THE HEROES CITY

sang pejuang

Banyak diantara kita yang segera tahu apa OS yang dipergunakan oleh sebuah komputer meskipun tanpa menggeser kursor ke control panel atau mempergunakan software tertentu. Mungkin kita bisa mengenalinya dari tampilan antarmuka atau dari detil-detil yang lain. Dalam hal mengenali sesuatu, disebuah spot iklan pernah digambarkan seseorang yang bisa tahu berapa lama orang belum mandi hanya dari bau keringatnya. Kalau yang ini tentu lebay, agak didramatisir ya. Tapi yang jelas semua hal yang diatas mengacu pada hal yang sama, mengasosiasikan segala apa yang kita rasakan dengan sesuatu yang lain. Sebuah link yang kadang terbentuk dengan sendirinya.

*********

Well, seandainya kita orang asing yang baru kali pertama menginjak kota Surabaya, dapatkah kita mengasosiasikan apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dengan sesuatu, dengan wajah lain kota ini ?
Bisa jadi joke tentang orang buta yang menebak, mendefinisikan seekor gajah akan terjadi. Tergantung dari sisi mana kita mulai mengenali kota tercinta ini. Andaikata kita memulai perjalanan dari daerah kerlap-kerlip, kawasan Doraemon (Dolly Jarak Moroseneng) barangkali kita sedang mengira kota ini adalah kota pelacuran, kota tempat relaksasi sekaligus tempat erupsi.
Bila kita terdampar di kawasan timur, Sukolilo dan sekitarnya, kita mungkin menyangka kota ini adalah kota pendidikan. Ada Untag, Unitomo, Perbanas, Stesia, ITATS, UPB, universitas Hang Tuah dan tentu saja yang terbesar ITS. Semuanya seakan membentuk gugusan “kampung ilmu” apalagi tak jauh dari situ ada Unmuh dan Unair kampus C.
Kalau kebetulan kita dapat jatah dilempar di kawasan SIER Rungkut, barangkali kita menerka bahwa kota ini adalah kota industri. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah deretan pabrik-pabrik plus lusinan wajah lusuh penuh keringat yang tengah mengais rupiah.
Pertanyaannya adalah bisakah kita mengenali kalau kota ini adalah kota pahlawan, kota yang pernah dilanda peperangan cukup dasyat yang sampai tentara Sekutu perlu bantuan seorang Soekarno untuk mempause adegan agar mereka tak tersapu habis layaknya penduduk Mentawai ?
Bisakah alam bawah sadar kita segera mengenali bahwa kota ini adalah The Heroes City, kota dimana pasukan Sekutu harus kehilangan seorang Jendralnya, dari aroma kehidupan penduduknya ?
**********
Ah, pahlawan.
Sebuah kata yang dialamatkan kepada pelaku yang seringkali tak sadar sedang melakukannya. Gelar itu tak mereka pinta juga tak mereka cari. Mereka di wisuda menjadi pahlawan juga tanpa jenjang kurikulum tertentu. Mereka tak harus menghabiskan sekian SKS agar bisa dikenang sebagai kusuma bangsa.
Ah, pahlawan.
Sosok yang menjadi panutan, menjadi teladan karena kemuliaan hatinya. Mereka berkorban dengan apa yang mereka punya tanpa pernah sempat berpikir apa yang akan menjadi imbalannya. Mereka sekumpulan makhluq pilihan yang sangat jauh dari neraca untung dan rugi, apalagi menganggap medan laga sebagai arena investasi. Mereka bukanlah seorang pialang. Mereka hanyalah pejuang kehidupan yang tergerak karena adanya suara panggilan, adanya bisikan dari hati nurani  sebagai manusia yang sejatinya luhur dalam budi pekerti ……
*********
Bila peluit sudah dibunyikan, pelaut akan segera bangun dari mimpinya, bergegas berlari, berbaris di tepian kapal seolah musuh sedang berada di balik cakrawala.
Sebenarnya peluit untuk kita juga sudah dibunyikan. Saatnya kita terjaga dan berbaris menuju medan peperangan. Musuh sudah datang di kota ini. Kemacetan yang kian menggurita, kemiskinan, banjir yang masih tersisa keberadaannya, problem sampah hingga kian pudarnya populasi makhluq hijau sang produsen oksigen adalah sekawanan musuh bagi kota ini.
Tak perlu pangkat jendral untuk mulai berperang, tak juga harus menjadi kopral untuk bisa mengangkat senjata. Mungkin kita tak perlu patung, barangkali juga tak perlu romantisme sejarah yang tersembunyi dalam sebuah gedung untuk sekedar menunjukkan jatidiri kita sebagai kota pahlawan. Seorang pejuang, seorang pahlawan adalah orang yang bisa menemukan jalan kehidupannya sendiri. Apa yang ada didepannya, apa yang ada disekitarnya adalah medan peperangannya, setiap jengkal adalah panggung bagi aksinya. Pesannya jelas : butuh sebuah pengorbanan dan tidak sebaliknya mengorbankan yang lain.

Selamat datang Bung Tomo baru !

7 Responses to “THE HEROES CITY”

  1. Pakar Hijau :

    Surabaya kota yang sangat unik, banyak orang-orang hebat terlahir dari kota ini. Surabaya menunggu generasi yang cemerlangnya untuk membangun kota Surabaya menjadi lebih baik. Hidup Surabaya! “Ayo Rek!”

  2. Anas :

    Pertamax.. Like This! Sekarang medan peperangannya bukan hanya “medan perang sungguhan” melainkan juga medan bencana.. Bukan jabatan atau embel-embel “pahlawan nasional/pahlawan lokal” yang dicari tapi lebih sekedar itu demi tujuan yang mulia..

    Met ultah TPC..

  3. gajah_pesing :

    Selamat Hari Pahlawan dan Selamat Ulang Tahun Komunitas Blogger Surabaya (TPC) yang ketiga

  4. b43r :

    Jangan lupa nanti di taman bungkul jam 7 XD

  5. iccuz :

    uuapik tenan artikel’e
    like this !

  6. Tweets that mention TuguPahlawan.Com » Blog Archive » THE HEROES CITY -- Topsy.com :

    […] This post was mentioned on Twitter by bair, gajahpesing. gajahpesing said: Kota Pahlawan ->http://ping.fm/wOvUp […]

  7. fahmi :

    refleksi hari pahlawan : sudah saatnya kita menjadi pahlawan untuk masyarakat sekitar. jadilah orang yg bisa berguna di sekitarnya.

Leave a Reply