Surabaya Macet?

Surabaya sebagai kota terbesar Indonesia kedua setelah kota Jakarta tentunya memiliki sejumlah resiko yang hampir sama dengan kota-kota besar lainnya di Asia bahkan dunia. Problematika sosial bermunculan di sana-sini seiring dengan tumbuh-kembangnya Surabaya menjadi kota metropolitan menuju megapolitan. Ada banyak persoalan yang menjadi pekerjaan rumah warga kota Surabaya dan tak hanya melulu pekerjaan Pemerintah Kota Surabaya yang getol-getolnya membangun infrastruktur di berbagai wilayah. Salah satu pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai selain banjir adalah kemacetan. Pertumbuhan penduduk Surabaya yang rasio antara angka kelahiran dan angka kematian pada 2003 di kisaran 0,6 persen jelas membutuhkan penanganan serius dari pihak terkait. Belum lagi angka pertumbuhan pendatang setiap tahunnya yang tidak terpantau ditambah jumlah pendatang (warga luar surabaya yang bekerja di Surabaya) setiap harinya yang disinyalir mencapai angka 2-3 juta jiwa.

Di sisi lain, kebijakan transportasi yang dirasa belum memberikan solusi terbaik bagi kenyamanan bertransportasi warganya. Bagaimana tidak nyaman, lha wong salah satu produsen motor terkemuka berani mengempelkan stiker di setiap motor baru keluarannya kalau produksinya telah tembus di angka 25.000.000. Itu baru satu produsen motor, sementara ada paling tidak 7 produsen motor yang banyak digunakan masyarakat Indonesia. Di Surabaya sendiri, berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Surabaya menyebutkan data bahwa pada tahun 2006 ada sekitar 928.686 unit. Data tersebut sudah 4 tahun yang lalu, bagaimana data 2010?

Sementara itu, ketersediaan infrastruktur jalan yang dalam hal ini penambahan ruas jalan tidak sebanding dengan pertumbuhan angka kendaraan. Kondisi ini diperparah dengan karut marutnya transportasi publik yang dalam sebuah diskusi yang diadakan Dewan Kota Surabaya ditemukan fakta bahwa master plan transportasi publik masih menjadi polemik yang belum terpecahkan.

Apa dampak yang ditimbulkan? Kemacetan dan ketidaknyamanan bertransportasi.

Lantas, solusi apa yang pantas dan layak diupayakan agar kemacetan dan kenyamanan bertransportasi bisa terwujud? Setidaknya ada 2 ssisi penyelesaian yang bisa diupayakan, antara lain:

Sisi pemegang kebijakan yang dalam hal ini Pemerintah Kota Surabaya:

  1. Adanya cetak biru transportasi yang disepakati bersama antarinstansi pemerintah terkait di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya yang melibatkan organisasi transportasi publik Surabaya dan pihak-pihak yang terkait. Lebih spesifik, ketersediaan sarana angkutan publik yang murah, aman dan nyaman bagi warga Kota Surabaya.
  2. Perbaikan dan perluasan jalan yang mampu menampung alat tranportasi. Dalam hal ini, penulis sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya dengan langkah nyata pembangunan Kota Surabaya yang salah satunya adalah perluasan fungsi sungai atau kali menjadi jalan raya dengan mengganti aliran sungai yang ada dengan box culvert yang di atasnya dijadikan jalan raya.
  3. Adanya kebijakan berupa Peraturan Daerah yang membatasi pertumbuhan kendaraan motor pribadi. Meski kontraproduktif dan kurang populer, tapi harus ada regulasi yang jelas tentang pembatasan kendaraan bermotor pribadi, karena selain menguntungkan pengguna jalan juga menurunkan konsumsi BBM yang jelas berdampak pada lingkungan yang semakin bersih dari polusi. Pemerintah harus mengambil resiko dengan menurunnya pendapatan daerah dari pajak kendaraan bermotor daripada harus menanggung beban biaya ekonomi, sosial dan budaya akibat kemacetan. Apalah artinya pendapatan besar jika pengeluaran anggaran untuk penanggulangan permasalahan ekonomi, sosial dan budaya yang ditimbulkan kemacetan tak kalah besarnya, bahkan biaya pengeluaran lebih besar daripada pendapatan merupakan sebuah keniscayaan.
  4. Adanya fasilitas parkir bagi kendaraan luar kota yang terhubung dengan sarana transportasi publik dalam kota, biasa disebut dengan Park and Ride. Meski sudah ada beberapa titik lokasi yang menyediakan fasilitas ini, seperti Terminal Bungurasih, tapi masih belum optimal keberadaan dan penggunaannya. Diharapkan pekerja yang datang dari luar Surabaya dapat memarkir kendaraannya di pinggiran kota dan masuk ke dalam kota menggunakan transportasi publik yang ada.

