Shine dan wanita Indonesia

Pada akhir bulan maret kemarin, yahoo.inc me-release situs yang menargetkan khusus para wanita berumur antara 25-45 tahun, Shine. Alasan utama Shine menargetkan wanita dikarenakan wanita lebih banyak sebagai “decision maker” dalam rumah tangga terutama urusan belanja, Masih menurut Yahoo, banyak pemasang iklan yang berusaha menjangkau konsumernya lebih “dekat dan langsung”, terutama untuk barang-barang rumah-tangga, retail dan produk-produk farmasi. Inilah alasan utama diluncurkannya situs khusus wanita ini.

Menurut Amy Iorio, vice president for Yahoo Lifestyles, riset juga menunjukkan bahwa para wanita menyenangi situs yang mengkombinasi antara konten bervariasi (termasuk advertising didalamnya) dan tool komunikasi yang terdapat situs tersebut (YM&mail yahoo terbukti sangat efektif untuk Yahoo memasarkan iklan-iklannya). Masih menurut Iori, “”These women were sort of caretakers for everybody in their lives,” They didn’t feel like there was a place that was looking at the whole them — as a parent, as a spouse, as a daughter. They were looking for one place that gave them everything.”

Para wanita manapun di dunia ini seperti “makelar dalam hidupnya sendiri”. Belanja adalah nomor satu bagi mereka. Dan yang paling utama menurut Iori, females tend to blog more than males.”

Riset internal yang dilakukan yahoo ini justru harusnya “membuka mata kita”. Harus kita Tanya kepada yahoo terutama bagian Lifestyle nya……..”sudahkah anda melakukan riset ini kepada wanita Indonesia…?”

Shine jelas menargetkan untuk wanita yang “melek tehnologi” dan itu bukan untuk wanita Indonesia….!!!

Sebagian besar wanita Indonesia masih “gaptek”, walaupun banyak yang sudah mampu menguasai tehnologi informatika (computer dan internet) namun sampai sejauh mana…? Berapa persen jumlahnya diseluruh rakyat Indonesia..? Disaat wanita-wanita di luar negeri sudah mahir mengoperasikan computer dan internet (bahkan banyak yg menggantungkan hidupnya melalui jual-beli online), wanita kita, Indonesia, masih berkubang dalam kemiskinan. Jangankan internet, memegang computer saja tidak pernah. Ini kenyataan pahit yang tidak bias kita pungkiri. Rasanya, semakin lama Indonesia semakin jauh tertinggal.

Bagaimana ini wanita-wanita Indonesia….? Akankah kalian harus menunggu kembali kartini-kartini modern yang bisa me-remping kabel LAN, mengoperasikan windows dan Linux, blogging, menguasai sricpt php, vbulettin dan lain-lain yang berbau informatika..? kenapa tidak berusaha menjadi kartini seperti ini…?

17 Responses to “Shine dan wanita Indonesia”

  1. Alfa :

    sebenernya engga se tertinggal itu.. wanita Indonesia.. Banyak juga wanita Indonesia yang bisa,, bahkan ahli dalam bidang IT dll. tpi kurang muncul ke permukaan.. atau cuma terpusat di kota2 besar Indonesia Karena pendidikan emang belum rata, kmaren saya menghadiri pelatihan yang diadain oleh kantor, yang kebetulan mendatangkan pihak ORACLE sebagai pembicara, dan yang menjadi tenaga ahli sekaligus pembicara adalah seorang wanita Indonesia aseli. Tinggal tunggu aja tanggal mainnya maka akan terlihat kemampuan sebenarnya dari wanita bangsa ini.

  2. leipzic :

    wah, masih berhubungan dengan Kartini juga nih… Menurutku juga benar sih, bahwa banyak juga kok wanita Indonesia yang sudah melek teknologi. Tapi memang persentasenya, aku rasa masih nggak banyak dibanding keseluruhan wanita di Indonesia.
    Indonesia boleh tertinggal, tapi Indonesia tidak akan tertinggal untuk selama2nya. Mungkin spirit ini yang kita harus miliki. Jadi, mari, sekali lagi, kita bersama2 memikirkan dan bertindak sesuatu bagi kemajuan bangsa ini…

  3. Chubby Panda :

    Waduh duh…! Daku ga setuju tuh ama opini seperti itu. Sebenarnya wanita tidak bisa dibilang tertinggal untuk hal IT. Bayangkan berapa persen dari total penduduk seluruh Indonesia yang punya komputer atau bahkan minimal yang tahu cara pakainya deh.

