Surabaya Book Fair 2008

Sejak tanggal 30 April sampai dengan 4 Mei 2008 di Gramedia Expo diadakan Surabaya Book Fair 2008. Tidak lama berselang sejak diadakan Surabaya Book Fair 2007 beberapa bulan yang lalu sepertinya pihak penerbit melihat besarnya animo masyarakat terhadap Book Fair ini sehingga memasuki tahun 2008 langsung diadakan lagi event serupa. Ada beberapa perbedaan yang cukup signifikan pada event book fair 2007 dengan 2008.

Pada tahun 2007 karena event ini dilakukan bertepatan dengan pembukaan Gramedia Expo sendiri sehingga lebih besar dan lebih ramai daripada yang sekarang. Bisa dilihat pada tahun 2007 kemarin buku-buku cetakan PT. Gramedia Pustaka Utama menempati stand paling besar pada event tersebut dan Gramedia sendiri memberikan lebih banyak macam buku untuk didiskon bahkan bisa dibilang hampir sebagian besar buku-buku yang biasa kita temui di toko buku Gramedia sendiri. Tapi untuk book fair 2008 ini mungkin bisa lebih banyak ditemui macam-macam buku-buku religi mulai dari yang berbau islami sampai dengan kekristenan dan aliran kepercayaan lainnya seperti feng shui sedangkan stand Gramedia sendiri tidak begitu mendominasi seperti book fair sebelumnya, jauh lebih kecil bahkan tidak terdapat di dalam ruangan utama expo melainkan terletak di luar serta macam-macam buku yang didiskon tidak sebanyak pada event 2007 kemarin.

Secara keseluruhan event 2008 ini diikuti lebih sedikit stand daripada tahun 2007 kemarin. Bahkan tidak ditemui adanya buku-buku teknik import seperti Cisco atau Oracle yang sempat ada pada tahun 2007 kemarin tapi terdapat lebih banyak stand-stand yang menjual buku-buku religi. Bahkan ada juga stand yang menjual batik yakni batik Danar Hadi Solo. Batik yang dipajang di manekin ini sempat menarik perhatian saya. Model baju batik yang lebih modern ini membuatnya bisa dipakai untuk jalan-jalan tanpa merasa seperti orang kuno bahkan menurut saya keren sekali.

Selain itu dinas arsip kotamadya Surabaya menempati satu stand khusus untuk menampilkan foto-foto kota pahlawan ini pada jaman baheula. Benar-benar sangat menarik bahkan disediakan informasi lengkapnya dalam bentuk penayangan video tentang asal muasal jalan-jalan dan pusat perdagangan di kota tercinta kita ini.

Waktu berada di Expo ada hal yang cukup membuat saya berpikir dan termenung. Slogan dari book fair 2008 ini adalah Surabaya Reading-Gemar Membaca, Bangsa Unggul dan Maju. Kemudian saya lihat harga-harga buku di sana yang rata-rata di atas 40000-50000 dan itu pun sudah didiskon. Kalo dibandingkan dengan gaji buruh pabrik yang mengikuti standar UMR sebesar 850000/bln maka rasanya kok buku-buku ini mahal sekali yah. Sulit membayangkan bagaimana slogan tersebut bisa benar-benar diwujudkan. Bagaimana bangsa kita bisa gemar membaca kalau harga buku saja masih relatif mahal dibandingkan dengan UMR. Seringkali untuk membeli buku pelajaran saja beli di pasar loak kalo tidak begitu cari pinjaman karena menghemat uang. Apalagi kalo beli buku-buku baru yang membahas masalah-masalah aktual saat ini yang pastinya sulit didapatkan di pasar loak. Bingung saya melihat kondisi ini. Bagaimana caranya mencerdaskan bangsa kalau harga buku untuk mengembangkan wawasan dan menambah ilmu saja masih relatif mahal untuk masyarakat kita. Adakah solusi untuk hal ini? Saya sempat teringat dengan perpustakaan kota. Tapi saya ragu apakah pemkot menyediakan budget untuk menambahkan koleksi buku-buku di perpustakaan kotamadya dengan memadai. Atau bahkan saya jadi bertanya-tanya ada tidak yah perpustakaan kota yang terbuka untuk umum dan mempunyai buku-buku yang lengkap serta mengikuti perkembangan jaman. Sampai saat ini usaha pemkot yang saya tahu adalah taman bacaan di mobil yang berkeliling di berbagai tempat tapi itu pun dengan targetnya adalah anak-anak kecil padahal seluruh generasi bangsa perlu untuk mengembangkan wawasannya.

20 Responses to “Surabaya Book Fair 2008”

  1. Chubby Panda :

    @for all: akhirnya Chubby posting juga nih! ^o^ Semoga berguna untuk semuanya. Btw maaf kalo tata gambarnya ga pas. Udah coba2 sampe pucink kepala masih ga isa pas, nyerah deh (T_T)

  2. amanda :

    kenapa selaluuuuu aja book fair salah nyari tanggal pelaksanaan?!
    mbok ya sampe tanggal 5 gitu lho..
    kenapa harus tanggal 4 berakhir…??
    hikz hikz..
    lagi2 ga bisa pergi..