Sisi warga Kota Surabaya, antara lain:

  1. Kesadaran untuk lebih mengutamakan menggunakan transportasi publik daripada menggunakan transportasi pribadi. Meski sulit, tapi menjadi sebuah keniscayaan bilamana kesadaran akan kenyamanan bertransportasi melekat dan tertanam secara perlahan pada diri warga Kota Surabaya. Dan ini harus dimulai dari pejabat dan pegawai instansi publik dan pemerintahan untuk menjadi contoh keteladanan warganya.
  2. Kembali menggunakan sepeda bagi mereka yang bepergian dengan jarak dekat. Jelas ini merupakan tantangan berat bagi masyarakat yang sudah terlanjur dimanjakan dengan akses yang serba instan dan mudah termasuk penulis sendiri.
  3. Menurunkan standar sosial nilai bahwa naik motor/mobil pribadi itu bukanlah “barang mewah” yang pantas untuk dibanggakan, butuh sinergi antar banyak pihak untuk mengubah tatanan nilai yang sudah terlanjur tertanam di masyarakat.
  4. Kesadaran untuk mendisiplinkan diri sendiri selama berkendaraan di jalan raya menjadi mutlak diperlukan agar tercipta suasana dan situasi berkendaraan yang tertib dan nyaman. Tidak sedikit pelanggaran terjadi akibat kurang disiplinnya pengguna jalan yang bisa berdampak pada ketidaknyamanan pengguna jalan lainnya. Untuk yang satu ini, penulis sering mendapati pengalaman menjengkelkan, di mana lampu lalu lintas yang hijau di kejauhan sudah menunjukkan detik yang hampir saja memasuki tanda lampu kuning. Tentunya saya mengurangi laju kecepatan, tapi parahnya, motor di belakang saya membunyikan klaksonnya berulang-ulang isyarat saya diminta memutar gas kencang-kencang. Pada kesempatan lain, saya terpaksa memalingkan muka ke belakang sambil menunjuk pada tiang lampu lalu lintas yang bertuliskan “Belok Kiri Mengikuti Lampu” dan berteriak: “Tau sekolah, Gak!!! Wocoen iku..!!!”. Kesabaran saya habis karena pada saat lampu merah tentunya saya berhenti dan mematuhi rambu-rambu yang ada, tapi pengendara motor di belakang saya membunyikan klakson saya berulang-ulang tanda saya diminta untuk terus ke kiri. Jika di tiang lampu lalu lintas itu bertuliskan “Belok Kiri Langsung” tentunya saya akan terus melaju meski lampu merah, lha ini jelas beda tulisannya loh!. Masih banyak pengalaman-pengalaman lainnya tentang tidak disiplinnya pengguna jalan di Surabaya.

Masih banyak yang harus dituliskan, tapi tulisan ini sudah terlalu panjang untuk dikonsumsi dan lagi ini sudah memakan waktu 2 jam menuliskannya. Sebagai blogger setengah tidak serius, adalah sebuah berkah ramadhan bisa menulis sepanjang ini. Sambil menunggu komentar serius maupun setengah tidak serius atau bahkan sangat tidak seirus mampir ke tulisan ini, saya tak menikmati cengar-cengir dhewe ambek nggumun: “kok isok aku nulis dhowo koyok ngene, yo..!!!” 😀

20 Responses to “Surabaya Macet?”

  1. gajah_pesing :

    Belok kiri mengikuti lampu
    *kadang nek onok kancane bablas, aku melok bablas*
    (doh) jian disiplinku kurang tenan, hiks

  2. Anang :

    pas lampu mau menjelang merah udah mencoba berenti tapi pernah mau kesundul yang dari belakang…. hihi.. kuning tanda persiapan berenti bukan persiapan ngegas sak pol2e

  3. gempur :

    @gajah: Lah ngene wes podho nyadari.. 😉
    @Anang: nek aku ditabrak, nek sik sadar gak semaput, helemku tak copot tak keprukno wong sing nabrak aku, mas! 😀

  4. Anas :

    @mas gajah: awas ketilang loh.. ckckckck..
    ***belok kiri tidak boleh loh, kalao gak ada rambunya***

    Antara setuju dan tidak setuju dengan pembangunan box culvert. Pasalnya memang akan memperlebar jalan raya. Tapi bagaimana dengan rumah yang ada di bawah box culvert bahkan atap rumah mereka sejajar dengan box culvert.. Memnambah jalan raya adalah hal yang sangat sulit dilakukan pemerintah di kota surabaya yang semrawut iki. Transportasi publik bisa menjadi salah satu solusinya, namun perlu adanya kesadaran masyarakat bahwa “Kakean sepeda dan mobil iku yo gak apik, garai sumpek karo macet. opo maneh nek sepedane grudukan” :D. I luph u full surabaya..

