Wajah transportasi

Seiring dengan berjalannya waktu, eskalasi kemacetan di Surabaya kian meningkat. Ini sebagai konsekuensi logis dari tidak seimbangnya antara pertumbuhan luas jalan dengan jumlah kendaraan yang beredar. Weeh, Surabaya masih pakai FSB 300 ya, hehehe.

Selama ini kita hanya mengenal alat transportasi publik berupa bis, taxi, bemo dan becak. Yang paling gres tentu saja kereta komuter.
Dari alat angkutan publik diatas tentu punya plus minus tersendiri.
Becak, sebenarnya cukup nyaman, bebas polusi. Sayang daya jangkau dan daya angkutnya terbatas, cuma 2 orang. Weeh, kalau becaknya disuruh ngankut 5 orang atau lebih skaligus meski andai bisa , so pasti tukang becaknya mancalnya setengah melet.
Bemo sebenarnya angkutan yang paling ideal disisi harga, daya jangkau yang hingga tingkat kampung juga daya angkut lumayan hingga 11 orang.
Kekurangannya mungkin jumlahnya kelewat banyak sehingga kadang kehadirannya malah menimbulkan kemacetan baru. Jalan pelan pelan, ngetem sembarangan, belok mendadak adalah perilaku buruk yang sering dijumpai.

Bis kota menang dalam hal kompresi, maksudnya daya angkutnya paling besar, hingga 50 orang sekali jalan. Harga tiket juga terjangkau. Sayangnya rute yang dilewati sangat terbatas padahal warga kota kadang butuh beberapa rute skaligus saat bepergian. Kalau dipaksa akan makan banyak waktu dan biaya.
Sebenarnya dulu sempat ada trayek bis kota yang kemampuannya hampir setara dengan bemo dalam hal jelajah, yakni bis kota jurusan Kutisari – Demak.
Mungkin karena rutenya kelewat panjang, pihak Damri akhirnya mengakhiri riwayat bis tersebut. Barangkali nggak nyucuk antara profit dan bea operasionalnya.

Tentang taxi dan kereta komuter saya agak malas mengapresiasinya. Taxi sudah mahal disisi harga, kapasitas angkutnya juga minim, cuma 4 orang.
Sementara kereta komuter, meski murah meriah dan daya angkut jumbo, dia punya kelemahan dalam hal miskin rute [ lha wong relnya cuma ngalor ngidul ] juga kadang kehadirannya juga menyebabkan kemacetan. Saat terjadi crossing dengan kendaraan lain, berapa mobil dan sepeda motor yang harus rela menunggu ?
Mau menempatkan kereta di layer yang berbeda, entah di atas berupa monorail ataupun dibawah berupa subway, jelas butuh anggaran yang ruuaaarrr biasa.
Jakarta saja yang tempatnya 80 % rupiah beredar, kelimpungan membangunnya.

Dari uraian diatas, menurut saya, dengan mengambil semua sisi baiknya [miskin polusi, daya jelajah luas, kapasitas cukup besar], opsi terbaik dalam waktu dekat adalah bis mini dengan berbahan bakar gas.
Mengapa bis mini ?
Dengan badannya yang cukup langsing, dia akan cukup mudah melawati jalanan yang relatif kecil. Daya jelajah yang luas akan menggoda orang untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi.
Lho kan sudah ada bemo ?toh, banyak yang sepi, kosong melompong.
Nah, sistim ticketing perlu dirombak. Gak peduli berapa kali ganti bis, berapa kali harus transit, yang penting orang hanya bayar berdasarkan dari mana dia naik dan dimana dia turun.
Bingung ? hmm, yah mirip jalan tol lah.
Dalam hal ini pemerintah bisa melakukan subsidi harga biar menjadi sangat terjangkau sama orang miskin sekalipun. Yah, hitung hitung proyek rugi…………mendinglah daripada dihambur-hamburkan buat membangun gedung dewan baru yang 1/2 trilyun juga daripada dikorup sana sini.