    Di negara kita ini IT masih dianggap sesuatu yang merupakan mahal dan eksklusif karena masyarakat kita kurang punya daya beli untuk IT. Jangan dibandingkan sama negara2 maju donk. Di negara2 maju IT itu bukan sesuatu yang sekunder lagi bahkan sudah menjadi kebutuhan primer dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang mahal. Sedangkan kalo di sini kita mau belajar aja sulit kalau tidak ada uang. Belajar IT kan butuh uang juga minimal mulai dari beli komputer sebagai infrastrukturnya terus kalo kita mau belajar sendiri minimal harus keluar duit lagi buat beli buku atau internet. Nah apakah sebagian besar masyarakat kita mampu beli? Sama2 tahu sendiri kan berapa angka kemiskinan di Indonesia.

    Belum lagi masalah kesetaraan gender. Memang kita sudah memperingati hari Kartini tapi emansipansi itu masih jauh kalo dibandingkan di negara2 maju. Kalo di negara2 maju suami bisa diajak kerja sama “ngemong” anak sedangkan wanita belajar atau bekerja nah kalo di sini berapa persen ada yang mau begitu??

    Saya percaya wanita Indonesia bukannya tidak mau belajar. Mereka pasti berkeinginan untuk belajar dan bisa tapi situasi dan kondisinya yang lebih banyak tidak memungkinkan. Jadi kalo menurut saya jangan salahkan wanita tapi lebih baik berharap negara kita cepat naik tingkatnya dari negara berkembang jadi negara maju misalnya seperti Korea supaya wanita punya lebih banyak kesempatan untuk belajar dan berperan lebih banyak di masyarakat.

    By the way,hal ini saya telah saya rasakan sendiri berhubung saya sendiri orang IT dan saya tahu benar tidak sedikit orang IT yang mau belajar tapi terhalang oleh kondisi ekonomi, baik pria maupun wanita.

  4. avy :

    Banyak juga wanita indonesia yang kaya yang tidak lewat pegang-pegang komputer.

  5. Chubby Panda :

    @avy:
    Yah brapa persen sih yang kaya dibanding yang tidak kaya? Jgn dipukul rata melihat yang kaya donk. Yang mayoritas kan yang bkn golongan atas. Masa hanya karena ibu2 yang kaya tapi gaptek trus wanita generasi muda Indonesia dianggap sama juga.

    Dan masalah kaya tapi gaptek IT itu juga karena masalah budaya tadi. Maklum di indonesia IT itu dianggep sekunder bukan primer kan. IT masuk ke negara kita baru tahun brapa sedangkan di negara2 barat udah berpuluh2 tahun yang lalu. Waktu mobile phone baru masuk ke Indonesia di luar semua org sudah pake mobile phone. Waktu internet baru masuk Indonesia semua lapisan masyarakat di negara2 maju sudah bersosialisi dengan internet. Kita memang one step behind dalam masalah ini, semua lapisan masyarakat kita bukan cuma kaum wanita aja. Cb cek wanita-wanita generasi muda bangsa kita sekarang apa masih gaptek? Saya percaya tidak malah lebih banyak yang ingin belajar tidak bisa karena terbatas kondisi ekonomi.

  6. ulan :

    aku wanita!!!!
    cuma mau bilang itu aja sih.. enggak mau protes kok …

    *sadar kalo emang gaptek*

  7. toras :

    hehee…..
    pernah “blusukan” nggak ke kampung-kampung..?
    pernah lihat gak bagaimana “wanita” kita tertinggal jauh..? asumsi saya sih berdasar jumlah penduduk dengan “yang bisa”.
    Banyak juga yang bisa komputer, tapi sejauh mana..?

    Seingat saya, sewaktu masih SMA, disaat warnet “sepengetahuan” saya cuma ada satu di Surabaya..di Kantor Pos Tugu Pahlawan, saya sering chatting dengan masyarakat India, laki-laki dan wanita pemakainya sama banyak. Dimasa ini, hampir semua teman wanita sekolahku menganggap bahwa komputer “urusan laki-laki”. Hampir sepuluh tahun kemudian, setelah “blusukan” ke forum2 di dunia maya, saya menyadari bahwa masyarakat India betul-betul memanfaatkan tehnologi untuk “life” mereka. Ada yang berkoresponden dengan saya bahwa dia adalah Ibu RT di tempat yang kumuh. Namun, Dia memastikan bahwa sebagian besar orang-orang kampungnya, baik pria-wanita, “bisa” tehnologi. Saya bandingkan lagi dengan kampung-kampung di Indonesia.

    Kalau ada yang berdalih Indonesia “miskin”, bagaimana dengan India ato mungkin RRC. Beberapa tahun yang lalu mereka juga mengalami “kemiskinan”, namun dengan bantuan Pemerintah mereka menjadi “bangkit”.

    Semoga “provokasi” saya ini menjadi “cambuk” pedih bagi kita semua, untuk bangkit.

