Siapa Sebenarnya Yg Tidak Sehat?

Secara tidak sengaja, di sebuah stasiun televisi swasta saya melihat ada iklan layanan masyarakat dari Komisi Penyiaran Indonesia yg kira isinya begini “Bila anda menemukan Siaran yg tidak sehat, silahkan laporkan kepada kami” setelah itu di layar bawah keluar no telepon hotline yg bisa dihubungi. Dengan Visualisasi yg saya lihat ada gambar televisi menyiarkan korban kriminal dengan tanda silang diagonal, adegan mesra dengan silang diagonal juga dan beberapa adegan yg [mungkin] kena sensor badan Sensor Film Kita.

Trus saya berpikir sebenarnya seperti apa sih tayangan yg tidak sehat itu?

Kriteria[Klise] tayangan yg tidak sehat mungkin seperti pornografi, kekerasan, ato tayangan2 propaganda [emang ada?] . Sebegitu parahkah penyakit tayangan pertelivisian kita sampe ada kategori2 tayangan tidak sehat menurut KPI? Trus apa fungsinya lembaga sensor film yah? Kedua Lembaga ini juga tidak jelas kewenangan dan tanggungjawabnya. Kalo sudah ada lembaga sensor film trus masih ada Komisi Penyiaran Indonesia bisa diartikan kerja dari LSF jelek donk. apakah misalnya ada laporan tentang penyiaran tayangan tidak sehat LSF mau bertanggung jawab sebagai lembaga yg berwenang menayangkan ato tidak menayangkan sebuah acara televisi? Kemudian Lembaga yg mana nih yg berhak memberikan sanksi kepada staisun TV yg melanggar? LSF ato KPI? Rancu dan tumpang tindih, bener2 ciri pemerintahan kita. Sama seperti Kepolisian dan Badan Narkotika Nasional. 2 lembaga yg berbeda tetapi sama kepentingannya. Kenapa sih gak 1 badan aja tapi dioptimalkan? Tanya Kenafa? Trus bagaimana dengan TV kabel? siapa yg berhak mengawasi? Bisakah badan kita menyensor apa yg ditayangkan oleh STar TV? ato ESPN? ato HBO? Ato Stylish TV? [untuk yg terkahir saya sering melihat peragawati dengan busana yg minim banget bahkan sampe mencetak bagian dadanya]

Kembali Ke pokok pembicaraan yah mengenai siaran yg tidak sehat. Mungkin kalo adegan yg mengumbar syahwat seperti film Biru, ato Film Biru muda [semi maksudnya] sudah pasti tidak akan tayang [ kecuali stasiun tv gelap yg pay per view seperti di salah satu daerah surabaya]. Bagaimana dengan acara2 seperti sinetron2 ato iklan2 yg terkadang menampilkan unsur seksualitas [walau tersirat] seperti iklan axe, ato acara2 yg kadang host ato bintang tamunya menampilkan dada nya yg sedikit terbuka?

Trus adegan Kekerasan yg saya sendiri gak pernah tau sampe dimana batasan kekerasannya. Kalo misal seperti salah satu acara yg pernah dilarang tayang seperti Smack Down yg katanya menginspirasi anak2 kecil untuk meniru sehingga menimbulkan korban jiwa, trus apa bedanya dengan Olahraga Tinju? Sama2 menampilkan adegan pukul2an bahkan kadang sampe berdarah2. Kalo ditanya hal seperti ini akan muncul jawaban Klise dan Lagu lama yg di aransemen ulang “Tinju kan olahraga, kalo smackdown itu entertainment” nah lo….. Padahal kalo saya pemilik sebuah stasiun TV pasti saya akan lebih memilih menayangkan smack down daripada tinju karena sudah jelas rating acara smack down pasti lebih tinggi daripada acara Gelar Tinju ********. Semakin tinggi rating semakin besar pemasukannya, 2 kepentingan yg berbeda kan?

