Time is Molor

TUGUPAHLAWAN.COM, Surabaya – Time is money adalah adalah ungkapan yang menganggap betapa berharganya waktu sehingga nilainya setara uang. Di Negara maju seperti  Inggris, ungkapan itu menjadi nafas bagi masyarakatnya. Di Indonesia, tak ada ungkapan sejenis itu.

Pendahulu kita mungkin lupa membuatnya. Kita malah diwarisi ungkapan yang terkesan meremehkan waktu, seperti Biar lambat asal selamat atau juga Alon-alon waton kelakon. Entah ada hubungan antara ungkapan itu dengan perilaku masyarakatnya, namun terbukti terdapat perbedaan bagaimana masyarakat di Inggris dan Indonesia memandang waktu.

Di Inggris, tepatnya di London, terdapat sebuah menara jam yang menjadi acuan masyarakat Inggris raya sebagai patokan waktu. Namanya Big Ben. Menara jam ini terletak satu kompleks dengan gedung parlemen Inggris. Sejak berdiri tahun 1859, Big Ben tak pernah terlambat dan selalu tepat waktu! Untuk memastikan ketepatan waktu Big Ben, ada sebuah tim yang dipekerjakan untuk merawatnya. Tim ini disewa sejak Big Ben lahir. Setiap tanggal 11 November, Big Ben turut serta dalam perayaan Remembrance Day, hari dimana negara-negara persemakmuran Inggris memperingati pahlawan mereka yang gugur pada Perang Dunia I. Perayaan yang dipusatkan di sebuah monumen di Whitehall London ini di awali dengan suara lonceng Big Ben tepat pukul 11.00, diikuti dentuman peluru meriam angkatan bersenjata kerajaan Inggris di Istana Buckingham. Tak bisa kita bayangkan jika Big Ben mengalami keterlambatan. Untunglah tak ada jam karet di sana sehingga perayaan pun berjalan lancar.

Beda Inggris beda Indonesia. Kenikmatan dunia tropis membuat  kita cenderung santai dalam menghadapi apapun.  Kita tidak diajari bagaimana menghargai waktu. Terlambat 2 jam dalam sebuah acara adalah sesuatu yang  biasa. Kita malah ditertawakan jika datang tepat waktu.

Celakanya, gaya hidup santai tersebut diikuti para pejabat pemerintah kota Surabaya. Banyak proyek yang dikerjakan pemkot tidak selesai tepat pada jadwal yang ditetapkan. Beberapa proyek SKPD Pemkot Surabaya tahun 2011 terancam molor akibat molornya pembahasan RAPBD kota Surabaya. Akibatnya, beberapa kontraktor pengadaan barang dan jasa di pemkot Surabaya memilih mundur  dari proses lelang. Tahapan-tahapan seperti proses tender menjadi molor. Waktu pun kembali terbuang. Keterlambatan demi keterlambatan membawa konsekuensi bagi masyarakat. Kita tak bisa menikmati fasilitas-fasilitas yang harusnya bisa disediakan pemkot jika tidak molor.

Ambil contoh frontage road di jalan A. Yani. Proyek yang dikerjakan sejak era walikota Bambang DH tak juga kelar. Target selesai tahun ini molor karena belum klirnya tukar guling (ruilslag) lahan antara Pemkot Surabaya dan IAIN. Padahal kemacetan di jalan A. Yani semakin parah. Berapa waktu yang terbuang akibat macet? Bayangkan jika waktu yang terbuang itu kita pakai untuk mengerjakan sesuatu yang produktif, berapa banyak hal positif yang tercipta. Alih-alih memanfaatkan waktu , kita hanya bisa mengomel dalam hati di tengah kemacetan sambil membayangkan pejabat pemkot mengucapkan alon-alon waton kelakon.

Pemkot Surabaya tak juga melihat ketepatan waktu sebagai prioritas untuk dilaksanakan. Dari tahun ke tahun berita tentang molornya proyek pemkot selalu ada.  Budaya molor seakan menjadi budaya yang patut dilestarikan. Kita perlu iri dengan orang-orang di Inggris. Pemerintah mereka sangat peduli dengan ketepatan waktu. Bahkan untuk hal kecil seperti peringatan hari bersejarah, mereka melakukannya. Penumpang kereta bawah tanah di London bahkan mendapat pengembalian uang tiket jika kereta yang ditumpanginya terlambat lebih dari 15 menit. Hal-hal kecil saja mereka peduli, bagaimana dengan hal-hal besar?

Meski begitu kita patut salut, di antara banyaknya proyek pemkot yang molor ada satu proyek yang menggunakan ungkapan “Time is money” sehingga bisa tepat waktu, yaitu proyek pembangunan reklame. (*)

Tulisan lain di:  http://akucintasurabaya.wordpress.com

4 Responses to “Time is Molor”

  1. Aziz Hadi :

    wah, time is molor… jujur ini masih menghantui saya.. 🙁

  2. sibair :

    hihihi bikin blog tentang surabaya nih mas iwan.. mantapb mas…

  3. iwaniwe :

    @sibair: iya mas. mencoba belajar nulis kayak sampeyan
    @aziz: aku juga. xixixi…

  4. rotyyu :

    Ayo dinikmati saja kang, mumpung masih bisa molor-moloran di negeri ini. Kalau sudah ‘time is money’ pasti nanti pada kangen dengan ‘time is molor’ 😀

Leave a Reply