  8. titah :

    oh, jadi ukuran kemajuan itu komputer dan internet yah? ehm… jadi nanti kalo semua wanita indonesia browsing internet terus di depan komputer, gak lagi nyuci-ngepel, gak sempat masak, gak usah hamil, gak mau ngurus anak, itu pertanda kemajuan? ahh… keknya pemikiran begini balik ke jaman jahiliyah deh!

    bukannya rambut dan otak kita yang posisinya paling tinggi, tak pernah menghina telapak kaki kita yang berada paling bawah dan sering nginjak tempat-tempat jorok? bukannya mata kita yang selalu memandang jauh ke depan tak pernah menghina tulang punggung kita yang tak pernah mau maju ke depan sedikit pun?

    ah, ayolah, semua punya fungsi dan peran masing-masing. indonesia akan maju kalau kita bisa menghargai keberagaman ini…

  9. torashamz :

    maksudnya jahiliyah..?
    dan siapa bilang komputer dan internet bukan ukuran kemajuan..?

    ah, ayolah, keberagaman indonesia jangan dijadikan alasan untuk tertinggal……

  10. titah :

    1
    jahiliyah = jaman pra islam di arab, saat perempuan dianggap terbelakang, memalukan, dan tak berguna, sehingga semua bayi perempuan yang lahir langsung dikubur hidup-hidup…

    2
    saya tidak bilang komputer dan internet bukan ukuran kemajuan, cuma tidak setuju kalau itu dijadikan satu-satunya ukuran. tidak bisa komputer dan internet bukan berarti tidak maju. sebagaimana saya contohkan dengan fungsi, peran, dan posisi anggota tubuh kita, kita akan kuat dan maju kalau semuanya menempati fungsi, peran, dan posisinya masing-masing dengan baik. bayangkan aja apa jadinya kalau si tulang punggung tidak mau terbelakang lagi dan pindah ke depan? begitu juga apa jadinya kalau si pantat (dan “perangkatnya”) juga pingin jadi yang terdepan?

    3
    biarlah petani tetap memegang cangkulnya, jangan disuruh memegang komputer. biarlah ibu warung tetap ngutak-utik masakan untuk mengisi perut para mahasiswa kos-kosan, jangan disuruh ngutak-utik script. biarlah mbok-mbok bakul di pasar tetap menjual sayur, jangan disuruh mbetulin jaringan yang kacau. biarlah para ibu menyusui bayi-bayi dengan tenang, jangan disuruh ngeblog. karena kalau semuanya keranjingan internet dan ngeblog, kita semua tidak bisa kenyang makan komentar…

  11. neng-shei :

    Saia wanita..
    tapi nggak segaptek itu kok..
    yah, itu karena emang ‘turunan adat’
    Tapi tentu saja kedepannya, wanita Indonesia pasti akan menyusul karena memang tuntutan zaman.
    Lha, kalo seperti mak saia?
    Mbuka Winamp aja masi suka marah-marah dikira lagunya rusak makanya gabisa bunyi..
    Padahal, dibuka softwarenya aja belooon..
    Grrw..
    menurut yang udah sepuh, Teknologi tidak mereka pentingkan, yang penting beribadah…
    Udah umur soalnya.
    ya, tinggal kita yang merasa muda yang harus mengejar ketertinggalan..
    Tapi, insya ALLAH bisa kok..komputer ae lo..
    Xixixix
    (*Koyok Isok-Isok o wae…*)

  12. torashamz :

    @titah….

    1. Bukannya opini saya mengajak kaum wanita untuk beranjak jahiliyah kan..?

    2&3. Saya setuju dengan pendapat itu. Tapi jangan lupakan juga bahwa kita perlu untuk itu. Kita boleh spesial di satu bidang, tapi kita harus bisa juga dibidang lain. Ibu-ibu kan bisa belajar apapun melalui komputer dan info internet sambil menyusui bayinya. Paling tidak penjual sayur harus tahu mengenai iklim, harga pasar global dengan menguasai info kita bisa menguasai segala hal.

  13. torashamz :

    @ningsei..
    jenengku nggae s ning……

    semua orang, bah lanang bah wedok harus mengejar ketertinggalannya…..io toh ning…

  14. tutut :

    saiyah setujuh dengan komentar ibu kita, titah..

  15. ndop :

    tapì sekarang komputer sudah buming sekali.. makanya para wanita-wanita nggak mau ketinggalan juga.. khan wanita suka ngikuti trend..

    *komeng oppoo iki!!*

  16. Chubby Panda :

    @semuanya : weleh podo rame ngomongin mslh gender jadine. Kok dari topik kartinian jadine saiki kaya debat gender gitu? Yapa le semua daftar ikutan training e microsoft ato linux ben ga ketinggalan. Hehehe. Ato ada seng mo les carane belajar pake komputer nang arek IT? =p

  17. torashamz :

    @chuby

    diskusi itu salah satu menjadi “baik”

    hehee……

Leave a Reply