Apa yg saya paparkan diatas cuma sedikit dari kriteria2 yg terkadang gak jelas berada di daerah mana, diperbolehkan ato gak diperbolehkan. Kita terkadang cuma bisa melihat penyakit luar aja seperti panu kadas kurap, tapi kita gak pernah tau penyakit yg ada di dalam seperti jantung, kanker ato kencing manis. Pornografi dan kekerasan itu seperti penyakit luar yg kita semua bisa melihat dan sekali lagi seperti lagu lama yg selalu di aransemen ulang karena lagu tersebut manis dan enak di dengar oleh segelintir orang yg mempunyai kepentingan. Padahal kalo kita amati sinetron2 skrg sering kita jumpai kisah dimana anak smp sampe berkelahi gara2 rebutan cowok, ato sikap dan tingkah laku seorang anak sekolah yg bener2 gak pantas seperti rambut panjang[laki2] baju gak rapi trus bermacam2 sikap yg sebenarnya membuat guru2 di sekolah kita menangis kalo melihat itu. Tapi Herannya kenapa sih masih terus tayang? apakah karena alasan ini hanya sebuah sinetron, buat hiburan, bukan untuk dicontoh. Loh sejak kapan sinetron2 kita pernah menuliskan peringatan2 itu? Kalo Acara smackdown jelas2 ditulis “Dont Try This At Home” ato rokok2 skrg menuliskan “peringatan merokok dapat menimbulkan penyakit bla bla bla”.

Masih ingat kan kontroversi undang2 pornography. Batasan Pornography nya aja lom bisa dipaparkan sampe dimana tapi undang2 nya udah mau dibuat. Lucu aja kalo katanya Penari jaipong juga dilarang menggunakan pakaian ketat dan menampilkan goyangan2 yg erotis. Ato Atlit Renang gak boleh menggunakan baju renang yg menampilkan lekuk tubuh. Tapi seru juga sih misal di olimpiade atlit renang indonesia menggunakan daster ato kemben sebagai pakaian renangnya ^^. Sebenarnya ini mau membuat undang2 pornograpi ato mau menghapuskan budaya bangsa sih? ato mungkin nanti kita gak akan mengirimkan atlit2 yg cabang olahraganya menggunakan baju yg menunjukkan lekuk tubuhnya.

Skrg siapakah yg harunsya mengontrol tayangan televisi itu? LSF ato KPI? jawabnya adalah diri kita sendiri, Sesuai dengan hati nurani kita aja. Pantes ditonton ato gak? ato kita akan terpengaruh ato gak? Untuk Orang tua ya kita wajib mengawasi tontonan anak kita, paling gak kita berikan pengertian kepada mereka agar mereka mengerti ini patut dicontoh ato gak

PS: Membaca Tulisan ini bisa menyebabkan sakit mata, radang otak, dan gangguan kejiwaan [nulisnya sambil ngelindur]

12 Responses to “Siapa Sebenarnya Yg Tidak Sehat?”

  1. aRuL :

    *lumayan berat mikirnya*
    intinya sih semuanya berkehendak untuk menjadikan bangsa ini yang sopan.
    mungkin beda persepsi aja mereka2 itu.

  2. gempur :

    Weleh-weleh, gak usah bingung mas! lek onok arek cilik ngomong: “MAs, Pak, Bu, orang itu lagi ngapain kok yang-yangan”, nah itu yang kudu disensor..

  3. .:deT:. :

    Menyimak talkshow di SS kemarin sore (selasa, 4/12/07) tentang peran dan fungsi KPID Jatim, yang menghadirkan Bu Sirikit Syah dari Media Watch dan Bpk Surokhim dari KPID, sempat dibahas masalah ini, LSF dan KPI. Jelas bahwa wewenang KPI adalah mengontrol SEMUA konten siaran, baik di TV maupun radio. Sedangkan LSF tugasnya melakukan sensor terhadap FILM. kurang jelas juga, dalam hal ini, apa termasuk FILM yang tayang di TV atau tidak.

    Nah, KPI ini bertindak lebih cepat jika ada pengaduan dari masyarakat. misalkan untuk kasus tayangan “smack down” di sebuah TV beberapa bulan lalu, karena derasnya pengaduan dari masyarakat, maka stasiun TV yang bersangkutan dipanggil ke KPI dan diberikan pengarahan. Hasilnya seperti yang kita lihat sekarang, acara tersebut sudah tidak tayang

    Celakanya, jika terjadi pelanggaran dalam hal konten, media tidak bisa dihukum pidana. Kok bisa? Soalnya masalah konten itu tadi diatur oleh Pedoman Perilaku Penyiaran (sesuai amanah UU 32/2002). Sedangkan pedoman perilaku ini sifatnya hanya ETIKA, bukan UU. Jadi seandainya ada pelanggaran seberat apapun, paling sanksinya hanya DIHIMBAU untuk tidak menayangkan/menyiarkan

    So…? sama aja bohong!!!

