

Haruskah kita tetap bersikap arogan seperti itu?

 

*Salam, Ning Shei, http://haruskah.net*

15 Responses to “Senyum mereka amat bermakna”

  1. gandhi :

    deeeeeeeeeeeeee

    bener-bener menggugah. Ayo neng teruskan cara-cara kritik seperti ini, saya dukung!!!

  2. Neng-Shei :

    Iya mas GAndhi, itu hanya kebetulan seorang cewe yang terpaksa naik angkot kok. Saia masi punya banyak cerita..
    Nyante aja….
    Ditunggu yap..
    *Pilih-Pilih Materi*

  3. kktian :

    ini pas kebetulan sopirnya baik hati, ada kala sopir yang berontak ketika jerih parahnya tidak dihargai orang lain!

  4. risdania :

    Katanya sekarang jaman edan,yang ga edan ga keduman,,pemerintah mulai edan ambil keputusan,rakyat mulai edan nyambung hidupnya.
    untungnya di jaman yang mulai edan ini masih ada orang2 sabar,yang kadangkala sabar juga yang menjadi tongkat penyanggah hidup.

  5. avy :

    Ah saya salut dengan neng shei ini yang masih bisa melihat di jaman yang apa-apa harga tuh berubah..bukan naek.
    itulah Power of Sedekah, kadang bisa memberikan senyuman. semoga amal kebaikan neng shei diberi balasan oleh Allah swt.

  6. avy :

    emang tarip angkot berapa ya?
    aduh saya jarang naek angkot nih.maap.

  7. tu2t :

    ^kalo gk salah tarip angkot tuh 2000 ato 2500 gituh..

    wah.. ternyata si eneng jeli juga melihat situasi.. next time (kalo bisa) pake image dunks.. biar lebih keren, gituh 😀

  8. det :

    wah kok masih ada ya sopir angkot sebaik itu? mungkin usianya sudah tua. kalo yang muda biasanya galak dan suka ngawur di jalan!

    atau mungkin dalam hatinya berkata: “apakah ini balasan dari-Nya karena saya telah berhenti di sembarang tempat dan membuat kendaraan lain mengerem mendadak?”

  9. Rere :

    jadi inget waktu naek angkot kemarin dari malang,deg2an,seru plus nostalgia :p neng-shei,keep on ur gud work 🙂

    mari berlomba-lomba dalam kebaikan 🙂

  10. Yunan :

    Mungkin hanya sedikit loh , pak sopir yang seperti itu.. Yang pernah saya lihat sih , kalo ada yg bayar kurang , pasti pak sopir tereak2 “kurang mas!!” , dan kalo si penumpang ngeloyor aja , langsung deh keluar kata “mutiara” orang marah surabaya hahaha…

    Keep on that way neng 🙂

  11. neng-shei :

    @ ALL: hahaha…yah begitulah, tapi sopirnya masih muda lah, ya kira-kira seumuran sama bapak saia. Makanya saia kesian…
    Sebenarnya saia sudah bilang, bukan sedekah, cuma sekedar ‘membuat suatu usaha’ supaya orang itu bisa tersenyum lah..
    Hehehe….
    Masalah sopir2 yang hobi ‘berkata-kata mutiara’ emang sering menjengkelkan sih. Makanya saia menaruh respek teramat sangat kepada supir yang saia bilang tadi.
    Anyway..
    Wuaaaaaa
    Saia ndak punya kamera, jadi ndak bisa nangkep poto hukz..
    Ada yang mau minjemi?
    😉

  12. Mus_ :

    hmm..
    supir paling mantep sedunia kalau begitu.
    kalau di makassar, si supir pasti sudah memaki sejadi-jadinya. :))

  13. Shei :

    Wakakakka….
    Serius?

    Tapi emang 1001 deh kasus kayak yang kualami……

  14. Fandy :

    ya liat liat dulu siapa yang bayar 100o itu… kadangkala supir nya kan udah kenal ma yang naek angkotnya… makanya dia gak masalah dibayar cuma seribu… bisa juga yang naek angkot itu juga sama-sama lagi cari uang sama kayak supirnya… jangan salah lho… kadang-kadang hidup di jalanan itu gak se’buruk’ yang kita pikirkan… ada nilai-nilai toleransi, saling menolong, dan saling menghormati yang kadangkala tidak bisa kita liat karena hati kita gak terbiasa.

  15. Nichi :

    @ ALL :
    Semoga amal baik neng-shei dapat menulari kita sebagai pembaca.
    @ Semua Sopir Bemo :(nek moco)
    Bersabar ya pak, orang sabar disayang Tuhan.
    Pak sopir jangan ikut-ikutan ugal-ugalan kalau ngemudi bemo, ingat anak and istri.
    Plz, deh pak jangan motong dalan lan ngerem sak karepe dewe, Trims Wassalam.

Leave a Reply