  3. det :

    even seperti ini bagus untuk meningkatkan minat baca masyarakat. sedangkan untuk meningkatkan minat tulis, tugupahlawan.com ini harusnya bisa jadi wadah

    tp jujur sy lbh suka beli pas bukan even pameran, lbh nyaman krn sudah hafal lokasinya

  4. det :

    @chubby: pengaturan gambar itu mengikuti setting template jadi gak bisa diatur sendiri. menjengkelkan memang. waktunya ganti template/theme kayaknya :mrgreen:

  5. kucluk :

    sepakat sama mas det

  6. Chubby Panda :

    @det : oalah gitu toh mas. Pantes ae udah diutek2 ampe pucink sampe melototin HTML e kok hsl e sama ae. Tapi gpp deh. Chubby puas kok posting topik yang kali ini, my fave one (^o^) Btw kalo Chubby mah cr diskon e mas. Maklum budget terbatas. Hehehe. Ntar kalo Chubby dah kerja dan punya credit card sendiri br ga perlu cr2 diskonan. Hm, meningkatkan minat tulis mah sulit mas. Kalo dulu pas kecil disuruh ngarang pinter tp kalo nulis d TPC kan g blh sembarangan. Hehehe =p

  7. Chubby Panda :

    @amanda : wah mbak…kalo yang kali ini rasae ga perlu eman deh…yang harus eman tuh yang 2007 kemarin yang besar2an itu ^o^

  8. nanakiqu :

    jadi pengen ke sana neh….wekekkekekk. Book fair gabung ama fashion fair ya koq ada yg jualan baju2 batik ya mbak..ngomong2 harganya berapaan ya…..? kayaknya bagus buat kondangan….

  9. Chubby Panda :

    @nanakqiu : Kmrn liat sih masih di bawah 100rb tp Chubby ga tahu sih itu udah termasuk murah atau mahal soalnya ga pernah beli batik sebelumnya jadi ga bisa nilai perbandingan harga ama kualitasnya. Btw kalo mau cari yang modelnya kaya gitu2 kalo g salah di Delta ada di toko batik deketnya Gramedia. Warna ama modelnya lebih macem-macem.

  10. dadan :

    lebih jauh lagi, kota ini kayaknya butuh lebih banyak perpustakaan publik yang bagus, lengkap dan nyaman ketimbang penambahan jumlah mall 😀

  11. det :

    di taman bungkul ada perpus keliling lho tiap minggu pagi…

    gak ada alasan untuk tidak rajin membaca 🙂

  12. dadan :

    @det
    yap ! tak ada alasan untuk tidak membaca 😀

    perpus keliling itu gerakan yang bagus.
    setidaknya oase yang sehat dan mencerdaskan buat masy kita.

    namun melihat perbandingan dengan jumlah penduduk dan banyaknya jumlah mall, rasanya masih jauh banget untuk menciptakan masyarakat membaca yang kondusif.
    Kemana masy. kita menghabiskan waktu senggangnya ? Ke perpus atau ke mall/restoran ?

    bandingin dengan India yang rata-rata warga kelas menengahnya memiliki perpustakaan pribadi yang menjadi kebanggaannya…

    duh…

  13. Chubby Panda :

    @dadan : huaaa…setuju..! Daku juga mendambakan ada perpus yang komplit dan bebas pinjem. Kapan yah bisa gt. Udah bosen ama mall ni. Liat aja tuh surabaya barat mbangun mall brapa aja itu ampe bosen ngeliate.

    @det : wah asik juga tuh det ada perpus keliling tp btw kalo mas det tahu nih, komposisi bukunya apa yah? soalnya yang keliatan di berita2 itu kayanya buku buat anak2 deh trus uptodate ga?? Trus boleh dipnjm ato hrs bc d tmpt?? Maaf byk tny. Hehehe.

  14. risdania :

    Haduw pengen ksana tapi ga sempat,,akhirna ke toga mas dip0negoro aja yang deket,,
    disk0n na byk g?
    Ada twaran dr credit cArd jg ky yang kemarin?
    Biz kalo ada langsung menuju tekape,,wkwkwk

  15. santy :

    pengen kesana tapi kantong kosong T__T 😛

  16. Chubby Panda :

    @risdania : rata2 diskon 10-20% sih, kalo yang vendor besar biasanya trima card tp kalo yang kecil2 biasanya cash. Saran Chubby lgsg bawa cash aja kalo lain kali pigi.

  17. Rere :

    Chubby kok ngajak aku?????? :((

  18. Chubby Panda :

    @rere : waduh tanteku cayank, itu pigine dadakan ama ortu soale. Woke next book fair pigi ama tante deh. Hehehe.

  19. leipzic :

    wah, apa hubungannya book fair sama baju? kok di book fair juga ada foto tenant yang jualan baju…

  20. Bang CurutPerkutut :

    Sumpah aku sangat kecewa sama pameran kali ini. Standnya cuma dikit, lagian kok kayak nggak serius gitu loh. Terus buku2nya juga sedikit, jarang ada obral lagi. Pokoknya lebih bagus yang ada di Balai Pemuda dulu.
    Pokoknya udah hujan, jalanan beychek dan nggak ada ojyek.(Lho?)

    Tapi pada pameran kemarin aku udah menemukan buku yang selama puluhan abad ku cari (hehehehe).

Leave a Reply