  4. nanakiqu :

    ya….mungkin peran ortu sangat penting ya klo untuk anak kecil. saat mereka nonton acara mungkin perlu di dampingi. sekarang khan ada tuh stasiun yg mencantumkan kode2 acara kayak BO= Bimbingan Ortu. Tapi klo untuk yg dewasa….wekkekk …..
    * g tahu ah…..orang dewasa khan suseh di atur…..termasuk aku kali ya…wewllelwlle*

  5. nico kurnianto :

    sebetulnya niat mereka dalam memasarkan dan mensosialisasikan hal tersebut baik, tapi mungkin kita adalah orang yang memandang negatif mengenai iklan layanan masyarakat tersebut. nah gimana masyarakat tahu sebuah tayangan itu berguna atau gak kalau contohnya aja kita gak tahu..
    nah kembali pada insan perfilman khan!?

  6. evelyn :

    Begini kalau dibilang tayangan mana yang klise atau tidak itu serba repot ya untuk dibahas.
    Kita bilang itu porno adn wajib dilaporkan kepada KPI, tapi si produser dan si orangnya sendiri tidak porno. Mereka beranggapan ini tidak mendegradasikan humanisasi, jika itu dilihat dari sudut pandang moral, dari sudut pandang yang lain itu seni karena memang si objek itu dibuat bukan untuk pornografi tapi hal seni. Jadi intinya adalah dilihat dari sudut pandang pembuatnya.
    Kita berpindah topik sekarang. Yang paling repot adalah pemirsa atau khalayak dimana disini posisinya lebih tinggi daripada owner media itu sendiri. Kalau audience, yaitu pemirsa justru lebih senang akan acara seperti itu dan efeknya adalah mendatangkan banyak iklan dan rating, meskipun ada segelintir orang yang mengadu, itu seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri!
    Tetap aja KPI tidak dapat berfungsi apa-apa, lha wong cuman ditegor aja! Nggak ada penjegalan atau apa.
    Intinya kalau masyarakat adem ayem mencerna semuanya yang diberikan dan tambah amat sangat mengandrunginya, tayangan macam itu yang diributkan orang selama ini akan tetap ditayangkan. Kalau begitu apa fungsi KPI?
    Nggak ada kan, cuman lembaga yang ya bertitle ” Komisi Penyiaran Indonesia!” mending tutup aja daripada berdiri tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

  7. sagung :

    Namanya juga negara Hukum.
    Kebanyakan Hukum yang g pasti.

    Intine semua pengen Indonesia semakin baik, tapi mungkin kurang ada koordinasi. Semuanya pengen ada di jalannya sendiri-sendiri

  8. 4UL Clothing & Distro :

    sekarang semua yang mengendalikan tv adalah uang saudara-saudara, nggak peduli pokoknya menguntungkan!

  9. filyung :

    mas, pertanyaan anda benar,
    sebenernya siapa yang sehat dan siapa yang tidak sehat,
    soalnya untuk memberdakan itu di indonesia saat ini susah mas,
    masih untung ada mas yang mau tanya sebenarnya siapa yang sehat, paling tidak ada yang mengerti bahwa sehat tidaknya sesuatu itu mengandung banyak persepsi dan harus dilihat dari banyak kaca mata.

  10. Mirzha :

    Salah satu kriteria tontonan tidak sehat adalah tontonan yang membodohi masyarakat. Contohnya? banyak sekali di sinetron2 indonesia:
    – Chating make ms word (OMG!)
    – Pada saat satu tokoh searching di google, kemudian menampilkan satu website yang alamatnya adalah C:\Documents and Settings\Master\My Documents\bahan internet props dendam 2\BERITA LINK\CILANDAK POS.htm (Wahahahaha!!)
    – Ada kamera film yang hasilnya bisa ditransfer di komputer
    – Hanya dengan melafalkan jampi2 “Biji Nangka 10 Tinggal 9” seseorang bisa nyampe ke arab dalam sekejap
    – dll.. dll.. masih banyak lagi..

  11. andremotion :

    owww bnr2 idealismenx tinggi….
    ttg lsf dan kpi y..
    sbenarnya lsf sdh mensensor…tp tu mnurut pandangan mrk…
    sdngkan u/ pandangan penontn b’beda..mk dr tu di laporkan ke kpi…Seprti yg anda bilang “mana batasanny?” oleh karena tu org memiliki sdt pandang berbeda…sprt paradigma anda tentang ni..

    salam knl bro…

  12. andremotion :

    g nyangka aq bc tulisannx sampe hbz… 🙁
    padhl aq mls baca…… 😀

Leave a Reply