  5. galihsatria :

    Saya jadi ingat dulu saya paling mengeluh tentang kemacetan di A Yani dan di Jemursari menunju Nginden untuk kemudian mencapai ITS Sukolilo. Ternyata itu belum ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan fenomena kemacetan di Jakarta. Sekali-sekali boleh dicoba adonan Jakarta + Jumat sore + Hujan 😉

  6. giriayoga :

    angkutan2 yang menaik turunkan penumpang di A.Yani juga jadi penyebab macetnya jalan A.Yani

  7. b43r :

    Seng penting jangan lupa menyalakan lampu pada siang hari 😀

  8. nuggix :

    tambah neh tradisi para baiker seng wes salip2an pas neng lampu bang jo, soyo mawot, ampek seng pek nyebrang bingung lawong gone nyebrang dinggoni montor mandek :doh:

  9. kuniomi :

    ya…beginilah ciri2 kota metropolitan…

  10. budiono :

    surabaya macet dan akan semakin macet..

  11. fithraw :

    Tapi kadang kala oknum dari pihak kepol*sian juga kurang sigap menanggapi kemacetan. Bahkan berdasarkan pengalaman saya, tidak jarang mereka malah memberhentikan kendaraan yang kurang disiplin di tengah2 jalan pada waktu kemacetan lalu lintas dan memarahi pengendara jalan tsb.

  12. mudz069 :

    Kalo pas mau “jalan jalan” ke kota, saya n the gang seringkali melewati perumahan elit di seputaran Galaxy.
    Pas nengok garasinya hmm ada beberapa biji R4 didalamnya. Saya rasa penghuninya pasti ga sampai kepikir naik angkutan publik, potret yang ada justru mungkin sebaliknya.
    Barangkali perlu ada penjatahan sarana, misalnya satu keluarga satu kendaraan. Soalnya bagi mereka biar sudah dibebani dengan pajak kendaraan progresiv rasanya duit ga masalah.

  13. napi :

    wah, untung d daerah pakal-benowo jalan.e dah enak plus longgar. ditambah lagi gak ada lampu merah.. jadi gak seribet di surabaya tengah.. hahaha.. gak perlu mikir macet deh..

  14. iklan jawa pos :

    jadi ngeri

  15. Yohan Wibisono :

    Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang penyembuhan
    dan kesehatan di blogku : http://www.TahitianNoniAsia.net, silahkan
    kunjungi, mudah-mudahan manfaat

  16. Freak Holic :

    Wah … info yang menarik sebelum nanti saya akn pergi ke Surabaya …

    Akan tetapi, saya harap surabaya akan menjadi kota yang benar-benar khas, jangan seperti Jakarta yang kehilangan identitasnya …

    Salam komunitas blogger …

  17. friza_06 :

    saiki sby tambah padet…lek isuk lewat a yani-wonokromo-darmo..koyok pas ape tahun baruan..puadet puool…padahal 4 tahun lalu ga koyok ngunu nemene…

    iki paling yo gara2ne kendaraan murah kui…

  18. Noni fyrdha :

    haduh kalo ngomongin surabaya tuh gak ada abisnya. . .bisa” ntar macet nya udh kayak di jakarta. .. beuh beuh. .. .mbuh lahhh, caiyo aj bwt pemerintah sby,.

  19. Em Zanu :

    Suroboyo tambah padet yo, ojok sampek saingan karo Jakarta

  20. roy :

    setuju dengan semua solusi diatas untuk mengatasi kemacetan di surabaya.
    lEBIH SETUJU LAGI DENGAN KONTEKS ADANYA TRANSPORTASI PUBLIK YANG NYAMAN DAN BERSIH.LEBIH ENAK NAIK TRANSPORTASI PUBLIK DARIPADA NAIK KENDARAAN SENDIRI.
    AYO SUROBOYO KEMBANGNO TRANSPORTASI MASAL SING APIK

Leave a Reply