Kalau jalanan lebih lancar, konsumsi bbm akan turun dan ini akan mengurangi subsidi, life time suku cadang akan meningkat dan ini menguntungkan pemilik kendaraan. Secara nasional akan menekan beban ekonom dan meningkatkan kualitas hidup karena index polusi akan tereduksi.

Terus terang, punya kendaraan pribadi apalagi roda 4 ternyata juga butuh biaya yang gak sedikit.
Coba diakumulasi biaya perawatan, biaya operasional, resiko pencurian, inefisiensi karena rendahnya load factor dan depresiasi harga [penyusutan harga kendaraan] yang harus kita tanggung dalam setahun.
Kalau ada yang menawarkan pilihan yang lebih menguntungkan, mengapa tak dipertimbangkan ?

6 Responses to “Wajah transportasi”

  1. nanakiqu :

    heheheh..iza jadi makin mirip kota jakarta macetnya………….

  2. nggresik :

    Bus mini… perlu di cobak tapi opo gak tambah macet….? lha wong bemo ae sering nggawe macet, opo maneh lek dalane rusak, diperbaiki utowo bolak balik ono penggalian gawe kabel…

    Ticketing perlu di toto seng kreatip…stuju

  3. mudz069 :

    @nanakigu n nggresik……..implementasi sarana transportasi publik pengganti tentu sifatnya bukannya komplementer tapi lebih mengarah kepada subtitusi.
    Sebelumnya khan harus didahului dengan pemetaan, berapa sih kendaraan yang ting sliwer dijalanan kota ini, berapa sebenarnya seat yang dibutuhkan agar orang bisa bepergian dgn leluasa ?
    Maping itu harus ada agar terjadi balancing antara orang yang diangkut dan kendaraan pengangkutnya, agar tak terjadi over supply. Harus ada monitoring sehingga keseimbangan itu terus terjaga.
    Harus ada pekerjaan yang simultan, antara mendisable angkutan lama dan datangnya angkutan baru dan itu mungkin bisa dilakukan secara gradual.

    Seperti yang sudah aku bilang, bila ada sesuatu yang lebih baik mengapa gak dipertimbangkan ?
    Bila misalnya dari rumah dibilangan Semolo kita bisa pergi ke Perak dengan cost cuma 3000, ngapain kita bawa kendaraan sendiri ?
    Aku rasa untuk minum susu kita tak harus beli sapinya.
    Kita memang harus menyatukan bahasa, untuk mencapai profit nasional.
    Selama ini nampaknya kita mengalami fragmentasi, kerja sendiri sendiri, cari selamat sendiri sendiri. Pemerintah mungkin ogah ngeluarin duit, sopir n pemilik angkutan ngejar setoran dan warga gak mau “tekor”.
    Terus ada satu lagi, kita harus melakukan sesuatu karena kalau tidak kita juga akan mati.
    Bila pertumbuhan jumlah kendaraan tak terkejar oleh pertumbuhan luas jalan, suatu saat nanti pasti mak greg…….denyut nadi kota ini akan terhenti.

  4. nggresik :

    stuju mudz069…kata kuncine :
    -di dahului pemetaan
    -balancing & over supply
    -monitoring
    -mendisable angkutan lama

    stuju ayo di mulai di cicil saiki…saiki…saiki
    kudu konsisten
    kudu seng akas…ojo malessss

  5. angki :

    kasih gambar bis atau kereta atau pesawat atau perahu napa pak Mudz??

  6. mudz069 :

    @cak angki………aku punya problem dengan copy n paste URL.
    Selain posting perkenalan dulu, aku selalu [“terpaksa”] menggunakan ponsel untuk posting juga ritual ngeblog lainnya. Dan sayangnya ponsel ini kurang support dengan hal begitu.
    Itu sebabnya juga aku gak pernah datang ke milis, meski sebenarnya kepingin juga.
    Yah, aku rasa hanya masalah waktu.

Leave a Reply